Dalam kehidupan ini, tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Ada yang lahir dalam family terpandang, ada yang tumbuh dalam kesederhanaan. Ada yang mempunyai akses pendidikan tinggi, ada yang kudu berjuang sejak kecil. Ada yang mempunyai relasi luas, kedudukan strategis, pengaruh sosial, dan kemudahan ekonomi.
Di era sekarang, istilah yang sering digunakan adalah privilege, ialah keistimewaan alias kemudahan yang dimiliki seseorang lantaran latar belakang keluarga, ekonomi, pendidikan, relasi, alias kedudukan sosial.
Namun dalam pandangan Islam, privilege bukan sekadar keberuntungan. Ia adalah ujian. Ia adalah amanah. Ia adalah sesuatu yang kelak bakal dipertanyakan secara rinci di hadapan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ
“Dialah yang menjadikan kalian sebagai khalifah di bumi dan meninggikan sebagian kalian atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk menguji kalian terhadap apa yang Dia berikan kepada kalian.” (QS. Al-An‘am: 165)
Perbedaan derajat bukan semata-mata kelebihan. Hakikatnya itu semua adalah ujian. Allah Azza wa Jalla berfirman,
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Kemudian pada hari itu kalian pasti bakal ditanya tentang segala nikmat.” (QS. At-Takatsur: 8)
Privilege bukan agunan kemuliaan
Sering kali seseorang merasa bangga dengan keistimewaannya. Jabatan, harta, pendidikan tinggi, jaringan luas, alias akses terhadap kekuasaan membuatnya merasa lebih unggul. Kemuliaan sejati tetap ditentukan oleh ketakwaan,
`إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Bukan yang paling kaya. Bukan yang paling terkenal. Bukan yang paling berpengaruh. Kemuliaan di sisi Allah bukan ditentukan oleh privilege, tetapi oleh gimana privilege itu digunakan.
Harta sebagai privilege
Harta adalah salah satu privilege terbesar dalam kehidupan. Bahkan bagi sebagian orang, privilege terbesar adalah andaikan mempunyai kekayaan yang melimpah. Padahal kekayaan adalah salah satu tuduhan bagi umat Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إن لكل أُمَّة فتنة، وفِتنة أُمَّتي: المال
“Setiap umat mempunyai tuduhan (ujian), dan tuduhan umatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ahmad)
Harta bukan hanya nikmat. Ia adalah pertanyaan yang kelak kudu dijawab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا تزولُ قدَما عبدٍ يومَ القيامةِ حتَّى يسألَ عن عمرِهِ فيما أفناهُ ، وعن عِلمِهِ فيمَ فعلَ ، وعن مالِهِ من أينَ اكتسبَهُ وفيمَ أنفقَهُ ، وعن جسمِهِ فيمَ أبلاهُ
“Tidak bakal bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari hariakhir sampai dia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa dia habiskan; tentang ilmunya, apa yang telah dia amalkan; tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa dia belanjakan; serta tentang tubuhnya, untuk apa dia gunakan.” (HR. Tirmidzi)
Ingatlah bahwa segala kenikmatan, terutama harta, itu murni dari Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Dia telah memberikan kepada kalian dari segala yang kalian minta. Jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak bakal bisa menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)
Jika seseorang mempunyai kelapangan harta, maka dia mempunyai kesempatan besar untuk bersedekah, membangun masjid, membantu pendidikan, menolong fakir miskin, dan membiayai dakwah. Dan justru Allah bakal melipatgandakan kekayaan yang digunakan di jalan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah itu seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Privilege kekayaan bisa menjadi jalan menuju surga jika digunakan untuk sedekah, membantu dakwah, dan menolong yang lemah. Tetapi dia bisa menjadi karena kebinasaan jika melahirkan kesombongan dan cinta bumi berlebihan. Allah mengingatkan dalam firman-Nya,
وَلَا يَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ هُوَ خَيْرًا لَّهُم ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا۟ بِهِۦ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan kekayaan yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah jelek bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu bakal dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang Anda kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 180)
Ilmu dan pendidikan sebagai privilege
Di era modern, pendidikan adalah privilege besar. Tidak semua orang mempunyai akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas. Dan orang yang mendapatkan privilege ini semestinya bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Allah Azza wa Jalla berfirman,
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Katakanlah: apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)
Allah Azza wa Jalla juga berfirman,
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah bakal meninggikan derajat orang-orang yang beragama dan orang-orang yang diberi pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Namun, pengetahuan bukan untuk kebanggaan pribadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,
من تعلَّم علمًا مما يبتغى به وجهَ اللهِ تعالى ، لا يتعلَّمُه إلا ليُصيبَ به عرضًا من الدنيا لم يجِدْ عَرْفَ الجنةِ يومَ القيامةِ . يعني ريحَها
“Barang siapa mempelajari suatu pengetahuan yang semestinya dituntut untuk mencari wajah Allah (karena Allah), tetapi dia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan kepentingan dunia, maka dia tidak bakal mencium aroma surga pada hari kiamat.” Yang dimaksud dengan ‘araf al-jannah adalah aroma wangi surga. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Privilege pengetahuan semestinya melahirkan kepedulian, bukan kesombongan. Ia kudu menjadikan seseorang lebih rendah hati, lebih sabar dalam mengajar, lebih lembut dalam menasihati, dan lebih tulus dalam melayani umat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
المؤمن يألف ويؤلف ولا خير فيمن لا يألف ولا يؤلف وخير الناس أنفعهم للناس
“Seorang mukmin itu mudah berbaur dan disenangi (mampu menjalin kedekatan dengan orang lain). Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bisa berbaur dan tidak disukai. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling berfaedah bagi manusia.” (HR. Ath-Thabrani)
Dan ini bertindak dalam segala bagian ilmu, bukan hanya pengetahuan agama. Ilmu kedokteran semestinya melahirkan empati kepada pasien, bukan sekadar prestise profesi. Ilmu norma semestinya menegakkan keadilan, bukan menjadi perangkat permainan kepentingan. Ilmu ekonomi semestinya menghadirkan kesejahteraan, bukan memperlebar kesenjangan. Ilmu pendidikan semestinya mencerdaskan dan membentuk akhlak, bukan hanya menghasilkan angka-angka nilai. Ilmu teknologi semestinya memudahkan kehidupan manusia, bukan memperbanyak kerusakan alias penyebaran keburukan.
Dalam setiap disiplin, pengetahuan adalah cahaya. Namun sinar itu bisa menjadi penerang alias justru menjadi api kesombongan, tergantung niat dan langkah menggunakannya. Orang yang berilmu tetapi tidak peduli pada manusia, sesungguhnya belum memahami prinsip ilmunya.
Karena itu, siapa pun yang diberi kelebihan dalam pengetahuan hendaknya terus bertanya pada dirinya:
Sudahkah ilmuku memudahkan orang lain?
Sudahkah dia menyelesaikan masalah, meringankan beban, alias membuka jalan kebaikan?
Ataukah dia hanya menjadi kebanggaan pribadi, pajangan gelar, dan sumber pujian?
Privilege kedudukan dan kedudukan adalah amanah yang berat
Salah satu privilege terbesar adalah kedudukan dan jabatan. Baik sebagai pejabat, pemimpin, tokoh masyarakat, pengusaha berpengaruh, ataupun figur publik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَّى الَّذِي عَلَيهِ فِيهَا
“Sesungguhnya itu adalah amanah; dan pada hari kiamat, dia bakal menjadi kehinaan dan penyesalan, selain bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan tanggungjawab yang ada di dalamnya.” (HR. Muslim)
Dalam sabda lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bakal dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sayangnya, banyak orang mengejar posisi dan kedudukan lantaran memandang kehormatan dan fasilitasnya. Padahal di kembali itu ada tanggung jawab yang sangat berat. Kekuasaan bisa menjadi jalan menuju surga bagi orang yang adil, amanah, dan takut kepada Allah. Namun dia juga bisa menjadi karena kehancuran bagi orang yang zalim, sombong, dan menyalahgunakannya.
Jabatan bukan tentang dilayani, tetapi tentang melayani. Bukan tentang dihormati, tetapi tentang memikul beban. Bukan tentang memperkaya diri, tetapi tentang memperluas manfaat.
Oleh lantaran itu, siapa pun yang diberi privilege kekuasaan, hendaknya selalu bertanya: apakah kedudukan ini mendekatkanku kepada Allah, alias justru menjauhkan? Apakah dia menjadi jalan keadilan, alias sarana kepentingan pribadi?
Jika seseorang mempunyai privilege berupa jabatan, dia mempunyai kesempatan besar untuk menegakkan keadilan dan mencegah kezaliman. Allah Azza wa Jalla berfirman,
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan kebaikan.” (QS. An-Nahl: 90)
Ingatlah jawaban bagi pemimpin yang setara dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ
“Tujuh golongan yang bakal Allah naungi di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya: (yang pertama) pemimpin yang setara …” (HR. Bukhari dan Muslim)
[Bersambung]
***
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Artikel Kincai Media
English (US) ·
Indonesian (ID) ·