Usia yang Tepat untuk Mulai Mendisiplinkan Anak, Benarkah Harus Sejak Bayi?

Aug 02, 2026 01:35 PM - 1 hari yang lalu 99

Jakarta -

Mendisiplinkan anak sering kali menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi orang tua dalam proses tumbuh kembangnya. Di tengah derasnya info seputar pola asuh yang mudah diakses, banyak orang tua bertanya-tanya kapan sebenarnya waktu yang tepat untuk mulai mengenalkan disiplin kepada anak.

Di sisi lain, tetap banyak dugaan bahwa disiplin kudu diterapkan sedini mungkin agar anak tumbuh menjadi pribadi yang alim dan bertanggung jawab. Bahkan, muncul pandangan bahwa proses tersebut sebaiknya dimulai sejak anak tetap bayi.

Namun, benarkah bayi sudah siap menerima disiplin? Faktanya, orang tua memang dapat mulai mengenalkan batas sejak anak tetap berumur sangat dini.


Profesor Madya Bidang Perkembangan Anak dan Studi Keluarga di Universitas Purdue, Amerika Serikat, Judith Myers-Walls, Ph.D., mengatakan bahwa orang tua perlu menetapkan batas untuk Si Kecil agar tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

"Bunda perlu membikin batas untuk Si Kecil agar tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti menarik rambut," ujarnya, dikutip dari Parents.

Disiplin bukan sekadar mengajarkan kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga membantu anak belajar mengendalikan diri, memahami batasan, serta mengenali akibat dari setiap perilaku. Oleh lantaran itu, penerapannya perlu disesuaikan dengan keahlian anak dalam memahami dan memproses informasi.

Selain mempertimbangkan usia, orang tua juga perlu memahami bahwa perkembangan emosional, kognitif, dan sosial anak berjalan secara bertahap. Setiap fase membawa perubahan yang mempengaruhi langkah anak memahami pengarahan maupun merespons aturan.

Usia berapa bayi mulai bisa diajarkan untuk disiplin?

Bayi belum memahami makna disiplin seperti yang dipahami oleh anak yang lebih besar. Pada tahap ini, kegiatan mereka tetap didominasi oleh makan, tidur, dan secara berjenjang belajar mengenal lingkungan, sehingga belum bisa memahami petunjuk alias patokan yang diberikan orang tua.

Ketika bayi menangis alias rewel, umumnya mereka sedang berupaya menyampaikan suatu kebutuhan, seperti mau disusui, popoknya diganti, merasa tidak nyaman, alias memerlukan pelukan dan ketenangan agar dapat kembali tidur.

Oleh lantaran itu, yang paling dibutuhkan bayi pada masa ini adalah perhatian serta pengasuhan yang konsisten dan penuh kasih sayang.

Orang tua tidak disarankan menerapkan balasan kepada anak yang berumur di bawah 15 hingga 18 bulan, apa pun kondisinya. Pada usia tersebut, pendekatan yang lebih tepat adalah memenuhi kebutuhan anak sekaligus memberikan rasa kondusif sebagai bagian dari proses tumbuh kembangnya.

Memasuki usia sekitar 18 bulan, Bunda dapat mulai mengenalkan disiplin secara berjenjang dengan menunjukkan sikap yang tegas sekaligus penuh kasih sayang. Hal ini dapat dilakukan dengan bersikap konsisten terhadap patokan yang telah dibuat serta menepati apa yang telah disampaikan kepada Si Kecil.

Berbeda dengan dugaan yang kerap muncul dalam beragam literatur pengasuhan, pendekatan yang tegas namun hangat tidak bakal membahayakan balita alias membuatnya menjadi agresif. Sebaliknya, langkah ini dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang sehat, percaya diri, dan merasa aman.

Tahapan usia untuk mendisiplinkan anak

Dikutip dari Parents, Bunda dapat mulai menetapkan batas untuk Si Kecil sesuai dengan setiap tahap perkembangannya. Simak selengkapnya.

Usia 8 hingga 12 bulan

Pada usia 8 hingga 12 bulan, Si Kecil mulai belajar merangkak dan semakin aktif mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Pada tahap ini, Bunda dapat mulai menetapkan batas dengan menciptakan lingkungan yang aman, misalnya menjauhkan benda-benda rawan dari jangkauan anak, seperti peralatan di atas meja samping tempat tidur alias gulungan tisu toilet yang berada di bawah wastafel bilik mandi.

Jika Bunda tidak mau Si Kecil menyentuh suatu benda, sebaiknya letakkan barang tersebut di luar jangkauannya dengan menerapkan pengamanan di rumah. Sebaliknya, biarkan benda-benda yang kondusif untuk anak menjadi pusat perhatiannya.

Menurut para ahli, langkah ini lebih efektif untuk membantu Si Kecil terhindar dari ancaman sekaligus memudahkannya mengikuti batas yang telah ditetapkan.

Banyak orang tua menganggap mengatakan "tidak" sudah cukup ketika memandang anak melakukan sesuatu yang tidak diinginkan. Padahal, langkah tersebut belum tentu efektif untuk mendisiplinkan anak pada usia ini.

Si Kecil mungkin dapat membedakan nada bunyi saat Bunda mengatakan "tidak" dengan ungkapan penuh kasih sayang seperti "Aku sayang kamu", tetapi mereka belum bisa memahami makna sebenarnya dari kata tersebut. Akibatnya, anak condong belum dapat menghubungkan larangan itu dengan perilaku yang kudu dihentikan.

