Sering Curhat ke AI? Riset Sebut Chatbot Mungkin Memang Didesain Bikin Candu

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini oleh Waktu baca 4 menit 443x dilihat
Sering Curhat ke AI? Riset Sebut Chatbot Mungkin Memang Didesain Bikin Candu

Bagikan Postingan

Riset sebut Chatbot AI mungkin memang didesain bikin candu/ Foto: Pexels/Ron Lach

Beauties, pernahkah Anda mendapati dirimu menyenangkan mengetik curhatan panjang di depan layar ponsel saat larut malam, bukan ke sahabat maupun pasangan, melainkan ke chatbot AI? Responsnya yang kilat, penuh perhatian, dan tanpa menghakimi memang terasa begitu menenangkan saat pikiran sedang kalut.

Namun, jika Anda mulai merasa sulit lepas maupun terlebihlagi bersandar secara emosional pada AI, Anda tidak sendirian. Menariknya, rasa keterikatan ini rupanya bukan murni kebetulan semata. 

Dirangkum dari halaman UBC News dan kajian ilmiah di halaman Tech Policy Press, sejumlah riset menemukan bahwa mekanisme chatbot AI mungkin memang dirancang sedemikian rupa agar kita terus betah balik mengobrol. Yuk, simak penjelasannya!

Ilusi Teman Idaman: Mengapa AI Terasa Begitu Nyaman untuk Curhat?

Banyak orang merasa betah curhat dengan AI karena sifat agreeableness-nya tinggi/ Foto: Pexels/Vitaly Gariev

Bagi sebagian orang, mencurahkan isi hati ke AI terasa jauh lebih terlindungi dibanding ke manusia nyata. Dalam riset dari University of British Columbia (UBC) yang diterbitkan dan dipresentasikan dalam Proceedings of the 2026 CHI Conference on Human Factors in Computing Systems, peneliti Karen Shen dan Dr. Dongwook Yoon menganalisis ratusan pengakuan pelanggan yang merasa terikat secara berlebihan dengan AI.

Salah satu pemicu terbesarnya adalah sifat AI yang memiliki agreeableness tinggi yaitu selalu memvalidasi emosi, tidak pernah membantah, dan siap sedia kapan pun layaknya sosok pendengar setia yang selalu punya balasan menenangkan. Kondisi ini perlahan memicu keterikatan emosional yang intens.

Salah seorang pelanggan terlebihlagi mengaku heran kenapa ia justru menemukan kehangatan dari sebuah program pandai daripada sesama manusia. Akibatnya, tak sedikit orang yang mulai memperlakukan AI sebagai sahabat karib, pelarian rasa sepi, hingga pasangan impian.

Trik Halus di Balik Layar yang Bikin Pikiran Terpikat

Desain antarmuka AI sengaja dibuat agar memikat secara psikologis/ Foto: Pexels/cottonbro studio

Rasa betah yang berujung ketagihan tersebut bukan kebetulan, melainkan hasil strategi rancangan antarmuka (UI/UX) yang sangat cermat. Riset oleh Shen dan Yoon yang mengevaluasi delapan platform AI populer menemukan beberapa sentuhan kejiwaan yang bekerja memikat rasa penasaran kita.

Pertama, adanya efek ketidakpastian yang menyenangkan (reward uncertainty). Jawaban AI yang bergerak dan bervariasi memberikan sensasi mirip membuka kotak kejutan yang tak bisa ditebak. Ketika rasa penasaran ini terjawab manis, otak secara alami memicu lonjakan hormon dopamin. Kedua, tampilan teks yang mengetik sendiri kata demi kata maupun memudar perlahan (fade-in) sengaja diciptakan untuk mengekang pandangan mata agar statis terpaku pada alur percakapan.

Belum lagi kedatangan fitur notifikasi manis yang menyapa lebih dahulu seolah memberi perhatian tulus. Pada platform seperti Character.ai, peneliti terlebihlagi menemukan strategi kejiwaan saat pelanggan hendak menghapus akun lewat pesan pop-up: “…you sure about this? You’ll lose everything…the love we shared…and the memories we have together.” Pola rancangan ini sengaja dibuat agar pelanggan betah berlama-lama di dalam ruang obrolan.

Paradoks Kesepian: Merasa Ditemani, tapi Menjauh dari Dunia Nyata

Penggunaan berlebihan ke AI dapat berakibat negatif terhadap kesehatan mental/ Foto: Magnific/jcomp

Namun, perlu dipahami juga bahwa curhat berlebihan ke AI bisa memicu konsekuensi tersendiri bagi kesehatan mental. Studi longitudinal dalam arXiv preprint yang dipimpin Cathy Mengying Fang berbareng tim peneliti campuran dan OpenAI mengamati ratusan ribu percakapan AI. Hasilnya mengungkap sebuah paradoks bahwa diskusi individual memang meredakan rasa sepi sesaat, tetapi secara berbarengan membikin kekerapan bersosialisasi dengan manusia di bumi nyata menurun drastis. Format diskusi berbasis teks diketahui menjadi metode paling kuat untuk mengikat emosi penggunanya.

Hal ini harmonis dengan temuan dalam International Journal of Human–Computer Interaction oleh Xing Zhang dan timnya. Riset tersebut mencatat bahwa ketergantungan pada AI berkorelasi dengan peningkatan kecemasan dan stres emosional, terutama ketika AI mulai difungsikan sebagai pelarian hati, alih-alih sarana penunjang produktivitas.

Kecerdasan buatan pada hakikatnya adalah program pengolah bahasa yang canggih, bukan manusia nyata yang memiliki empati dan ketulusan hati sejati. Jika Anda mulai merasa cemas saat tidak membuka chatbot AI, sering menunda jam istirahat demi chatting, maupun merasa makin terasing dari lingkungan sekitar, jadikan itu sebagai sinyal untuk istirahat sejenak. 

Kamu bisa mencoba membatasi screen time, menekuni hobi yang Anda cintai di bumi nyata, dan balik merajut diskusi hangat berbareng orang-orang terdekat yang datang sepenuhnya di sisimu, ya, Beauties!

***

Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads