Slow Jogging: Tren Lari Lambat dari Korsel yang Bakar Lemak

Portal Kesehatan Ibu dan Anak Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 1 menit 25033x dilihat
Slow Jogging: Tren Lari Lambat dari Korsel yang Bakar Lemak

Banyak orang mengira lari selalu membuat napas tersengal, melelahkan, dan berat. Namun pandangan itu mulai berubah, Bunda.

Pasalnya, di Korea Selatan sedang viral sebuah metode olahraga bernama slow jogging. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan slow jogging?

Secara harfiah, slow jogging adalah berlari dengan tempo sangat ringan sehingga memungkinkan bercakap-cakap santai dan tertawa bareng teman. Secara teknis, kecepatan slow jogging berkisar antara 3 hingga 5 kilometer per jam (km/jam), hampir setara namun sedikit lebih cepat dibanding jalan kaki santai, Bunda.


Dikutip dari detikcom, penelitian medis menunjukkan bahwa slow jogging justru mampu meningkatkan pengeluaran energi. Saat berlari perlahan, otot-otot besar seperti bokong, punggung bawah, dan paha depan bekerja secara lebih konstan.

Aktivitas slow jogging ini disebut dapat meningkatkan pembakaran kalori hingga dua kali lipat dibanding jalan kaki biasa. Bagi yang ingin memangkas lemak perut, olahraga ini bisa menjadi alternatif yang menyenangkan.

Sebenarnya metode slow jogging dikembangkan oleh mendiang Profesor Hiroaki Tanaka dari Departemen Ilmu Olahraga Universitas Fukuoka, Jepang, setelah melalui riset selama lebih dari 40 tahun.

Lantas seperti apa sejarah dan perkembangan slow jogging di Korea Selatan?

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak

Bagikan Postingan