Ternyata Jam Tidur Bisa Ungkap Seberapa Cerdas Seseorang, Begini Kata Studi

Jul 06, 2026 10:00 PM - 2 jam yang lalu 56

Jakarta -

Banyak orang menganggap jam tidur hanya memengaruhi kesehatan dan kebugaran tubuh. Seseorang tidak suka bergadang diyakini jarang sakit dan tidak pernah lemas saat bekerja di siang hari.

Jam tidur memang bisa memengaruhi kesehatan, tapi juga dapat mencerminkan kecerdasan, Bunda. Studi yang diterbitkan di jurnal Scientific Reports tahun 2020 menunjukkan bahwa waktu seseorang tidur juga bisa berangkaian dengan keahlian kognitif, termasuk tingkat kecerdasan.

Lantas, benarkah orang yang tidur lebih larut malam alias justru lebih awal condong mempunyai tingkat tingkat kepintaran yang berbeda? Melansir dari Your Tango, simak penjelasan berasas hasil studi berikut ini ya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Studi tentang kaitan jam tidur dan kecerdasan

Dalam studi ini, para peneliti mengambil sampel dari kumpulan perseorangan di Mensa alias sebuah organisasi yang mencakup orang-orang dengan IQ tertinggi. Studi melibatkan 1.172 orang dewasa dari beragam usia, ras, dan jenis kelamin untuk memberikan hasil yang cukup akurat.

Melalui survei, para peneliti membandingkan informasi tentang skor IQ yang berkorelasi dengan individu, serta agenda tidur di hari libur dan hari kerja dari para peserta.

Saat menelaah hasil penelitian, para peneliti menemukan bahwa waktu tidur yang lebih larut paling umum terjadi di antara perseorangan dengan IQ tinggi pada hari kerja, alias ketika ada pekerjaan di keesokan paginya. Sedangkan pada hari libur alias akhir pekan, sebagian besar orang juga bisa tidur lebih larut.

Meski orang pandai suka begadang, bukan berfaedah temuan tersebut membuktikan keterkaitan biologis antara kepintaran seseorang dengan agenda tidurnya. Pasalnya, orang dengan IQ lebih tinggi condong tidur lebih larut lantaran mereka mempunyai kesempatan untuk begadang.

Di studi ini, waktu tidur para perseorangan di Mensa sangat berangkaian dengan waktu mulai kerja dan nyaris tidak ada hubungannya dengan ritme sirkadian. Banyak subjek penelitian mempunyai akses ke pekerjaan yang dimulai lebih siang, apalagi ada yang dimulai pukul 10 pagi alias siang hari.

Hal tersebut memberi mereka kesempatan untuk begadang lebih lama. Mereka tahu bisa tidur lebih lama keesokan harinya, sehingga mendapatkan rehat yang sehat dan cukup terlepas dari kebiasaan begadang.

IQ sering dikaitkan dengan prestise pekerjaan

Dalam studi ini, para peneliti menjelaskan secara rinci jenis pekerjaan dan waktu kerja, hingga kerap dikaitkan dengan prestasi. Hal tersebut ikut dibahas lantaran seringkali perusahaan menganggap hasil tes sebagai tanda kecerdasan, sehingga orang dengan nilai tinggi dihargai dan diberi kelonggaran untuk mulai bekerja lebih siang. Berikut penjelasan lengkapnya:

1. Pekerja kerah biru (blue-collar worker)

Pekerja kerah biru, yang secara keliru dikaitkan dengan IQ alias pendidikan lebih rendah, condong memulai pekerjaan lebih awal yang sesuai dengan kondisi pekerjaan mereka. Pekerjaan kerah biru adalah mereka yang melakukan pekerjaan manual alias fisik, yang memerlukan keterampilan.

Pekerja konstruksi, teknisi HVAC, teknisi listrik, dan mekanik adalah pekerjaan-pekerjaan kerah biru bergaji tinggi, namun kurang dihargai dalam kategori ini. Banyak orang di golongan ini bangun antara pukul 4 pagi dan 6:30 pagi, di mana hari kerja mereka dapat berkisar antara 8 hingga 12 jam.

2. Pekerja kerah putih (white-collar worker)

Pekerja kerah putih adalah tenaga kerja yang pekerjaannya berbasis administrasi, manajerial di instansi alias lingkungan perusahaan serupa. Tidak seperti pekerjaan manual, tugas mereka lebih mengandalkan upaya mental daripada tugas fisik.

Pekerja kerah putih mempunyai jam kerja yang dimulai antara pukul 6 pagi hingga 10 pagi. Waktu tersebut memberikan ruang bagi mereka untuk sarapan alias mendapatkan waktu tidur tambahan selama satu hingga dua jam. Banyak perseorangan dalam jenis pekerjaan ini mungkin hanya bekerja sekitar 8 hingga 9 jam sehari.

Faktor kepintaran tak hanya berasosiasi dengan jam tidur

Meskipun penelitian menunjukkan adanya hubungan antara waktu tidur larut dan IQ yang lebih tinggi, para peneliti mencatat bahwa banyak aspek yang mungkin memengaruhi hasilnya. Misalnya, orang Jerman dikenal mempunyai waktu tidur yang lebih konservatif daripada orang Amerika.

Peneliti juga menekankan bahwa belum ada cukup bukti untuk membantah klaim bahwa hubungan antara waktu tidur larut dan kepintaran berkarakter biologis, sehingga opsi ini tetap terbuka.

Intinya, kebiasaan begadang bukanlah perihal yang jelek selama Bunda mendapatkan cukup tidur, sehingga otak dapat bekerja optimal. Memperhatikan jam kerja dalam kaitannya dengan waktu tidur juga bakal membantu kita bangun dengan emosi segar, sehingga kita tidak perlu menunda waktu bangun.

Demikian studi yang mengaitkan tentang jam tidur dengan kepintaran seseorang. Semoga info ini berfaedah ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

Selengkapnya