Jakarta -
Kehamilan rupanya juga membawa akibat tertentu baik secara positif alias negatif bagi janin. Sebab, penelitian ungkap ibu mengandung bisa menularkan kondisi ini ke janin.
Keberadaan janin di dalam perut ibu selama kehamilan memang sangat berjuntai pada ibunya. Apa yang ibu mengandung makan tentunya itulah nutrisi yang dikonsumsi janin di dalam perut juga. Sehingga, ada risiko-risiko yang mungkin bisa dialami janin mengingat apa yang ibu lakukan dan konsumsi juga dapat berkapak pada janin.
Seperti pada sebuah penelitian terbaru ditemukan bahwa menguapnya ibu mengandung rupanya juga menular dan itu dimulai dari dalam rahim, Bun. Ya, seperti diketahui bahwa memandang seseorang menguap tepat di depan kita sering membikin kita secara naluriah melakukan perihal yang sama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dan, perihal ini sering dikaitkan dengan hubungan sosial dan emosional serta pencerminan otak, di mana kita secara otomatis menyelaraskan dan menstimulasikan emosi dan tindakan orang-orang di sekitar kita. Dalam sebuah studi baru-baru ini yang diterbitkan di Current Biology menemukan bahwa perilaku ini dimulai apalagi sebelum lahir.
Para peneliti merekam ekspresi wajah wanita mengandung sementara mesin ultrasound menangkap gambar wajah janin mereka secara real-time. Dengan membandingkan kedua rekaman tersebut, para peneliti mengawasi bahwa janin lebih condong menguap setelah ibu mereka menguap, dengan jarak sekitar 90 detik seperti dikutip dari laman Medical Express.
Melacak sinkronisasi menguap ibu dan janin
Menguap pada manusia dimulai jauh lebih awal daripada yang disadari kebanyakan orang. Sementara, janin mulai menguap di dalam rahim sekitar usia 11 minggu.
Karena tidak ada udara yang dapat dihirup janin, selama menguap, janin perlahan membuka mulut mereka dan melakukan aktivitas yang menyerupai bernapas masuk dan keluar. Kemudian, dengan lembut mereka menutup mulut mereka lagi.
Untuk waktu yang lama, para intelektual percaya bahwa menguap janin dianggap murni didorong oleh proses biologis internal, tetapi tidak ada cukup bukti untuk membuktikannya betul alias salah.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti mau memandang apakah janin di dalam rahim bakal tertular menguap dari ibu mereka alias tidak. Untuk itu, mereka melibatkan 38 wanita mengandung yang berada di antara usia kehamilan 28 dan 32 minggu di mana semuanya dengan kehamilan yang sehat dan tanpa komplikasi.
Eksperimen tersebut melibatkan para ibu yang menonton tiga jenis video berbeda di ruangan yang tenang. Adapun video yang dilihat ialah video menguap, video aktivitas mulut, dan video wajah diam. Sementara kamera video memantau wajah ibu, para peneliti juga menggunakan mesin USG 2D untuk memberikan tampilan real time dari hidung dan bibir janin.
Tiga ahli, yang tidak tahu apa yang ditonton ibu, meninjau rekaman yang dikumpulkan dan memverifikasi menguapnya. Para peneliti menggunakan perangkat AI yang disebut DeepLabCut untuk melacak secara tepat aktivitas bibir dan hidung yang halus, kemudian melatih jaringan saraf untuk memandang apakah menguapnya ibu mencerminkan pola aktivitas janinnya.
Dari sana, peneliti menemukan bahwa bahwa menguapnya janin meningkat secara signifikan hanya ketika ibu menguap, bukan ketika dia hanya membuka dan menutup mulutnya alias membiarkan wajahnya diam.
Para peneliti menyebut bahwa kejadian tersebut sebagai penularan perilaku prenatal. Menguapnya janin juga tidak acak. Mereka biasanya muncul sekitar 90 detik setelah ibu menguap, yang mirip dengan waktu respons yang terlihat pada penularan menguap pada orang dewasa.
Temuan ini menunjukkan bahwa menguap janin mungkin merupakan bagian dari hubungan awal ibu-bayi, di mana perilaku ibu dapat memengaruhi gimana janin merespons. Penelitian lebih lanjut tentang seberapa dalam hubungan perilaku ini bekerja, dan apakah perihal itu mempunyai pengaruh perkembangan jangka panjang, dapat membentuk kembali perawatan prenatal.
Menguap dan indikasi berat badan lahir rendah pada janin
Mengutip dari laman News Medical, dalam penelitian lainnya yang dipublikasi di Jurnal PLOS One oleh Damiano Menin dari Universitas degli Studi di Ferrara di Italia dan rekan-rekannya pada Februari 2026 menemukan bahwa di dalam rahim, tempat semua oksigen disediakan oleh plasenta orang tua, janin memang dapat dan bisa menguap.
Lebih banyak menguap selama pengamatan dikaitkan dengan berat badan lahir yang rendah yang berpotensi menunjukkan stres janin ringan di dalam rahim, berasas temuan studi tersebut.
Menguap merupakan perilaku yang ditemukan di seluruh vertebrata, dan tidak ada yang betul-betul tahu mengapa. Pada manusia, janin menguap di dalam rahim sejak sekitar usia 11 minggu. Meskipun tidak ada udara untuk bernapas, mereka perlahan membuka mulut mereka, melakukan aktivitas yang mirip dengan menghirup dan menghembuskan napas, dan menutup mulut mereka lagi.
Untuk memahami lebih lanjut tentang menguap pada janin, para penulis studi ini menggunakan USG untuk mengawasi 32 janin sehat (56 persen perempuan, 44 persen laki-laki) antara usia kehamilan 23 dan 31 minggu. Kemudian, dari setiap janin diamati selama 22,5 menit.
Dari pengamatan tersebut, para penulis menemukan bahwa janin menguap antara nol hingga enam kali selama periode pengamatan, dengan rata-rata 3,63 kali menguap per jam. Mereka juga menunjukkan bahwa janin yang lebih sering menguap selama pengamatan lebih condong mempunyai berat badan rendah saat lahir, yang dianggap sebagai parameter gangguan ringan, meskipun semua janin dalam penelitian ini lahir sehat.
Para peneliti tidak melakukan manipulasi apa pun untuk memandang apakah mereka dapat memengaruhi menguap janin, dan juga tidak mencatat pengukuran seperti debar jantung janin alias suhu ibu, yang berpotensi mengenai dengan perilaku tersebut.
Selain itu, tidak ada kehamilan berisiko tinggi yang diamati para penulis. Berdasarkan penelitian mereka, para penulis menyarankan bahwa seringnya janin menguap mungkin merupakan tanda stres ringan pada janin yang sehat.
"Kami menemukan bahwa gelombang menguap di dalam rahim berasosiasi negatif dengan berat lahir, berpotensi menunjukkan respons mengenai stres pada janin yang sehat. Ini menunjukkan bahwa apalagi sebelum lahir, menguap dapat berfaedah sebagai parameter kesejahteraan janin," kata para penulis.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·