Anak Muda yang Mulai Menarik Diri dari Ruang Digital/Foto: pexels.com/https://kaboompics.com/
Ada masa ketika eksis ke bumi maya dinilai sebagai metode untuk sebentar melupakan hayat nyata. Namun, kini sepertinya keadaan mulai berbalik. Sebagian anak muda justru cukup aware dengan aktivitas mereka di sosial media sehingga mencari selang dari layar dan balik menikmati aktivitas yang tidak membutuhkan hubungan internet.
Dilansir dari CNBC Make It, gejala ini dikebal dengan istilah “quiet revolution”, yaitu Gen Z dan milenial mulai mengurangi penggunaan media sosial dan mencari balik pengalaman yang lebih nyata. Misalnya berjumpa kawan secara langsung hingga menikmati hobi analog seperti mendengarkan vinyl maupun menggunakan ponsel dengan fungsi yang lebih sederhana.
Tren ini bukan diartikan sebagai anak muda yang benar-benar lepas dari teknologi sepenuhnya, tetapi adalah keinginan untuk menentukan balik kapan mesti online dan kapan bisa benar-benar offline. Apakah kalian penasaran juga seperti apa tren ini bekerja? Yuk, cari tahu, Beauties!
Media Sosial yang Digunakan Sebagai Penghubung Malah Bisa Terasa Melelahkan

Anak muda mulai merasakan kelelahan akibat terus terhubung dengan bumi digital/Foto: pexels.com/Andrea Piacquadio
Media sosial membikin kita bisa mengetahui apa yang sedang dilakukan orang lain cuma dalam hitungan detik. Kita dapat mengikuti hayat teman, melihat tren terbaru, sampai menemukan beragam keterangan tanpa perlu bergeser tempat. Tetapi, terus-terusan terhubung juga bisa membikin seseorang merasa kewalahan, Beauties.
Dalam survei Deloitte Digital Consumer Trends 2025 di Inggris, satu dari lima konsumen mengatakan mereka telah menghapus aplikasi media sosial dalam 12 bulan terakhir. Angka tersebut meningkat menjadi 29 persen pada Gen Z. Selain itu, 50 persen responden mengaku mematikan seluruh notifikasi dari setidaknya satu aplikasi, sedangkan 18 persen menggunakan pengaturan batas waktu layar untuk mengurangi penggunaan perangkat.
Fenomena ini juga dapat dilihat dari sisi psikologis. Penelitian yang dilakukan terhadap 369 emerging adults di Indonesia melalui jurnal yang diterbitkan oleh Universitas Surabaya dengan judul "Social media fatigue in emerging adulthood: exploring the role of fear of missing out and upward appearance comparison" juga menemukan bahwa fear of missing out (FOMO) memiliki peran dalam meningkatnya social media fatigue.
Penelitian ini juga melihat upward appearance comparison, yaitu kecenderungan membandingkan penampilan diri dengan orang lain yang dianggap lebih unggul, sebagai salah satu aspek yang berhubungan dengan kelelahan terhadap sosial media tersebut.
Artinya, rasa capek terhadap media sosial tidak selalu muncul karena seseorang bosan melihat layar. Justru yang membikin bermutu adalah algoritma yang muncul melalui sosial media.
Tidak bisa dipungkiri tren dan isu yang ditarik ke sosial media bergeser dengan cepat. Kehidupan orang lain yang terus berjalan, keterangan yang tidak ada habisnya, hingga permasalahan public figure, menimbulkan emosi yang tidak betah bahwa kita mesti selalu mengikuti semua yang ada di dalamnya.
Bukan Berarti Ingin Menghilang dari Media Sosial

Bukan Berarti Anak Muda Ingin Menghilang dari Media Sosial/Foto: pexels.com/https://kaboompics.com/
Mengurangi penggunaan media sosial bukan berarti seseorang mau meninggalkan bumi digital sepenuhnya. Data Deloitte justru memberitahu adanya perilaku yang lebih kompleks. Dalam laporan Digital Consumer Trends 2026 di Irlandia, hampir sepertiga Gen Z mengatakan mereka telah menghapus aplikasi media sosial dari perangkatnya, tetapi di saat yang sama 46 persen mengaku bergabung dengan aplikasi media sosial yang baru.
Hal tersebut memberitahu bahwa masalahnya bukan terletak pada media sosial yang mau ditinggalkan, melainkan mempertanyakan metode penggunaannya. Menghapus satu aplikasi bisa menjadi metode untuk mengurangi distraksi, sementara menggunakan platform lain statis menjadi bagiankecil dari hayat sehari-hari.
Dengan begitu, offline tidak berarti mesti menutup semua akun maupun menghilang dari internet. Bisa saja bentuknya jauh lebih sederhana: mematikan notifikasi, berhenti scrolling ketika tidak benar-benar membutuhkan informasi, maupun sengaja menyisihkan waktu untuk berbuat sesuatu tanpa membuka ponsel.
Ada Keinginan untuk Kembali Menikmati Dunia Nyata

Anak Muda Mulai Menikmati Lagi Aktivitas Offline/Foto: pexels.com/Vika Glitter
Kecenderungan anak muda untuk bisa lepas dari sosial media justru berfokus pada sesuatu yang lebih sederhana dan berkarakter analog. Sebagian anak muda mulai memilih berjumpa langsung dengan teman, menikmati musik melalui vinyl, menggunakan brick phone, maupun berbuat hobi yang tidak selalu melibatkan media sosial.
Hal positif yang bisa didapat dari aktivitas tersebut adalah kedatangan penuh tanpa adanya distraksi. Misalnya, ketika berjumpa kawan kita tidak sibuk memeriksa notifikasi, sehingga perhatian tidak terus-menerus terbagi antara percakapan dan layar. Begitu pula ketika mendengarkan musik maupun berbuat hobi tanpa merasa perlu mengabadikannya untuk diunggah.
Setelah bertahun-tahun terbiasa mendapatkan hiburan, informasi, komunikasi, terlebihlagi pekerjaan dari satu layar yang sama, berbuat sesuatu tanpa ponsel bisa terasa seperti memungut balik ruang yang sebelumnya terlalu banyak diberikan kepada bumi digital.
Jadi Beauties, maksud dari offline is the new cool di sini adalah sepertiapa kita statis menjadikan teknologi sebagai bagiankecil dari kehidupan, tanpa mesti mengalihkan sepenuhnya kedatangan kita di bumi nyata. Bagaimana menurutmu?
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)