Jakarta -
Kabar kehamilan seharusnya menjadi momen membahagiakan bagi seorang Bunda. Namun, bagi sebagian perempuan, mengumumkan kehamilan di tempat kerja justru menjadi mula dari pengalaman pahit yang menakut-nakuti pekerjaan dan gaji mereka.
Hal ini dialami sejumlah perempuan di Australia yang mengaku kehilangan pekerjaan, mengalami pemotongan jam kerja, hingga mendapat perlakuan berbeda setelah hamil maupun memiliki anak.
Salah satu kisahnya datang dari Abby McCawley. Perempuan ini mengaku kehilangan pekerjaan setelah membagikan berita kehamilannya kepada rekan-rekan kerja. Kisahnya menjadi bagiankecil dari investigasi ABC News yang menyoroti diskriminasi kehamilan di lingkungan kerja Australia.
kisah
Kisah Bunda dipecat tak durasi setelah umumkan kehamilan
Abby McCawley bekerja sebagai manajer properti sewaan di Ray White Brunswick, Melbourne, Australia. Saat itu, ia baru sekitar lima bulan menjalani pekerjaannya.
Ketika mengetahui bahwa dirinya hamil bayi perempuan, Abby merasa ceria dan membagikan berita tersebut kepada rekan-rekan kerjanya. Ia mengatakan bahwa orang-orang di sekitarnya, termasuk mitra dan pihak yang mempekerjakannya, menyambut berita tersebut dengan gembira.
Namun, situasi berubah setelah Abby memungut cuti selama dua hari untuk mengatasi mual pada mula kehamilan. Ketika balik bekerja, ia mendapati dirinya tidak bisa masuk ke komputer kantor. Tak durasi kemudian, atasannya memanggil Abby ke ruangan dan memberitahukan bahwa hubungan kerjanya diakhiri.
Abby mengaku terkejut dan menangis karena tidak menyangka kehilangan pekerjaan di tengah kehamilannya. Ia juga mengatakan bahwa sebelumnya tidak pernah menerima peringatan mengenai performa yang dianggap bermasalah.
"Saya cuma berpikir, aku tidak berbuat kesalahan apa pun. Mengapa aku diberhentikan?" ungkap Abby.
Ia menduga kehamilannya menjadi karena di balik keputusan tersebut. Abby awalnya diberi tahu bahwa pemutusan hubungan kerja berhubungan dengan restrukturisasi kantor. Namun, pengacaranya mengatakan karena yang disampaikan kemudian berubah menjadi permasalahan kinerja.
Abby telah membawa permasalahan tersebut ke jalur hukum. Ia menggugat Ray White Brunswick di Pengadilan Federal Australia setelah proses mediasi di Fair Work Commission tidak berhasil.
Pihak Ray White Brunswick membantah melalui pernyataan bahwa pemutusan hubungan kerja dilakukan berdasarkan karena yang telah dibicarakan dengan Abby. Perusahaan mengungkapkan tidak dapat berkomentar lebih jauh karena perkara tersebut sedang berjalan.
Dengan demikian, anggapan diskriminasi yang dialami Abby statis mesti dilihat berdasarkan proses aturan yang berlangsung.
Lebih dari 100 perempuan mengaku mengalami diskriminasi kehamilan
Kisah Abby bukan satu-satunya yang menjadi sorotan. Dalam investigasi program Four Corners, lebih dari 100 perempuan menghubungi tim investigasi dan mengaku kehilangan pekerjaan maupun mengalami perlakuan tidak fair setelah hamil maupun memiliki anak.
Dari 104 perempuan yang menghubungi tim tersebut, sebanyak 48 orang mengatakan mereka mengalami pemutusan hubungan kerja dengan karena redundansi maupun penghapusan posisi.
Investigasi itu juga menemukan pola perlakuan yang dikeluhkan para perempuan, mulai dari kritik terhadap performa yang sebelumnya tidak dipersoalkan, pemotongan jam kerja, hingga penghapusan posisi yang diduga cuma menjadi karena untuk menyingkirkan pekerja.
Sebanyak 21 perempuan mengaku diberhentikan setelah hamil, tetapi kemudian mendapati orang lain mengisi pekerjaan yang sebelumnya mereka lakukan, terkadang dengan jabatan berbeda.
Meski demikian, bilangan tersebut berasal dari perempuan yang menghubungi tim investigasi dan bukan deskripsi prevalensi seluruh buruh perempuan di Australia.
