Jakarta -
Memiliki anak kembar menjadi kemauan sebagian pasangan di luar sana agar sekali persalinan bisa mendapatkan lebih dari satu anak. Katanya, program bayi tabung bisa dapat anak kembar, benarkah? Dokter ungkap faktanya.
Mendapatkan kehamilan mungkin tampak mudah untuk banyak pasangan. Tetapi, sebagian lainnya tetap ada yang merasa kesulitan memilikinya. Bahkan, solusi mempunyai anak lewat program bayi tabung pun ditempuh untuk mewujudkan kemauan tersebut.
Nah, banyak yang pasangan yang rupanya memanfaatkan program bayi tabung untuk mempunyai bayi, apalagi bayi kembar lho, Bunda. Lantas, benarkah jika program bayi tabung alias IVF bisa mewujudkan perihal tersebut?
Menurut Prof Alan Peaceman, MD, seorang guru besar dan Kepala Kedokteran Maternal-Janin Di Northwestern University Feinberg School of Medicine, bahwa pasien biasanya sangat konsentrasi untuk mendapatkan kehamilan dalam corak apa pun. Sehingga, kekhawatiran dengan kehamilan kembar menjadi perihal sekunder.
Program bayi tabung untuk dapatkan anak kembar
Namun, biar kenyataannya tampak menggemaskan dan tidak perlu kerja dobel untuk mendapatkan anak lebih dari satu lewat satu persalinan, mempunyai anak kembar bukan tanpa akibat ya, Bunda. Dibandingkan dengan mempunyai satu bayi, anak kembar mungkin dapat mengalami masalah kesehatan serius, apalagi akibat yang dapat menakut-nakuti jiwa mereka termasuk kelahiran prematur, berat lahir rendah, dan abnormal lahir.
Untuk itu, sebelum memutuskan mempunyai kehamilan kembar melalui IVF, ada baiknya menyimak kelebihan dan kekurangan dari masing-masing sisi, Bun:
1. Biaya IVF perlu dipikirkan
Biaya progam bayi tabung biasanya tidak ditanggung perusahaan asuransi meski ada juga perusahaan asuransi yang memberikan benefit tersebut. Bagi yang tidak mempunyai benefit bayi tabung, perihal tersebut membikin pasien menanggung biaya IVF sendiri.
Di AS sendiri, untuk satu siklus IVF, biaya yang dibutuhkan sekira USD12.500, kata Elizabeth Ginsburg, MD, President dari Society for Assisted Reproductive Technology (SART) dan kepala medis teknologi reproduksi berbantu di Brigham and Women Hospital di Boston.
Alhasil, bagi sebagian orang, mereka hanya bisa dalam keahlian yang terbatas, sekali alias dua kali. Sementara, program IVF sendiri tidak selalu sukses di siklus pertama.
2. Risiko medis dari kelahiran kembar
Para mahir kesehatan banyak yang tidak menyetujui mencoba mempunyai anak kembar lantaran merupakan upaya yang berisiko. Risiko tersebut diantaranya kematian bayi, kelahiran prematur, berat lahir rendah, abnormal lahir, dan akibat bagi ibu seperti preeklamsia, glukosuria gestasional, perdarahan, dan lainnya, seperti dikutip dari laman WebMd.
Meskipun ada risiko-risiko yang menghantui, banyak juga kasus anak kembar lahir tepat waktu dan lahir sehat. Selain itu, meskipun tingkat kematian bayi di antara bayi kembar jauh lebih tinggi dibandingkan bayi tunggal, kebanyakan bayi kembar tidak meninggal.
Catatan CDC menunjukkan sekitar 30 dari 1.000 anak kembar AS yang lahir pada 2006 tercatat meninggal satu bayi, jauh dibandingkan pada kasus bayi tunggal ialah enam per 1.000 bayi tunggal. Jadi, bukan berfaedah semua anak kembar bakal mengalami komplikasi, tetapi memang kesempatan mereka tidak sebaik bayi tunggal.
Mengingat akibat yang muncul relatif ada mengenai kehamilan kembar, sebagian master tidak menyarankan mencoba mempunyai anak kembar. "Siapa pun yang datang meminta kehamilan kembar, kami bakal membujuk dan mencoba mereka berpikir dengan benar,"kata Mark Perloe, MD, kepala medis Georgia Reproductive Specialists di Atlanta.
Faktanya memang, master tidak bisa menjamin anak kembar di awal program IVF. SART dan The American Society of Reproductive Medicine (ASRM) mempunyai pedoman tentang berapa banyak embrio yang kudu dipindahkan ke pasien IVF, berasas usia, riwayat reproduksi, dan kualitas embrio.
Namun, tidak semua embrio yang ditransfer menghasilkan kelahiran hidup, dan apalagi jika hanya satu embrio yang dipindahkan, embrio itu bisa terbelah sehingga menghasilkan kembar. Singkatnya ialah, hasil IVF tidak sepenuhnya berada dalam kendali pasien alias dokter.
Risiko kelahiran prematur adalah perhatian utama bagi Phyllis Dennery, MD, FAAP. Sebagai kepala bagian neonatologi di Children Hospital of Philadelphia, dia memandang langsung komplikasi yang dapat terjadi pada anak kembar dan anak kembar lainnya.
Dennery menjelaskan bahwa semakin banyak embrio di rahim, semakin besar kemungkinan kelahiran prematur dan komplikasinya, seperti paru-paru, otak, usus, dan perdarahan di otak.
Mempertimbangkan akibat bayi kembar via bayi tabung
Pasien IVF sering kali berubah pikiran mengenai kemauan mereka mempunyai anak kembar meski sudah mengetahui risiko-risiko tersebut. "Saya pikir ini betul-betul masalah edukasi," kata Ginsburg.
Terkait akibat kehamilan bayi kembar, itulah yang ditemukan oleh mahir endokrinologi reproduksi Ginny Ryan, MD, dan rekan-rekannya pada tahun 2007 ketika mereka mempelajari 110 pasangan yang menjalani IVF di klinik University of Iowa di Iowa City.
Survei menunjukkan bahwa ketika pasien pertama kali datang ke klinik, 29 persen mengatakan anak kembar adalah hasil IVF yang paling mereka inginkan. Setelah membaca sebuah pamflet dan berbincang dengan master tentang akibat yang mengenai dengan kehamilan kembar, nomor itu turun menjadi 14 persen.
Namun, master mengatakan bahwa ada juga pasien yang ada dan sudah mengetahui risikonya, tetapi beberapa diantaranya tetap kesulitan menerima realita itu. "Itu memang sifat manusia," kata Ryan.
"Ketika Anda telah menjalani perawatan infertilitas selama bertahun-tahun, ada konsentrasi yang sangat besar hanya pada kehamilan sehingga susah memandang gambaran besar sejauh apa yang bakal terjadi selama kehamilan, apa yang bakal terjadi setelah kehamilan. Ini betul-betul seperti pandangan dalam terowongan menuju kehamilan. Dan saya bisa mengerti itu."
CDC melaporkan bahwa tingkat kelahiran kembar naik 70 persen antara tahun 1980 dan 2004, namun stabil antara tahun 2005 dan 2006 dengan tingkat 32.1 anak kembar per 1.000 kelahiran di AS.
Ya, kehamilan kembar nyatanya memang selalu saja ada yang menginginkannya meski ada akibat di baliknya. Bagi John Moore, MD, FAAP, kepala pediatri di Carilion Clinic di Roanoke, yang sudah mengikuti penelitian tentang anak kembar mengatakan bahwa menjadi ayah anak kembar tidaklah mudah. Ia mencatat bahwa anak kembar yang lahir sehat dan lahir cukup bulan pun tetap membikin stres orang tuanya.
"Ini jauh lebih susah daripada yang orang kira. Orang perlu menyadarai bahwa ketika bayi lahir, itu ada awal dari proses dengan anak kembar, bukan akhir,"katanya.
Apakah Bunda sudah siap dengan semua risikonya jika mau mengupayakan anak kembar? Ada baiknya konsultasikan dengan master terlebih dulu ya, Bunda, untuk mendapatkan gambaran terbaik dari sisi medis dan juga besaran kesempatan yang bisa Bunda dapatkan dengan riwayat kesehatan yang Bunda miliki.
Semoga informasinya membantu, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)