Privilege ketenaran dan pengaruh
Di era digital, ketenaran dan pengaruh di media sosial termasuk privilege yang sangat besar. Satu unggahan, satu video, alias satu pernyataan bisa menjangkau ribuan, alias apalagi jutaan orang dalam hitungan menit. Ini adalah kekuatan yang dulu tidak dimiliki banyak orang, tetapi hari ini bisa dimiliki siapa saja.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka dia mendapat pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa pengaruh bisa menjadi ladang pahala yang terus mengalir. Mengajak kepada salat, menebarkan pengetahuan yang benar, menguatkan semangat melakukan baik, meluruskan pemahaman, alias sekadar menyebarkan pesan kebaikan, semuanya bisa menjadi kebaikan jariyah selama pengaruh itu terus hidup.
Namun sebaliknya, pengaruh juga bisa menjadi sumber dosa yang terus mengalir. Jika digunakan untuk menyebarkan maksiat, membuka aib, menormalisasi kemungkaran, memprovokasi kebencian, alias menyesatkan pemikiran, maka setiap orang yang terpengaruh bakal menjadi beban dosa bagi penyebarnya.
Oleh lantaran itu, privilege ketenaran bukan sekadar tentang jumlah pengikut, tetapi tentang arah yang kita bawa. Apakah pengaruh itu menjadi sinar yang menerangi, alias api yang membakar? Setiap kata yang disebarkan adalah amanah, dan setiap pengaruh bakal dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Privilege waktu dan kesehatan
Tidak semua privilege berbentuk kekayaan alias jabatan. Waktu senggang dan kesehatan adalah nikmat besar yang sering diremehkan. Banyak orang baru menyadari nilainya ketika sakit alias ketika waktu telah habis. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Allah Azza wa Jalla juga berjanji dengan waktu dalam surah Al-‘Ashr,
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia betul-betul dalam kerugian, selain orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”
Jika seseorang mempunyai waktu dan kesehatan, dia mempunyai kesempatan besar untuk memperbanyak ibadah, menuntut ilmu, membantu orang lain, dan membangun kebaikan jariyah. Namun jika keduanya dihabiskan dalam kelalaian, maka kerugianlah yang bakal didapat. Oleh lantaran itu, privilege waktu dan kesehatan adalah amanah. Ia kudu dimanfaatkan sebelum datang sakit dan sebelum waktu betul-betul habis.
Jangan tertipu oleh privilege
Privilege sering kali membikin manusia merasa aman, unggul, dan lebih tinggi dari yang lain. Padahal dia hanyalah titipan. Allah Azza wa Jalla memberi contoh tentang Qarun, seorang yang mempunyai kekayaan luar biasa, tetapi tertipu oleh apa yang dia miliki.
Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,
فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ
“Lalu dia keluar kepada kaumnya dengan kemegahannya.” (QS. Al-Qashash: 79)
Qarun menampilkan kemewahannya dengan penuh kebanggaan. Ia merasa istimewa, merasa lebih layak dihormati, dan lupa bahwa semua itu hanyalah pemberian Allah. Bahkan ketika dinasihati, dia berkata,
إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي
“Sesungguhnya saya diberi kekayaan itu lantaran pengetahuan yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)
Ia menganggap keberhasilannya murni lantaran kemampuannya sendiri. Inilah akar kesombongan: merasa bahwa privilege berasal dari diri sendiri, bukan dari Allah. Akhirnya, Allah membinasakannya dan menenggelamkannya berbareng hartanya ke dalam bumi.
Kisah ini menjadi pelajaran bahwa privilege tanpa syukur melahirkan kesombongan, dan kesombongan mengundang kehancuran.
Setiap keistimewaan yang tidak disyukuri bakal berubah menjadi ujian yang berat. Harta yang tidak mendekatkan kepada Allah bakal melalaikan. Jabatan yang tidak digunakan untuk keadilan bakal menjerumuskan. Ilmu yang tidak diamalkan bakal menjadi hujah yang memberatkan. Popularitas yang tidak diarahkan kepada kebaikan bakal menjadi sumber dosa.
Teladan para Nabi dalam mengelola privilege
Al-Qur’an tidak hanya memperingatkan tentang ancaman privilege seperti pada kisah Qarun, tetapi juga menghadirkan teladan agung tentang gimana keistimewaan digunakan untuk ketaatan. Di antara contoh terbaik adalah Nabi Sulaiman dan Nabi Yusuf عليهما السلام.
Nabi Sulaiman عليه السلام diberi kerajaan yang sangat besar, kekuasaan yang luas, keahlian mengendalikan angin, serta hantu yang tunduk kepadanya. Ini adalah privilege luar biasa yang tidak diberikan kepada kebanyakan manusia. Namun ketika beliau memandang kemegahan yang ada di hadapannya, beliau tidak terpesona dan tidak pula menyandarkan keberhasilan pada dirinya. Beliau berkata,
هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ
“Ini termasuk karunia Rabbku untuk mengujiku, apakah saya berterima kasih alias kufur.” (QS. An-Naml: 40)
Kalimat ini menunjukkan kesadaran yang dalam bahwa privilege adalah ujian, bukan sekadar penghormatan. Kekuasaan tidak menjadikan beliau sombong, tetapi justru semakin tunduk dan bersyukur. Semakin besar nikmatnya, semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah.
