Kincai Media ,JAKARTA -- Seorang sahabat pernah meminta kepada Rasulullah SAW satu ibadah sederhana yang dapat mengantarkannya ke surga. Jawaban Nabi Muhammad SAW rupanya singkat, namun sarat makna dan menjadi pelajaran besar dalam pengendalian diri.
Dikisahkan bahwa Abu Darda berkata, "Aku pernah bertanya, 'Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku ibadah yang dapat memasukkanku ke dalam surga, namun jangan banyak-banyak’." Nabi Muhammad SAW menjawab, "Jangan marah."
Wasiat ini datang dari Nabi Muhammad SAW dengan riwayat yang bermacam-macam. Imam Al-Bukhari telah meriwayatkan di dalam haditsnya, dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW pernah dimintai nasihat oleh seorang laki-laki.
Laki-laki itu berbicara kepada Rasulullah SAW, "Nasihatilah aku." Rasulullah SAW menjawab, “Jangan marah!"
Di dalam satu riwayat disebutkan, bahwa si penanya mengulang-ulang terus permintaannya kepada Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW juga mengulang-ulang dan meyakinkan jawaban dengan sabda beliau, "Jangan marah."
Wasiat ini bukan hanya untuk Abu Hurairah. Itu adalah wasiat untuk setiap orang yang menisbatkan dirinya sebagai umat Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad SAW adalah seorang master yang memahami betul suatu penyakit dan menerangkan obatnya. Dulu, banyak sahabat yang senantiasa mendatangi Rasulullah SAW untuk meminta nasihat. Maka Rasulullah SAW bersabda, "Bertakwalah kepada Allah."
Sahabat yang lain juga mendatangi Nabi Muhammad SAW dan berkata, "Nasihatilah saya wahai Rasulullah." Maka Rasulullah SAW bersabda, "Berbaktilah kepada ibumu."
Sahabat yang lain juga mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, "Nasihatilah saya wahai Rasulullah." Maka Rasulullah SAW bersabda, "Pergilah berjihad."
Kepada setiap orang, Nabi Muhammad SAW selalu bisa menerangkan obat dari penyakitnya. Sebab Rasulullah SAW mengetahui unsur utama manusia serta dapat mendiagnosis sebuah penyakit dan menerangkan obatnya kepadanya.
Semua itu merupakan wasiat bijak yang berasal dari hati yang muncul di dalamnya kata-kata hikmah serta dari lisan yang mendatangkan kefasihan dan penjelasan. Semua itu merupakan wasiat fasih yang darinya bisa diambil segala kandungan makna, melembutkan hati, serta meluruskan dan mendidik adab manusia.
Sikap marah keberadaannya tidak boleh dilakukan lantaran suatu urusan-urusan yang remeh alias sepele. Akan tetapi, dia hanya boleh dilakukan lantaran Allah semata. Marah di jalan Allah, marah jika kehormatan Allah dinodai, serta marah untuk menjaga hukum Allah dan menolong kepercayaan Allah, dikutip dari kitab Wasiat Rasul Buat Lelaki yang ditulis Muhammad Khalil Itani.
Jika kehinaan kemarahan dan syahwat balas dendam bisa menyebabkan keluarnya (seseorang) dari nilai-nilai Islam serta prinsip-prinsip, keutamaan-keutamaan, dan adab Islam yang mulia. Maka Allah telah berfirman menjelaskan (kewajiban) menjauh dari amarah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ
Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh. (QS Al-A‘raf Ayat 199)
Seorang Muslim yang ingat bahwa Allah Maha Perkasa dan mempunyai jawaban (siksa) serta kekuasaan-Nya melampaui segala kekuasaan apapun, tentu dia tidak bakal berpikir untuk marah.
Diriwayatkan, ada seorang laki-laki yang melakukan suatu perbuatan dosa alias suatu kesalahan. Lalu, sahabatnya membawa dirinya kepada Ibnu Zubair. Maka, Ibnu Zubair meminta cemeti dan tongkat untuk memukulnya sebagai hukuman.
Laki-laki itu berbicara kepada Ibnu Zubair, “Saya meminta kepadamu dengan Dzat yang ketika berada di hadapan-Nya kelak pada hari hariakhir Anda lebih buruk daripada diriku saat berada di hadapan-Nya, agar Anda mengampuni aku."
Maka, Ibnu Zubair turun dari singgasananya dan menempelkan pipinya di atas tanah seraya berbicara kepada laki-laki tersebut, "Sungguh saya telah memaafkanmu.”
Jika Anda meneliti akibat dan akibat marah, Anda bakal mendapati akibat jelek dan akibat negatifnya. Di antaranya, bisa mengoyak-ngoyak persatuan di antara masyarakat, memecah belah jamaah, menumbuhkan jiwa permusuhan dan kebencian di antara manusia, serta menebarkan jiwa saling membelakangi dan saling memutuskan hubungan di dalam masyarakat.
Cepat marah termasuk salah satu tabiat orang bodoh, sebagaimana menjauhi marah termasuk sikap orang yang berakal.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·