Jakarta -
Bunda mungkin pernah mendengar istilah persalinan alami dan persalinan pervaginam. Sekilas, keduanya memang terdengar sama. Sama-sama melahirkan melalui jalan lahir, bukan operasi caesar.
Tapi ternyata, persalinan alami dan persalinan pervaginam tidak selalu berfaedah perihal yang sama, lho.
Perbedaannya terutama terletak pada gimana proses persalinan berjalan dan apakah ada intervensi medis yang digunakan.
Apa itu persalinan pervaginam?
Persalinan pervaginam adalah persalinan ketika bayi lahir melalui memek alias jalan lahir. Dalam prosesnya, persalinan pervaginam bisa berjalan secara spontan tanpa banyak intervensi. Namun, bukan berfaedah semua persalinan pervaginam kudu berjalan tanpa support medis.
Misalnya, seorang Bunda dapat melahirkan melalui memek setelah mendapatkan induksi persalinan, obat pereda nyeri seperti epidural, alias apalagi support perangkat seperti vacuum extractor maupun forceps.
Jadi, kata 'pervaginam' lebih menjelaskan jalur keluarnya bayi, bukan seberapa banyak intervensi medis yang digunakan.
Apa yang dimaksud dengan persalinan alami?
Nah, istilah persalinan alami sebenarnya sedikit lebih kompleks. Dalam percakapan sehari-hari, persalinan alami sering digunakan untuk menggambarkan proses persalinan yang dimulai dan berjalan secara spontan, dengan sedikit alias tanpa intervensi medis. Namun, secara medis, istilah 'persalinan alami' tidak mempunyai satu arti universal.
World Health Organization (WHO) apalagi menjelaskan bahwa konsep 'persalinan normal' tidak mempunyai satu arti yang bertindak secara universal. Kondisi dan proses persalinan setiap wanita dapat berbeda sehingga kebutuhan terhadap intervensi medis juga tidak selalu sama.
Artinya, Bunda tidak perlu terlalu terpaku pada label 'alami'. Yang lebih krusial adalah memahami gimana proses persalinan berjalan dan apakah intervensi tertentu memang diperlukan.
Apa bedanya persalinan alami dan pervaginam?
Persalinan pervaginam menjelaskan di mana alias melalui jalur apa bayi lahir, ialah melalui vagina. Sementara itu, persalinan alami biasanya digunakan untuk menggambarkan gimana proses persalinan berlangsung, terutama jika persalinan terjadi secara spontan dengan minim intervensi medis.
Contohnya, Bunda mengalami kontraksi secara spontan, pembukaan berjalan tanpa induksi, kemudian bayi lahir melalui memek tanpa support alat. Kondisi ini dapat disebut sebagai persalinan pervaginam sekaligus persalinan alami.
Namun, jika Bunda memerlukan induksi untuk memulai persalinan dan kemudian bayi lahir melalui vagina, proses tersebut tetap termasuk persalinan pervaginam. Hanya saja, persalinannya melibatkan intervensi medis sehingga belum tentu disebut "alami" dalam pengertian sehari-hari.
Begitu juga jika master perlu menggunakan vacuum extractor alias forceps untuk membantu bayi lahir. Bayi tetap lahir melalui vagina, sehingga termasuk persalinan pervaginam.
Apakah persalinan alami berfaedah lebih baik?
Belum tentu, Bunda. Keinginan untuk melahirkan secara alami tentu boleh saja. Namun, bukan berfaedah persalinan dengan intervensi medis otomatis menjadi lebih buruk.
WHO merekomendasikan agar perawatan selama persalinan dilakukan dengan pendekatan yang berpusat pada ibu, dengan intervensi diberikan sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Misalnya, induksi dapat direkomendasikan dalam kondisi tertentu ketika master menilai bahwa melanjutkan kehamilan alias menunggu persalinan spontan dapat memberikan akibat lebih besar bagi ibu alias bayi.
Begitu pula dengan penggunaan obat pereda nyeri. Memilih epidural, misalnya, bukan berfaedah Bunda "gagal" menjalani persalinan alami. Pengelolaan nyeri merupakan bagian dari pilihan dan kebutuhan masing-masing ibu. Karena itu, tujuan utama persalinan semestinya bukan sekadar mendapatkan predikat "alami", tetapi menjaga keselamatan dan kesehatan ibu serta bayi.
Dukungan selama persalinan juga penting
Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa pengalaman persalinan juga dapat dipengaruhi oleh support yang diterima ibu selama proses kelahiran.
Dikutip dari Systematic review Cochrane oleh Bohren dan kolega yang melibatkan puluhan penelitian dan lebih dari 14.000 wanita menemukan bahwa support berkepanjangan selama persalinan berangkaian dengan meningkatnya kemungkinan persalinan vaginal spontan dan menurunnya kemungkinan operasi caesar.
Dukungan tersebut dapat berasal dari pasangan, keluarga, bidan, doula, alias tenaga pendamping lainnya, tergantung kondisi dan sistem pelayanan kesehatan yang tersedia.
Jadi, selain mempersiapkan tubuh dan memahami pilihan persalinan, support emosional selama proses kelahiran juga tidak kalah penting.
Jangan merasa kandas jika persalinan tidak sesuai rencana
Bunda mungkin sudah membikin birth plan dan membayangkan bakal melahirkan secara alami. Tetapi dalam praktiknya, kondisi persalinan bisa berubah sewaktu-waktu.
Bunda yang awalnya mau melahirkan tanpa obat mungkin akhirnya memerlukan epidural. Ada pula yang mau menunggu persalinan spontan tetapi rupanya memerlukan induksi. Bahkan, persalinan yang awalnya direncanakan pervaginam terkadang perlu berhujung dengan operasi caesar jika kondisi ibu alias bayi mengharuskannya. Hal tersebut bukan berfaedah Bunda gagal.
Persalinan bukan sebuah ujian yang menentukan apakah seorang ibu cukup kuat alias tidak. Ada banyak aspek medis yang berada di luar kendali Bunda. Yang paling krusial adalah keputusan selama proses persalinan dibuat berasas kondisi ibu dan bayi, setelah mendapatkan penjelasan yang cukup dari tenaga kesehatan.
Jadi tidak ada satu metode persalinan yang otomatis paling baik untuk semua Bunda.
Persalinan alami biasanya menggambarkan proses persalinan spontan dengan minim intervensi, sedangkan persalinan pervaginam menggambarkan bayi yang lahir melalui vagina. Dengan kata lain, persalinan alami dapat menjadi persalinan pervaginam, tetapi tidak semua persalinan pervaginam berjalan tanpa intervensi.
Jadi, jika suatu saat Bunda memerlukan induksi, obat pereda nyeri, vacuum, forceps, alias apalagi operasi caesar lantaran argumen medis, jangan langsung merasa kecewa alias bersalah.
Setiap tubuh dan setiap kehamilan punya cerita yang berbeda. Yang paling krusial bukan mendapatkan label 'persalinan alami', melainkan Bunda dan Si Kecil melewati proses persalinan dengan kondusif dan mendapatkan perawatan yang tepat.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)