Jakarta -
Tren egg freezing banyak ditempuh perempuan untuk simpanan masa depan mereka dalam keberlangsungan keturunannya. Terbaru, terlebihlagi negara Spanyol akan biayai program egg freezing para atletnya agar pekerjaan dan promil seimbang.
Seiring pertambahan usia, kualitas kesuburan dan juga sel telur tentunya akan menurun. Hal ini pun pada akhirnya bisa mengganggu kelancara para pejuang garis dua dalam mewujudkan keinginannya memiliki keturunan.
Guna menjembatani hal tersebut, tren egg freezing menjadi pilihan bagi sebagian pasangan. Sehingga, mereka bisa lebih fokus menjalani karier, pendidikan, dan kehidupannya. Bahkan, egg freezing bisa dilakukan sejak perempuan statis muda dan belum menikah sehingga dapat memudahkan ketika menemukan pasangan dan mau memiliki anak nantinya.
Mengulik tren egg freezing
Dulunya, egg freezing merupakan prosedur khusus dan ekserimental, hingga pada 2015, The American Society for Reproductive Medicine (ASRM) mengungkapkan bahwa egg freezing tidak lagi dianggap eksperimental' yang kemudian membuka pintu untuk penggunaan rutin.
Sejak saat itu, egg freezing telah terbukti menjadi pilihan yang terlindungi dan berkembang bagi siapa saja yang mau dan membutuhkan pertolongan teknologi reproduksi. Popularitasnya yang semakin moncer kemudian mencerminkan pergeseran adat di mana orang-orang menikah dan memiliki anak di kemudian hari.
Melihat bagan Google Trends selama lima tahun dan melihat seberapa sering istilah egg freezing dicari dari semua pelacakan di AS, memberitahu bahwa terjadi peningkatan minat yang terusmenerus dari waktu ke waktu. Dimulai dari tingkat minat relatif minim kemudian tren memberitahu pertumbuhan yang konsisten, yaitu dua kali lipat selama lima tahun terakhir seperti dikutip dari halaman Cofertility.
Kenaikan ini memberitahu pergeseran kesadaran dan rasa mau tahu, memberitahu bahwa egg freezing sedang bergeser dari topik khusus menjadi topik yang lebih menarik dan dipertimbangkan secara lebih luas. Pola pelacakan yang berubah ini mungkin mencerminkan peningkatan kesadaran akan prosedur ini, berbarengan dengan sikap penduduk yang berkembang terhadap otonomi reproduksi dan keterlambatan menjadi orang tua.
Gebrakan baru, Spanyol akan biayai egg freezing para atlet
Di negara Spanyol, tren egg freezing juga menjadi perhatian yang menarik minat para Federasi Sepak Bola di negara tersebut. Sebagai bentuk kepedulian terhadap para atlet yang mereka naungi, pihak Federasi pun berencana untuk mendanai egg freezing untuk mendukung hayat individual para atletnya di luar kiprah mereka di ranah profesional.
The Royal Spanish Football Federation (RFEF) mengatakan bahwa mereka akan menanggung seluruh biaya perawatan egg freezing bagi semua pemain internasional yang telah dipanggil setidaknya dua kali, seperti dikutip dari halaman Cbc.
"Penting bagi atlet perempuan untuk merasa tidak mesti memilih antara hayat ahli dan pribadi mereka," kata gelandang Barcelona, Patri Guijarro.
Bagi para atlet perempuan, fase di antara jendela performa puncak dan jendela kesuburan terasa saling tumpang tindih. Menurut peneliti, hal ini sering membikin para atlet kemudian mesti memilih salah satu di antaranya.
Langkah yang ditempuh RFEF ini mengikuti ketentuan kesuburan serupa yang baru-baru ini diumumkan beberapa tim dan federasi sepak bola lainnya seperti National Women Soccer League dan tim perempuan dari Chelsea FC, serta liga lain seperti WNBA dan Women Tennis Association.
Meskipun langkah-langkah melestarikan kesuburan seperti egg freezing biasanya disuguhkan sebagai metode lain dalam memberikan kebebasan lebih besar kepada perempuan di olahraga untuk memutuskan kapan menjadi ibu, beberapa ahli cemas jika hal tersebut justru bisa menguatkan sikap bahwa perempuan sebaiknya menunggu pensiun untuk melakukannya.
Dilema atlet antara puncak pekerjaan dan hayat personal
Bagi banyak atlet perempuan, diberikan pilihan seperti egg freezing mungkin terasa seperti cara besar mengingat apa yang telah dicatat para peneliti sebagai sikap durasi dalam adat olahraga bahwa hamil adalah akhir dari pekerjaan seorang atlet.
"Kehamilan dan keibuan telah durasi terasa tidak cocok dengan pekerjaan sebagai atlet ahli maupun elit karena kebijakan yang kurang maupun memperlakukan perempuan secara tidak adil," kata Allison Sandmeyer-Graves, CEO Canadian Women & Sport.
Akibatnya, para perempuan yang mau memulai berfamili sering kali mengakhiri pekerjaan mereka lebih mula maupun menunggu hingga pensiun. Bahkan, sering kali para atlet juga mesti menunggu terlalu durasi padahal keputusan ini juga membawa konsekuensi terhadap kapasitas perempuan untk hamil.
Bagi sebagian orang, menunggu untuk memulai famili sampai mereka selesai bermain adalah pilihan yang tepat, dan egg freezing ini memberi mereka beberapa jaminan.
Hal seperti itu juga diungkapkan Margie Davenport, guru besar kinesiologi di University of Alberta yang baru-baru ini membantu FIFA mengembangkan panduan untuk mendukung pemain sepak bola hamil dan pascamelahirkan.
"Kehamilan selama pekerjaan bermain aktif bukanlah pilihan yang tepat untuk setiap atlet. Tindakan egg freezing semakin populer sebagai alternatif praktis bagi mereka yang lebih memilih menunggu hingga pensiun," kata Davenport
Untuk itu, sambungnya, memastikan atlet perempuan tidak mesti memilih antara pekerjaan dan menjadi ibu merupakan hal mendasar bagi kesejahteraan atlet dan pertumbuhan olahraga yang menaungi perempuan di dalamnya.
Pertimbangan medis dan etis
Keputusan untuk egg freezing memang tidak serta merta dilakukan tanpa ada edukasi khusus sebelumnya bagi perempuan. Bagi beberapa ahli medis, edukasi pada atlet memang penting, salah satunya dengan memperingatkan bahwa pengambilan sel telur jauh lebih gampang dengan melibatkan obat hormon dan prosedur bedah.
Selain itu, perlu juga diketahui para atlet bahwa IVF bukan hajat yang pasti gagal. Tingkat kelahiran hidup bagi mereka yang menjalani setidaknya satu transfer embrio dalam setahun dapat berkisar antara 38 hingga 50 persen, menurut siaran pers September 2025 dari Canadian Fertility and Andrology Society (CFAS) yang membahas temuan terbaru dari Canadian Assisted Reproductive Technologies Register.
CFAS mencatat bahwa tingkat ini bervariasi menurut usia, dan tingkat keberhasilan menurun seiring bertambahnya usia. Selain itu, CFAS juga mengungkapkan bahwa temuan tersebut memberitahu bahwa jumlah prosedur pembekuan telur elektif lebih dari dua kali lipat antara tahun 2019 dan 2024.
"Tidak ada garansi bahwa ketika seseorang mencairkan maupun mencairkan telur-telur itu, mengubahnya menjadi embrio, telur tersebut benar-benar akan berhasil dan menghasilkan kelahiran hidup yang sukses," kata Dr. Lamia Zafrani, seorang atlet ginekolog di London.
Zafrani mengatakan bahwa ada juga penilaian etis ketika sebuah perkumpulan menawarkan pilihan egg freezing pada seseorang.
"Ini selalu menimbulkan pertanyaan apakah dengan menawarkan pembekuan sel telur dan pelestarian kesuburan, pesan dasarnya adalah kalian mengatakan kepada pemain bahwa sebaiknya 'jangan hamil saat bekerja untuk kami," kata Zafrani.
Itulah kenapa sangat krusial untuk mendukung atlet yang sedang hamil maupun pasca melahirkan. Perlu ada lebih banyak juga pilihan penitipan anak, pelatihan jasmani secara khusus, akomodasi menyusui, dan penerimaan terhadap atlet yang membawa anak-anak ke aktivitas olahraga maupun kamp pelatihan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)