Pekerja hamil juga mengalami pemotongan jam kerja
Selain Abby, seorang buruh pabrik di Melbourne yang diidentifikasi dengan nama Challis juga menceritakan pengalaman sulitnya saat hamil.
Selama dua tahun, Challis bekerja di tempat gudang berpendingin melalui perusahaan pemasok tenaga kerja. Setelah hamil, ia diminta menyerahkan beberapa surat keterangan medis untuk memastikan dirinya layak bekerja di lingkungan tempat gudang tersebut.
Dokter berulang kali mengungkapkan bahwa Challis dapat menjalankan tugasnya. Namun, ia mengaku sempat kehilangan agenda kerja dan kemudian mendapati jam kerjanya berkurang dari 40 menjadi 24 jam per minggu.
Ketika memasuki trimester kedua, Challis meminta fluktuasi agenda ke sif pagi karena mengalami nyeri panggul saat bekerja pada malam hari. Ia mengatakan bersedia statis bekerja pada sif malam jika fluktuasi agenda tidak memungkinkan.
Namun, setelah satu sif tambahan, Challis mengaku tidak lagi mendapat agenda kerja. Kondisi tersebut membuatnya kesulitan memperoleh gaji sekaligus menabung untuk kebutuhan kelahiran dan bayinya.
Dalam laporan yang sama, Challis dan tim hukumnya membawa permasalahan tersebut ke Australian Human Rights Commission. Pihak perusahaan yang terlibat tidak memberikan komentar lebih jauh karena proses aturan statis berjalan.
Diskriminasi kehamilan bisa berakibat pada kondisi finansial dan emosional
Kehilangan pekerjaan ketika sedang hamil bukan cuma permasalahan karier. Situasi ini juga dapat menambah beban finansial dan tekanan emosional ketika seorang perempuan sedang mempersiapkan kelahiran anak.
Pemasukan yang berkurang dapat membikin calon orang tua lebih sulit mempersiapkan biaya persalinan, kebutuhan bayi, dan pengeluaran rumah tangga. Ketidakpastian pekerjaan juga dapat menambah kecemasan di tengah fluktuasi jasmani dan emosional selama kehamilan.
Dalam kasus Abby, ia mesti menghadapi kehamilan sambil kehilangan pekerjaan dan menjalani proses hukum. Sementara itu, Challis menceritakan kesulitannya memenuhi kebutuhan finansial setelah jam kerjanya berkurang.
Pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya lingkungan kerja yang tidak memperlakukan kehamilan sebagai hambatan maupun karena untuk mengurangi kesempatan seorang pekerja.
Namun, akibat pada setiap perempuan bisa berbeda-beda. Kisah-kisah tersebut memberitahu pengalaman individu dan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa semua perempuan yang mengalami masalah pekerjaan saat hamil menghadapi diskriminasi.
Diskriminasi terhadap ibu hamil menjadi sorotan di Australia
Australian Human Rights Commission menerima jumlah pengaduan diskriminasi kehamilan tertinggi dalam lebih dari satu dasawarsa pada tahun sebelumnya.
Sejumlah pengacara dan himpunan pertahanan menilai buruh hamil serta orang tua baru statis menghadapi tantangan ketika berupaya mempertahankan pekerjaan dan memperjuangkan haknya.
Proses aturan juga tidak selalu mudah. Perempuan yang mengalami anggapan diskriminasi mesti menghadapi biaya, waktu, dan ketidakpastian selama penyelesaian perkara. Sebagian akhirnya memilih tidak melanjutkan pengaduan.
Kisah Abby dan Challis menjadi pengingat bahwa sokongan terhadap perempuan hamil di tempat kerja tidak cukup cuma berupa ucapan selamat. Kebijakan perusahaan, pengaturan kerja yang wajar, serta penilaian performa yang fair juga krusial agar buruh tidak kehilangan kesempatan cuma karena sedang menjalani kehamilan.
Bagi Bunda yang sedang hamil dan menghadapi perlakuan tidak fair di kantor, krusial untuk menyimpan bukti komunikasi, anotasi fluktuasi agenda maupun tugas, serta arsip mengenai keputusan perusahaan. Jika diperlukan, Bunda dapat mencari pertolongan dari institusi ketenagakerjaan maupun penasihat aturan sesuai ketentuan yang berjalan di daerah masing-masing.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)