Ilustrasi Kiamat.
Kincai Media, JAKARTA— Pernah kita membaca dan merenungkan sejumlah literasi yang menyebut bahwa rupanya bumi yang kita injak dan huni sekarang bakal menangisi umat manusia itu sendiri?
Mengapa bisa demikian? Para ustadz apalagi menjelaskan bahwa bumi bisa "menangisi" manusia.
Daud bin Qais, dalam Hilyat al-Awliya’wa Thabaqat al-Ashfiya meriwayatkan bahwa Ibnu Ka'ab berkata:
إن الأرض لتبكي من رجل، وتبكي على رجل، تبكي لمن كان يعمل على ظهرها بطاعة الله تعالى، وتبكي ممن يعمل على ظهرها بمعصية الله تعالى، قد أثقلها، ثـم قرأ: ﴿ فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ ﴾ [الدخان: 29] [8].
"Sesungguhnya bumi menangis karena seseorang dan juga menangisi seseorang. Bumi menangis untuk orang yang dulu beramal saleh di atasnya, dan menangis lantaran orang yang bermaksiat kepada Allah di atasnya serta membebaninya dengan dosa-dosa."
Kemudian beliau membaca firman Allah:
﴿ فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ ﴾
"Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak diberi penangguhan." (QS Ad-Dukhan: 29)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Mujahid berkata:
ما مات مؤمن إلا بكت عليه السماء والأرض أربعين صباحًا، قال: فقلت له: أتبكي الأرض؟ فقال: أتعجب وما للأرض لا تبكي على عبد كان يعمرها بالركوع والسجود؟ وما للسماء لا تبكي على عبد كان لتكبيره وتسبيحه فيها دوي كدوي النحل؟
English (US) ·
Indonesian (ID) ·