Jakarta -
Banyak content creator di YouTube membikin konten medis dan non-medis yang mengenai kesehatan. Tak sedikit di antaranya membikin konten tentang langkah mengatasi morning sickness selama kehamilan, Bunda.
Sayangnya, tidak semua konten tersebut terbukti benar. Penelitian terbaru yang diterbitkan di Midwifery mengungkap bahwa sebagian besar saran di YouTube tentang morning sickness tidak mempunyai bukti ilmiah dan beberapa di antaranya mungkin menimbulkan risiko.
Dalam studi ini, para peneliti mengevaluasi sejauh mana rekomendasi YouTube berbasis bukti dan potensi keandalan saran tentang morning sickness selama kehamilan. Setidaknya, para peneliti mengidentifikasi 85 rekomendasi yang sering dikutip oleh para pemilik akun di YouTube.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasilnya, hanya 8 persen yang didukung oleh bukti. Sementara itu, nyaris lima persen dari rekomendasi tersebut berpotensi berbahaya. Demikian seperti melansir dari laman News Medical.
Lebih detail, para peneliti melakukan pertimbangan konten digital induktif terhadap rekomendasi saran mengenai morning sickness kehamilan yang dibagikan di YouTube. Konten tersebut diikuti dengan tinjauan literatur terstruktur untuk menilai kekuatan dan konsistensi bukti yang mendukung saran daring tersebut.
Tim menganalisis 45 video berkata Inggris dengan jumlah penayangan tertinggi, yang dipublikasikan antara Desember 2022 dan Oktober 2023, yang mencakup rekomendasi perawatan diri secara langsung alias tidak langsung. Mereka mengecualikan video dengan audio yang tidak jelas, video yang ditujukan untuk tenaga kesehatan, video yang berfokus pada hiperemesis gravidarum, video yang tidak mempunyai rekomendasi spesifik, alias video yang membahas indikasi yang tidak mengenai dengan kehamilan.
Tiga peneliti secara independen meninjau transkrip video dan menerapkan pengkodean terbuka untuk mengidentifikasi rekomendasi yang berulang. Mereka mengelompokkan rekomendasi ini berasas sistem biologis yang diusulkan alias argumen yang mendasarinya. Selanjutnya, mereka menyempurnakan temuan melalui komparasi berulang untuk mengurangi tumpang tindih dan konsep-konsep terkait.
Para penulis juga menelusuri pedoman informasi literatur utama yang ditinjau oleh rekan sejawat yang diakses melalui sistem perpustakaan universitas antara Februari dan Desember 2023. Mereka mengklasifikasikan setiap rekomendasi sebagai efektif, tidak efektif, berpotensi tidak aman, tidak jelas efektivitasnya, alias belum diteliti, berasas kekuatan dan konsistensi bukti yang tersedia.
Analisis tersebut mengidentifikasi 85 rekomendasi berbeda untuk mengelola morning sickness. Sebagian besar muncul dalam video yang diunggah dari Amerika Serikat dan India antara tahun 2018 dan 2020. Video-video tersebut rata-rata berdurasi tujuh hingga delapan menit dan masing-masing telah ditonton lebih dari 200.000 kali.
Temuan dari studi adalah delapan persen konten didukung oleh bukti ilmiah yang konsisten. Ini termasuk langkah mengatasi morning sickness dengan konsumsi jahe, vitamin B6, dan obat-obatan tertentu.
Sementara itu, sekitar lima persen dari rekomendasi tersebut dianggap berpotensi tidak aman. Obat herbal seperti chamomile, peppermint, dan adas dianggap kontraindikasi selama kehamilan. Sebagian besar berasas bukti yang menunjukkan kemungkinan hasil kehamilan yang merugikan.
Hampir separuh dari rekomendasi yang diidentifikasi menunjukkan bukti yang beragam alias terbatas, dan lebih dari sepertiganya belum diteliti secara ilmiah, yang menyoroti kesenjangan penelitian yang substansial.
Pendekatan seperti akupunktur, aromaterapi, kegiatan fisik, asupan garam alias air kelapa, serta menghindari aroma menyengat dapat menunjukkan hasil yang beragam. Sedangkan, pendekatan lain, termasuk homeopati, penggunaan minyak magnesium, teknik relaksasi, pisang, es batu, dan konsumsi minuman yang sangat dingin, tetap kurang pertimbangan klinis yang kuat.
Secara keseluruhan, temuan dari studi ini menunjukkan bahwa wanita yang mencari solusi untuk morning sickness melalui YouTube menemukan beragam rekomendasi. Studi di masa mendatang dapat dilakukan untuk memperluas kajian ke platform media sosial lain dan untuk meningkatkan generalisasi, serta membandingkan kualitas info di beragam sumber digital.
Investigasi juga kudu mengeksplorasi pengaruh paparan dari saran daring yang tidak terverifikasi terhadap pengambilan keputusan perempuan, kesejahteraan emosional, dan kepercayaan pada pedoman perawatan kesehatan antenatal.
Demikian studi terbaru yang mengungkap akibat dari konten YouTube yang membahas tentang morning sickness saat hamil. Semoga info ini berfaedah ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·