Buku Laut Bercerita mengangkat tentang kisah para aktivis yang memperjuangkan pelengseran orde baru di tahun 1998. Dari mula peluncurannya, novel ini sudah disambut secara antusias oleh kalangan anak muda. Bahkan, novel ini kini sudah diadaptasi menjadi sinema layar lebar!
Meski Laut Bercerita adalah novel fiksi, novel ini ditulis berdasarkan kisah dan diskusi nyata para aktivis pra-reformasi. Sehingga menambah legitimasi apa yang terjadi kala itu.
Jika Anda gemar baca buku historical fiction seperti Laut Bercerita, ini 5 anjuran buku historical fiction yang bikin Anda makin melek sejarah sekaligus memperluas wawasan. Yuk, simak!
Baca Juga: Bosan Baca Sendiri? Cek 6 Komunitas Penggemar Buku di Jakarta yang Punya Banyak Event Seru
1. Pulang – Leila S. Chudori

Rekomendasi buku historical fiction pertama statis dari penulis yang sama dengan Laut Bercerita. Leila S. Chudori kelihatan memberitahu minatnya mengenai topik historical fiction dengan menerbitkan buku serupa, namun menceritakan range waktu yang berbeda. Buku Pulang sebenarnya sudah terlebih dahulu dirilis sebelum Laut Bercerita, menceritakan tentang tragedi 1965 dan nasib penduduk Indonesia yang terpaksa mengasingkan diri di Prancis dan tidak dapat balik ke kampung halamannya.
Buku ini melibatkan kisah antara dua generasi yang terjebak sebagai tapol (tahanan politik) dan membikin mereka diusir dari kampung halamannya sendiri. Kisah yang mengharukan sekaligus memilukan membikin buku ini sangat layak disandingkan dengan top buku historical fiction lainnya. Siapkan dirimu untuk berkelana ke tahun 1965 dengan buku ini!
2. Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer

Rekomendasi buku historical fiction selanjutnya adalah buku Bumi Manusia yang menjadi buku pembuka untuk serial Tetralogi Pulau Buru karya sang maestro Pramoedya Ananta Toer. Berbeda dengan Pulang, novel ini lebih menceritakan kesenjangan yang terjadi antara pribumi dan kaum kolonialis Belanda. Minke sebagai figur utama yang juga pribumi mesti siap menghadapi segala diskriminasi karena dia bukan seorang keturunan Belanda. Dalam perjalanannya, ia jatuh cinta dengan gadis keturunan Indo-Belanda disebut Annelies dan mesti melalui beragam rintangan karena mereka memiliki status sosial yang berbeda.
Dari buku ini, kita bisa melihat sepertiapa pribumi justru didiskriminasi di tanah airnya sendiri, sekaligus menyaksikan perjuangan Minke melawan tradisi kolonialisme kolonial. Fun fact, buku ini sempat dilarang peredarannya di masa Orde Baru dan membikin buku ini beberapa kali disebut dalam buku Laut Bercerita. Namun sekarang, buku ini sudah dapat dibaca dan diakses siapapun tanpa perlu sembunyi! Penasaran, kenapa ya kira-kira buku ini dilarang? Langsung baca biar tahu alasannya!
3. Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari

Menceritakan kisah Srintil, seorang Ronggeng (penari) muda di sebuah desa disebut Dukuh Paruk. Dukuh Paruk ini merupakan daerah miskin, terpencil dan statis sangat kental dengan adat-istiadat termasuk pewarisan judul Ronggeng sebagai penghibur. Srintil yang cantik menjadi primadona di sana, semua penduduk Dukuh Paruk mengenalnya dan menantikan kesempatan menari dengannya. Tapi sayangnya, hal ini membikin Srintil menjadi objek seksualitas dan merenggut kebebasannya sebagai perempuan.
Nasibnya menjadi semakin buruk sejak peristiwa politik tahun 1965 yang ikut menyeretnya beserta dukuhnya. Dari sini kita dapat melihat bahwa peristiwa politik 1965 sangat mempengaruhi hayat penduduk kala itu terlebihlagi ke pelosok pedalaman yang jauh dari pusat konflik. Lalu apakah Srintil bisa bertetap menghadapi gejolak yang menerpanya?
4. Cantik Itu Luka – Eka Kurniawan

Buku Cantik Itu Luka menceritakan kisah seorang perempuan cantik di akhir masa kolonial yang memiliki 4 anak, 3 diantaranya terlahir dengan jasmani rupawan seperti ibunya, sementara anak terakhir terlahir dengan jasmani yang buruk rupa. Kisah di buku ini melintasi beragam masa di Indonesia, dari masa kolonialisme Belanda, Jepang, masa kemerdekaan, hingga tragedi G30S.
Secara garis besar, buku ini menceritakan tentang benar-benar pilunya menjadi seorang perempuan cantik di masa waktu tersebut. Peristiwa sejarah di dalamnya disajikan berdasarkan point of view perempuan dan penduduk kecil sehingga menyentuh sentimen emosi yang mendalam. Perpaduan kisah roman, mistis, kekejaman politik, mitologi, hingga petualangan membikin buku ini wajib masuk ke wishlist kamu!
5. Gadis Kretek – Ratih Kumala

Nah, buku kali ini mungkin terdengar familiar karena sudah sempat difilmkan dan berhasil meraih banyak atensi publik. Jika Anda sudah menonton filmnya, ada baiknya jika Anda juga membaca varian bukunya. Menceritakan tentang pewaris Kretek Djagad Raja yang sedang gelisah karena bapak mereka sekarat dan hampir menemui titik ajalnya. Namun dalam penantian ajalnya, ia mengatakan nama seorang wanita, Jeng Yah.
Tentu itu bukan nama ibu mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari sosok Jeng Yah sebelum bapak mereka tiada. Dengan latar waktu dari masa kolonialisme Belanda hingga kemerdekaan, kita diajak langsung untuk berkenalan dengan industri kretek di masa itu. Lantas siapakah Jeng Yah sebenarnya?
—
Nah, itu tadi anjuran buku historical fiction yang bisa Anda baca jika Anda tertarik dengan buku seperti Laut Bercerita. Ada yang sudah pernah membaca salah satu, maupun terlebihlagi semua buku diatas?
Baca Juga: 5 Rekomendasi Novel Romantis Berbahasa Inggris yang Beginner Friendly
Mau tahu lebih banyak anjuran cafe lainnya? Yuk, join grup WhatsApp Girls Beyond Circle untuk tahu banyak anjuran menarik lainnya!
Hai semuanya! Aku Nisa, penulis artikel ini sekaligus pecinta buku historical fiction! Let’s Connect on Instagram/LinkedIn, siapa tau bisa sharing anjuran buku bareng!