Biografi Al-Hasan Al-Bashri (Bag. 2)

Aug 04, 2026 11:00 AM - 1 jam yang lalu 3

Ibadah Al-Hasan Al-Bashri

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal sebagai seorang yang tekun beragama dan sangat menjaga hubungannya dengan Allah.

As-Sarri bin Yahya berkata,

كان الحسن يصومُ مِن السنة أيام البيض، وأشهر الحرم، والاثنين والخميس

“Al-Hasan biasa berpuasa dalam setahun pada Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriyah), pada bulan-bulan haram, serta pada hari Senin dan Kamis.”

Al-Fasawi meriwayatkan dari Ibnu Syauzab, dari Mathar, bahwa dia berkata,

كان الحسن البصري صاحبَ ليلٍ

“Al-Hasan Al-Bashri adalah seorang yang mempunyai malam.”

Maksudnya, beliau adalah orang yang banyak menghidupkan malam dengan ibadah, terutama salat malam. Ini menunjukkan kesungguhan dan ketekunan beliau dalam beragama serta kedekatannya dengan Allah pada waktu-waktu sunyi.

Humaid Ath-Thawil berkata,

لم يحجَّ الحسنُ إلا حجتينِ: حجة في أول عمره، وأخرى في آخر عمره

“Al-Hasan tidak menunaikan haji selain dua kali: satu kali di awal kehidupannya dan satu kali lagi di akhir kehidupannya.”

Alqamah bin Martsad berkata,

انتهى الزهد إلى ثمانيةٍ مِن التابعين؛ فمنهم الحسن بن أبي الحسن، فما رأينا أحدًا من الناس كان أطول حزنًا منه، ما كنا نراه إلا أنه حديث عهد بمصيبة

“Kezuhudan mencapai puncaknya pada delapan orang dari kalangan tabi‘in, dan di antaranya adalah Al-Hasan bin Abi Al-Hasan. Kami tidak pernah memandang seseorang yang lebih panjang rasa sedihnya daripada dia. Kami melihatnya seakan-akan dia baru saja tertimpa musibah.”

Jihad Al-Hasan Al-Bashri

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله bukan hanya dikenal sebagai ustadz dan mahir ibadah, tetapi juga pernah ikut berjihad di medan perang.

Abu ‘Ubaidah meriwayatkan bahwa dia mendengar seseorang bertanya kepada Al-Hasan, “Wahai Abu Sa‘id, apakah engkau pernah ikut berperang?” Beliau menjawab,

نعم، غزوة كَابُلَ مع عبدالرحمن بن سَمُرَة رضي الله عنه

“Ya, saya pernah mengikuti perang Kabul berbareng Abdurrahman bin Samurah رضي الله عنه.”

Hisyam bin Hassan berkata,

كان الحسن أشجع أهل زمانه

“Al-Hasan adalah orang yang paling berani di zamannya.”

Ja‘far bin Sulaiman juga berbicara bahwa Al-Hasan termasuk orang yang paling tegar ketika berada di tengah manusia. Ia adalah orang yang paling tampan, paling luas ilmunya, paling dermawan, dan paling fasih berbicara. Ketika Al-Muhallab bin Abi Shufrah memerangi kaum musyrikin, Al-Hasan termasuk di antara para kesatria yang berada di barisan depan.

Sikap Al-Hasan Al-Bashri dalam perang fitnah

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal mempunyai sikap yang tegas dan penuh pertimbangan dalam menghadapi bentrok dan pemberontakan di masa fitnah, khususnya pada peristiwa pemberontakan Ibnu Al-Asy‘ats melawan Al-Hajjaj bin Yusuf.

Ketika terjadi tuduhan tersebut, sekelompok orang datang kepada Al-Hasan dan bertanya tentang norma memerangi Al-Hajjaj, yang mereka sebut sebagai penguasa kejam lantaran menumpahkan darah dan melakukan beragam pelanggaran. Al-Hasan menjawab agar mereka tidak memeranginya. Beliau berbicara bahwa jika apa yang terjadi adalah balasan dari Allah, maka mereka tidak bakal bisa menolaknya dengan pedang. Dan jika itu adalah ujian, maka hendaknya mereka bersabar sampai Allah memberi keputusan, lantaran Allah adalah sebaik-baik Hakim. Namun orang-orang itu tidak menerima nasihatnya, apalagi meremehkannya, lampau mereka tetap ikut bertempur berbareng Ibnu Al-Asy‘ats dan akhirnya terbunuh semuanya.

Dalam kesempatan lain, ketika ada yang berbicara kepadanya, “Mengapa engkau tidak keluar untuk mengubah keadaan (dengan perang)?”; beliau pun menjawab,

إن الله إنما يُغيِّر بالتوبة، ولا يُغيِّر بالسيف

“Sesungguhnya Allah mengubah keadaan dengan tobat, bukan dengan pedang.”

Ini menunjukkan bahwa menurut beliau, perbaikan umat kudu dimulai dari perbaikan diri dan kembali kepada Allah, bukan dengan kekerasan.

Pernah pula seseorang bertanya tentang sikap dalam tuduhan seperti yang melibatkan Yazid bin Al-Muhallab dan Ibnu Al-Asy‘ats. Al-Hasan menjawab agar tidak berpihak kepada salah satu dari mereka. Ketika ditanya lagi, “Tidak juga berbareng Amirul Mukminin?” beliau menegaskan, “Tidak juga berbareng Amirul Mukminin.” Maksudnya, beliau memilih menjauh dari keterlibatan dalam bentrok bersenjata yang membawa pertumpahan darah di antara kaum muslimin.

Beliau juga berbicara bahwa jika manusia bersabar ketika diuji oleh penguasa mereka, niscaya Allah bakal segera memberi jalan keluar. Tetapi jika mereka tergesa-gesa mengambil pedang, maka mereka bakal diserahkan kepada pedang itu sendiri. Dan beliau menegaskan bahwa tindakan seperti itu tidak pernah mendatangkan kebaikan.

Allah menjaga Al-Hasan dari kezaliman Al-Hajjaj

Diriwayatkan bahwa Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi beberapa kali beriktikad membunuh Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله. Namun, Allah melindunginya dari kejahatan tersebut. Pernah suatu waktu Al-Hasan berlindung selama dua tahun di rumah Ali bin Zaid bin Jud‘an, dan di waktu lain dia berlindung di sebuah penggilingan milik Abu Muhammad Al-Bazzaz. Setiap kali itu pula Allah menyelamatkannya.

Suatu hari yang sangat panas di musim panas, Al-Hajjaj tiba-tiba mengirim pasukan untuk menangkap Al-Hasan pada waktu yang tidak terduga. Enam orang pengawal masuk dan membawanya dengan perlakuan kasar. Ketika berita itu sampai kepada para muridnya, seperti Ayyub, Tsabit Al-Bunani, dan lainnya, mereka segera menuju istana dengan membawa kain kafan dan kapur barus, lantaran mereka percaya Al-Hasan bakal dibunuh.

Namun setelah beberapa waktu, Al-Hasan keluar dari istana dalam keadaan tersenyum. Mereka pun memuji Allah atas keselamatannya.

Al-Hasan kemudian menceritakan bahwa ketika dia masuk menemui Al-Hajjaj, dia berada di sebuah ruangan yang sejuk dengan es di atapnya untuk mengurangi panas. Al-Hajjaj bertanya, “Engkaukah yang mengatakan ucapan-ucapan tentang kami seperti yang sampai kepadaku?” Ucapan itu berisi kritik keras terhadap para penguasa yang menjadikan hamba Allah sebagai pelayan mereka, mempermainkan Kitab Allah, dan mempergunakan kekayaan Allah untuk kepentingan yang tidak benar, serta mengingatkan bahwa kelak ada hari kalkulasi di hadapan Allah.

Al-Hasan menjawab dengan tegas bahwa dia memang mengatakan perihal itu, lantaran Allah telah mengambil janji dari para ustadz untuk menjelaskan kebenaran dan tidak menyembunyikannya. Mendengar jawaban itu, Al-Hajjaj terdiam sejenak, lampau memerintahkan agar kepala dan janggut Al-Hasan diberi minyak wangi sebagai corak penghormatan. Ia kemudian menasihati Al-Hasan agar tidak menyebut para penguasa selain dengan kebaikan.

Al-Hasan menjawab dengan menyampaikan sabda tentang menghormati pemimpin, namun dia juga menegaskan syarat keadilan. Pada akhirnya, Al-Hajjaj tidak jadi mencelakainya dan apalagi mempersilahkannya pulang dengan baik.

Al-Hasan menjadi qadhi (hakim)

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله pernah menjabat sebagai qadhi (hakim) di Bashrah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz رحمه الله.

Abu Harrah Ar-Raqasyi berkata,

كان الحسنُ لا يأخذ على قضائه أجرًا

“Al-Hasan tidak mengambil bayaran atas tugasnya sebagai hakim.”

Nasihat Al-Hasan kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Diriwayatkan bahwa ketika Umar bin Abdul Aziz رحمه الله diangkat menjadi khalifah, Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله menulis surat nasihat kepadanya. Dalam surat itu dia berkata,

أما بعد، فإن الدنيا دارٌ مُخيفة، إنما أُهبِط آدم من الجنة إليها عقوبةً، واعلَمْ أن صرعتها ليست كالصرعة، مَن أكرمها يُهَنْ، ولها في كل حينٍ قتيل، فكن فيها يا أمير المؤمنين كالمداوي جرحَه؛ يصبِرُ على شدة الدواء؛ خيفةَ طول البلاء، والسلام

“Amma ba‘du. Sesungguhnya bumi adalah negeri yang penuh ancaman dan ketakutan. Adam diturunkan dari surga ke bumi sebagai corak hukuman. Ketahuilah, jatuhnya seseorang di bumi bukanlah seperti jatuh biasa; siapa yang memuliakannya (terlalu mencintainya), dia bakal dihinakan olehnya. Dunia ini setiap saat mempunyai korban.

Maka jadilah engkau di bumi ini, wahai Amirul Mukminin, seperti orang yang mengobati lukanya; dia bersabar menghadapi pahitnya obat lantaran takut penyakitnya bakal semakin parah. Wassalam.”

Perkataan ustadz salaf tentang Al-Hasan Al-Bashri

Abu Burdah bin Abi Musa Al-Asy‘ari berkata,

ما رأيتُ رجلًا قط لم يصحَبِ النبيَّ صلى الله عليه وسلم أشبهَ بأصحاب رسولِ الله صلى الله عليه وسلم، مِن هذا الشيخ؛ يعني الحسن

“Aku tidak pernah memandang seorang pun yang tidak berkawan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi lebih mirip dengan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada syekh ini, ialah Al-Hasan.”

Asy-Sya‘bi menyebut Al-Hasan Al-Bashri lampau berkata,

ما رأيتُ مِن أهل تلك البلاد رجلًا قطُّ أفضلَ منه

“Aku tidak pernah memandang seorang pun dari masyarakat negeri itu yang lebih utama daripadanya.”

Al-‘Ala’ bin Ziyad berkata,

ما أُحِبُّ أن أؤمِّن على دعاء أحدٍ حتى أسمع دعاءه إلا الحسن

“Aku tidak suka mengaminkan angan seseorang sampai saya mendengar doanya terlebih dulu selain angan Al-Hasan.”

Ayyub As-Sikhtiyani berkata,

كان الرجلُ يجلس إلى الحسن ثلاثَ حِجَجٍ، ما يسأله عن المسألة هيبةً له

“Seorang laki-laki bisa duduk belajar kepada Al-Hasan selama tiga tahun, tetapi tidak berani bertanya tentang suatu masalah lantaran rasa segan dan hormat kepadanya.”

Qatadah berkata,

ما جلستُ إلى أحدٍ، ثم جلست إلى الحسن، إلا عرَفتُ فضلَ الحسن عليه

“Aku tidak pernah duduk berbareng seorang pun (dari kalangan ulama), kemudian saya duduk berbareng Al-Hasan, melainkan saya memandang kelebihan Al-Hasan atas orang tersebut.”

Yunus bin ‘Ubaid berkata,

كان الرجلُ إذا نظر إلى الحسنِ البصري انتفع به، وإن لم يسمَعْ كلامه، ولم يرَ عملَه

“Seseorang yang hanya memandang Al-Hasan Al-Bashri saja sudah bisa mengambil faedah darinya, meskipun dia tidak mendengar ucapannya dan tidak memandang amalnya.”

Wasiat Hasan Al-Bashri sebelum wafat

Abu Thariq As-Sa‘di berkata,

شهِدتُ الحسن عند موتِه يُوصِي، فقال لكاتبٍ: اكتُبْ، هذا ما يشهَدُ به الحسن بن أبي الحسن، يشهد أن لا إله إلا الله، وأن محمدًا رسول الله، مَن شهِد بها صادقًا عند موته دخل الجنة

“Aku menyaksikan Al-Hasan ketika menjelang wafatnya sedang berwasiat. Ia berbicara kepada seorang penulis, ‘Tulislah: Inilah yang disaksikan oleh Al-Hasan bin Abi Al-Hasan. Ia bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berkuasa disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Barang siapa bersaksi dengan kalimat ini secara jujur ketika menjelang kematiannya, maka dia bakal masuk surga.’”

Wafatnya Al-Hasan Al-Bashri

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله wafat pada malam Jumat di bulan Rajab tahun 110 Hijriah, dalam usia 89 tahun.

Jenazahnya dihadiri oleh banyak sekali orang. Ia disalatkan setelah salat Jumat di Bashrah. Begitu besar jumlah manusia yang mengiringi pemakamannya hingga terjadi kepadatan yang luar biasa, apalagi disebutkan bahwa salat Asar di masjid jami‘ tidak dapat ditegakkan lantaran seluruh orang sibuk menghadiri dan mengiringi jenazahnya.

Baca juga: Kisah Menawan Al Hasan Al Bashri

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Gazzetta Raka Putra Setyawan

Artikel Kincai Media

Catatan kaki:

Diterjemahkan dan disusun ulang oleh penulis dari: https://www.alukah.net/culture/1186

Selengkapnya