Pada penggalan ayat sebelumnya, Allah bercerita tentang Nabi yang bermuka masam ketika konsentrasi beliau dalam mendakwahi pembesar Quraisy “diganggu” oleh Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Maka dalam penggalan ayat berikutnya, Allah memulai dengan kalimat “Kalla” yang berarti “Jangan melakukan perihal seperti itu lagi”, menjadi pelajaran bagi kita semua untuk memperhatikan para orang-orang lemah dan jangan beralih dengan silaunya kekayaan bumi milik orang-orang kaya dan serakah menginginkan bagian tersebut dari mereka.
Al-Qur’an memberikan pelajaran atas perihal tersebut, berfaedah bagi siapa saja yang membacanya, mempelajarinya, kemudian mengamalkannya. Akan tetapi, Al-Qur’an juga bakal menuntut kita di hari hariakhir jika kita menelantarkannya. Maka perihal ini adalah kandungan yang bakal kita tadabburi berbareng dalam lanjutan tafsir ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ۚ
“Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya (ajaran Allah) itu merupakan peringatan.” (QS. Abasa: 11)
Allah menjelaskan kepada Nabi, wahai Rasulullah, janganlah engkau melakukan kembali seperti apa yang terjadi pada Ibnu Ummi Maktum.
Perkara yang dijelaskan oleh Nabi adalah Al-Qur’an, surat yang terkandung dan ayat yang terangkai bagus semuanya adalah nasihat serta peringatan bagi seluruh makhluk. Peganglah dengan kuat semua ayatnya serta amalkan, maka niscaya perihal itu bakal cukup menjadi peringatan agar tidak terjurumus ke dalam gelapnya kesyirikan dan kekufuran.
Dalam ayat ini, terkandung pengagungan terhadap kedudukan Al-Qur’an, baik orang-orang kafir itu mau menerima hidayahnya alias tidak mau, maka Al-Qur’an tetaplah mulia dan penuh dengan hidayah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗ ۘ
“Siapa yang menghendaki tentulah bakal memperhatikannya.” (QS. Abasa: 12)
Al-Qur’an adalah pemberi peringatan yang sangat jelas. Setiap orang yang dijelaskan kandungannya pasti bakal bisa untuk memahami dan menyadari hidayah di dalamnya. Siapa saja yang beriktikad memperhatikan dengan baik, maka Allah bakal berikan jalan untuk memahaminya.
Ayat ini menjadi sanggahan bagi mereka yang mengatakan, “Kalau memang Al-Qur’an itu hidayah, kenapa tetap banyak orang yang tersesat?” Maka jawabannya, kesalahan bukan ada pada Al-Qur’an, bakal tetapi kesalahannya terletak pada mereka yang tidak mau menggunakan akalnya untuk merenungi Al-Qur’an. Mereka hanya menggunakan akalnya untuk meraup untung duniawi dan hidup lezat di bumi saja, namun tidak mau merenungi kehidupan akhirat, tidak mau merenungi dan menelaah bahwa ada kitab suci terakhir yang berjulukan Al-Qur’an.
Kesalahan juga ada pada mereka yang sudah merenungi dan mempelajari Al-Qur’an, bakal tetapi hatinya menolak hidayah lantaran kesombongan. Sebagaimana kisah Fir’aun yang hatinya mengetahui bahwa yang disampaikan Nabi Musa adalah kebenaran, namun tubuh dan lisannya menolak lantaran kesombongan yang ada pada hatinya. Kesombongannya mengalahkan hidayah yang telah Allah berikan, maka Allah campakkan dia dalam kesesatan yang semakin gelap.
