Perempuan Rentan Alami Depresi Berat Usai 2 Minggu Melahirkan, Ini Kata Studi Terbaru

Jun 09, 2026 11:00 AM - 2 jam yang lalu 36

Jakarta -

Depresi pasca persalinan dapat memperburuk masa pemulihan usai melahirkan. Kondisi ini dapat membikin seorang Bunda merasa hampa, tanpa emosi, dan mengalami kesedihan yang luar biasa berat.

Studi terbaru menemukan bahwa seorang wanita bisa mengalami depresi berat usai melahirkan. Penelitian yang dipublikasikan di The Lancet Psychiatry ini menjelaskan bahwa depresi berat berfluktuasi selama dan setelah persalinan, tetapi mempunyai prevalensi tertinggi dua minggu usai melahirkan.

Dalam studi ini, para peneliti dari University of Queensland menggunakan informasi dari 780 studi, yang dikumpulkan dari lebih dua juta wanita dan anak wanita di 90 negara di seluruh dunia. Profesor Alize Ferrari dari School of Public Health, mengatakan bahwa mereka meneliti periode waktu dari konsepsi hingga 12 bulan setelah melahirkan untuk lebih memahami gimana prevalensi depresi berat berfluktuasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Secara global, depresi berat berakibat pada sekitar 4,3 persen wanita dan anak wanita (di bawah 18 tahun) dalam populasi yang lebih luas, tetapi kami menemukan prevalensinya adalah 6,2 persen untuk wanita selama kehamilan dan 6,8 persen selama 12 bulan setelah melahirkan," kata Ferrari, dilansir laman resmi University of Queensland.

"Hasil penelitian ini menyoroti perlunya memasukkan skrining dan intervensi awal untuk depresi selama periode peripartum, terutama dalam kunjungan perawatan antenatal dengan master kandungan, bidan, dan master umum, serta pemeriksaan kesehatan periode pasca persalinan lainnya."

Studi ini juga menemukan variabilitas yang signifikan di beragam wilayah, Bunda. Prevalensi depresi berat selama periode peripartum tertinggi di Afrika sub-Sahara bagian selatan dan Asia selatan, dan terendah berada di daerah berpenghasilan tinggi di area Asia Pasifik.

Rekan peneliti Adjunkt, Dr. Paul Miller, mengatakan bahwa perbedaan regional ini dapat disebabkan oleh ragam dalam metodologi pengumpulan data, dan aspek akibat psikososial. Selain itu, perlu diperhatikan juga adanya perbedaan dalam akses ke jasa kesehatan, halangan dalam perawatan, dan aspek budaya.

"Cara keluarga, organisasi yang lebih luas, dan sistem kesehatan mendukung wanita dan anak wanita selama kehamilan dan beberapa bulan setelahnya berbeda-beda dari satu negara ke negara lain, dan ini berkedudukan dalam kesehatan mental mereka," ungkap Miller.

"Prevalensi depresi berat di kalangan wanita dan anak wanita yang tinggal di daerah Australasia hanya sedikit di bawah rata-rata global, ialah 5,7 persen selama kehamilan dan 6,1 persen untuk tahun setelah melahirkan. Temuan kami menunjukkan perlunya peningkatan skrining, pencegahan, dan pengobatan depresi berat selama kehamilan dan periode pasca persalinan," sambungnya.

Apa itu depresi pasca melahirkan?

Depresi pasca melahirkan alias depresi postpartum merupakan suatu corak depresi yang terjadi setelah bayi lahir. Depresi ini dapat mengganggu kegiatan seorang wanita dalam menjalankan perannya sebagai Bunda.

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menjelaskan bahwa seseorang dengan depresi postpartum tidak dapat melakukan tugas sehari-hari, termasuk mengasuh anaknya. Kondisi ini dapat terjadi hingga satu tahun setelah melahirkan, namun paling sering dimulai sekitar satu sampai tiga minggu setelah melahirkan.

"Orang-orang tidak boleh menganggap enteng depresi postpartum. Ini adalah kondisi yang serius, namun beragam program pengobatan dapat membantu mengatasinya. Jika mengalami depresi postpartum, maka wanita itu perlu tahu bahwa dia tidak sendirian dan bisa pulih," ujar profesor, peneliti, dan praktisi kesehatan holistik, Debra Rose Wilson, Ph.D, dikutip dari Healthline.

Studi lain menunjukkan bahwa semakin lama seseorang mengalami depresi postpartum, maka semakin besar mereka mengalami depresi kronis. Misalnya, dalam sebuah penelitian di JAMA Psychiatry tahun 2018 menemukan bahwa sebagian besar wanita yang mengalami depresi berat di 2-8 bulan pasca persalinan bakal terus mengalami indikasi depresi lebih dari 10 tahun kemudian.

Tanpa pengobatan, depresi dapat memburuk. Pada kasus yang serius, depresi berat dapat mengarah pada pemikiran untuk melukai diri sendiri alias melukai orang lain, hingga berujung pada kematian.

Menurut ACOG, depresi pasca persalinan dapat diobati dengan terapi dan pemberian obat. Selain itu, support dari family juga sangat dibutuhkan untuk mengatasi depresi postpartum. Keluarga diharapkan bisa terus memberikan afirmasi positif dan berada di samping ibu yang mengalami kondisi ini.

Demikian studi terbaru yang menyoroti nomor depresi berat yang tinggi usai dua minggu usai melahirkan. Semoga info ini berfaedah ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Selengkapnya