Radiofrekuensi Ablasi untuk Nyeri Lutut: Apa Itu?

Jun 10, 2026 09:00 AM - 2 bulan yang lalu 58764

Banyak orang berpikir bahwa satu-satunya jalan keluar dari nyeri dengkul adalah operasi. Padahal, sekarang ada pilihan lain yang lebih kondusif ialah radiofrekuensi ablasi (RFA).

Nyeri dengkul yang tak kunjung sembuh bisa sangat mengganggu kegiatan sehari-hari. Mulai dari susah berjalan, susah naik tangga, hingga tidak bisa berdiri terlalu lama—semua ini adalah keluhan umum yang dirasakan oleh penderita nyeri dengkul kronis.

Prosedur RFA ini semakin terkenal sebagai solusi pengobatan non-operasi sekaligus bagian dari intervensi manajemen nyeri modern untuk mengatasi nyeri dengkul yang sudah tidak mempan dengan obat-obatan maupun suntikan biasa.

Dalam bumi kedokteran, pendekatan ini juga dikenal sebagai pain management berbasis tindakan intervensi nyeri yang minim risiko.

Jika mau berkonsultasi tentang nyeri dengkul dan sendi dengan master mahir Klinik Patella dapat menghubungi melalui WA di 0811-8124-2022. Yuk atasi cedera kaki dan sendi Anda berbareng Klinik Patella!

Apa Itu Radiofrekuensi Ablasi?

Sederhananya, radiofrekuensi ablasi adalah prosedur medis yang bekerja dengan langkah “mematikan sementara” saraf yang mengirimkan rasa sakit dari dengkul ke otak.

Bayangkan seperti ini: ketika sendi dengkul Anda rusak akibat pengapuran, ada saraf-saraf mini di sekitar sendi yang terus-menerus mengirim sinyal “sakit” ke otak. Saraf-saraf inilah yang disebut saraf genikular (Genicular Nerves).

Tindakan radiofrekuensi ablasi genikular alias Genicular Nerve Ablation bermaksud untuk memutus sementara kiriman sinyal nyeri tersebut, sehingga otak tidak lagi “menerima” rasa sakit dari lutut.

Prosedur RFA dengkul ini masuk dalam kategori terapi minimal invasif sekaligus prosedur minimal invasif dalam bagian teknologi radiofrekuensi dalam kedokteran, artinya tidak ada sayatan besar, tidak ada tulang yang diganti, dan tidak perlu bius total.

Dokter hanya memasukkan jarum tipis unik (jarum RFA) ke titik-titik tertentu di sekitar lutut, lampau mengalirkan panas dari generator radiofrekuensi untuk menonaktifkan saraf tersebut.

Bagaimana Cara Kerja Radiofrekuensi Ablasi Lutut?

Untuk memahami langkah kerja radiofrekuensi ablasi lutut, ada dua perihal yang perlu diketahui terlebih dahulu.

Pertama, kenapa dengkul bisa terasa sangat nyeri?

Pada penderita degenerasi sendi dengkul alias gonarthrosis, lapisan pelindung tulang yang disebut tulang rawan, yang melapisi permukaan tulang paha (femur), tulang kering (tibia), dan tempurung dengkul (patella), semakin menipis seiring waktu.

Akibatnya, tulang-tulang tersebut bersenggolan langsung satu sama lain, menimbulkan nyeri akibat peradangan sendi yang terasa setiap kali bergerak. Rasa sakit ini ditangkap dan diteruskan oleh saraf genikular ke otak.

Kedua, gimana panas bisa menghilangkan nyeri?

Dalam prosedur radiofrekuensi ablasi pada saraf lutut, master menggunakan perangkat pencitraan seperti USG (ultrasonografi) alias fluoroscopy (semacam X-ray real-time) untuk memastikan jarum diarahkan tepat ke letak saraf.

Setelah posisi jarum dipastikan benar, ujung jarum dipanaskan hingga sekitar 80 derajat Celcius menggunakan gelombang dari generator radiofrekuensi.