Demikian pula Nabi Yusuf عليه السلام. Setelah melalui ujian panjang dari dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, dipenjara tanpa kesalahan, akhirnya beliau diberi kedudukan tinggi di Mesir dan memegang kendali ekonomi negara. Beliau berkata,
اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
“Jadikan saya pengelola perbendaharaan negeri ini, sesungguhnya saya orang yang menjaga dan berilmu.” (QS. Yusuf: 55)
Permintaan ini bukan lantaran ambisi dunia, tetapi lantaran kesiapan dan tanggung jawab untuk menjaga kemaslahatan masyarakat. Dengan kedudukan tersebut, beliau menyelamatkan Mesir dan sekitarnya dari krisis kelaparan.
Dari kedua kisah ini tampak jelas bahwa privilege bukan untuk dinikmati semata, tetapi untuk diamanahkan. Bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk dimanfaatkan. Bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk menegakkan keadilan dan membawa maslahat.
Keistimewaan yang dikelola dengan syukur dan amanah bakal menjadi jalan kemuliaan. Namun keistimewaan yang dikelola dengan kesombongan bakal menjadi karena kehancuran. Para Nabi mengajarkan bahwa semakin besar privilege, semakin besar pula rasa tanggung jawab dan ketundukan kepada Allah.
Bagaimana menggunakan privilege untuk ketaatan
Privilege baru berbobot jika diarahkan kepada ketaatan. Langkah pertama adalah menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan segala nikmat yang ada pada kalian, maka itu berasal dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)
Kesadaran ini menumbuhkan syukur dan kerendahan hati. Harta digunakan untuk sedekah, pengetahuan untuk membimbing, kedudukan untuk keadilan, relasi untuk membuka pintu kebaikan, dan pengaruh untuk menyebarkan nilai Islam. Dengan niat yang benar, semua akomodasi hidup bisa menjadi ibadah. Allah Ta’ala berfirman,
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)
Privilege mempercepat langkah menuju kebaikan jika digunakan dengan benar, tetapi juga memperberat hisab jika disalahgunakan. Oleh lantaran itu, privilege bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk dipertanggungjawabkan.
Semua kenikmatan adalah privilege dan amanah
Pada hakikatnya, seluruh kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia adalah privilege alias keistimewaan yang tidak semua orang miliki dalam kadar dan corak yang sama. Privilege bukan hanya tentang harta, jabatan, ilmu, alias popularitas. Anak, pasangan, family yang harmonis, kesehatan, keamanan, apalagi hidayah dan kemudahan beribadah, semuanya adalah nikmat spesial yang bakal dimintai pertanggungjawaban. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً
“Dan Dia menyempurnakan untuk kalian nikmat-Nya yang lahir dan yang batin.” (QS. Luqmaan: 20)
Dan Allah juga mengingatkan,
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Kemudian kalian pasti bakal ditanya pada hari itu tentang segala nikmat.” (QS. At-Takatsur: 8)
Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun nikmat yang bebas dari hisab.
Memiliki anak adalah privilege besar, namun juga ujian. Allah berfirman,
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ
“Sesungguhnya kekayaan dan anak-anak kalian adalah ujian.” (QS. At-Taghabun: 15)
Anak bisa menjadi jalan pahala yang terus mengalir jika dididik dalam ketaatan dan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berfirman bahwa ketika seseorang meninggal dunia, amalnya terputus selain tiga, salah satunya adalah anak saleh yang mendoakannya (HR. Muslim). Maka anak bukan sekadar kebahagiaan dunia, tetapi amanah akhirat.
Pasangan hidup dan rumah tangga yang tenteram juga termasuk privilege. Allah berfirman,
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian pasangan agar kalian merasa tenteram kepadanya.” (QS. Ar-Rum: 21)
Tidak semua orang merasakan ketenangan dalam rumah tangga. Maka keselarasan adalah nikmat yang kudu dijaga dengan tanggung jawab, kasih sayang, dan keadilan.
Keamanan dan kesehatan pun demikian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berfirman bahwa siapa yang bangun pagi dalam keadaan aman, sehat, dan mempunyai makanan untuk hari itu, seakan-akan bumi telah diberikan kepadanya (HR. Tirmidzi). Banyak manusia hidup dalam ketakutan dan kekurangan. Maka hidup dalam ketenangan adalah privilege yang sering tidak disadari.
Yang lebih besar lagi adalah privilege hidayah. Tidak semua orang diberi hati yang terbuka untuk menerima kebenaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 213)
Bisa mencintai salat, menikmati membaca Al-Qur’an, datang di majelis ilmu, dan merasa takut kepada Allah, itu semua adalah nikmat yang sangat istimewa.
Pada akhirnya, semua kenikmatan adalah amanah. Setiap privilege bakal membawa dua kemungkinan: menjadi jalan menuju surga jika disyukuri dan digunakan untuk ketaatan, alias menjadi karena hisab dan penyesalan jika disalahgunakan dan dilalaikan.
Maka pertanyaan yang paling krusial bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, tetapi untuk apa kita menggunakannya. Karena pada hari ketika semua manusia berdiri di hadapan Allah, setiap nikmat bakal berbicara, dan setiap amanah bakal dimintai jawaban.
Ya Allah, jadikan setiap nikmat yang Engkau berikan kepada kami sebagai jalan menuju rida-Mu, bukan karena kelalaian dan penyesalan. Bimbing kami untuk mensyukuri dan menggunakannya dalam ketaatan kepada-Mu. Aamiin.
Wallahu Ta’ala a’lam.
[Selesai]
KEMBALI KE BAGIAN 1
***
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Artikel Kincai Media
English (US) ·
Indonesian (ID) ·