Beralih ke penyunting blok
Liburan sekolah adalah waktu yang tepat untuk meningkatkan bakti kepada kedua orang tua. Selain beristirahat dari rutinitas belajar, anak-anak dapat memanfaatkan waktu senggang dengan membantu pekerjaan rumah; seperti membersihkan rumah, mencuci piring, merawat tanaman, alias menjaga adik. Hal ini tidak hanya meringankan beban orang tua, tetapi juga melatih kemandirian dan tanggung jawab.
Dalam Islam, berkhidmat kepada orang tua (birrul walidain) merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan, apalagi kedudukannya disebutkan setelah perintah untuk beragama kepada Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an,
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar Anda jangan menyembah selain Dia dan hendaklah Anda melakukan baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra’: 23)
Berbakti kepada kedua orang tua merupakan ibadah yang sering dikaitkan Allah dengan tauhid dan pelarangan syirik dalam sejumlah ayat,
قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Katakanlah, ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas Anda oleh Rabbmu yaitu: janganlah Anda mempersekutukan sesuatu dengan Dia, dan melakukan oke terhadap kedua orang tua (ibu dan bapak).’” (QS. Al-An’am: 151)
Liburan bukan hanya untuk bersenang-senang, tetapi juga kesempatan emas untuk meraih pahala melalui hal-hal sederhana di rumah. Membantu orang tua mencuci, memasak, membersihkan rumah, alias sekadar menemani mereka berbincang adalah ladang kebaikan yang berbobot besar di sisi Allah, sekaligus mempererat hubungan kasih sayang dalam keluarga.
Baca juga: Liburan, Apakah Berarti Ujian Telah Selesai?
Pahala dan keistimewaan dari berbakti kepada kedua orang tua
Pertama: Berbakti kepada kedua orang tua merupakan salah satu kebaikan yang mempunyai kedudukan paling tinggi. Hal ini didasarkan pada salah satu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
سَألتُ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: أيُّ العَمَلِ أحَبُّ إلى اللهِ؟ قال: الصَّلاةُ على وقتِها، قال: ثُمَّ أيٌّ؟ قال: ثُمَّ برُّ الوالدَينِ، قال: ثُمَّ أيٌّ؟ قال: الجِهادُ في سَبيلِ اللهِ
“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?’ Beliau menjawab, ‘Salat pada waktunya.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Kemudian berkhidmat kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Berjihad di jalan Allah.’”
Kedua: Keridaan Allah berangkaian erat dengan keridaan orang tua. Hal ini disebutkan dalam sabda dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رِضَا الرَبِّ فِى رِضَا الوَالِدِ و سُخْطُ الرَبِّ فِى سُخْطِ الوَالِدِ
“Keridaan Allah berada pada keridaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan orang tua.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 2, Ibnu Hibban no. 2026 –Mawarid-, Tirmidzi no. 1900, dan Al-Hakim, 4: 151-152)
Ketiga: Berbakti kepada kedua orang tua juga dapat menjadi sarana untuk menghilangkan kesulitan yang sedang dihadapi, ialah dengan bertawasul melalui kebaikan saleh tersebut. Hal ini berasas sabda dari Ibnu Umar, dia berbicara bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيْتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوْهُ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهَا الْغَارَ. فَقَالُوْا : إِنَّهُ لاَيُنْجِيْكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوْا اللهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ: اَللَّهُمَّ كَانَ لِي أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيْرَانِ وَكُنْتُ أَغْبِقُ قَبْلَ هُمَا أَهْلاً وَ لاَ مَالاً، فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ شَيْئٍ يَوْمًا فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَ فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوْقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ. فَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْمَالاً، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَيَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيْهِ مِنْ هَذِه الصَّخْرَةِ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا
“Tiga orang dalam perjalanan terjebak hujan dan masuk berlindung ke sebuah gua di kaki gunung. Saat berada di dalam, sebuah batu besar tiba-tiba runtuh dan menutup pintu gua sehingga mereka terperangkap. Mereka lampau sepakat untuk bermohon kepada Allah dengan menyebut kebaikan terbaik yang pernah dilakukan masing-masing, berambisi Allah berkenan melepaskan mereka dari kesulitan itu.
