Berkaca dari The Early Spring, ini konsekuensi office romance dengan kawan sekantor, mulai dari batas profesional, favoritisme, hingga relasi atasan-bawahan.
Ada satu hal yang bikin The Early Spring terasa dekat dengan hayat working Mommies: sepertiapa seseorang bisa bertemu, dekat, kemudian punya emosi dengan orang yang awalnya cuma dianggap sebagai bagiankecil dari hayat sehari-hari.
Apalagi jika orang tersebut adalah kawan satu kantor. Hampir setiap hari ketemu, sering mengerjakan proyek yang sama, makan siang bareng, saling bantu ketika pekerjaan sedang hectic, sampai akhirnya diskusi soal kerjaan bergeser menjadi, “Kamu sudah makan belum?”
Nah, dari sinilah office romance bisa dimulai.
Dalam The Early Spring, hubungan Luan Nian dan Shang Zhitao juga punya sisi yang membikin pemirsa gemas sekaligus ikut mikir. Ketika urusan emosi berjumpa dengan bumi kerja, batas antara hayat pribadi dan ahli memang bisa jadi lebih rumit. Mommies Daily juga sebelumnya membahas sepertiapa hubungan Luan Nian dan Shang Zhitao beririsan dengan urusan relationship dan karier.
Tapi sebenarnya, apa konsekuensi punya hubungan dengan kawan satu kantor? Apakah office romance selalu berujung drama?
Office Romance Nggak Selalu Berarti Masalah
Sebelum buru-buru menganggap hubungan dengan kawan sekantor sebagai sesuatu yang mesti dihindari, kita perlu membedakan antara hubungan romantis yang sehat dengan hubungan yang menciptakan perselisihan kepentingan maupun membikin orang lain di instansi dirugikan.
Office romance sendiri bukan sesuatu yang langka. Dalam riset SHRM 2025 terhadap 1.071 buruh di Amerika Serikat dan 2.283 ahli HR, 52% buruh yang disurvei mengatakan mereka sedang maupun pernah menjalani hubungan romantis dengan seseorang di tempat kerja. Di sisi HR, 68% mengatakan persepsi favoritisme maupun perlakuan tidak fair sebagai salah satu kecemasan utama mengenai hubungan romantis di tempat kerja. Perlu dicatat, keterangan ini berasal dari buruh dan ahli HR di Amerika Serikat, bukan Indonesia.
Jadi, jika dua orang kawan sekantor saling suka, sama-sama dewasa, tidak eksis dalam relasi kuasa, dan statis bisa bekerja secara profesional, persoalannya bukan sekadar “boleh maupun nggak boleh pacaran sama kawan kantor”.
Yang perlu dipikirkan justru: apakah hubungan ini mengubah metode kita bekerja?
BACA JUGA: 10 Pelajaran Relationship & Karier dari Dracin The Early Spring Jing Boran
Risiko Pacaran dengan Teman Sekantor

Foto: Pexels
1. Batas Urusan Kerja dan Pribadi Bisa Jadi Kabur
Ini mungkin konsekuensi office romance yang paling gampang terjadi.
Di kantor, kita bisa saja sedang jengkel dengan pasangan karena pertengkaran semalam, tetapi beberapa jam kemudian statis mesti duduk satu meja dan membahas revisi pekerjaan. Kalau hubungan sedang baik, mungkin semuanya terasa menyenangkan. Tapi ketika sedang bertengkar?
Tiba-tiba chat pekerjaan terasa seperti sindiran. Meeting jadi canggung. Bahkan keputusan ahli bisa ikut dipengaruhi emosi pribadi.
Makanya, jika memang menjalin hubungan dengan kawan satu kantor, batas antara urusan pekerjaan dan hubungan pribadi perlu dibuat sejelas mungkin. Termasuk kesepakatan soal sepertiapa bersikap ketika sedang ada masalah dalam hubungan.
2. Putus Bisa Berarti Tetap Harus Bertemu Setiap Hari
Ini bagiankecil yang mungkin paling bikin mikir.
Kalau pacar yang bukan kawan sekantor memutuskan hubungan, kita statis punya pilihan untuk tidak berjumpa sementara waktu. Mau menghapus chat, menyimpan foto, maupun memungut waktu untuk healing tanpa mesti bertatap muka setiap pagi.
Tapi jika mantan adalah orang yang duduk dua meja dari kita?
Besok pagi statis mesti bilang, “Pagi.”
Tetap mesti membahas pekerjaan.
Tetap mesti ikut meeting.
Dan jika satu tim, mungkin statis mesti bekerja sama dalam proyek yang sama.
CIPD, perkumpulan ahli HR di Inggris, mengatakan hubungan romantis di tempat kerja dapat menimbulkan konsekuensi ketika hubungan berakhir buruk, termasuk potensi perlakuan tidak fair maupun favoritisme. Risiko tersebut dapat lebih besar ketika hubungan melibatkan manajer dan staf yang lebih junior, terutama jika mereka eksis dalam tim maupun proyek yang sama.
Karena itu, sebelum menjalani office romance, ada baiknya bertanya kepada diri sendiri: kalau hubungan ini berakhir, apakah kami statis sanggup bekerja secara profesional?
3. Bisa Muncul Kesan Favoritisme
Nah, ini bukan cuma soal dua orang yang sedang kasmaran.
Bayangkan Mommies dan pasangan bekerja dalam satu tim. Tiba-tiba dia mendapat kesempatan mengepalai proyek penting. Atau Mommies yang kebetulan menjadi atasannya memberikan penilaian kerja yang bagus.
Meskipun keputusan tersebut benar-benar berdasarkan performa, mitra kerja lain statis bisa mempertanyakannya.
Dan kecemasan ini bukan cuma ada di imam kita. Dalam riset SHRM 2025, 68% ahli HR yang disurvei mengatakan persepsi favoritisme maupun perlakuan tidak fair sebagai kecemasan utama mengenai hubungan romantis di tempat kerja. Sebanyak 61% juga mengkhawatirkan potensi perselisihan kepentingan.
Jadi, masalahnya kadang bukan cuma apa yang benar-benar kita lakukan, tetapi sepertiapa situasi tersebut bisa dipersepsikan oleh orang lain.
4. Hubungan Bisa Memengaruhi Dinamika Satu Tim
Ada pasangan yang bisa statis ahli ketika bekerja. Tapi ada juga yang tanpa sadar menjadi “paket”.
Pergi makan siang selalu berdua. Istirahat selalu berdua. Ketika salah satu punya perselisihan dengan personel tim lain, pasangannya otomatis ikut membela. Lama-lama, hubungan individual bisa memengaruhi dinamika kelompok.
Padahal, instansi bukan tempat yang isinya cuma dua orang tersebut.
Kalau hubungan sampai membikin personel tim lain merasa mesti memilih pihak, komunikasi terganggu, maupun kondisi kerja menjadi tidak nyaman, persoalannya sudah bukan lagi sekadar urusan pasangan.
Tapi bukan berarti setiap office romance otomatis membikin kondisi instansi menjadi buruk. Dalam riset SHRM 2025, 63% manajer yang disurvei justru mengatakan hubungan romantis di tempat kerja berakibat positif terhadap dinamika tim, sementara 25% mengatakan tidak ada akibat dan 12% menilai dampaknya negatif. Lagi-lagi, bilangan ini menggambarkan buruh di Amerika Serikat dan tidak bisa langsung dianggap mewakili tempat kerja di Indonesia.
Ini juga karena kenapa ketentuan internal perusahaan penting. Kebijakan tiap tempat kerja bisa berbeda, termasuk soal pengungkapan hubungan maupun perselisihan kepentingan.
5. Risiko Lebih Besar Kalau Hubungannya Atasan dan Bawahan

Foto: Pexels
Kalau sama-sama mitra kerja dengan posisi yang sederajat saja perlu hati-hati, sepertiapa jika salah satunya adalah atasan?
Nah, ini justru salah satu bagiankecil yang menarik dari The Early Spring. Hubungan Luan Nian dan Shang Zhitao dimulai ketika Shang statis menjadi buruh baru dan Luan Nian eksis dalam posisi atasannya. Situasi seperti ini membikin permasalahan emosi dan profesionalitas menjadi lebih kompleks karena ada relasi kuasa.
