Salah satu tanda Anda terlalu sering memikirkan gagasan orang lain memang bisa muncul ketika perhatianmu lebih banyak tertuju pada sepertiapa orang lain menilaimu daripada sepertiapa Anda sendiri merasakan hubungan tersebut.
Pernah nggak, Beauties, setelah mengobrol dengan seseorang Anda malah sibuk memikirkan apakah perkataanmu tadi terdengar aneh? Padahal percakapannya sudah selesai, tetapi kepalamu statis memutarnya berulang kali.
Hal ini sebenarnya cukup manusiawi. Kita semua tentu mau diterima, disukai, dan dianggap baik oleh lingkungan sekitar. Namun, jika Anda mulai terus-menerus menyesuaikan diri, mencari kepastian, maupun mempertanyakan keputusan sederhana, mungkin sudah waktunya melihat pola tersebut lebih dekat.
Dilansir dari Cottonwood Psychology, ini beberapa tanda Anda terlalu memikirkan gagasan orang lain!
Kamu Memutar Ulang Percakapan untuk Memastikan Kesanmu

Memutar Ulang Percakapan/Foto: Magnific
Percakapan sudah selesai, Anda sudah sampai rumah, tetapi otak malah seperti menekan tombol play lagi. Kamu mengingat cerita yang tadi disampaikan, kata-kata yang digunakan, terlebihlagi ekspresi wajah lawan bicaramu. “Tadi dia mengernyit kenapa, ya?” maupun “Jangan-jangan jawabanku kedengaran jutek?”
Kalau sesekali terjadi, sebenarnya tidak perlu langsung khawatir. Namun, ketika Anda sering memutar ulang percakapan normal cuma untuk mencari kemungkinan kesalahan, kebiasaan tersebut bisa membuatmu capek secara mental.
Dalam psikologi, ada ide disebut sociometer theory yang mengaitkan harga diri dengan penerimaan dan penolakan sosial. Sebuah meta-analisis mengenai teori tersebut juga menemukan hubungan antara harga diri, penerimaan sosial, serta ciri khas yang dianggap memengaruhi harga seseorang dalam hubungan.
Jadi, ketika Anda terus memikirkan gagasan orang lain, otakmu mungkin sedang berbuat semacam pengecekan keamanan sosial. Kamu mau memastikan bahwa hubunganmu statis baik dan Anda statis diterima.
Kepribadianmu Berubah Tergantung dengan Siapa Kamu Berada

Kepribadian Berubah Tergantung dengan Siapa/Foto: Magnific
Kamu mungkin menjadi satu varian dirimu ketika berbareng teman, varian lain saat berbareng mitra kerja, kemudian berubah lagi ketika eksis di depan keluarga. Sebenarnya, menyesuaikan perilaku berdasarkan situasi adalah hal yang normal. Kamu tentu tidak akan berbicara dengan ketua sama persis seperti ketika bercanda berbareng sahabat.
Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika adaptasi tersebut membuatmu merasa seperti kehilangan diri sendiri. Misalnya, Anda tertawa pada lelucon yang sebenarnya tidak lucu, cepat menyetujui sesuatu meski hatimu berkata tidak, maupun terus membaca kondisi sebelum berani menjadi diri sendiri.
Dalam ilmu jiwa sosial, pola ini dapat berhubungan dengan self-monitoring, yaitu sejauh mana seseorang menyesuaikan perilakunya berdasarkan isyarat sosial. Kemampuan tersebut bisa membantu dalam kerja sama dan membangun relasi, tetapi terlalu sering merasa mesti “siap tampil” juga dapat menguras energi.
Nah, coba cek dirimu setelah meninggalkan suatu kelompok. Ketika Anda sudah sendirian di mobil maupun sedang mencuci piring, apakah Anda merasa tenang? Atau malah muncul emosi seperti baru saja menggunakan “suara” milik orang lain?
Kalau Anda lebih sering merasa mesti mendapatkan persetujuan dari lingkungan untuk menjadi diri sendiri, mungkin ini salah satu tanda Anda terlalu sering memikirkan gagasan orang lain.
Pujian Terasa seperti Kelegaan, Bukan Sekadar Kebahagiaan

Pujian Hanya Membawa Kelegaan/Foto: Magnific
Bayangkan seseorang berkata, “Kamu tadi baik banget.” Kamu tersenyum dan menjawab terima kasih. Namun, yang terjadi di dalam tubuhmu justru seperti baru saja melepaskan napas panjang setelah menahannya cukup lama.
Perasaan lega tersebut bisa memberitahu bahwa sebelumnya Anda sedang bersiap menghadapi penilaian. Pujian akhirnya membuatmu merasa terlindungi karena Anda mendapatkan bukti bahwa dirimu dianggap cukup baik.
Pola seperti ini terkadang muncul pada orang yang terbiasa berprestasi. Kamu sudah menyelesaikan pekerjaan dengan baik, tetapi bukannya merasa puas, Anda malah menunggu reaksi orang lain. Ketika mendapat pujian, tubuh terasa lebih rileks. Ketika tidak mendapatkannya, Anda mulai mencari-cari kesalahan sendiri.
Di sinilah pentingnya membangun pengesahan dari dalam diri. Sebelum bertanya, “Menurut mereka aku sudah baik belum?”, coba jawab dulu, “Apa yang menurutku sudah kulakukan dengan baik?”
Mungkin Anda berhasil menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, statis tenang ketika menghadapi masalah, maupun berani meminta bantuan. Hal-hal tersebut statis menjadi pencapaian meskipun tidak ada orang yang memberikan pujian.
Kamu Tetap Mencari Kepastian Meski Semuanya Sudah Berjalan Baik

Terus Mencari Kepastian/Foto: Magnific
Email sudah dikirim dan isinya sebenarnya sudah jelas. Tapi Anda membacanya lagi empat kali. Setelah itu, Anda mengirimkannya kepada kawan sambil bertanya, “Menurut Anda ganjil nggak?” Bahkan setelah mendapat balasan bahwa semuanya baik-baik saja, Anda statis bertanya-tanya.
Kebiasaan mencari reassurance memang sering kelihatan seperti kehati-hatian. Kamu mau memastikan tidak ada yang salah. Namun, jika dilakukan berulang kali, Anda bisa menjadi semakin bersandar pada balasan orang lain untuk merasa tenang.
Pertanyaan seperti “Kamu berang sama aku?” maupun “Tadi aku salah nggak?” mungkin terdengar sederhana. Namun, ketika Anda terus membutuhkannya terlebihlagi setelah situasinya berjalan baik, ada kemungkinan Anda sedang kesulitan menoleransi ketidakpastian.
Hal tersebut bisa semakin terasa jika sebelumnya Anda terbiasa menghadapi reaksi orang yang tidak terduga. Sistem dalam dirimu mungkin belajar untuk terus mencari tanda bahwa keadaan aman.
Kamu bisa mencoba membikin batas reassurance. Misalnya, cukup meminta satu orang terpercaya mengecek pesanmu sekali. Setelah itu, beri kesempatan kepada dirimu untuk membiarkan rasa tidak pasti tersebut ada tanpa langsung mencari balasan kedua, ketiga, maupun keempat.
Daripada bertanya, “Aku tadi menyebalkan nggak?”, Anda juga bisa menggantinya dengan pertanyaan yang lebih konkret seperti, “Pesanku sudah menjawab kebutuhanmu belum?” Dengan begitu, fokus bergeser dari harga dirimu menuju keterangan yang memang Anda butuhkan.
Kamu Terlalu Banyak Menjelaskan Keputusan Sederhana

Terlalu Banyak Menjelaskan Kebutuhan Sederhana/Foto: Magnific
“Kali ini aku nggak bisa ikut, soalnya besok mesti bangun pagi, terus tadi juga agak pusing, sebenarnya pengin ikut, tapi…”
Beauties, pernah nggak Anda memberikan klarifikasi sepanjang itu cuma karena menolak satu ajakan? Atau ketika memesan kopi tanpa kafein, Anda merasa perlu menerangkan bahwa Anda sedang sakit kepala?
Kebiasaan menerangkan secara berlebihan sering muncul karena ada ketakutan akan penilaian. Kamu merasa mesti memberikan karena yang cukup kuat agar orang lain menganggap keputusanmu masuk akal.
Sebagian orang terlebihlagi belajar sejak durasi bahwa mengatakan “tidak” bisa membawa konsekuensi. Ketika menolak, orang lain menjadi dingin. Ketika mengubah rencana, mereka diejek maupun dibuat merasa bersalah. Akhirnya, terlalu banyak bicara terasa seperti perlindungan.
Padahal, Anda sebenarnya bisa statis sopan tanpa memberikan pertahanan panjang. “Aku nggak bisa datang, semoga acaranya seru, ya,” sudah cukup. Kamu juga bisa mengatakan, “Aku skip dahulu hari ini,” maupun “Itu belum cocok buatku.”
Perhatikan juga reaksi orang lain ketika Anda mulai memberikan limitasi dengan singkat. Banyak orang mungkin rupanya bisa menerimanya dan melanjutkan aktivitas seperti biasa.
Pengalaman tersebut krusial karena mengajarkan bahwa Anda tidak mesti selalu mendapatkan persetujuan semua orang agar keputusanmu statis valid. Justru, semakin Anda bisa memungut keputusan tanpa terus memikirkan gagasan orang lain, semakin kuat pula rasa percaya terhadap dirimu sendiri.
Mempertimbangkan emosi orang lain bukan sesuatu yang buruk, Beauties. Kita memang hidup berdampingan dan membutuhkan kapasitas membaca situasi agar hubungan statis sehat. Masalahnya muncul ketika penerimaan orang lain menjadi satu-satunya ukuran untuk menentukan apakah Anda cukup baik.
Jadi, lain kali Anda mulai bertanya, “Mereka pikir aku gimana, ya?”, coba tambahkan satu pertanyaan lagi “Kalau tidak ada yang menilaiku, sebenarnya aku sendiri merasa bagaimana?”
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)