Jakarta -
Posisi misionaris dianggap dapat memperbesar potensi kehamilan dalam program hamil. Namun, tidak semua pendapat medis sepakat dengan perihal tersebut.
Dalam proses merencanakan kehamilan, banyak pasangan suami istri (pasutri) mencari beragam langkah yang bisa membantu memperbesar kesempatan mendapatkan momongan. Mulai dari pengaturan waktu hubungan, style hidup, hingga posisi hubungan intim yang sering dianggap berpengaruh.
Apa itu posisi misionaris?
Posisi misionaris adalah posisi hubungan intim ketika istri berebahan telentang, sementara suami berada di atas dengan posisi saling berhadapan. Posisi ini termasuk yang paling umum lantaran dianggap nyaman, sederhana, dan memungkinkan kedekatan emosional yang lebih kuat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyak pasangan menggunakan posisi ini lantaran memungkinkan kontak mata langsung dan hubungan bentuk yang lebih intens.
Melansir WebMD, istilah misionaris digunakan pada akhir tahun 1960-an alias awal tahun 1970-an untuk menggambarkan hubungan heteroseksual ketika laki-laki berada di atas dan wanita di bawah. Saat ini, istilah tersebut mempunyai makna yang lebih luas yang melampaui heteroseksualitas.
Dalam konteks program kehamilan, posisi misionaris sering dipercaya bisa membantu sperma lebih mudah mencapai sel telur lantaran penetrasi dianggap lebih 'langsung'.
Posisi misionaris bisa perbesar kesempatan hamil?
Dalam program hamil, para mahir lebih menekankan pentingnya hubungan intim yang dilakukan pada masa subur dibandingkan posisi tertentu.
Secara biologis, sperma dapat memperkuat di dalam tubuh wanita hingga lima hari, sedangkan sel telur hanya memperkuat sekitar 12 hingga 24 jam setelah ovulasi. Karena itu, waktu hubungan intim menjadi aspek yang sangat menentukan.
"Jadi wanita bisa berasosiasi intim hingga lima hari sebelum ovulasi alias satu hari setelahnya untuk mendapatkan kehamilan," kata master ahli obstetri dan ginekologi Dr. Barry Witt, dilansir laman American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG).
Selain itu, master merekomendasikan posisi berasosiasi intim dalam program hamil. Salah satunya style misionaris dalam berasosiasi intim. Misionaris memposisikan suami di atas untuk melakukan penetrasi, sehingga memberi akses sperma berjumpa sel telur.
"Dalam posisi istri di atas, sperma kudu berenang ke hulu. Namun, posisi suami di atas memungkinkan sperma mengalir ke lubang memek dan menuju leher rahim," ujar master ahli obstetri dan ginekologi Nita Landry, MD.
Selain waktu, gelombang hubungan intim juga berkedudukan krusial dalam program hamil. Banyak master menyarankan pasangan untuk lebih rutin berasosiasi di masa subur agar kesempatan pertemuan sperma dan sel telur semakin besar.
Apa posisi misionaris memperbesar kesempatan kehamilan? Hingga saat ini, tidak ada bukti medis kuat yang menunjukkan bahwa posisi misionaris secara unik dapat meningkatkan kesempatan kehamilan dibandingkan posisi lainnya.
Beberapa mahir menyebut bahwa posisi apa pun yang memungkinkan ejakulasi terjadi di dalam memek tetap mempunyai kesempatan yang sama untuk terjadinya pembuahan. Posisi misionaris sering disebut lantaran dianggap nyaman dan praktis dalam banyak pasangan.
Melansir Mayo Clinic, secara medis kesempatan kehamilan lebih ditentukan waktu ovulasi, kualitas sperma dan sel telur, dan kesehatan reproduksi kedua pasangan. Bukan semata-mata posisi.
NHS dan Cleveland Clinic juga menekankan bahwa aspek paling menentukan keberhasilan kehamilan adalah:
- Hubungan di masa subur.
- Kesehatan reproduksi.
- Frekuensi hubungan yang konsisten.
Posisi tidak disebut sebagai aspek penentu utama dalam kesempatan kehamilan.
Jika pasutri berambisi untuk hamil, jangan berjuntai pada keberuntungan. Ketahui langkah mengandung dimulai dengan memprediksi ovulasi dan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan untuk memaksimalkan kesuburan.
Faktor lain yang memengaruhi kesempatan kehamilan
Selain posisi dan waktu, ada beberapa aspek lain yang mempengaruhi kehamilan yang dirangkum dari beragam sumber.
1. Kualitas sperma dan sel telur
Kesehatan sperma sangat dipengaruhi style hidup. Seperti pola makan, tidur, stres, dan kebiasaan merokok. Begitu juga dengan kualitas sel telur yang dipengaruhi usia dan kondisi hormon.
2. Kondisi kesehatan reproduksi
Masalah seperti gangguan ovulasi, PCOS, alias jangkitan reproduksi dapat memengaruhi kesempatan kehamilan meskipun hubungan dilakukan secara rutin.
3. Gaya hidup sehari-hari
Stres berlebihan, kurang tidur, hingga berat badan yang tidak ideal juga dapat memengaruhi keseimbangan hormon reproduksi.
Anggapan posisi misionaris perbesar potensi kehamilan hingga sekarang belum sepenuhnya didukung bukti ilmiah. Pasutri yang sedang menjalani program mengandung sebaiknya lebih konsentrasi pada waktu ovulasi dan menjaga kesehatan reproduksi.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·