Athanacio Lucky Prabaswara: Atlet Muda Olimpiade Matematika yang Mengukir Prestasi di Usia TK  

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 7 menit 54x dilihat
Athanacio Lucky Prabaswara: Atlet Muda Olimpiade Matematika yang Mengukir Prestasi di Usia TK  

Bagikan Postingan

Kegemaran Athanacio Lucky Prabaswara (Tony) pada matematika mengantarkannya meraih 13 lencana dari beragam ajang math olympic di usianya yang baru 5 tahun.

Selama berbincang dengan Athanacio Lucky Prabaswara yang dekat disapa Tony, didampingi sang ibu Sisilia Lucky Ajeng Argandini (Ajeng), aku benar-benar terkesan. Selain karena banyaknya prestasi yang sudah Tony capai, juga dengan kisah perjalanan dirinya hingga bisa sampai di titik ini.

Tony yang saat ini statis duduk di bangku TK B dan bercita-cita menjadi dokter, telah mengikuti olimpiade matematika sejak usia empat tahun. Di Olimpiade pertamanya yaitu Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) Heat Round 2025, ia meraih lencana silver. Kini, total 13 lencana dari bronze, silver hingga gold, telah ia kantongi.

Di balik segudang prestasi yang Tony raih di usianya yang statis sangat muda ini, ada cerita menarik tentang sepertiapa Tony melihat matematika, orang tua yang suportif, dan kakak-kakak yang menginspirasi.

Athanacio Lucky Prabaswara: Menunjukkan Minat dan Potensi Pada Matematika Sejak Usia 1 Tahun

“Matematika itu seru!” ujar Tony, “Seru karena angka, hehehe,” sambungnya. Bagi Tony, kumpulan angka-angka di soal matematika itu membikin Tony penasaran, dan ia mau memecahkanya.

Sejak Tony berumur 1 tahun, sang ibu memperkenalkan Tony pada bilangan lewat lagu-lagu maupun gambar. Bukan agar Tony segera mahir, namun agar Tony bisa punya aktivitas sendiri, sehingga sang ibu bisa mengerjakan tugas rumah tangga.

Athanacio Lucky Prabaswara

Foto: Tony dengan aktivitas sehari-hari (dokumentasi pribadi)

Ternyata, Tony menikmati dan menyimak stimulasi yang ibu berikan. Di usia 1,5 tahun, Tony sudah bisa menghitung hingga 20 dan 50. Di usia dua tahun, Tony sudah bisa menghitung hingga 100, menghitung mundur dari 100, menulis angka, mengatakan bilangan dengan lancar, hingga mengurutkan angka. Di usianya yang ketiga, Tony mulai tertarik dengan perkalian, dan mau tahu lebih jauh.

Jeli menangkap minat dan potensi Tony di sektor matematika, seluruh famili kemudian mendukung dan memfasilitasi Tony untuk mengembangkan potensinya.

“Waktu kami tahu kapasitas dia, kami sadar potensi Tony tak bisa disepelekan. Lalu aku beli number blocks untuk membantu menerangkan Tony tentang perkalian, dan ia gemar sekali. Kakak-kakaknya juga mencoba memberi soal-soal pada Tony, ia gemar dan mau lagi. Akhirnya mengerjakan soal-soal matematika sudah menjadi rutinitas hingga sekarang,” kisah Ajeng.

Baca juga: Linggar Mandali Tanajiwa: Mengasah Bakat Tanpa Beban

Terinspirasi oleh Kedua Kakaknya yang Juga Atlet Olimpiade Matematika

Ketertarikan Tony pada bumi matematika rupanya tak lepas dari efek kedua kakaknya yang juga merupakan atlet olimpiade matematika.

“Kakak-kakak Tony adalah inspirasi bagi Tony. Kakak pertama Tony mulai mengikuti olimpiade matematika pertamanya di kelas 4 SD. Nah, kakak kedua Tony, ngefans dengan kakak pertama, kemudian mengikuti jejaknya. Kemudian Tony, juga nge-fans dengan kakak kedua. Jadi mereka saling nge-fans, gitu, lho. Kemudian kakak-kakaknya pun mendukung penuh potensi Tony.

Athanacio Lucky Prabaswara

Foto: Tony bermain catur (dokumentasi pribadi)

“Dengan kapasitas yang Tony miliki, kami tak mau ia selesai sampai di sini. Kami melihat olimpiade matematika sebagai jalur yang patut dicoba. Jadi, ketika ada kesempatan mengikuti olimpiade matematika kategori TK, kami pun antusias mempersiapkan Tony menjadi atlet olimpiade matematika,” tutur Ajeng.

Bagi sang ibu sendiri, mempersiapkan Tony terjun ke ajang olimpiade matematika bukan hal baru. Sebab kedua kakaknya pun sering mengikuti olimpiade matematika sejak di bangku SD. Namun, Tony memulai lebih muda dari kakak-kakaknya, sehingga sang ibu perlu mengemas metode belajar yang sesuai dengan usia Tony.

“Setahun kami manfaatkan untuk melatih Tony dengan soal-soal olimpiade matematika TK. Ternyata soal-soalnya tak bisa dianggap remeh, lho, hehehe. Jadi, menurut aku Tony butuh drill yang terarah tetapi menyenangkan. Setelah dia siap, kemudian kami tawari apakah mau mengikuti olimpiade seperti kakak-kakaknya, dan dia mau,” kenang Ajeng.

Baca juga: Aleandra Rea Nathani: Potret Siswa Homeschooling Multitalenta, Dari Medali Emas di Gymnastic Hingga Aksi Sosial

Belajar Matematika adalah Ajang Bermain Bagi Tony

Setiap hari, Tony belajar mengerjakan soal-soal matematika sekitar 15 menit sehari. “Namun, kini dari Tony sendiri timbul kebutuhan untuk menyelesaikan soal-soal lebih banyak setiap harinya. Jika demikian, biasanya diatur waktunya hari ini latihan, besok dibahas,” papar Ajeng.

Menariknya, bagi Tony, setiap hari mengerjakan soal-soal itu layaknya bermain, dan ia menikmati setiap proses memecahkan soal matematika.

“Tony girang sekali jika ada PR, mau segera mengerjakan. Kalau sudah selesai dia bilang ‘horeeee!’,” kata Ajeng menirukan Tony.

“Tony juga gemar eksplorasi misalnya mencari metode hitung cepat di ponsel papa, kemudian didemonstrasikan ke saya. Setelah itu dia kulik, dan dia kemudian tahu bahwa metode A tak bisa digunakan ke soal B, misalnya. Ini dia jadi ketagihan menerangkan matematika juga, hehehe,” sambung Ajeng.

Mengikuti Olimpiade Matematika Tanpa Beban

Hingga saat ini, Tony sudah mengikuti total 14 olimpiade matematika tingkat TK berskala internasional, dan sudah mengantongi 3 lencana gold, 6 silver, 4 bronze dan 1 honorable mention.

“Kalau aku dapat medali, aku dapat pemberian dari ayah dan engkong. Kalau dapat gold, hadiahnya lebih besar lagi dari papa,” ujar Tony sambil tertawa bahagia.

Di setiap proses Tony mengikuti olimpiade, sang ibu selalu berbuat riset terlebih dahulu, berbincang dengan keluarga, berbuat persiapan, kemudian bertanya kepada Tony apakah ia mau mengikuti olimpiade maupun tidak. “Sejauh ini jawabannya selalu mau, dan dia semangat banget! Bahkan selesai satu olimpiade dia langsung tanya: What’s next, Mama? Udah print soalnya belum? Pernah juga Tony sakit jadi nggak ikut SEAMO, dia malah sedih,” imbuh Ajeng ibu sambil tersenyum.

“Jadi, tak pernah ada paksaan, terlebihlagi ambisi orang tua. Kami tidak mengukur terlebihlagi membandingkan Tony dengan anak lain. Kami fokus ke kelebihannya apa, kemudian memfasilitasi, mengarahkan, dan mendampinginya. Agar seimbang, kami juga memberi kesempatan kepada Tony untuk berkenalan dengan aktivitas lain, seperti musik. Satu hal yang pasti, kami mau Tony menjalani setiap kegiatannya dengan fun, bukan dengan tekanan.”

Baca juga: Jesslyn Anastasia Tambunan: Mengubah Hobi Menjadi Prestasi dengan Suara Emasnya

Tetap Bermain Layaknya Anak-anak

Foto: Tony sedang berenang (dokumentasi pribadi)

Dengan keseharian yang diwarnai dengan “bermain matematika” dan “olimpiade” bukan berarti setiap harinya Tony belajar terus dengan durasi panjang sehingga lupa untuk bergaul.

Justru, rutinitas sehari-hari Tony tak ubahnya anak-anak seusianya. Setiap hari pergi ke sekolah diantar sang mama, bermain berbareng teman-teman, mengikuti beragam les seperti Kumon, piano, catur dan bahasa Inggris. Akhir pekan adalah hari bebas les untuk Tony.

Tony yang meraih lencana gold pertamanya di olimpiade: TIMO Final 2026, dikenal memiliki kapasitas sosial yang baik. “Ia gampang lengket sama anak-anak, statis bermain juga, dan gemar playdate dengan teman-temannya. Dia gemar sekali jika olimpiade dilakukan secara tatap muka, karena bisa berjumpa dengan anak-anak lain,” lanjut Ajeng.

Menjadi Anak Mandiri, Percaya Diri dan Tetap Rendah Hati

Athanacio Lucky Prabaswara

Foto: Tony berbareng famili (dokumentasi pribadi)

Sebagai orang tua, Ajeng dan suami cuma bekerja mengasah potensi Tony sejak awal, agar semakin terbiasa di SD, SMP dan semakin berdikari di SMA dan universitas.

“Harapannya, jika Tony sudah terbiasa mengikuti lomba, maka Tony akan memiliki portofolio yang menjadi bekal yang berguna bagi perjalanan pendidikan dia ke depan, termasuk jika mau meraih beasiswa. Selagi aku statis kuat, aku akan terus mendukung dan mendampingi.

“Kami mau Tony tumbuh menjadi anak berdikari dan percaya diri. Ternyata, melalui latihan-latihan soal harian turut membentuk kedua hal itu pada diri Tony. Ke depannya, semoga Tony juga bisa mengerjakan soal sendiri danpa didampingi nantinya, dan juga membantu mengajarkan temannya.

“Saat ini, di sekolah, meski dia memiliki kapasitas akademis yang bisa dibilang di atas rata-rata, namun menurut gurunya, Tony bisa mengekang diri. Tidak sombong, tidak meremehkan maupun sok tahu, dan mau dimintakan tolong oleh pendidik untuk membantu mengajar temannya,” tutup Ajeng penuh syukur.

Baca juga: Oseano Janardhana: Dalang Cilik yang Lestarikan Wayang Kulit Sejak Kecil

Cover: Dokumentasi pribadi Athanacio Lucky Prabaswara dan Mama Ajeng.

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads