11 Ciri Kepribadian Orang yang Justru Produktif Menjelang Tidur

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 7 menit 503x dilihat
11 Ciri Kepribadian Orang yang Justru Produktif Menjelang Tidur

Bagikan Postingan

Nggak semua orang bisa produktif di siang hari. Bunda mungkin pernah merasakan, justru menjelang tidur pikiran terasa lebih aktif. Bukannya mengantuk, Bunda malah semangat membereskan pekerjaan, membalas pesan, menyusun rencana, terlebihlagi mau mengubah banyak hal dalam hidup.

Fenomena ini bukan hal yang aneh, Bunda. Ada orang yang memang merasa lebih fokus dan betah bekerja ketika kondisi sudah tenang. Tapi, ada juga yang baru mulai antusias karena tenggat waktu semakin dekat maupun pekerjaan yang ditunda sudah tak bisa dihindari.

Lantas, seperti apa ciri khas kepribadian orang yang justru produktif menjelang tidur?


Alasan seseorang justru produktif di malam hari?

Dilansir dari Gulf News, salah satu karena seseorang merasa lebih produktif pada malam hari adalah berkurangnya gangguan. Saat itu, beragam pekerjaan, urusan keluarga, notifikasi, serta tuntutan sepanjang hari mulai berhenti. Akhirnya, Bunda bisa lebih gampang memusatkan perhatian pada satu hal.

Selain itu, tenggat waktu yang semakin dekat juga dapat menciptakan rasa urgensi. Seseorang yang sejak siang menunda pekerjaan bisa tiba-tiba sangat fokus ketika menyadari waktu yang tersisa semakin sedikit.

Untuk orang yang memang lebih aktif di malam hari maupun biasa disebut night owl, pada pukul 10 malam mungkin belum terasa seperti waktunya tidur. Justru di jam-jam itu mereka statis merasa cukup bugar dan fokus.

Faktor lain adalah chronotype, yaitu kecenderungan biologis seseorang untuk lebih aktif pada waktu tertentu. Sebagian orang lebih betah beraktivitas pada pagi hari, sementara yang lain cenderung lebih aktif pada sore maupun malam hari.

Melansir Sleep.org.au, penelitian juga menemukan hubungan antara kecenderungan aktif di malam hari dengan kebiasaan menunda waktu tidur.

Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap 43 riset menemukan bahwa evening chronotype berhubungan dengan bedtime procrastination. Kebiasaan menunda tidur ini juga berhubungan dengan durasi tidur yang lebih pendek, kualitas tidur yang lebih buruk, dan kelelahan di siang hari.

11 Ciri kepribadian orang yang justru produktif menjelang tidur

Setiap orang bisa berbeda-beda. Produktif pada malam hari juga tidak otomatis berarti seseorang memiliki semua ciri khas berikut. Namun, berdasarkan sumber yang dilansir dari YourTango dan Gulf News, ada beberapa ciri khas yang kerap dikaitkan dengan orang yang merasa lebih produktif menjelang tidur.

1. Memiliki rasa mau tahu yang tinggi

Orang yang merasa lebih produktif pada malam hari bisa menikmati kondisi yang lebih tenang untuk berpikir dan mengeksplorasi beragam hal.

Orang yang produktif menjelang tidur digambarkan sebagai pribadi dengan pikiran yang statis aktif dan rasa mau tahu yang tinggi. Saat kondisi mulai lebih tenang dan gangguan berkurang, mereka justru menikmati waktu tersebut untuk mendalami beragam hal yang sedang memenuhi pikirannya. Pikiran mereka bekerja sangat aktif saat tidak ada gangguan.

Namun, ini bukan berarti setiap orang yang produktif pada malam hari pasti memiliki kecerdasan lebih tinggi. Penelitian mengenai hubungan chronotype dan kecerdasan memberitahu hasil yang lebih kompleks dan turut dipengaruhi waktu seseorang menjalankan aktivitasnya.

2. Kreatif ketika kondisi sudah tenang

Sebagian orang membutuhkan kondisi yang hening agar ide lebih gampang muncul. Malam hari yang minim gangguan bisa memberikan ruang untuk berpikir dan berkreasi.

Kebutuhan terhadap ketenangan sebagai salah satu ciri khas orang yang merasa produktif menjelang tidur, meskipun itu berarti mesti begadang lebih larut demi mendapatkan inspirasi terbaik.

Penelitian tentang chronotype dan daya cipta sendiri statis memberitahu hasil yang belum konsisten. Jadi, menjadi night owl tidak otomatis membikin seseorang lebih kreatif.

3. Banyak mencurahkan daya untuk orang lain pada siang hari

Ada orang yang sepanjang hari sibuk memenuhi kebutuhan keluarga, pekerjaan, maupun orang-orang di sekitarnya. Ketika malam tiba dan aktivitas mulai berhenti, barulah mereka memiliki waktu untuk diri sendiri.

Menurut artikel YourTango, kondisi malam yang tenang dapat menjadi kesempatan untuk balik memperhatikan kebutuhan pribadi setelah seharian mencurahkan daya untuk orang lain.

4. Mudah merasa keteteran dengan banyak rangsangan

Orang yang sensitif terhadap beragam rangsangan di sekitarnya mungkin merasa lebih betah ketika kondisi sudah sepi.

Saat menjelang malam, kondisi yang lebih sedikit suara, percakapan, notifikasi, dan tuntutan dari orang lain dapat membikin mereka lebih gampang berkonsentrasi berbuat pekerjaan tanpa terganggu hal-hal lain.

Namun, hubungan antara sensitivitas, ADHD, dan kebiasaan menjadi night owl tidak bisa disederhanakan menjadi satu penyebab. Faktor biologis, kebiasaan tidur, lingkungan, dan kondisi individu dapat saling berpengaruh.

5. Memiliki agenda yang fleksibel

Orang dengan agenda yang lebih elastis mungkin memiliki kesempatan untuk mengatur waktu produktif sesuai dengan ritme dirinya sendiri.

Pada sebagian orang, malam terasa lebih betah untuk mengejar minat maupun mengerjakan hal-hal yang belum sempat dilakukan pada siang hari. Meski begitu, elastisitas statis perlu diimbangi dengan waktu tidur yang cukup.

6. Menikmati waktu sendiri

Orang yang cenderung introvert mungkin lebih menikmati kondisi ketika orang lain sudah beristirahat dan mereka memiliki ruang untuk diri sendiri.

YourTango menggambarkan waktu malam sebagai kesempatan untuk sebagian introvert dalam memulihkan daya dan menikmati kondisi tanpa banyak gangguan sosial.

Namun, tentu tidak semua orang yang produktif di malam hari adalah introvert.

Ada juga orang yang baru bisa benar-benar fokus ketika tenggat waktu sudah dekat. Pada siang hari, pekerjaan statis terasa bisa ditunda karena waktunya panjang.

Ketika malam tiba dan batas waktu semakin dekat, desakan mesti menyelesaikan sesuatu membikin mereka akhirnya berkonsentrasi penuh.

Penelitian memang menemukan hubungan antara kecenderungan aktif pada malam hari dan perilaku menunda-nunda. Namun, keduanya bukan berarti selalu memiliki hubungan sebab-akibat langsung.

8. Memiliki daya imajinasi yang kuat

Banyak orang yang benar-benar imajinatif menghasilkan karya terbaik mereka di malam hari. Suasana sebelum tidur bisa menjadi waktu ketika pikiran lebih bebas mengembara. Pada orang yang memiliki banyak ide, kondisi tersebut dapat terasa membantu proses kreatif.

YourTango mengaitkan waktu menjelang tidur dengan munculnya ide dan proses berpikir imajinatif.

Meski demikian, kreativitas imajinatif tidak cuma ditentukan oleh waktu bekerja. Kondisi tidur, chronotype, dan waktu ketika seseorang eksis pada kondisi paling waspada juga dapat memengaruhi performa kognitif.

9. Lebih fokus ketika tidak ada orang lain

Sebagian orang merasa kedatangan orang lain justru membikin fokus terpecah. Ketika rumah maupun lingkungan sekitar mulai tenang, mereka merasa lebih bebas untuk berpikir dan menyelesaikan pekerjaan.

Berkurangnya tekanan sosial pada malam hari dapat memberikan ruang pada seseorang untuk berkonsentrasi dan mengolah pikirannya sendiri. Mereka dapat mengolah emosi dan mempertimbangkan ide-ide mereka sendiri tanpa perlu cemas mesti menyenangkan maupun tampil memukau di depan orang lain.

10. Membutuhkan kondisi betah untuk berkonsentrasi

Ada orang yang baru bisa bekerja optimal ketika merasa nyaman. Lingkungan yang tenang, tidak banyak gangguan, dan sesuai dengan kebiasaan pribadi bisa membikin fokus lebih gampang terjaga.

Kenyamanan dan lingkungan tanpa gangguan sebagai salah satu karena seseorang bisa lebih produktif menjelang waktu tidur.

Jadi, ini bukan semata-mata karena malam hari lebih 'ajaib', tetapi bisa jadi kondisi lingkungan pada waktu tersebut memang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.

11. Banyak berpikir menjelang tidur

Begitu hari mulai berakhir, ada orang yang justru semakin sulit menghentikan pikirannya. Hal-hal kecil yang terjadi sepanjang hari bisa balik dipikirkan, disusul beragam rencana, kekhawatiran, maupun pekerjaan yang belum selesai.

YourTango mengaitkan kecenderungan ini dengan orang yang overthinking. Pikiran yang terus berjalan membikin mereka sulit benar-benar "mematikan" aktivitas mental, sehingga bukannya langsung mengantuk, mereka malah terdorong untuk memikirkan maupun mengerjakan sesuatu.

Jika kebiasaan ini sampai membikin waktu tidur terus tertunda, dampaknya perlu diperhatikan. Penelitian memberitahu bahwa bedtime procrastination berhubungan dengan durasi tidur yang lebih pendek, kualitas tidur yang lebih buruk, dan kelelahan pada siang hari.

Produktif di malam hari belum tentu berarti kebiasaan yang baik

Tak masalah jika Bunda merasa lebih fokus pada malam hari. Namun, yang perlu diperhatikan adalah apakah kebiasaan tersebut membikin waktu tidur terus berkurang.

Tidur berpartisipasi krusial terhadap konsentrasi, daya ingat, kondisi hati, dan performa sehari-hari. Karena itu, produktif sampai awal hari tetapi mesti mengorbankan tidur secara rutin justru bisa menjadi bumerang.

Penelitian pada orang dewasa juga menemukan bahwa kebiasaan menunda tidur berhubungan dengan gangguan tidur, dan hubungan tersebut sebagian dapat dijelaskan oleh kecenderungan menjadi evening type.

Kalau Bunda memang merasa otak baru 'menyala' saat malam, coba perhatikan apa yang sebenarnya membikin Bunda lebih produktif saat itu. Bisa saja itu bukan karena mesti tidur larut malam, melainkan karena suasananya lebih tenang, notifikasi lebih sedikit, tuntutan berkurang, maupun Bunda akhirnya punya waktu untuk fokus tanpa gangguan.

Kalau kondisi itu bisa diciptakan lebih awal, Bunda statis bisa mendapatkan waktu produktif tanpa mesti mengorbankan waktu tidur.

(som/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads