Tes Darah Deteksi Alzheimer Lebih Awal dengan Lumipulse pTau217/β‑Amyloid Plasma Ratio

Portal Kesehatan Ibu dan Anak Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 4 menit 25019x dilihat
Tes Darah Deteksi Alzheimer Lebih Awal dengan Lumipulse pTau217/β‑Amyloid Plasma Ratio

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah memberikan izin edar untuk perangkat laboratorium pertama yang memakai sampel darah sebagai alat bantu dalam menilai kemungkinan penyakit Alzheimer.

Tes yang disebut Lumipulse G pTau217/β-Amyloid 1-42 Plasma Ratio ditujukan untuk mendeteksi keberadaan plak amiloid yang terkait dengan Alzheimer pada orang dewasa, khususnya mereka berusia 55 tahun ke atas yang sudah menunjukkan tanda-tanda awal gangguan kognitif.

Berdasarkan pernyataan resmi, komisioner FDA, Martin A. Makary, menegaskan bahwa Alzheimer memengaruhi banyak orang dan jumlah penderitanya signifikan jika dibandingkan dengan beberapa jenis kanker.


Saat ini diperkirakan sekitar 10 persen orang berumur 65 tahun ke atas hidup dengan Alzheimer, dan angka tersebut diprediksi dapat berlipat ganda pada tahun 2050; harapannya, alat diagnostik baru seperti tes darah ini bisa mempercepat proses pemeriksaan bagi banyak pasien.

Tes darah yang lebih praktis dibandingkan pemindaian otak

Alzheimer adalah penyakit otak yang berkembang secara bertahap, yang dapat merusak ingatan, kemampuan berpikir, dan akhirnya menghambat kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Pada kebanyakan orang, gejala nyata baru muncul pada usia lanjut. Salah satu ciri khas yang banyak dikaitkan dengan Alzheimer adalah adanya plak amiloid di otak.

Meskipun plak amiloid juga dapat ditemukan pada kondisi lain, keberadaannya membantu dokter memahami apakah gangguan kognitif disebabkan oleh mekanisme yang terkait dengan Alzheimer.

Sampai sekarang, deteksi plak amiloid umumnya dilakukan melalui pemindaian PET (Positron Emission Tomography) otak.

Pemindaian PET mampu mendeteksi plak bahkan bertahun-tahun sebelum gejala muncul, tetapi prosedur ini relatif mahal, memakan waktu, dan melibatkan paparan radiasi. Sebagai alternatif, tes darah menawarkan prosedur yang lebih sederhana dan lebih mudah diakses.

Hasil tes darah untuk mendeteksi penyakit Alzheimer

Beberapa studi melaporkan bahwa tes Lumipulse menunjukkan tingkat kecermatan lebih dari 90 persen dalam mengidentifikasi perubahan yang berhubungan dengan Alzheimer.

Namun, tes ini masih dalam tahap penyempurnaan dan belum dimaksudkan sebagai alat diagnosis tunggal. Lumipulse dirancang menjadi bagian dari proses penilaian diagnostik, yang meliputi evaluasi riwayat medis dan pemeriksaan pencitraan otak bila diperlukan.

Perlu dicatat bahwa tingkat akurasi dapat berbeda antara Lumipulse dan jenis tes darah lain yang dikembangkan untuk tujuan serupa.

Sebelum menjalani pemeriksaan, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk menentukan jenis tes yang paling tepat berdasarkan kondisi masing-masing pasien.

Siapa yang boleh mengikuti tes darah untuk penemuan Alzheimer?

Berdasarkan informasi dari Mayo Clinic, persetujuan penggunaan tes ini ditujukan untuk orang dewasa berumur 50 tahun ke atas yang mengalami masalah ingatan atau penurunan kemampuan berpikir dini, seperti kesulitan mengingat nama, kerap salah menempatkan barang, atau sering mengulang pertanyaan.

Tes ini belum direkomendasikan untuk skrining rutin pada orang tanpa gejala. Keputusan untuk melakukan tes sebaiknya dibuat bersama tenaga medis.

Kebiasaan sehat untuk melindungi otak dari Alzheimer

Terdapat beberapa kebiasaan gaya hidup yang dapat membantu menurunkan risiko demensia atau memperlambat penurunan fungsi kognitif. Berikut ringkasan langkah yang direkomendasikan, dikutip dari verywell health:

1. Rutin melakukan kegiatan fisik

Olahraga teratur berkaitan dengan penurunan risiko Alzheimer. Data yang dipresentasikan pada Konferensi Internasional Asosiasi Alzheimer 2025 menunjukkan bahwa aktivitas fisik—termasuk berjalan kaki—dapat melindungi fungsi kognitif, terutama pada orang dengan predisposisi genetik terhadap penyakit ini.

2. Mengelola stres dengan baik

Penerapan strategi pengelolaan stres yang efektif penting untuk mengurangi dampak stres kronis, termasuk mempelajari cara menghadapi situasi sulit dan mengurangi faktor pemicu stres dalam kehidupan sehari-hari.

3. Mengubah pola makan

Pola makan sehat merupakan salah satu aspek yang dapat membantu mengurangi risiko Alzheimer. Hasil uji coba dari studi FINGER (Finnish Geriatric Intervention Study to Prevent Cognitive Impairment and Disability) menunjukkan bahwa modifikasi diet bersamaan dengan intervensi lain—seperti pengelolaan kesehatan jantung dan diabetes—dapat menurunkan risiko gangguan kognitif.

4. Nikmati bersosialisasi

Keterlibatan sosial termasuk salah satu gaya hidup yang terbukti membantu menurunkan risiko demensia; interaksi sosial yang bermakna dapat mengurangi stres dan merangsang kemampuan berpikir.

5. Latihan kognitif

Latihan kognitif mencakup teknik untuk mempertahankan dan menantang kemampuan berpikir sebagai upaya mencegah atau memperlambat penurunan kognitif, seperti pelatihan terstruktur, penggunaan teknologi pembelajaran, dan kegiatan edukatif.

Demikian informasi mengenai perkembangan tes darah untuk deteksi Alzheimer dan beberapa kebiasaan sehat yang dapat membantu melindungi fungsi otak.

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak

Bagikan Postingan