Kemudian Allah melanjutkan penjelasan tentang keagungan Al-Qur’an.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فِيْ صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍۙ , مَّرْفُوْعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ ۢ ۙ , بِاَيْدِيْ سَفَرَةٍۙ , كِرَامٍۢ بَرَرَةٍۗ
“Di dalam suhuf yang dimuliakan (di sisi Allah), yang ditinggikan (kedudukannya) lagi disucikan, di tangan para utusan (malaikat) yang mulia lagi berbudi.” (QS. Abasa: 13-16)
Al-Qur’an adalah untaian hidayah, suatu kitab berisi pengetahuan serta hikmah, yang terjaga dengan sempurna pada lembaran-lembaran yang dimuliakan oleh Allah.
Allah meninggikan derajat Al-Qur’an dan orang-orang yang berinteraksi dengan baik dengannya. Allah menyucikannya dari semua kesalahan, baik teks maupun makna yang terkandung padanya, tidak ada satu pun kesalahan ada padanya yang dapat mengotorinya.
Allah menjaga Al-Qur’an dari dikotori oleh setan dalam corak manusia dan jin. Ketika Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah selama berangsur-angsur, Allah perketat penjagaan pada tiap pintu dan lapis langit, agar setan hantu tidak bisa menguping alias mengganggu turunnya wahyu yang agung ini.
Ketika Al-Qur’an sudah lengkap, Allah juga menjaga kitab suci ini dari tangan-tangan kotor orang kafir yang mau menambah dan mengurangi isinya, menggantinya, apalagi membikin tandingannya. Allah hinakan semua orang yang beriktikad jelek kepadanya.
Allah juga memuliakan para malaikat yang membawanya dari langit sampai ke hati Rasulullah. Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullah menjelaskan bahwa kata “safarah” dalam ayat tersebut adalah malaikat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
قُتِلَ الْاِنْسَانُ مَآ اَكْفَرَهٗۗ
“Celakalah manusia! Alangkah kufur dia!” (QS. Abasa: 17)
Kalimat ini adalah corak kalimat yang biasa dipakai orang Arab untuk menunjukkan emosi “kaget” dan heran. Kita diajak berpikir, kok bisa-bisanya ada manusia yang kafir beralih dari iman.
Allah telah tunjukkan beragam bukti kekuasaannya lewat indahnya alam semesta kepada manusia, semestinya mereka berpikir bahwa “pastilah ada yang menciptakan semua ini”. Kemudian Allah juga telah mengutus Rasul untuk menjelaskan kebenaran. Allah juga mengabadikan Al-Qur’an sampai menjelang hari hariakhir sehingga mereka bisa belajar dan mencari petunjuk. Lebih jauh, Allah juga senantiasa mengadakan para dai di setiap era untuk mendakwahkan isi Al-Qur’an, membujuk manusia memahami bahwa alam semesta ini ada penciptanya, dan penciptanya adalah Allah, serta membujuk untuk menyembahnya dengan ikhlas.
Lantas, dengan semua sarana dan jalan hidayah ini, sangat mengherankan gimana bisa sebagian orang tetap berada dalam kekafiran menentang dan tidak percaya kepada Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
مِنْ اَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهٗۗ , مِنْ نُّطْفَةٍۗ خَلَقَهٗ فَقَدَّرَهٗۗ
“Dari apakah Dia menciptakannya? Dia menciptakannya dari setetes mani, lampau menentukan (takdir)-nya.” (QS. Abasa: 18-19)
Allah mencela orang-orang kafir, yang menentang setelah dijelaskan hidayah menuju kebenaran. Celaan ini sangatlah dalam, “Orang-orang kafir itu, mereka diciptakan oleh Allah dari air yang buruk lagi rendah, kemudian setelah bisa berpikir malah dengan beraninya menentang Allah.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهٗۙ
“Kemudian, jalannya Dia mudahkan.” (QS. Abasa: 20)
Terdapat dua tafsir untuk ayat ini, sebagian mufasir menjelaskan bahwa ayat ini berarti Allah memudahkan mereka keluar dari perut ibunya, dengan beragam sistem biologis yang menakjubkan, yang tidak mungkin dapat ditiru oleh manusia. Allah berikan kemudahan mereka keluar, lampau setelah keluar dari perut ibunya dengan selamat dan dapat berpikir ketika dewasa, mereka kufur kepada Allah.
