Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 5): Keimanan yang Benar kepada Allah dan Rasul-Nya

Akidah dan Sunnah Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 6 menit 29x dilihat
Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 5): Keimanan yang Benar kepada Allah dan Rasul-Nya

Ketiga, keagamaan yang betul kepada Allah dan Rasul-Nya

Di antara karakter manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikutnya dalam masalah ketaatan adalah meyakini bahwa Allah mempunyai kewenangan yang wajib ditunaikan oleh setiap hamba-Nya, ialah beragama hanya kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dan meyakini risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenabiannya, dicintai, ditaati, dan dijadikan teladan dalam menjalankan agama.

Oleh lantaran itu, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

الله حـــــــــــــــــــق لـــــــــــــــــــــيس لعبــــــــــــــــــــــده        ولعبـــــــــــــــده حــــــــــــــــق همــــــــــــــــا حقــــــــــــــــان
لا تجعــــــل الحقـــــين حقـــــــاً واحــــــداً         مـــــــــــــــن غـــــــــــــــير تميـــــــــــــــيز ولا فرقـــــــــــــان

Allah mempunyai kewenangan yang wajib dipenuhi oleh hamba-Nya,

dan hamba (Rasul)-Nya juga mempunyai hak; keduanya mempunyai hak.

Janganlah engkau menjadikan kedua kewenangan itu sebagai satu hak,

Tanpa membedakan dan memisahkannya.

Beliau rahimahullah mengingatkan bahwa kewenangan Allah ‘Azza wa Jalla dan kewenangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dua perkara yang berbeda. Keduanya wajib dipenuhi, tetapi tidak boleh disamakan alias dicampuradukkan. Hak Allah Azza wa Jalla adalah menerima seluruh corak ibadah, sedangkan kewenangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ditaati dan diikuti sunah-sunahnya.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengatakan bahwa ketaatan adalah ucapan dengan lisan, kepercayaan dalam hati, dan beramal dengan personil badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang lantaran kemaksiatan.

Inilah arti ketaatan menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Iman bukan sekadar ucapan di lisan saja, lantaran yang seperti itu adalah akidahnya orang-orang munafik. Mereka mengucapkan dengan lisan apa yang tidak ada dalam hati mereka. Mereka menampakkan iman, tetapi menyembunyikan kekafiran. Mereka berada pada tingkatan paling bawah di dalam neraka dan tidak ada seorang penolong pun bagi mereka. Mereka juga bersaksi dengan lisan mereka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah, tetapi mengingkarinya di dalam hati mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ، اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, Kami bersaksi bahwa engkau betul-betul utusan Allah.’ Allah mengetahui bahwa engkau betul-betul utusan-Nya, dan Allah bersaksi bahwa orang-orang munafik itu betul-betul pendusta. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lampau mereka menghalangi manusia dari jalan Allah. Sungguh jelek apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 1–2)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga tidak mengatakan bahwa ketaatan hanyalah kepercayaan dalam hati tanpa diucapkan dengan lisan dan tanpa diamalkan dengan personil badan, sebagaimana pendapat Murji’ah. Mereka beranggapan bahwa ketaatan hanyalah pembenaran dalam hati saja, meskipun seseorang tidak mengucapkannya dengan lisan dan tidak mengamalkannya dengan personil badan.

Demikian juga keadaan orang-orang musyrik. Mereka mengetahui bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rasulullah dan meyakini perihal itu dalam hati mereka. Orang-orang Yahudi dan Nasrani juga meyakini perihal tersebut.

Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui prinsip mereka,

قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ

“Sungguh Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu membuatmu bersedih. Sebenarnya mereka bukan mendustakanmu, tetapi orang-orang kejam itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (QS. Al-An’am: 33)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengatakan yang demikian tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani,

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ، الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengenalnya (Muhammad) sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Namun, sungguh sebagian dari mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah Anda termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah: 146–147)

Iman bukan sekadar pembenaran dalam hati tanpa pengucapan dengan lisan dan tanpa disertai amalan, sebagaimana iktikad Murji’ah. Seandainya perihal itu benar, maka orang-orang musyrik, Yahudi, dan Nasrani termasuk orang-orang yang beriman. Hal ini menunjukkan batilnya iktikad orang-orang Murji’ah.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa ketaatan dapat bertambah lantaran ketaatan. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala pada beberapa ayat berikut,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beragama itu hanyalah mereka yang andaikan disebut nama Allah, hati mereka bergetar; dan andaikan dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah ketaatan mereka, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى

“Dan Allah bakal menambah petunjuk kepada orang-orang yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ، وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ

“Dan andaikan diturunkan suatu surah, maka di antara mereka ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya lantaran (turunnya) surah ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surah itu menambah ketaatan mereka dan mereka bergembira. Sedangkan orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka surah itu menambah kekotoran di atas kekotoran mereka, dan mereka meninggal dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah: 124–125)

وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا

“Agar orang-orang yang beragama semakin bertambah imannya.” (QS. Al-Muddatstsir: 31)

Selain itu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga meyakini bahwa ketaatan dapat berkurang lantaran kemaksiatan dan dosa. Bahkan, ketaatan dapat terus melemah hingga tak tersisa selain seberat zarrah atau sebesar biji sawi saja.

Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

“Barang siapa di antara kalian memandang suatu kemungkaran, hendaklah dia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim no. 49)

Dan firman Allah ‘Azza wa Jalla,

هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ

“Pada hari itu, mereka lebih dekat kepada kekafiran daripada kepada keimanan.” (QS. Ali ‘Imran: 167)

Ayat ini menunjukkan bahwa tingkat keagamaan seseorang dapat berbeda-beda. Seseorang bisa berada pada kondisi yang sangat lemah imannya sehingga dia lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan.

Hal ini juga diperkuat oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الإيمان بضع وسبعون أو بضع وستون شعبة، فأفضلها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان

“Iman terdiri atas lebih dari tujuh puluh cabang, alias lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, sedangkan bagian yang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan. Dan rasa malu merupakan salah satu bagian iman.” (HR. Muslim no. 35)

Hadis ini menunjukkan bahwa ketaatan mempunyai banyak tingkatan. Ada bagian ketaatan yang paling utama, ada pula bagian yang berada pada tingkatan paling rendah. Dengan demikian, menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tingkat keagamaan seseorang bisa berbeda-beda, dan keagamaan dapat bertambah dan berkurang sesuai dengan ketaatan maupun kemaksiatan yang dilakukan oleh seseorang.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 4

***

Penulis: Chrisna Tri Hartadi

Artikel Kincai Media

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 22–25.

Artikel Lainnya Akidah dan Sunnah

Bagikan Postingan