Jakarta -
Bunda, beberapa waktu terakhir media sosial diramaikan dengan kisah sepasang suami istri yang mendapat kecaman setelah memutuskan mengakhiri kehamilan usai janin didiagnosis mengalami down syndrome. Kasus ini memicu perdebatan panjang tentang kewenangan reproduksi, etika, hingga support bagi family yang membesarkan anak berkebutuhan khusus.
Pasangan tersebut adalah pembuat konten asal Amerika Serikat, Jesse Ridgway, yang dikenal lewat kanal McJuggerNuggets. Dalam unggahannya, Jesse mengaku keputusan itu diambil setelah melalui proses emosional yang berat berbareng sang istri. Namun setelah kisah mereka viral, banyak warganet dan golongan antiaborsi yang mengecam keputusan tersebut.
Dikutip dari CodeBlue, unggahan tentang pengalaman tersebut ditonton jutaan kali dan memicu obrolan besar di beragam negara. Sebagian orang menilai keputusan itu sebagai kewenangan pribadi pasangan, sedangkan yang lain menganggapnya sebagai persoalan moral dan etika.
Perbedaan pandangan ini rupanya sangat dipengaruhi oleh budaya dan kepercayaan masyarakat. Di beberapa negara Barat, rumor aborsi sering berangkaian dengan kepercayaan dan politik. Sementara di sejumlah negara Asia Timur, pertimbangan mengenai kesejahteraan family dan kesiapan membesarkan anak dengan kebutuhan unik juga menjadi aspek krusial dalam pengambilan keputusan.
Pasangan suami istri ini menjadi sorotan publik internasional setelah mengungkapkan keputusan mereka untuk mengakhiri kehamilan usai hasil tes prenatal menunjukkan janin mengalami Trisomi 21 alias down syndrome. Kisah tersebut memicu perdebatan sengit di media sosial dan menuai kecaman dari beragam pihak.
Di sisi lain, sebagian warganet memberikan support dengan menilai keputusan mengenai kehamilan merupakan ranah pribadi family yang tidak mudah dijalani.
Pro dan kontra soal keputusan aborsi
Artikel ditulis oleh Dr Alexis Heng Boon Chin menyoroti bahwa respons keras terhadap kasus ini sangat dipengaruhi oleh latar budaya dan kepercayaan masyarakat.
Di Amerika Serikat, rumor aborsi sering dikaitkan dengan nilai religius dan politik. Banyak golongan meyakini bahwa kehidupan manusia dimulai sejak pembuahan, sehingga penghentian kehamilan dipandang sebagai persoalan moral yang serius.
Sementara itu, di beberapa negara Asia Timur seperti China, Jepang, dan Korea Selatan, pertimbangan mengenai kesejahteraan family dan beban sosial sering kali menjadi aspek utama dalam pengambilan keputusan mengenai kehamilan.
Fakta tentang down syndrome
Down syndrome adalah kelainan genetik yang terjadi ketika seseorang mempunyai salinan tambahan kromosom 21. Kondisi ini dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan, gangguan intelektual, serta beragam masalah kesehatan seperti kelainan jantung bawaan dan gangguan pendengaran.
Deteksi down syndrome selama kehamilan umumnya dilakukan melalui:
- Tes skrining trimester pertama
- Non-Invasive Prenatal Testing
- USG khusus
- Tes diagnostik seperti amniosentesis
Dalam tulisan yang sama, Dr Alexis menyebut bahwa tingkat penghentian kehamilan setelah pemeriksaan Down Syndrome berbeda-beda di setiap negara. Ia mengutip informasi yang menunjukkan bahwa di China, sebagian besar kehamilan dengan pemeriksaan Down Syndrome berhujung dengan terminasi, sedangkan di Amerika Serikat angkanya lebih rendah. Perbedaan ini mencerminkan ragam nilai budaya, support sosial, dan kepercayaan masyarakat terhadap disabilitas.
Perdebatan etika yang tidak pernah sederhana
Kasus Jesse Ridgway kembali membuka obrolan tentang kewenangan reproduksi, support terhadap penyandang disabilitas, serta tekanan sosial yang dihadapi orang tua ketika menerima pemeriksaan kelainan genetik pada janin.
Sejumlah aktivis disabilitas beranggapan bahwa tingginya nomor terminasi kehamilan setelah pemeriksaan Down Syndrome juga menunjukkan tetap kurangnya support bagi family yang membesarkan anak berkebutuhan khusus. Di sisi lain, banyak pasangan yang menghadapi dilema besar mengenai kondisi kesehatan anak, kesiapan emosional, finansial, dan masa depan keluarga.
Untuk Bunda yang sedang menjalani kehamilan
Jika Bunda menerima hasil skrining yang menunjukkan kemungkinan kelainan genetik pada janin, krusial untuk:
- Berkonsultasi dengan master kandungan alias konselor genetik.
- Memahami perbedaan antara tes skrining dan tes diagnostik.
- Mencari info dari sumber medis yang terpercaya.
- Melibatkan pasangan dan family dalam proses pengambilan keputusan.
- Menjaga kesehatan mental selama menghadapi proses yang emosional.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·