Tafsir lain menyebut bahwa makna ayat ini adalah Allah berikan dua jalan kepada mereka, jalan menuju kebaikan dan jalan keburukan, kemudian mereka memilih jalan mana yang bakal mereka tempuh. Allah memberikan pilihan kepada mereka, sehingga mereka bakal dibalas dengan pahala alias dosa atas pilihan apa yang mereka ambil.
Semua manusia telah Allah memberikan beragam kejadian dalam hidupnya yang menjadi jalan hidayah baginya, bakal ada saat dimana hatinya terketuk oleh sinar hidayah. Kemudian tugas selanjutnya adalah apakah dia mau menjemput hidayah tersebut alias malah abai tidak peduli dengan ketukan hidayah tersebut.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ثُمَّ اَمَاتَهٗ فَاَقْبَرَهٗۙ , ثُمَّ اِذَا شَاۤءَ اَنْشَرَهٗۗ
“Kemudian, Dia mematikannya lampau menguburkannya. Kemudian, jika menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.” (QS. Abasa: 21-22)
Setelah manusia hidup di dunia, menghabiskan jatah umur dan rezeki mereka, maka pasti mereka bakal merasakan kematian. Manusia dikuburkan dalam tanah sebagai corak penghormatan kepada mereka, di antaranya agar tubuh mereka tidak dimakan oleh hewan buas. Adapun corak pemulasaraan jenazah dengan corak lain seperti dibakar (kremasi), diawetkan dalam corak mumi, dan semisalnya adalah corak penghinaan dan keburukan kepada jenazah.
Setelah dikuburkan, Allah bakal membangkitkan mereka pada waktunya, di hari kiamat, hari yang pasti terjadi, namun tidak ada satupun makhluk yang mengetahui kapan terjadinya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ اَمَرَهٗۗ
“Sekali-kali jangan (begitu)! Dia (manusia) itu belum melaksanakan apa yang Dia (Allah) perintahkan kepadanya.” (QS. Abasa: 23)
Ayat ini menjadi teguran dan peringatan bagi kita manusia, seberapapun kita telah menjalankan ketaatan pasti terdapat kekurangan padanya. Sebagian manusia menjerumuskan dirinya dalam kekafiran, sebagian lainnya berkubang pada dosa-dosa besar, sebagian lainnya banyak melakukan dosa kecil, sebagian lainnya tetap belum maksimal dalam alim kepada Allah sang Pencipta. Menimbang beragam kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita, serta beragam hukum yang ditetapkan kepada kita, pasti ada kekurangan dalam ketaatan kita kepadanya.
Ketika kita telah melakukan suatu kesalahan alias kurang dalam ketaatan, segeralah kembali kepada Allah. Jangan sampai kita menyeret diri kita ke dalam maksiat yang lebih besar. Setan menggelincirkan manusia sejengkal demi sejengkal, sedikit demi sedikit, tidak langsung seketika, godaannya sangat lembut namun pasti. Awalnya dari meremehkan ketaatan yang berkarakter sunah, lampau mulai menggoda dengan melakukan dosa kecil, lampau dari dosa mini naik ke dosa besar, dari dosa besar naik menjadi kemusyrikan dan kekufuran.
Maka, ketika kita merasa salah arah, kemudian Allah tegur kita dengan teguran yang lembut dan halus, segeralah kembali, Allah pasti mengampuni kita selama kita tulus bertobat. Kembalilah, sebelum semakin jauh.
[Bersambung]
KEMBALI KE BAGIAN 1
***
Penulis: Dany Indra Permana
Artikel Kincai Media
Catatan kaki:
Mayoritas cetakan dan laman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
English (US) ·
Indonesian (ID) ·