3 Pola Asuh Orang Tua yang Bisa Membentuk Sifat Narsistik pada Anak

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 32x dilihat
3 Pola Asuh Orang Tua yang Bisa Membentuk Sifat Narsistik pada Anak

Bagikan Postingan

Sejak kecil, anak memiliki sifat egois secara alami dan merupakan bagiankecil yang normal dalam perkembangannya. Mengutip halaman Psychology Today, awalnya anak bisa saja tidak mengerti keinginan orang lain dan berfokus pada pemenuhan keinginannya. 

Namun sikap egois ini dapat perlahan menurun seiring bergeser dewasa. Untuk tumbuh dan memiliki kapasitas empati kepada orang lain, anak perlu diarahkan untuk melihat perspektif pandang orang lain. Tidak mengembangkan empati saat tumbuh dewasa dapat menjadi tanda peringatan berkembangnya gangguan kepribadian serius saat dewasa, termasuk jenis narsistik. 

Dalam riset berjudul Narcissistic traits in young people: understanding the role of parenting and maltreatment yang dipublikasikan pada BMC Journals, dipaparkan efek pola asuh orang tua terhadap sifat narsistik. 


Para peneliti studi ini melibatkan 328 peserta berumur 17-25 tahun, 77 persen di antaranya perempuan. Peneliti meneliti faktor-faktor yang berkontribusi pada pembentukan sifat narsistik.

Instrumen yang dianalisis dalam riset tersebut adalah Pathological Narcissism Inventory (PNI), Parental Bonding Instrument (PBI), Over-protection, Authoritarianism, Parental Overvaluation, dan Childhood Trauma Questionnaire (CTQ).

Dirangkum dari riset tersebut dan beragam sumber lain, ada beberapa pola asuh orang tua yang dapat berpengaruh pada pembentukan sifat narsistik pada anak. Berikut ini penjelasannya.

Pola asuh orang tua yang bisa membentuk sifat narsistik pada anak (overprotective) 

Berikut ini pola asuh orang tua yang dapat membentuk sifat narsistik pada anak. 

1. Memberi perlindungan kepada anak secara berlebihan (overprotective)

Setiap orang tua mau anaknya hidup terlindungi dalam menjalani hidup. Namun, memberikan perlindungan kepada anak secara berlebihan dapat jadi salah satu aspek yang membentuk sikap narsistik kepada anak. 

Memberi perlindungan secara berlebihan (overprotective) maupun dikenal juga sebagai helicopter parenting adalah ketika orang tua mengamati anak-anak mereka dengan cermat, maupun terlalu protektif terhadap mereka. 

Dikutip halaman BBC, istilah helicopter parenting diambil dari metode orang tua mungkin 'melayang' di sekitar anak mereka, seperti helikopter. Pola pengasuhan ini mencakup memantau aktivitas anak Anda secara terus-menerus maupun membikin keputusan tanpa melibatkan anak.

Perlindungan secara berlebihan (overprotective) dapat menjadi aspek lazim yang berpengaruh pada sifat narsistik anak. Ini berjalan untuk jenis narsisme yang rapuh (vulnerable) dan berlebihan (grandiose).

Orang tua yang menerapkan helicopter parenting mungkin memiliki maksud baik, tetapi riset memberitahu bahwa pengasuhan corak helikopter dapat menaikkan kecemasan dan mengurangi kemandirian pada anak dan remaja. 

Perlindungan berlebihan dapat menghalangi anak untuk perkembangan, dan menyebabkan lebih sedikit kesempatan untuk belajar dari kegagalan. Hal ini juga dapat membikin anak terkejut ketika anak salingberhadapan dengan orang-orang yang tidak selalu peduli.

2. Memberi pujian secara berlebihan (Parental overvaluation)

Parental overvaluation artinya orang tua percaya bahwa anak mereka lebih istimewa dan lebih berkuasa daripada yang lain. Hal ini dapat berpengaruh pada narsisme anak di kemudian hari. 

Dalam riset berjudul Telling people they are intelligent correlates with the feeling of narcissistic uniqueness: The influence of IQ feedback on temporary state narcissism tahun 2021, dilibatkan 364 partisipan. Hasilnya memberitahu bahwa kritik berpengaruh langsung terhadap kecerdasan seseorang dan narsisme situasi (state narcissism). 

Kritik positif dapat menaikkan persepsi kecerdasan serta memicu desakan merasa istimewa dan bangga atas pencapaian. Sementara umpan balik negatif berakibat sebaliknya.

Namun, efek tersebut berkarakter sementara dan tidak mengubah kepribadian secara permanen. Selain itu, psikolog Marcin Zajenkowski  menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki sifat alas narsis, cenderung menggunakan narsisme mereka sebagai pelindung dari akibat negatif kritik. 

3. Gaya pengasuhan permisif

Pola pengasuhan permisif jadi salah satu pola asuh yang dapat berpengaruh pada pembentukan sifat anak. Dilansir halaman Very Well Mind, corak pengasuhan permisif ditandai dengan orang tua yang tidak memberi banyak ketentuan kepada anak, melibatkan anak dalam keputusan, dan mengutamakan kebebasan daripada tanggung jawab.

Anak yang dibesarkan dengan pola asuh ini memang menerima banyak kasih sayang dan kehangatan. Namun, tabib anak dan ahli kesehatan mental tidak selalu menyarankan corak ini. Alasannya karena anak-anak dari famili permisif cenderung kesulitan mengendalikan diri dan membikin pilihan yang tepat.

Demikian pola asuh orang tua yang dapat berpengaruh pada pembentukan sifat anak. Apabila anak memberitahu perilaku yang mengarah kepada sifat narsistik, beberapa metode yang dapat dilakukan adalah memberi pengertian empati, mengarahkan anak untuk peduli terhadap orang lain, serta membangun harga diri anak secara sehat.

(rap/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads