Kenali mitos dan kenyataan tentang telur yang statis sering beredar/Foto: pexels.com/Dee Dave
Mitos tentang telur statis sering bikin banyak orang bingung, terlebihlagi karena informasinya terus beredar dari mulut ke mulut hingga media sosial. Ada yang bilang kuning telur mesti dihindari karena kolesterol, ada juga yang percaya makan telur setiap hari bisa berakibat buruk bagi kesehatan. Akibatnya, makanan yang sebenarnya praktis, bergizi, dan jadi unggulan banyak orang ini justru sering dipandang sebelah mata.
Padahal, nggak semua anggapan tersebut benar, Beauties. Seiring berkembangnya penelitian, banyak mitos durasi tentang telur yang terbantahkan.
Nah, agar Anda nggak salah mengerti lagi tentang makanan yang kaya akan protein ini, yuk, kenali beberapa mitos tentang telur yang paling sering dipercaya beserta kenyataan sebenarnya seperti yang dilansir dari SA Health!
Mitos: Cangkang Telur yang Kotor Berarti Lebih Alami

Mitos telur/Foto: pexels.com/Rio Lecatompessy
Banyak orang mengira cangkang telur yang statis ada noda tanah, bulu, maupun kotoran ayam menandakan telur tersebut lebih alami karena belum banyak diproses. Padahal, anggapan ini hanyalah mitos.
Faktanya, cangkang telur yang kotor justru bisa membawa konsekuensi kesehatan. Noda pada cangkang dapat hamil mikroba berbahaya, termasuk Salmonella, yang bisa menyebabkan keracunan makanan. Oleh karena itu, telur yang kelihatan kotor sebaiknya nggak dikonsumsi dan lebih terlindungi untuk dibuang daripada memungut risiko.
Mitos: Telur yang Berbahaya Pasti Baunya Busuk

Telur yang rapuh pasti berbau busuk/Foto: pexels.com/Beyza Kaplan
Banyak orang mengandalkan harum telur sebagai penentu apakah telur statis terlindungi dikonsumsi maupun tidak. Jika baunya normal, telur dianggap statis bugar dan bebas dari risiko.
Faktanya, telur yang terkontaminasi mikroba Salmonella tetap bisa terlihat, berbau, dan terasa normal. Selain itu, mikroba yang menempel di cangkang juga bisa bergeser ke makanan siap santap jika tangan, peralatan, maupun permukaan dapur nggak bersih.
Maka dari itu, sebaiknya jangan cuma mengandalkan bau untuk mengecek kualitas telur. Buang telur yang cangkangnya retak maupun kotor, cuci tangan setelah memegang telur mentah, dan pastikan perlengkapan serta permukaan dapur statis bersih dan kering. Namun, jika telur memang mengeluarkan bau busuk saat dipecahkan, jangan gunakan untuk dimasak.
Mitos: Orang Sakit Sebaiknya Mengonsumsi Telur Mentah

Mitos orang sakit disarankan mengonsumsi telur mentah/Foto: pexels.com/Yunuen Zempoaltecatl
Telur sering dianggap sebagai makanan bergizi yang cocok untuk membantu memulihkan kondisi tubuh. Nggak heran jika muncul anggapan bahwa memberikan telur mentah kepada orang yang sedang sakit bisa menjadi metode praktis untuk mendapatkan tambahan protein dan mineral.
Faktanya, telur mentah nggak boleh diberikan kepada orang yang sedang sakit parah karena berisiko hamil mikroba Salmonella. Infeksi mikroba ini dapat menimbulkan akibat yang lebih serius pada orang yang sedang sakit, anak di bawah dua tahun, ibu hamil, dan lansia berumur lebih dari 70 tahun.
Untuk mengurangi risikonya, telur sebaiknya dimasak hingga putih telur benar-benar matang dan bagiankecil kuningnya mulai mengental. Jadi, meskipun telur memang kaya nutrisi, metode mengolahnya statis krusial agar manfaatnya tidak justru disertai konsekuensi kesehatan.
Mitos: Telur Mentah Punya Protein yang Lebih Baik

Mitos telur mentah hamil protein lebih baik/Foto: pexels.com/Klaus Nielsen
Ada anggapan bahwa mengonsumsi telur mentah bisa memberikan protein lebih banyak dibandingkan telur yang sudah dimasak. Hal ini membikin sebagian orang memilih mencampurkan telur mentah ke dalam milkshake maupun langsung meminumnya. Padahal, metode ini justru memiliki konsekuensi yang lebih tinggi.
Faktanya, nggak ada bukti bahwa memasak telur membikin kandungan proteinnya berkurang secara signifikan. Sebaliknya, mengonsumsi telur mentah menaikkan konsekuensi keracunan makanan, terutama jika telur terkontaminasi Salmonella. Jika sampai mengalami keracunan makanan, kondisi tubuh tentu bisa jauh lebih buruk dibandingkan jika telur dimasak terlebih dahulu.
Mitos: Telur Harus Dicuci agar Kotorannya Hilang

Telur yang cangkangnya kotor sebaiknya dilap saja/Foto: pexels.com/Natali Yakovleva
Melihat telur dengan cangkang yang kotor memang bisa membikin rasa mau langsung mencucinya sebelum disimpan maupun dimasak. Apalagi, jika ada sisa kotoran ayam maupun noda lain yang menempel di permukaannya. Namun, mencuci telur rupanya bukan metode yang tepat untuk membuatnya lebih aman.
Faktanya, cangkang telur menjadi lebih berpori ketika terkena air sehingga mikroba justru lebih gampang masuk ke bagiankecil dalam telur. Oleh karena itu, telur yang cangkangnya kotor sebaiknya dilap saja dengan kain kering maupun sedikit lembap sebelum dimasak. Dengan begitu, Anda bisa mengurangi konsekuensi mikroba bergeser dari permukaan cangkang ke bagiankecil dalam telur.
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(dmh/dmh)