Sebagai alternatif, Bunda dapat menggunakan isyarat alias bunyi yang konsisten untuk mengalihkan perhatian Si Kecil.

Usia 12 hingga 24 bulan

Latih Fokus, Ini 7 Ide Main Anak Usia 1-3 Tahun di RumahIlustrasi/Foto: Getty Images/LordHenriVoton

Memasuki usia ini, keahlian berkomunikasi Si Kecil mulai berkembang sehingga Bunda dapat mulai mengenalkan aturan-aturan sederhana, seperti tidak menarik ekor kucing. Bunda juga dapat menggunakan kata "tidak" secara bijak, terutama dalam situasi yang betul-betul penting.

Pasalnya, jika terlalu sering diucapkan, kata tersebut dapat kehilangan maknanya sehingga anak condong tidak lagi memberikan respons.

Di sisi lain, perkembangan bentuk anak juga meningkat dengan pesat. Si Kecil umumnya mulai melangkah dan menikmati kemandirian yang baru dimilikinya. Namun, pada saat yang sama, mereka juga mudah merasa frustrasi lantaran belum bisa melakukan semua perihal yang diinginkan sendiri.

Saat Si Kecil mulai memasuki fase tantrum, Bunda perlu meresponsnya dengan tenang dan tepat. Luapan emosi ini merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang anak, bukan tanda bahwa orang tua perlu menerapkan disiplin yang lebih keras, seperti mencabut kewenangan spesial alias mengirim anak ke bilik sebagai corak hukuman.

Spesialis perkembangan anak di Amerika Serikat, Claire Lerner, mengatakan bahwa orang tua perlu memahami penyebab tantrum yang dialami Si Kecil agar dapat menentukan langkah terbaik untuk membantunya mengelola emosi.

"Bunda juga perlu mengenal Si Kecil ketika tantrum agar mudah untuk mencarikan solusi dalam mengatasi emosinya," ujarnya, dikutip dari Parents.

Beberapa anak dapat lebih sigap tenang ketika perhatiannya dialihkan, sementara yang lain memerlukan pelukan dan pendampingan.

Jika tantrum berjalan cukup lama, Bunda dapat membujuk Si Kecil menjauh dari situasi yang memicu emosinya, kemudian menjelaskan dengan lembut apa yang terjadi, misalnya, "Kita tidak bisa tetap di toko jika Anda terus berteriak," setelah dia mulai tenang.

Sebenarnya, rasa frustrasi pada anak sering kali muncul lantaran mereka belum bisa mengungkapkan kemauan alias perasaannya secara efektif. Kondisi ini dapat memicu perilaku seperti memukul alias menggigit.

Ketika menghadapi situasi tersebut, Bunda dapat mendisiplinkan Si Kecil dengan memberikan penjelasan singkat dan jelas mengenai perilaku yang tidak boleh dilakukan, kemudian mengalihkan perhatiannya ke kegiatan yang lebih tepat.

Sebagai contoh, jika Si Kecil memukul lantaran Bunda menghentikan permainannya untuk mengganti popok, Bunda dapat mengatakan, "Kita tidak boleh memukul lantaran itu bisa menyakiti orang lain."

Setelah itu, berikan mainan yang dapat dimainkan selama proses mengganti popok agar perhatiannya beranjak dan mereka lebih mudah bekerja sama.

Usia 24 hingga 36 bulan

Pada usia dua hingga tiga tahun, Si Kecil biasanya mulai memasuki lingkungan prasekolah dan berinteraksi lebih banyak dengan kawan sebaya untuk mengembangkan keahlian sosialnya. Namun, tahap ini juga membawa tantangan baru bagi Bunda dalam menerapkan disiplin.

Kemampuan untuk berbagi mainan, waktu, maupun perhatian tetap menjadi perihal yang perlu dipelajari oleh anak pada usia tersebut. Kehadiran orang-orang di luar family juga dapat membikin proses belajar ini menjadi lebih kompleks. Tidak jarang, Bunda justru menemukan Si Kecil mengalami kesulitan dalam berbagi alias mengambil peralatan milik temannya.

Memasuki usia balita, anak mulai mempunyai keahlian untuk memahami pengarahan sederhana, mengenali emosi orang lain, serta memahami hubungan karena dan akibat. Kemampuan ini dapat menjadi dasar bagi Bunda untuk mulai mengenalkan konsep disiplin dengan langkah yang lebih mudah dipahami.

Misalnya, ketika Si Kecil mengambil krayon milik temannya, Bunda dapat mengatakan, "Kita tidak boleh mengambil peralatan milik orang lain. Kalau Anda mengambil krayon Billy, perasaannya bisa sedih." Setelah itu, Bunda dapat memberikan krayon lain agar Si Kecil tetap dapat bermain.

Dalam mendisiplinkan balita maupun anak prasekolah, Bunda sebaiknya menyampaikan patokan secara sederhana dan jelas. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Susan G. O'Leary, Ph.D., guru besar ilmu jiwa di The State University of New York at Stony Brook, menunjukkan bahwa teguran yang panjang condong kurang efektif dibandingkan dengan teguran yang singkat, jelas, dan langsung pada inti masalah.

Itulah usia yang tepat untuk mulai mendisiplinkan anak. Semoga berfaedah untuk tumbuh kembang Si Kecil, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Selengkapnya