Jakarta -
Bunda, Hari Kesehatan Mental Sedunia diperingati setiap 10 Oktober untuk menaikkan kesadaran penduduk akan pentingnya menjaga kesehatan mental. Peringatan ini juga menjadi momentum untuk membuka ruang diskusi, menghapus stigma, serta mendorong setiap orang agar lebih peduli terhadap kondisi kejiwaan diri sendiri maupun orang di sekitarnya.
Seiring meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental, media sosial turut menghadirkan beragam metode khas untuk membicarakan isu tersebut. Belakangan ini, penduduk Indonesia diramaikan oleh video promosi Rumah Sakit Jiwa (RSJ) yang viral di media sosial. Alih-alih menghadirkan kesan menyeramkan, konten tersebut justru mengundang rasa penasaran hingga menghibur netizen, salah satunya seperti konten yang dikutip dari halaman Instagram @rsjdryaunin dan @grhasia_berjaya.
Kolom komentar pun dipenuhi beragam komentar yang membikin promosi RSJ ini semakin menarik perhatian. Sejumlah netizen terlebihlagi melontarkan kelakar seolah-olah mereka tertarik berkunjung, sementara yang lain mempertanyakan karena video tersebut muncul di beranda mereka.
“Yang mau refreshing dia bilang,” tulis akun @aw_w**** dengan emoticon menangis.
“Kalau enggak sakit batin boleh datang enggak Mas?” tulis akun @_****.
“Kenapa lewat berandaku apa jiwaku mulai terganggu?” tulis akun @bashcomm****.
“Mau ke situ tapi jauhhh dari kota,” tulis akun @yuji****.
“Ini percaya gamau buka cabang di kotaku min? wkwkwk,” tulis akun @klikb****.
Fenomena ini memberitahu sepertiapa media sosial dapat mengubah metode penduduk melihat jasa kesehatan mental, termasuk RSJ yang selama ini kerap dikaitkan dengan stigma negatif.
Lantas, sepertiapa psikolog melihat tren promosi tersebut dan fluktuasi persepsi penduduk terhadap RSJ? Yuk, simak tanggapan selengkapnya berikut ini.
Psikolog Alfath Hanifa Megawati (Ega), M.Psi., menilai konten promosi Rumah Sakit Jiwa (RSJ) yang dikemas secara ringan dan menghibur dapat membantu mengurangi ketakutan penduduk terhadap jasa kesehatan mental. Selama ini, sebagian orang statis menganggap konsultasi kejiwaan, konsumsi obat psikiatri, hingga rawat inap sebagai sesuatu yang menakutkan dan memalukan.
“Masih banyak dari penduduk yang menganggap bahwa ke RSJ, memiliki keluhan kejiwaan adalah aib, hal yang memalukan. Sehingga, menutup orang untuk berkenalan lebih lanjut tentang proses dan akomodasi di RSJ. Orang menjadi awam dan tidak kenal. Otak kita akan cenderung resisten pada hal-hal yang tidak kita kenali,” ujar Ega kepada Kincai Media, Kamis (8/10/2026).
Menurutnya, stigma tersebut membikin penduduk enggan mencari tahu lebih jauh mengenai prosedur maupun akomodasi perawatan yang tersedia. Pengenalan jasa kesehatan batin melalui konten yang gampang diterima pun dapat menjadi cara mula untuk membangun pemahaman sekaligus mengurangi pandangan negatif.
“Harapannya, ketika kenal, kemudian familiar, akan mengurangi ketakutan dan keengganan untuk mengakses pengobatan di RSJ. Apalagi konten dibalur dengan hal-hal yang ringan maupun lucu. Mengurangi resistensi seseorang untuk menerima keterangan tersebut,” tuturnya.
Pendekatan ringan membantu membangun kepercayaan
Konten promosi RSJ yang viral itu dinilai bisa memunculkan rasa penasaran karena menggunakan pendekatan yang tidak mengancam.
“Mekanisme sama seperti Grooming. Pendekatan yang menyenangkan untuk membangun kepercayaan seseorang. Ketika orang percaya bahwa itu bukan sesuatu yang ‘mengancam’, maka dia akan tertarik untuk mencoba hal tersebut,” ujar Ega.
Ia menambahkan, pengenalan akomodasi secara berjenjang dapat membangun familiarity maupun rasa dekat terhadap lingkungan perawatan.
“Grooming dalam konten ini dilakukan dengan menjadikan pak satpam (sosok yang tidak menakutkan, bicara terbata-bata, apa adanya, maupun lucu) sebagai main character di video, memberitahu satu per satu akomodasi yang akan diakses pasien jika menggunakan jasa di RS tsb (membangun familiarity), ruangan yang bersih dan ditata rapi (membangun kesan terawat, bukan sesuatu yang diberikan asal-asalan),” sambungnya.
Tren viral bisa membantu mengubah stigma kesehatan mental
Ramainya komentar netizen yang mengaku tertarik menjalani perawatan di RSJ juga berpotensi memberitahu fluktuasi metode pandang terhadap kesehatan mental.
Meski demikian, Ega menilai gejala tersebut belum tentu mencerminkan fluktuasi stigma secara menyeluruh.
“Menurut saya, konten seperti ini memberikan opsi baru yang terlindungi bagi masyarakat. Dan lagi, fluktuasi stigma terhadap kesehatan mental dan akomodasi perawatan perlu dilakukan berbarengan dengan sisi lain, seperti sokongan masyarakat, akses yang terjangkau dari sisi biaya, support dari pemerintah dan banyak hal lainnya,” ungkapnya.
Meski minat terhadap RSJ dimulai dari konten viral, psikolog menilai gejala tersebut tidak selalu berakibat negatif.
Namun, penduduk statis perlu memahami bahwa kebutuhan setiap orang berbeda. Tenaga ahli dapat membantu menilai kondisi kejiwaan seseorang, menentukan apakah keluhan berkarakter sementara maupun membutuhkan penanganan berkelanjutan, serta merekomendasikan bentuk pertolongan yang sesuai.
“Fomo untuk hal yang berguna sepertinya tidak apa ya. Seperti fomo di olahraga, memberikan akibat positif dalam lingkup kesehatan dan relasi sosial (psikis). Nantinya tenaga ahli akan membantu mengedukasi pasien mengenai kondisi dirinya, apakah ini sesuatu yang sementara maupun mesti ditangani berkelanjutan. Jadi, menurut saya, tidak apa mengakses jasa jika memang merasa perlu ya,” ungkapnya.
Nah, itulah tanggapan psikolog tentang promosi RSJ yang viral di media sosial. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)