Salah seorang bercerita bahwa dia mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia, sementara dia juga mempunyai istri dan anak-anak kecil. Pekerjaannya sebagai penggembala kambing membuatnya rutin memerah susu setiap pulang ke rumah, dan susu itu selalu dia berikan terlebih dulu kepada orang tuanya sebelum kepada orang lain. Suatu hari, dia kudu mencari kayu bakar dan nafkah hingga pulang sangat malam, dan mendapati kedua orang tuanya sudah tidur. Ia tetap memerah susu seperti biasa, lampau mendatangi mereka, namun keduanya tetap tertidur lelap. Anak-anaknya menangis meminta susu tersebut, tetapi dia menolak memberikannya lantaran berkeinginan tidak bakal memberikan kepada siapa pun sebelum kedua orang tuanya yang menerimanya lebih dulu. Ia pun menunggu sampai mereka terbangun. Esok paginya, setelah orang tuanya bangun, dia memberikan susu itu kepada mereka, dan baru setelah itu memberikannya kepada anak-anaknya. Ia berdoa, jika perbuatan tersebut dilakukan dengan tulus lantaran Allah, semoga Allah membuka jalan keluar bagi mereka. Tidak lama kemudian, batu yang menutup pintu gua itu bergeser.” (HR. Bukhari (Fathul Baari, 4: 449; no. 2272, Muslim no. 2473)
Keempat: Salah satu keistimewaan berkhidmat kepada orang tua adalah dilapangkannya rezeki dan dipanjangkannya usia, sebagaimana disebutkan dalam sabda riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang disepakati kesahihannya oleh Imam Bukhari dan Muslim, di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ، وَيَنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Siapa saja yang menginginkan rezekinya dilapangkan dan usianya diperpanjang, maka hendaklah dia menjaga dan menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari no. 5985, Muslim no. 2557, dan Abu Dawud no. 1693)
Kelima: Manfaat lain dari berkhidmat kepada kedua orang tua adalah dimasukkannya seseorang ke dalam surga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam sebuah sabda dari Abu Darda, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَاقٌ وَلاَ مُدْمِنُ خَمْرٍ وَلاَ مُكَذِّبٌ باْلقَدَرِ
“Tidak masuk surga anak yang durhaka (kepada kedua orang tua), peminum khamr (minuman keras), dan orang yang mendustakan qadar.” (HR. Ahmad, 6: 441 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Hadis Shahihnya no. 675)
Dari sabda tersebut dapat dipahami sebaliknya, bahwa anak yang berkhidmat dan melakukan baik kepada kedua orang tuanya bakal dimasukkan oleh Allah ke dalam surga. Maka, marilah kita jadikan setiap momen liburan sebagai kesempatan yang tidak terlewatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui hormat kepada kedua orang tua. Setiap langkah kaki yang diayunkan untuk melayani mereka, setiap senyum yang kita hadiahkan, dan setiap peluh yang kita keluarkan demi meringankan beban mereka, semuanya tercatat sebagai kebaikan kebaikan di sisi Allah Ta’ala. Jangan sampai waktu senggang yang berbobot ini hanya terisi dengan intermezo semata, sementara orang tua kita memerlukan kehadiran dan support kita di sisi mereka.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita semua sebagai anak-anak yang berbakti, yang bisa membalas sebagian mini dari pengorbanan orang tua dengan penuh keikhlasan dan kasih sayang. Ingatlah bahwa waktu berbareng orang tua sangatlah terbatas, maka manfaatkanlah sebaik-baiknya sebelum kesempatan itu tiada. Sebab, seorang anak yang berkhidmat tidak hanya bakal merasakan keberkahan di bumi berupa lapangnya rezeki dan panjangnya umur, tetapi juga bakal meraih rida Allah dan kebahagiaan yang kekal di alambaka kelak.
Baca juga: Libur Beramal Agar Ibadah Semakin Bernilai
***
Penulis: Rizka Fajri Indra
Artikel Kincai Media
Referensi:
- https://rumaysho.com/16882-cara-membahagiakan-orang-tua.html
- https://almanhaj.or.id/689-keutamaan-berbakti-kepada-kedua-orang-tua-dan-pahalanya-2.html
- https://almanhaj.or.id/417-haramnya-durhaka-kepada-kedua-orang-tua.html
English (US) ·
Indonesian (ID) ·