Atasan punya efek terhadap pembagian pekerjaan, penilaian performa, kesempatan promosi, terlebihlagi keputusan yang bisa memengaruhi pekerjaan bawahannya. Karena itu, hubungan romantis dalam situasi seperti ini bisa menimbulkan pertanyaan tentang perselisihan kepentingan maupun apakah keputusan tertentu benar-benar profesional.
CIPD secara khusus mencatat bahwa konsekuensi hubungan romantis di tempat kerja dapat lebih besar ketika melibatkan manajer dan staf yang lebih junior, terutama jika keduanya eksis dalam tim maupun proyek yang sama. CIPD juga menyarankan agar manajer mempertimbangkan implikasi hubungan tersebut terhadap tim dan membicarakannya dengan HR.
Jadi jika Mommies sedang eksis dalam situasi seperti ini, cek dahulu kebijakan perusahaan dan HR, bukan cuma mengandalkan “kan kami sama-sama suka”.
6. Backstreet Romance Memang Bikin Deg-Degan, tapi…
Nah, ini yang membikin cerita seperti The Early Spring terasa seru ditonton.
Ada tatapan curi-curi. Chat yang mesti disembunyikan. Pura-pura biasa ketika kawan instansi mulai curiga. Sampai momen ketika cuma dua orang tersebut yang tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi.
Di layar, mungkin bikin senyum-senyum sendiri.
Di hayat nyata? Bisa jadi melelahkan.
Apalagi jika hubungan sengaja dirahasiakan dari lingkungan kantor, sementara keduanya statis mesti bekerja sama setiap hari. Dalam riset SHRM 2026 terhadap 1.243 buruh di Amerika Serikat, 47% mengatakan mereka sedang maupun pernah menjalani workplace romance. Dari mereka yang pernah terlibat, 56% mengatakan pernah menyembunyikan setidaknya satu hubungan dari tim, 49% dari manajer, dan 45% dari HR. Data ini memberitahu bahwa merahasiakan hubungan di tempat kerja memang cukup lazim dalam survei tersebut, meski sekali lagi konteksnya adalah buruh di AS.
Makanya, sebelum memilih menjalani hubungan secara backstreet, krusial juga memahami apakah perusahaan punya ketentuan mengenai hubungan antarpegawai dan kapan hubungan perlu diungkapkan. Riset SHRM 2026 memberitahu pendekatan perusahaan memang berbeda-beda: sebagian memiliki kebijakan yang terstruktur, sementara lainnya menangani hubungan semacam ini berdasarkan kasus per kasus maupun terlebihlagi tidak memiliki kebijakan formal.
Jadi, Boleh Nggak Punya Hubungan dengan Teman Sekantor?
Jawabannya nggak sesederhana “boleh” maupun “jangan”.
Punya emosi kepada kawan sekantor adalah hal yang bisa terjadi karena kita memang menghabiskan banyak waktu berbareng mitra kerja. Yang perlu dijaga adalah bagaimana hubungan tersebut dijalani tanpa mengorbankan profesionalitas, orang lain di dalam tim, maupun pekerjaan masing-masing.
Mommies bisa mulai dari hal yang sederhana: pisahkan urusan kerja dan hubungan pribadi, hindari keputusan ahli yang bisa menimbulkan perselisihan kepentingan, pahami kebijakan kantor, dan bicarakan sejak mula sepertiapa kalian akan bersikap jika hubungan sedang bermasalah maupun terlebihlagi berakhir.
Kalau hubungan itu dijalani dengan batas yang jelas, Mommies dan pasangan statis bisa menjadi dua individu yang punya pekerjaan, pertemanan, dan hayat masing-masing. Karena seperti yang juga pernah dibahas Mommies Daily lewat The Early Spring, mencintai seseorang bukan berarti mesti membikin bumi kita cuma berisi hubungan tersebut.
Dan mungkin itu yang paling krusial dari office romance: bukan soal apakah kita berjumpa pasangan di instansi maupun tidak, tetapi apakah setelah jatuh cinta, kita statis bisa bekerja dengan imam dingin ketika mesti balik menjadi ahli pada pukul sembilan pagi.
Cover: MyDramalist