Mengucapkan 'kamu pintar' kepada anak mungkin terdengar seperti corak pujian yang sederhana. Banyak orang tua melontarkan pujian ini dengan tujuan agar anak merasa disayangi dan dicintai.
Padahal tanpa diketahui orang tua, ucapan 'kamu pintar' rupanya bisa menjadi boomerang bagi si anak. Menurut seorang guru besar dari Stanford, Jo Boaler, langkah orang tua memberikan pujian dapat memengaruhi gimana anak memandang keahlian dirinya sendiri.
Para pendidik dan psikolog percaya bahwa ketika orang tua memuji anak-anak lantaran pintar, anak-anak bakal berpikir, 'Oh bagus, saya pintar'. Kemudian ketika anak-anak itu melakukan kesalahan, mereka jadi berpikir, 'Oh tidak, rupanya saya tidak pintar. Orang-orang bakal berpikir saya tidak pintar'.
Menciptakan pola pikir itu adalah akibat yang kudu dihindari saat anak mulai belajar. Anak-anak yang 'pintar' condong menjadi sangat enggan untuk membikin kesalahan, yang sebenarnya sangat krusial untuk meraih kesuksesan.
Mereka yang dilabeli sebagai 'anak pintar' alias 'berbakat' sering kali condong kurang berani menantang diri sendiri dibandingkan anak-anak lain. Anak-anak ini mungkin melakukan lebih sedikit kesalahan, tetapi itu lantaran mereka hanya berani di area nyamannya dan berakhir berkembang serta beradaptasi dengan tantangan baru. Pada akhirnya, perihal tersebut membikin anak lebih susah untuk mengerahkan kemampuannya di masa depan.
Dampak pujian pada anak saat tumbuh dewasa
Menurut Boaler, pola pikir tetap yang tercipta dari akibat pujian 'kamu pintar' dapat bersambung hingga dewasa. Kelompok yang paling dirugikan adalah anak wanita berprestasi tinggi.
"Mengapa? Karena masyarakat memberi tahu anak wanita bahwa mereka mungkin tidak bakal sebaik anak laki-laki dalam matematika dan sains," kata Boaler, dilansir Your Tango.
"Itu berfaedah anak wanita condong lebih menghindari tantangan dalam bagian sains dan matematika, dan keengganan untuk membikin kesalahan menyebabkan berkurangnya pembelajaran dan kemajuan. Semakin disiplin pengetahuan tertentu berpegang teguh pada pendapat tentang bakat, maka semakin sedikit wanita yang meraih gelar PhD di bagian tersebut."
Bicara soal pujian 'kamu pintar', master spsialisasi ilmu jiwa olahraga dan pengasuhan anak Jim Taylor Ph.D., juga setuju dengan pernyataan Boaler. Menurutnya, pujian dengan mengatakan, "Kamu pintar," itu kurang spesifik.
Pujian itu tidak memberi tahu anak-anak apa tepatnya yang mereka lakukan dengan baik, dan tanpa info itu, mereka tidak dapat mengetahui apa yang kudu dilakukan di masa depan untuk mendapatkan hasil yang sama. Kemudian, kata pujian itu hanya berfokus pada hasil, bukan prosesnya.
Penelitian menunjukkan bahwa langkah orang tua memuji anak-anaknya mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perkembangan mereka. Peneliti dari The Columbia University, Claudia Mueller dan Carol Dweck, menemukan bahwa anak-anak yang dipuji lantaran kepintaran dibandingkan dengan upaya mereka, menjadi terlalu konsentrasi pada hasil.
"Setelah kegagalan, anak-anak yang sama ini kurang gigih, menunjukkan kurang menikmati, mengaitkan kegagalan dengan kurangnya kemampuan, dan berkinerja jelek dalam upaya pencapaian di masa mendatang," ungkap Taylor, dikutip dari Psychology Today.
Pengganti kata 'kamu pintar' untuk anak
Alih-alih mengatakan 'kamu pintar' ke anak, Bunda bisa menggantinya dengan pernyataan yang lebih berkarakter umum, seperti 'Kamu melakukan pekerjaan yang hebat!' atau, 'Kamu bekerja keras, dan itu membuahkan hasil!'.
Nah, jika kata 'pintar' dilarang, maka menyebut anak sebagai 'ahli matematika' juga masuk dalam daftar kalimat yang perlu dihindari. Memberi label seseorang sebagai 'orang yang mahir sains' alias 'bukan orang yang mahir sains' sama saja bakal merusaknya, lantaran perihal itu tidak memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan.
Boaler menyarankan agar orang tua menunjukkan simpati ketika seorang anak yang mendapatkan nilai sempurna dalam ujian. Hal itu dilakukan lantaran anak tidak diberi kesempatan untuk belajar dari kesalahan mereka.
"Ketika kita menyampaikan pesan kepada anak-anak bahwa kesalahan itu baik, bahwa orang sukses pun melakukan kesalahan, perihal itu dapat mengubah seluruh jalan hidup mereka," ungkap Boaler.
Demikian penjelasan master mengenai akibat mengatakan 'kamu pintar' pada anak. Semoga info ini berfaedah ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)