Setelah "kelepasan" memarahi anak, jangan lupa minta maaf setelah memarahi anak, ya Bunda. Langkah ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian penting bagi kestabilan emosi dan hubungan dalam keluarga.
Banyak orang tua enggan meminta maaf karena khawatir hal itu akan mengurangi wibawa atau membuat anak merasa tindakannya dibenarkan. Padahal, meminta maaf setelah memarahi anak justru menunjukkan tanggung jawab dan keteladanan.
Meminta maaf bukan tanda kelemahan, melainkan cara membangun rasa saling menghormati dan komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak.
Mengapa orang tua perlu meminta maaf kepada anak?
Dikutip dari Times of India, ketika orang tua berteriak atau memarahi anak dengan cara yang berlebihan karena emosi, meminta maaf merupakan langkah yang disarankan.
Tujuan meminta maaf bukan untuk membenarkan kesalahan anak, melainkan mengakui bahwa cara menyampaikan kemarahan tadi kurang tepat. Misalnya, anak memang melakukan kesalahan, tetapi membentaknya hingga membuatnya ketakutan tidak efektif untuk mengajarkan disiplin.
Dalam keadaan seperti ini, orang tua tetap dapat mempertahankan aturan sambil mengakui bahwa respons emosionalnya perlu diperbaiki.
Manfaat positif meminta maaf setelah memarahi anak
Selain menyelesaikan konflik, minta maaf setelah memarahi anak memberi manfaat nyata, antara lain:
1. Memulihkan hubungan dengan anak
Suara keras saat memarahi dapat membuat anak merasa sedih, takut, bingung, atau tidak dicintai. Bagi anak usia dini, pengalaman itu bisa terekam lebih lama daripada yang diperkirakan orang tua.
Permintaan maaf yang tulus membantu memperbaiki hubungan pasca-konflik dan menegaskan bahwa kasih sayang orang tua tetap ada meski sempat terjadi pertengkaran.
2. Mengajarkan anak untuk bertanggung jawab
Anak belajar lewat contoh yang mereka lihat sehari-hari: jika orang tua berani mengakui kesalahan dan minta maaf, anak memahami bahwa setiap orang bisa salah. Yang penting adalah bertanggung jawab dan berusaha memperbaiki kesalahan.
Contoh nyata dari orang tua lebih efektif dibanding sekadar memberi nasihat. Dengan melihat orang tua mengakui kekeliruan, anak belajar menyelesaikan masalah lewat komunikasi, bukan saling menyalahkan.
Banyak orang tua takut kehilangan otoritas jika meminta maaf. Namun para ahli justru menyatakan sebaliknya: orang tua yang mengakui kesalahan cenderung lebih dipercaya dan dihormati oleh anak karena menunjukkan kejujuran dan kedewasaan.
Permintaan maaf tidak menghapus konsekuensi dari kesalahan anak; melainkan memperbaiki cara penyampaian ketika menegakkan aturan.
Apa yang perlu dilakukan segera setelah memarahi anak?
Dikutip dari Motherly, langkah utama adalah menenangkan diri terlebih dahulu. Ini sulit, tetapi penting untuk meredakan ledakan emosi.
Orang tua bisa membasuh wajah dengan air, keluar sebentar untuk menarik napas dalam, atau pindah ke ruangan lain sampai emosi mereda. Setelah tenang, bantu anak juga menenangkan diri, karena anak juga sulit berpikir jernih saat marah atau sedih.
Langkah selanjutnya adalah memperbaiki hubungan dengan ungkapan maaf dan refleksi diri. Tanpa proses ini, baik anak maupun orang tua berisiko menyimpan emosi negatif yang lama-kelamaan dapat memicu konflik berkepanjangan.
Tips krusial meminta maaf kepada anak
Jangan ragu minta maaf setelah memarahi anak. Tindakan ini tidak membuat orang tua menjadi lemah, melainkan memberi contoh tanggung jawab emosional.
"Orang tua seringnya berpikir bahwa jika mengakui kesalahan, mereka bakal kehilangan kendali dan anak bakal menjadi semena-mena. Tapi tidak," kata psikolog perkembangan anak sekaligus penulis kitab How Toddlers Thrive, Tovah P. Klein, PhD, dikutip dari Parents.
Menurut para psikolog, berikut komponen penting saat orang tua hendak meminta maaf kepada anak:
1. Akui bahwa emosi anak terluka
Menunjukkan bahwa orang tua menyadari telah melukai perasaan anak membuat anak tahu situasi itu bisa diperbaiki.
Contoh ungkapan yang bisa dipakai adalah:
"Maaf ya, tadi Bunda bereaksi berlebihan dan membentakmu. Bunda tahu itu membuatmu sedih. Lain kali Bunda bakal menjelaskan terlebih dulu agar Anda tidak bingung."
Klein menekankan bahwa yang dimintai maaf adalah reaksi berlebihan orang tua, bukan agar anak lepas tanggung jawab atas kesalahannya.
2. Bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan
Sosiolog dan penulis kitab The Forgiveness Tour: How to Find the Perfect Apology, Susan Shapiro, menyebutkan bahwa orang umumnya ingin didengar, dipahami, dan dicintai.
Mengakui tindakan yang salah atau kurang peka adalah langkah pertama meminta maaf yang efektif. Sampaikan pengakuan itu secara spesifik; hindari permintaan maaf yang terlalu umum.
3. Jelaskan kenapa perihal itu terjadi
Menjelaskan alasan di balik reaksi yang tidak tepat membantu anak melihat sisi kemanusiaan orang tua dan membuka ruang saling pengertian.
4. Tunjukkan bahwa perihal itu tidak bakal terulang
Permintaan maaf yang disertai komitmen untuk berubah menunjukkan empati dan memperkuat kepercayaan serta keamanan emosional anak.
5. Sampaikan dengan jelas dan singkat
Ucapan maaf yang singkat namun tulus membantu anak memahami bahwa setiap orang bisa berbuat salah. Ketika orang tua memberi contoh meminta maaf yang nyata, anak juga akan belajar bertanggung jawab atas kesalahan sendiri.
Menurut Shapiro, memberi hadiah sebagai pengganti permintaan maaf kurang efektif tanpa pengakuan yang tulus. Oleh karena itu, jangan lupa ucapkan kata sederhana yang bermakna: "Maaf, ya".
Demikian penjelasan tentang pentingnya minta maaf setelah memarahi anak. Berani mengakui kesalahan akan membantu membangun komunikasi terbuka, kecerdasan emosional, dan tanggung jawab pada anak.