Viral lowongan kerja yang mencuri perhatian warganet karena bergaji Rp21 juta. Lowongan kerja yang dimaksud adalah menjadi gembala domba dan ramai diperbincangkan.
Lowongan pekerjaan sebagai gembala domba di sebuah peternakan Mongolia Dalam, China, mendadak viral di media sosial. Tawaran gaji yang mencapai sekitar Rp21 juta per bulan, komplit dengan akomodasi tempat tinggal dan kebutuhan pangan, berhasil menarik perhatian ratusan pelamar dari beragam latar belakang pekerjaan.
Pemilik peternakan disebut Zuo Xiaoyong awalnya cuma mencari dua orang untuk menggembalakan ribuan domba di padang rumput. Namun iklan sederhana yang diunggahnya justru mendapat respons luar biasa.
Tak cuma buruh pabrik, sejumlah lulusan baru perguruan tinggi hingga buruh kantoran yang capek dengan tekanan bumi kerja di perkotaan ikut melamar posisi tersebut. Fenomena ini sekaligus menyoroti persaingan mendapatkan pekerjaan di China, terutama ketika tingginya tuntutan kerja dan ketidakpastian karier.
Meski menawarkan gaji yang terbilang besar, pekerjaan sebagai gembala domba rupanya memiliki tantangan tersendiri yang tidak bisa dianggap enteng. Mengutip The Guardian, mari simak cerita lowongan gembala domba yang mencuri perhatian.
Lowongan gembala domba yang viral
Zuo Xiaoyong mengunggah iklan lowongan kerja melalui media sosial China pada akhir April. Ia mencari dua orang gembala dengan preferensi pasangan suami istri maupun pasangan yang bersedia bekerja berbareng untuk merawat sekitar 3 ribu domba di peternakannya.
Peternakan tersebut memiliki padang rumput seluas 2 ribu hektare dan terletak sekitar 300 km dari kota Xilinhot, dekat perbatasan Mongolia. Dalam iklannya, Zuo menerangkan bahwa pekerjaan itu mencakup menggiring domba untuk merumput selama musim panas serta memberi makan dan membersihkan kandang saat musim dingin.
Iklan dilengkapi video yang memperlihatkan domba-domba bermain di padang rumput hijau. Tayangan sederhana itu menarik perhatian luas hingga ditonton sekitar 59 juta kali di Weibo, platform media sosial China yang serupa dengan X.
"Saya tidak menyangka iklan ini akan viral. Sepertinya orang-orang biasa sedang mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan," ujar Zuo dikutip dari Reuters.
Gaji dahsyat dan akomodasi lengkap
Salah satu daya tarik utama lowongan ini karena gajinya. Zuo menawarkan bayaran sebesar 8 ribu yuan maupun sekitar US$1.180 per bulan untuk setiap gembala.
Jika dikonversikan ke rupiah, jumlahnya sederajat sekitar Rp19 juta hingga Rp21 juta, bersandar pada harga ganti yang digunakan. Selain gaji bulanan, buruh juga mendapatkan akomodasi tempat tinggal dan kebutuhan pangan yang disediakan oleh pemilik peternakan.
Besaran gaji terlebihlagi melampaui rata-rata gaji bulanan karyawan perusahaan swasta di daerah perkotaan China, kisaran 6 ribu yuan.
Meski demikian, Zuo mengingatkan bahwa pekerjaan ini bukan kesempatan untuk sekadar menikmati kondisi pedesaan. Para pelamar mesti siap menjalani pekerjaan fisik, menghadapi fluktuasi cuaca ekstrem, dan bertetap jauh dari hayat perkotaan.
"Gajinya memang tinggi, tapi yang paling krusial adalah apakah Anda bisa bertetap bekerja dalam jangka panjang dan melewati musim dingin," kata Zuo.
Lebih dari 700 orang melamar
Respon terhadap lowongan tersebut terbilang mengejutkan. Menurut Zuo, lebih dari 700 orang mengajukan lamaran untuk mengisi dua posisi yang tersedia.
Sekitar 10 persen pelamar merupakan lulusan baru perguruan tinggi. Sisanya berasal dari beragam latar belakang, termasuk buruh pabrik dan karyawan kantoran yang merasa capek dengan dinamika pekerjaan di kota-kota besar seperti Shanghai dan Chongqing.
Pemilik peternakan merekrut 4 gembala
Setelah menerima ratusan lamaran, Zuo akhirnya memutuskan merekrut empat orang gembala yang terdiri dari dua pasangan. Keempatnya diketahui pernah bekerja di peternakan sehingga dinilai memiliki pengalaman yang relevan dengan kebutuhan pekerjaan tersebut.
Zuo juga telah menyusun daftar lebih dari 40 pasangan yang berpotensi direkrut untuk kebutuhan karyawan berikutnya. Meski demikian, ia tidak berencana mempertimbangkan pelamar yang melamar seorang diri ataupun anak muda dari perkotaan yang belum memiliki pengalaman serupa.
Menurut Zuo, tantangan terbesar bekerja di peternakannya bukan cuma merawat ribuan domba maupun menghadapi cuaca dingin. Lokasi yang terpencil juga membikin para buruh mesti siap menjalani hayat dengan hubungan sosial yang sangat terbatas.
"Di tempat kami, Anda mungkin tidak berjumpa orang lain selama setahun penuh. Saya tidak tahu apakah seseorang bisa bertetap menghadapi kesunyian seperti itu," kata Zuo.
Pekerja pabrik: capek bekerja lebih dari 13 jam sehari
Salah satu pelamar adalah James Guo, buruh pabrik berumur 21 tahun yang sehari-hari membikin kontainer pengiriman. Ia mengaku mau mencari pekerjaan baru karena tidak lagi sanggup menghadapi beban kerja di tempatnya saat ini.
Guo menggambarkan pekerjaannya sebagai aktivitas yang sangat menguras tenaga. Ia mesti memasang sekrup selama berjam-jam hingga tangannya membengkak dan dipenuhi lepuhan, terlebihlagi kesulitan meluangkan waktu untuk pergi ke toilet.
"Kamu tidak akan tahu seperti apa rasanya bekerja lebih dari 13 jam sehari, memasang sekrup sampai tangan bengkak dan dipenuhi lepuhan, terlebihlagi tanpa sempat pergi ke bilik mandi," ujar Guo.
"Beban kerjanya terlalu berat. Saya sudah tidak sanggup lagi," tambahnya.
Budaya kerja 996 jadi sorotan di China
Salah satu permasalahan yang turut melatarbelakangi gejala ini adalah adat kerja yang dikenal dengan istilah 996. Istilah mengacu pada pola kerja mulai pukul 09.00 hingga 21.00, selama enam hari dalam seminggu.
Pola kerja dengan jam panjang ini dikaitkan dengan tuntutan kreativitas tinggi di sejumlah perusahaan China. Tekanan tidak cuma menjadi permasalahan buruh kantoran, namun juga dirasakan oleh buruh sektor industri yang mesti memenuhi sasaran produksi.
Keinginan untuk keluar dari rutinitas yang melelahkan akhirnya mempertemukan keresahan buruh kerah putih maupun white-collar dan buruh kerah biru maupun blue-collar. Keduanya sama-sama mencari alternatif pekerjaan yang dianggap lebih sesuai dengan kondisi jasmani dan kebutuhan hidup mereka.
Di sisi lain, bilangan pengangguran juga menjadi tantangan. Berdasarkan keterangan Biro Statistik Nasional China yang dirilis pada Maret, tingkat pengangguran nasional eksis di kisaran 5,2 persen.
Sementara itu, tingkat pengangguran penduduk berumur 16 sampai 24 tahun, tidak termasuk pelajar, mencapai 16,9 persen. Kondisi ini bisa menjadi karena kenapa lowongan yang tidak biasa seperti pekerjaan gembala domba bisa menarik perhatian begitu banyak orang.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)