Panas ini menciptakan kerusakan mini (lesi) pada saraf sehingga saraf tidak lagi bisa meneruskan sinyal nyeri ke otak—inilah inti dari langkah kerja ablasi saraf dalam prosedur ini.

Penting untuk diketahui: ada dua jenis teknologi yang digunakan, ialah konvensional dan cooled (berpendingin).

Teknologi cooled radiofrequency ablation menghasilkan area lesi yang lebih luas, yang berfaedah lantaran letak saraf genikular bisa sedikit berbeda pada setiap orang.

Prosedur Radiofrekuensi Ablasi Nyeri Lutut: Seperti Apa Prosesnya?

Banyak orang cemas bahwa prosedur radiofrekuensi ablasi nyeri dengkul ini menyakitkan alias rumit. Kenyataannya, prosedur ini cukup singkat dan tidak memerlukan rawat inap.

Secara umum, inilah yang bakal terjadi selama prosedur berlangsung:

  1. Pasien berebahan dalam posisi nyaman, kemudian master membersihkan area dengkul dan menyuntikkan anestesi lokal agar tidak terasa sakit selama prosedur
  2. Dengan pedoman USG alias fluoroscopy, master memasukkan jarum RFA ke tiga titik saraf genikular utama di sekitar lutut.
  3. Sebelum panas dialirkan, dilakukan stimulasi listrik ringan (Diagnostic Nerve Block) untuk memastikan jarum sudah tepat sasaran dan tidak menyentuh saraf motorik (saraf yang menggerakkan otot kaki)
  4. Setelah posisi dikonfirmasi, gelombang radiofrekuensi dari generator dialirkan selama 60–90 detik untuk menonaktifkan saraf.

Seluruh proses berjalan sekitar 30–60 menit, lampau pasien bisa langsung pulang.

Apa Saja Manfaat Radiofrekuensi Ablasi Lutut?

Manfaat radiofrekuensi ablasi dengkul sudah dibuktikan oleh banyak penelitian medis internasional, termasuk yang dipublikasikan di jurnal Arthroscopy. Berikut faedah utamanya:

Nyeri berkurang secara signifikan

Penelitian menunjukkan bahwa radiofrekuensi ablasi untuk osteoarthritis dengkul alias pengapuran dengkul bisa menurunkan tingkat nyeri lebih dari 40% dalam waktu 24 minggu setelah prosedur.

Bagi banyak pasien, ini adalah perbedaan antara tidak bisa melangkah dan bisa kembali beraktivitas normal.

Lebih mudah bergerak.

Ketika nyeri berkurang, pasien jadi lebih bisa mengikuti program rehabilitasi medis dan fisioterapi.

Otot-otot di sekitar dengkul pun bisa diperkuat kembali, sehingga mobilitas dan kegunaan dengkul meningkat secara keseluruhan. Ini berakibat langsung pada kualitas hidup penderita nyeri dengkul sehari-hari.

Tidak lagi tergantung obat pereda nyeri

Banyak pasien yang sebelumnya kudu rutin mengonsumsi obat antiinflamasi alias pereda nyeri dengkul yang kuat bisa mengurangi, apalagi menghentikan, konsumsi obat tersebut setelah menjalani terapi radiofrekuensi untuk nyeri dengkul kronis.

Ini tentu menguntungkan lantaran konsumsi obat jangka panjang mempunyai pengaruh samping yang tidak ringan.

Berapa Lama Efek Radiofrekuensi Ablasi Lutut Bisa Bertahan?

Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan. Berapa lama pengaruh radiofrekuensi ablasi dengkul bertahan?

Berdasarkan penelitian yang diterbitkan di jurnal medis internasional, pengaruh terapi nyeri kronis dari prosedur ini bisa memperkuat hingga 12 bulan (1 tahun).

Beberapa studi apalagi melaporkan faedah yang terasa hingga 24 bulan. Teknologi cooled umumnya memberikan hasil yang lebih stabil dalam jangka waktu tersebut.

Perlu dipahami bahwa saraf manusia mempunyai keahlian untuk pulih dan tumbuh kembali secara alami.

Oleh lantaran itu, pengaruh RFA memang tidak permanen seumur hidup. Namun berita baiknya, jika nyeri kembali muncul setelah beberapa waktu, prosedur ablasi saraf ini dapat diulang kembali dengan aman.

Radiofrekuensi Ablasi vs Operasi Lutut: Apa Perbedaannya?

Banyak pasien bertanya tentang komparasi radiofrekuensi ablasi vs operasi lutut. Keduanya mempunyai tujuan yang sama—mengurangi nyeri—tetapi dengan langkah dan akibat yang sangat berbeda.

Operasi penggantian dengkul (Total Knee Replacement alias TKR) adalah prosedur besar yang melibatkan pembedahan, anestesi umum, pemasangan implan logam, dan masa pemulihan berbulan-bulan.

Meski efektif untuk kerusakan sendi dengkul yang sangat parah, sekitar 20% pasien TKR tetap merasakan nyeri apalagi setelah operasi selesai.

Sementara itu, radiofrekuensi ablasi dengkul tanpa operasi menawarkan pendekatan yang jauh lebih ringan:

  • Tidak ada sayatan besar, hanya jejak jarum mini yang bakal sembuh sendiri
  • Tidak perlu rawat inap di rumah sakit
  • Tidak memerlukan anestesi umum
  • Risiko komplikasi jauh lebih rendah
  • Sangat cocok bagi pasien yang memerlukan solusi pengobatan osteoarthritis tanpa kudu menjalani prosedur besar

Yang perlu dipahami adalah bahwa RFA bukan pengganti operasi dari sisi struktural. Artinya, RFA tidak memperbaiki kerusakan tulang rawan secara fisik.

Jika kerusakan sendi sudah sangat parah, operasi mungkin tetap diperlukan di kemudian hari.

Namun bagi banyak pasien, pengobatan nyeri kronis melalui RFA bisa menunda kebutuhan operasi selama bertahun-tahun sekaligus menjaga kualitas hidup tetap baik.

Kapan Radiofrekuensi Ablasi Dianjurkan?

Radiofrekuensi ablasi setelah kandas pengobatan konservatif adalah indikasi utama prosedur ini.

Artinya, RFA biasanya direkomendasikan ketika beragam pengobatan lain sudah dicoba namun hasilnya kurang memuaskan—misalnya:

  • Injeksi dengkul steroid
  • Injeksi Viskosuplemen (pelumas sendi)
  • Terapi PRP (platelet rich plasma)
  • Injeksi Stem Cell
  • Injeksi Secretome
  • Fisioterapi intensif

Sebelum menjalani RFA, master biasanya melakukan blok saraf genikular terlebih dulu (Diagnostic Nerve Block), ialah menyuntikkan obat bius lokal ke titik-titik saraf di sekitar lutut.

Jika nyeri berkurang secara signifikan setelah prosedur blok tersebut, maka itu pertanda bahwa pasien bakal merespons radiofrekuensi ablasi genicular nerve dengan baik.

Siapa Saja yang Cocok Menjalani Radiofrekuensi Ablasi?

Berikut kriteria umum kandidat yang cocok menjalani radiofrekuensi ablasi:

  • Pasien dengan pemeriksaan osteoarthritis dengkul (osteoarthritis knee) alias arthritis dengkul derajat sedang (Grade 2–3) yang sudah mengalami nyeri dengkul menahun lebih dari 3–6 bulan.
  • Pasien yang sudah mencoba beragam pengobatan osteoarthritis konservatif namun belum mendapat hasil memuaskan.
  • Pasien yang memberikan respons positif pada tes blok saraf genikular.
  • Pasien lanjut usia alias pasien dengan kondisi kesehatan tertentu (seperti penyakit jantung alias glukosuria berat) yang membikin operasi besar menjadi terlalu berisiko.

Radiofrekuensi Ablasi untuk Lansia dengan Nyeri Lutut

Radiofrekuensi ablasi untuk lansia dengan nyeri dengkul adalah salah satu aplikasi paling krusial dari prosedur ini.

Nyeri pada lansia akibat degenerasi sendi merupakan masalah yang sangat umum, namun penanganannya tidak bisa disamakan dengan pasien usia muda.

Semakin tua seseorang, semakin besar akibat yang ditimbulkan oleh operasi besar.

Prosedur RFA yang termasuk dalam golongan pengobatan non-operasi ini terbukti kondusif bagi golongan usia lanjut, membantu mereka tetap bisa melangkah dan beraktivitas secara berdikari tanpa kudu menanggung akibat besar dari prosedur bedah.

Apakah RFA Aman?

Radiofrekuensi ablasi kondusif alias tidak adalah pertanyaan yang sangat wajar sebelum memutuskan menjalani prosedur ini.

Berdasarkan beragam tinjauan ilmiah yang dirujuk oleh lembaga kesehatan terpercaya seperti Mayo Clinic, National Institutes of Health (NIH), dan American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS), prosedur ini terbukti sangat aman.

Komplikasi serius nyaris tidak pernah dilaporkan dalam studi berskala besar.

Efek samping radiofrekuensi ablasi dengkul yang umum terjadi berkarakter ringan dan sementara, seperti:

  • Memar alias bengkak mini di sekitar jejak tusukan jarum
  • Rasa meninggal rasa sementara pada kulit di sekitar lutut
  • Nyeri ringan selama beberapa hari pertama

Semua pengaruh ini umumnya lenyap dengan sendirinya dalam waktu singkat.

Risiko serius seperti jangkitan alias kerusakan saraf besar sangat jarang terjadi lantaran seluruh prosedur dipandu oleh perangkat pencitraan canggih yang memungkinkan master bekerja dengan sangat presisi.

Bagaimana Pemulihan Setelah Radiofrekuensi Ablasi Lutut?

Salah satu kelebihan besar dari tindakan RFA untuk nyeri sendi dengkul ini adalah masa pemulihannya yang singkat.

Tidak seperti operasi yang bisa memerlukan waktu berbulan-bulan untuk sembuh, pemulihan setelah radiofrekuensi ablasi dengkul berjalan jauh lebih cepat.

Pasien biasanya bisa pulang sekitar satu jam setelah prosedur selesai. Dalam 24–48 jam pertama, disarankan untuk mengompres dingin area dengkul dan menghindari mengemudi.

Aktivitas ringan sudah bisa dilakukan sejak hari yang sama, dan dalam waktu sekitar satu minggu, sebagian besar pasien sudah merasakan perbedaan nyata dalam tingkat nyeri dan keahlian bergerak mereka.

Ttermasuk berkurangnya nyeri saat melangkah yang selama ini sangat mengganggu.

Biaya Radiofrekuensi Ablasi Lutut

Biaya radiofrekuensi ablasi dengkul memang bervariasi tergantung pada akomodasi kesehatan, jenis teknologi yang digunakan, dan jumlah saraf yang ditangani.

Namun jika dibandingkan dengan total biaya operasi penggantian dengkul (Total Knee Replacement/TKR), Prosedur RFA umumnya jauh lebih terjangkau secara keseluruhan lantaran tidak memerlukan rawat inap maupun perangkat implan.

Kesimpulan tentang Radiofrekuensi Ablasi

Radiofrekuensi ablasi adalah salah satu solusi terbaik yang tersedia saat ini bagi penderita kerusakan sendi dengkul akibat osteoarthritis, pengapuran lutut, alias degenerasi sendi yang sudah tidak merespons pengobatan biasa.

Terapi dengkul tanpa operasi berbasis radiofrequency ablation ini memberikan angan nyata bagi jutaan penderita nyeri sendi lutut, termasuk para lansia yang tidak memungkinkan menjalani operasi besar.

Jika Anda alias personil family mengalami nyeri saat melangkah alias nyeri dengkul menahun yang mengganggu kegiatan sehari-hari, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan master ahli di klinik nyeri dengkul dan sendi terbaik seperti Klinik Patella.

Tim master bakal membantu menentukan apakah Anda adalah kandidat yang tepat untuk menjalani prosedur radiofrekuensi ablasi genikular ini.

Jika mau berkonsultasi tentang nyeri dengkul dan sendi dengan master mahir Klinik Patella dapat menghubungi melalui WA di 0811-8124-2022. Yuk atasi cedera kaki dan sendi Anda berbareng Klinik Patella!

Klinik Patella: Klinik Spesialis Nyeri Lutut dan Sendi Terbaik

Bagi yang sedang mencari rekomendasi master nyeri dengkul terbaik di Jakarta, Klinik Patella datang sebagai klinik nyeri dengkul dan sendi terbaik dengan jasa yang komplit dalam satu atap.

Sebagai klinik ahli nyeri dengkul dan sendi, Klinik Patella menyediakan beragam pilihan pengobatan mulai dari:

  • Fisioterapi
  • Hidroterapi
  • Injeksi Viskosuplemen
  • Injeksi PRP (Platelet Rich Plasma)
  • Terapi Secretome
  • Terapi Stem Cell
  • Radiofrekuensi Ablasi
  • Endoskopi Richard Wolf
  • Total Knee Replacement

Tim master Klinik Patella adalah:

  • dr. Nelfidayani, Sp.KFR, M.S.(K), FIPM (USG)
  • dr. Windi Martika, Sp.OT
  • dr. Sri Wahyuni, Sp.KFR
  • dr. Rifalisanto, Sp.KFR, FIPM (USG)
  • Prof. Dr. dr. Darto Satoto, SpAn,TI.Subs.An.Reg.
  • dr. Yulia Hafni, Sp.An-TI, FIP, CIPS

Yang membikin Klinik Patella berbeda adalah pendekatan tim yang melibatkan Dokter Spesialis Ortopedi, Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, dan Dokter Spesialis Anestesiologi yang bekerja bersama-sama.

Jadi, pasien mendapatkan penanganan yang menyeluruh, bukan hanya dari satu perspektif pandang.

Ini sangat penting, terutama bagi pasien lansia alias mereka yang mempunyai kondisi kesehatan lain yang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan jenis pengobatan.

FAQ: RFA

Apa itu radiofrekuensi ablasi untuk nyeri lutut?

Radiofrekuensi ablasi (RFA) adalah prosedur medis minim invasif yang bekerja dengan langkah menonaktifkan sementara saraf genikular (saraf mini di sekitar sendi dengkul yang mengirimkan sinyal nyeri ke otak), menggunakan panas dari gelombang radiofrekuensi.

Prosedur ini tidak memerlukan operasi besar maupun rawat inap.

Siapa saja yang cocok menjalani radiofrekuensi ablasi lutut?

Radiofrekuensi ablasi dianjurkan bagi penderita osteoarthritis dengkul derajat sedang (Grade 2–3) yang mengalami nyeri dengkul menahun lebih dari 3–6 bulan dan sudah tidak merespons pengobatan konservatif seperti fisioterapi, injeksi lutut, alias terapi PRP.

Prosedur ini juga sangat cocok untuk pasien lanjut usia yang berisiko tinggi menjalani operasi besar.

Berapa lama pengaruh radiofrekuensi ablasi dengkul bisa bertahan?

Berdasarkan penelitian medis internasional, pengaruh pereda nyeri dari radiofrekuensi ablasi dengkul dapat memperkuat hingga 12 bulan, apalagi pada beberapa kasus hingga 24 bulan.

Jika nyeri kembali muncul setelah beberapa waktu, prosedur ini dapat diulang kembali dengan aman.

Apakah radiofrekuensi ablasi dengkul kondusif dan apa pengaruh sampingnya?

Ya, radiofrekuensi ablasi dengkul tergolong sangat kondusif berasas beragam tinjauan ilmiah dari lembaga terpercaya seperti NIH dan AAOS.

Efek samping yang umum terjadi berkarakter ringan dan sementara, seperti memar kecil, rasa meninggal rasa di sekitar lutut, alias nyeri ringan selama beberapa hari pertama. Komplikasi serius sangat jarang terjadi.

Selengkapnya