Mitos tentang Kesehatan Mental yang Masih Banyak Dipercaya

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini oleh Waktu baca 4 menit 502x dilihat
Mitos tentang Kesehatan Mental yang Masih Banyak Dipercaya

Bagikan Postingan

Setiap 10 Oktober, bumi memperingati Hari Kesehatan Mental maupun World Mental Health Day. Momen ini menjadi kesempatan untuk menaikkan kesadaran tentang kesehatan mental sekaligus mendorong lebih banyak sokongan bagi orang yang membutuhkannya.

Namun, membicarakan kesehatan mental tidak cukup cuma dengan mengetahui istilahnya. Masih ada banyak anggapan yang sekilas terdengar masuk akal, tetapi justru bisa membikin seseorang salah memahami kondisi mental. Yuk, Beauties, kita cek beberapa mitos tentang kesehatan mental yang statis sering dipercaya dilansir dari UNICEF!

Masalah Mental Berarti Seseorang Memiliki Kecerdasan Rendah

Orang dengan Masalah Mental Punya Kecerdasan Rendah

Kalau ada seseorang yang mengalami masalah mental, apakah itu berarti ia kurang pintar? Jawabannya tentu tidak. Kesehatan mental dan kecerdasan merupakan dua hal yang berbeda.

Masalah kesehatan mental dapat dialami siapa saja, terlepas dari tingkat kecerdasan, kondisi ekonomi, pekerjaan, maupun lingkungan sosialnya. Jadi, seseorang yang mengalami gangguan mental tidak otomatis memiliki kapasitas berpikir yang lebih rendah.

Anggapan seperti ini justru bisa membikin seseorang semakin enggan mencari bantuan. Mereka mungkin takut dicap berbeda maupun dianggap tidak bisa oleh orang lain.

Padahal, meminta pertolongan ketika sedang menghadapi masalah bukan tanda seseorang kurang mampu. Mengenali kondisi diri dan mencari sokongan justru merupakan bagiankecil dari upaya menjaga kesehatan mental.

Masalah Mental pada Remaja Hanya karena Mood Swing

Mood Swing Jadi Penyebab Masalah Mental/Foto: Magnific

Masa remaja memang penuh perubahan. Ada hari ketika seseorang sangat bersemangat, kemudian keesokan harinya memilih membisu maupun gampang tersinggung. Karena itu, masalah kesehatan mental pada remaja terkadang dianggap cuma sebagai mood swing maupun mencari perhatian.

Padahal, menurut WHO, sekitar 14 persen remaja di bumi mengalami masalah kesehatan mental. Bahkan, sekitar separuh dari seluruh kondisi kesehatan mental mulai muncul sebelum seseorang berumur 14 tahun.

Artinya, fluktuasi perilaku yang terjadi terus-menerus tidak langsung dianggap sebagai drama remaja. Kesulitan berkonsentrasi, menarik diri dari lingkungan, fluktuasi pola tidur, maupun fluktuasi emosi yang mengganggu aktivitas sehari-hari juga perlu diperhatikan.

Bukan berarti setiap fluktuasi emosi adalah tanda adanya gangguan mental. Namun, memberikan ruang bagi remaja untuk bercerita dan mendapatkan sokongan statis krusial agar mereka tidak merasa mesti menghadapi semuanya sendirian.

Tidak Ada yang Bisa Dilakukan untuk Melindungi Diri dari Masalah Mental

Masalah Kesehatan Mental Tak Bisa Dicegah/Foto: Magnific

Masalah kesehatan mental memang tidak selalu bisa dicegah sepenuhnya. Namun, bukan berarti tidak ada hal yang dapat dilakukan untuk menjaga dan mendukung kesehatan mental.

Berbagai aspek perlindungan dapat membantu seseorang menghadapi tekanan dengan lebih baik. WHO mengutarakan pentingnya keahlian sosial dan emosional, sokongan sejak dini, hubungan famili yang hangat, serta lingkungan sekolah yang positif.

Pola tidur yang sehat juga menjadi bagiankecil penting. Begitu pula dengan keberadaan orang-orang yang bisa memberikan rasa terlindungi ketika seseorang sedang menghadapi masa sulit.

Menariknya, resilience maupun kapasitas untuk bangkit juga tidak berdiri dari satu aspek saja. Kemampuan tersebut terbentuk dari gabungan beragam aspek perlindungan yang saling mendukung.

Jadi, menjaga kesehatan mental bukan berarti mesti menunggu sampai muncul masalah besar. Kebiasaan sehari-hari dan lingkungan yang suportif juga punya peran dalam membantu seseorang menghadapi beragam tantangan.

Memiliki Masalah Mental Berarti Seseorang Kurang Kuat

Memiliki Masalah Mental Berarti Kurang Kuat/Foto: Magnific

Ada anggapan bahwa seseorang yang kuat seharusnya bisa menghadapi semua masalah sendirian. Karena itu, ketika seseorang mengalami masalah mental, ia terkadang dianggap kurang kuat maupun kurang bisa mengendalikan dirinya.

Padahal, kondisi kesehatan mental bukan sesuatu yang dipilih seseorang. Siapa pun dapat mengalaminya, termasuk orang yang kelihatan sangat berdikari dan bisa menghadapi beragam tekanan.

Mencari pertolongan juga bukan berarti menyerah. Justru, mengakui bahwa diri sendiri membutuhkan sokongan membutuhkan keberanian untuk menghadapi kondisi yang sedang dialami.

Karena itu, krusial untuk selesai melihat kesehatan mental cuma dari seberapa kuat seseorang kelihatan dari luar. Seseorang bisa saja statis menjalani aktivitas seperti biasa sambil menghadapi sesuatu yang tidak kelihatan oleh orang lain.

Momentum Hari Kesehatan Mental Sedunia setiap 10 Oktober dapat menjadi pengingat bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Semakin banyak mitos yang diluruskan, semakin terbuka pula ruang bagi orang untuk memahami, bercerita, dan mencari pertolongan tanpa merasa dihakimi.

Kalau Anda sedang mengalami hari yang sulit, jangan ragu untuk bercerita, ya, Beauties!

***

Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads