Membaca Kembali Warisan Kepemimpinan Kiai As'ad dan Gus Dur Kincai Media– Kiai As’ad Syamsul Arifin dipanggil oleh Sang Mahacinta pada hari Sabtu, 13 Muharram 1411 Hijriah, yang bertepatan dengan tanggal 4 Agustus 1990 Masehi, tepat pukul 07.25 WIB.
Selang sembilan belas tahun kemudian, junior sekaligus mitra dialektisnya, KH. Abdurrahman Wahid, menyusul langkah sang senior pada hari Kamis, 14 Muharram 1431 Hijriah, alias bertepatan dengan 30 Desember 2009 Masehi, pukul 18.45 WIB.
Persandingan waktu wafat yang hanya berbeda satu hari dalam penanggalan Hijriah ini bukanlah sebuah kebetulan historis belaka. Bagi mata yang terlatih membaca tanda-tanda zamannya (ayatus zamaan), kesamaan bulan kepulangan ini adalah isyarat kosmis. Ada pertautan takdir, dialektika pemikiran, serta sinergi spiritual yang terikat erat di antara keduanya.
Keduanya adalah telaga keteladanan yang tak pernah kering. Ibarat sumur tua di tengah padang pasir, makin ditimba airnya, makin bening hikmah yang dipancarkannya. Sungguh sebuah kerugian intelektual dan spiritual yang teramat besar bagi generasi muda NU andaikan momentum Muharram berlalu begitu saja tanpa dibaca sebagai ruang refleksi untuk menggelar haul ideologis dan kultural bagi berdua.
Dua Sosok, Satu Jiwa: Dialektika Murni Mediator dan Reformis
Untuk memahami kedalaman sumbangsih Kiai As’ad dan Gus Dur, kita tidak bisa hanya menatap mereka melalui satu kacamata yang sempit. Keduanya adalah sosok multidimensional (al-syakhsiyyah al-mutasya’ibah).
Dalam diri Kiai As’ad, tertanam jiwa mujahid yang mengalir dari jejak perjuangan bentuk memihak kemerdekaan Republik Indonesia, karisma seorang ustadz khos yang ditakuti sekaligus disegani, serta kelembutan seorang pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.
Kiai As’ad adalah “sang mediator”; tokoh penyambung lidah dan pembawa tongkat serta tasbih dari Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH. Hasyim Asy’ari yang menjadi isyarat langit berdirinya Nahdlatul Ulama pada tahun 1926.
Di sisi lain, Gus Dur datang sebagai produk era yang melompati batas-batas zamannya. Sebagai cucu dari KH. Hasyim Asy’ari dan putra dari KH. Wahid Hasyim, Gus Dur mewarisi genetika kepemimpinan spiritual sekaligus intelektual.
Ia adalah seorang cerdas pandai Muslim progresif, budayawan, pejuang kewenangan asasi manusia, presiden ke-4 Republik Indonesia, sekaligus sang “Bapak Bangsa” yang senantiasa berdiri paling depan memihak kaum yang tertindas dan terpinggirkan.
Jika Kiai As’ad merepresentasikan keteguhan jalinan tradisi yang kokoh (al-muhafazhatu alal qadimis shalih), maka Gus Dur melambangkan keberanian melakukan terobosan inovatif (al-akhdzu bil jadidil ashlah). Keduanya membentuk sebuah lingkaran dialektika yang saling melengkapi dalam menjaga keberlangsungan kapal besar Nahdlatul Ulama.
Fragmen paling memikat untuk dibedah dari perjalanan hidup Kiai As’ad dan Gus Dur adalah gimana keduanya menavigasi bahtera kepemimpinan di tubuh NU. Kepemimpinan dalam organisasi keagamaan-kemasyarakatan terbesar di bumi ini bukanlah perkara sederhana.
NU bukan sekadar organisasi umum yang digerakkan oleh Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), melainkan sebuah aktivitas kebudayaan dan jaringan kemasyarakatan yang ditopang oleh kepemimpinan kultural para ustad di pesantren-pesantren.
Dalam konteks dualisme kepemimpinan ini (antara struktural dan kultural) Kiai As’ad dan Gus Dur memperlihatkan lanskap kepemimpinan yang banget kompleks, penuh warna, sekaligus kaya bakal pelajaran moral.
Kiprah Kepemimpinan Formal dan Magnet Kepemimpinan Kultural
Secara struktural-formal, Kiai As’ad Syamsul Arifin mempunyai jejak pengabdian yang sangat panjang di tubuh organisasi NU. Beliau memulai pengabdiannya dari tingkat tapak sebagai Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Situbondo.
Dedikasi, kedalaman ilmu, serta kharismanya yang melintasi batas-batas daerah kemudian membawanya dipercaya menduduki jejeran kepemimpinan puncak sebagai Mustasyar Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Namun, ada satu peristiwa sejarah yang sangat monumental yang menunjukkan sungguh Kiai As’ad tidak pernah mendambakan kedudukan formal. Pada Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Kaliurang, Yogyakarta, pada tahun 1981, nama Kiai As’ad diusung secara kuat oleh kebanyakan ustad sepuh untuk menduduki posisi tertinggi dalam hirarki NU, ialah sebagai Rais Aam PBNU.
Secara politis dan organisatoris, jalan Kiai As’ad untuk menjadi Rais Aam sudah terbuka lebar tanpa hambatan. Kendati demikian, sang ustadz khos ini menunjukkan sikap zuhud yang tiada tanding.
Beliau menolak amanah tersebut secara halus, apalagi memilih untuk tidak datang dalam forum krusial tersebut. Bagi Kiai As’ad, kepemimpinan bukanlah perangkat untuk meraih kekuasaan alias martabat sosial, melainkan beban tanggung jawab (mas’uliyyah) di hadapan Allah SWT yang kudu diampu dengan kehati-hatian tingkat tinggi.
Berbeda namun senada dalam esensi, Gus Dur menempuh garis kepemimpinan umum yang lebih bergerak dan taktis. Sebagaimana dicatat oleh lembaran sejarah nasional, Gus Dur merupakan Ketua Umum PBNU yang terpilih selama tiga periode beruntun: sebuah pencapaian fenomenal dalam sejarah kepemimpinan NU era modern.
Debut kepemimpinan umum Gus Dur dimulai ketika dia terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU pada Muktamar ke-27 NU di Situbondo pada tahun 1984: sebuah muktamar berhistoris di mana Kiai As’ad bertindak sebagai tuan rumah sekaligus sosok penentu (king maker) yang mengawal penerimaan kembali Pancasila sebagai asas tunggal negara dan pemulihan Khittah 1926.
Gus Dur kemudian terpilih kembali pada Muktamar ke-28 NU di Yogyakarta pada tahun 1989. Lima tahun berikutnya, dalam suasana politik Orde Baru yang penuh intimidasi dan tekanan dari rezim otoriter Soeharto, Gus Dur secara dramatis sukses mempertahankan kepemimpinannya pada Muktamar ke-29 NU di Cipasung, Tasikmalaya, tahun 1994.
Kemenangan Gus Dur di Cipasung bukan sekadar kemenangan elektoral dalam internal organisasi, melainkan simbol perlawanan sipil (civil society) terhadap kekuasaan hegemonik negara yang mencoba mendikte kebebasan berorganisasi umat.
Akan tetapi, jika kita hanya mengukur besarnya pengaruh Kiai As’ad dan Gus Dur dari kedudukan struktural yang pernah mereka jepit, kita telah melakukan penyempitan makna yang sangat fatal. Kepemimpinan kedua tokoh ini berakar jauh lebih dalam di ranah kultural.
Karisma kepemimpinan mereka tidak berasal dari legitimasi surat keputusan (SK) pengangkatan alias stempel kepengurusan, melainkan memancar dari kesalehan spiritual, kebeningan nurani, ketajaman mata hati, dan pengorbanan tanpa pemisah bagi rakyat kecil.
Aura kepemimpinan Kiai As’ad dan Gus Dur tidak pernah luntur oleh terminasi masa kedudukan alias periodesasi kepengurusan. Bahkan ketika mereka tak lagi memegang kedudukan umum di struktur PBNU, titah dan petunjuk mereka tetap didengar dengan penuh takzim oleh jutaan penduduk Nahdliyin. Kharisma mereka melampaui sekat-sekat sektarian, organisasi, suku, apalagi agama.
Lebih jauh lagi, aura kepemimpinan itu tidak padam oleh datangnya ajal. Hingga hari ini, makam Kiai As’ad di Sukorejo dan makam Gus Dur di Tebuireng tidak pernah sunyi dari peziarah.
Ribuan orang setiap harinya datang memanjatkan doa, menimba keberkahan, dan mencari ketenangan batin. Ini adalah bukti sahih bahwa kepemimpinan kultural yang berdasarkan keikhlasan bakal hidup kekal di dalam akal dan sanubari setiap insan.
Fenomena Mufaraqah: Pelajaran Mahakarya Etika Berbeda Pendapat
Salah satu babak paling krusial, menegangkan, sekaligus sangat edukatif dalam sejarah hubungan Kiai As’ad dan Gus Dur terjadi menjelang Muktamar NU ke-28 di Yogyakarta pada tahun 1989.
Hubungan selaras antara senior dan yunior yang sebelumnya terbangun bagus pada Muktamar Situbondo 1984, mulai diterpa angin besar dinamika pemikiran dan style kepemimpinan.
Gus Dur, dengan style kepemimpinannya yang progresif, celotehannya yang kritis terhadap rezim, serta gebrakan-gebrakan pemikirannya yang melompati zaman, sering kali membikin kalangan ustad sepuh merasa cemas.
Langkah-langkah politik dan kebudayaan Gus Dur dinilai terlalu bermanuver dan berisiko bagi keselamatan penduduk NU di tengah tekanan Orde Baru. Puncaknya, Kiai As’ad Syamsul Arifin secara terbuka memproklamirkan sikap mufaraqah (memisahkan diri) dari kepemimpinan Gus Dur yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PBNU.
Dalam norma fikih Islam, mufaraqah adalah istilah yang digunakan ketika seorang makmum memilih untuk memisahkan diri dari shalat berjamaah lantaran menganggap imamnya telah melakukan kekeliruan alias ketidaksesuaian dalam aktivitas maupun referensi shalat, namun sang makmum tidak keluar dari masjid dan tidak membikin shalat tandingan.
Sikap mufaraqah Kiai As’ad ini diabadikan secara sangat apik dalam wawancara legendarisnya dengan majalah Tempo jenis 2 Desember 1989. Dengan bahasa perumpamaan (amtsal) yang sangat khas, indah, dan mendalam, Kiai As’ad menjelaskan posisi spiritual dan politiknya:
“Saya ini mufaraqah dengan Gus Dur. Ibarat orang shalat, saya tetap berada di dalam satu masjid dengan NU, tetapi saya tidak mau lagi menjadi makmumnya Gus Dur. Saya tidak keluar dari masjid NU, saya tetap penduduk NU, tapi untuk sementara saya memisahkan diri dari kepemimpinan imamnya.”
Pernyataan Kiai As’ad ini adalah sebuah mahakarya etika dalam berorganisasi dan beranggapan (adabul ikhtilaf). Sekeras apa pun perbedaan pandangan, persepsi, dan pilihan strategi politik yang membakar hubungan kedua tokoh beda generasi ini, tidak pernah ada sedikitpun niat dalam dada Kiai As’ad untuk merusak rumah besar berjulukan Nahdlatul Ulama.
Ia tidak mendirikan “NU Tandingan”, tidak pula menghasut penduduk untuk keluar dari jamaah, apalagi membakar gedung yang telah didirikan oleh para gurunya.
Begitu pula sebaliknya, Gus Dur tidak pernah sedikit pun menunjukkan sikap tidak sopan, mendiskreditkan, alias merendahkan martabat Kiai As’ad sebagai sesepuh yang dihormatinya. Gus Dur tetap memosisikan Kiai As’ad sebagai orang tua dan ustadz besar yang wajib dijaga kehormatannya.
Perbedaan di antara mereka adalah perbedaan di tingkat ijtihad strategi perjuangan (ijtihad siyasi), bukan perbedaan pada ketulusan rasa cinta terhadap Nahdlatul Ulama dan bangsa Indonesia.
Memaknai Kepemimpinan Multidimensional untuk Masa Depan NU
Dari kejadian keteladanan yang diperagakan oleh Kiai As’ad dan Gus Dur, ada pesan esensial yang patut diselami secara mendalam oleh seluruh penduduk Nahdliyin, khususnya generasi muda NU di era disrupsi digital saat ini. Kepemimpinan di tubuh Nahdlatul Ulama tidak boleh dan tidak bakal pernah cukup jika hanya didefinisikan secara sempit melalui pakem-pakem hitam-putih yang reduktif.
Kepemimpinan NU tidak bisa dikotomi secara kaku ke dalam kategori: Conservatif versus Progresif, Tua versus Muda, alias Tradisional versus Modern. Kepemimpinan NU, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Kiai As’ad dan Gus Dur, sejatinya kudu bersikap multidimensional. Ia adalah kepemimpinan yang bisa menyatukan dua kutub ekstrem yang sering kali dianggap bertolak belakang:
Pertama, keseimbangan duniawi dan ukhrawi. Seorang pemimpin NU dituntut mempunyai wawasan global, mengerti bakal strategi kebangsaan, tanggap terhadap isu-isu ekonomi, sosial, dan teknologi (duniawi). Namun pada saat yang sama, dia kudu mempunyai kedalaman riyadhah batin, kebersihan hati, dan keterikatan dengan Sang Maha Pencipta (ukhrawi).
Kedua, perpaduan lahiriah dan batiniah. Tata kelola organisasi kudu dijalankan secara profesional, transparan, dan akuntabel (lahiriah). Namun, pergerakannya kudu selalu dibasahi oleh tirakat, doa, istighotsah, dan restu dari para ustad sepuh serta para wali (batiniah).
Ketiga, kesinambungan silam, kini, dan esok. Pemimpin NU kudu berpijak secara kokoh pada akar tradisi, kitab kuning, dan sejarah masa silam (al-asalah). Namun mata dan pikirannya kudu bisa menatap jauh ke masa depan (al-mu’asharah), membaca arah perkembangan zaman, serta menyiapkan jawaban atas tantangan peradaban masa depan.
Keempat, integrasi faedah dan berkah. Setiap kebijakan dan program kerja tidak hanya diukur dari sejauh mana dia memberikan nilai guna praktis dan efisiensi material (manfaat), tetapi juga kudu mendatangkan ketenangan jiwa, keselarasan sosial, dan ridha Ilahi (barakah).
Kelima, dwi-fungsi perjuangan dan ibadah. Bagi seorang kader NU, berkecimpung di dalam organisasi bukanlah sarana untuk mencari penghidupan, menumpuk kekayaan, alias meniti tangga popularitas.
Setiap jengkal keringat, waktu, dan pikiran yang dicurahkan dalam kepengurusan kudu diniatkan sebagai bentuk ibadah (muta’abbad) dan manifestasi khidmah kepada agama, bangsa, dan negara.
Muharram sebagai Momentum Konsolidasi Spiritual Generasi Muda
Syahdan. Kini, kita berdiri di abad kedua Nahdlatul Ulama. Zaman telah berubah secara drastis. Tantangan yang dihadapi oleh generasi muda Nahdliyin hari ini tentu sangat berbeda dengan tantangan yang dihadapi oleh Kiai As’ad pada era perang kemerdekaan alias Gus Dur pada era otoritarianisme Orde Baru.
Hari ini kita berhadapan dengan era kepintaran buatan (artificial intelligence), polarisasi politik identitas, krisis iklim, serta pergeseran nilai-nilai sosial akibat arus globalisasi yang tak terbendung.
Namun, di tengah gelombang perubahan yang begitu sigap dan membingungkan itu, kompas moral dan arah perjuangan penduduk NU tidak boleh hilang. Keteladanan Kiai As’ad Syamsul Arifin dan KH. Abdurrahman Wahid adalah pilar penuntun yang bakal selalu relevan untuk diselami kembali.
Momentum bulan Muharram (bulan yang menyatukan hari berpulangnya kedua sang maestro kepemimpinan NU ini) semestinya tidak kita biarkan lampau begitu saja sebagai sekadar perubahan nomor tahun di almanak Hijriah. Generasi muda NU mempunyai tanggung jawab sejarah untuk mengembalikan tradisi peringatan haul berdua berasas penanggalan Hijriah.
Menggelar haul Kiai As’ad setiap tanggal 13 Muharram dan haul Gus Dur setiap tanggal 14 Muharram bukanlah sekadar ritual seremonial berkirim doa. Haul Hijriah ini kudu dijadikan sebagai forum konsolidasi ideologis, intelektual, dan spiritual. Ia adalah momen di mana kita mengetengahkan kembali pemikiran-pemikiran besar mereka, mempelajari etika berbedanya mereka, dan meneladani keikhlasan perjuangan mereka.
Dengan menimba air keteladanan dari sumur kearifan Kiai As’ad dan Gus Dur, generasi muda NU bakal mempunyai ketahanan spiritual yang kokoh sekaligus kelenturan intelektual yang tinggi.
Kita bakal belajar gimana menjadi pribadi yang teguh memegang prinsip tradisi, namun sangat terbuka dan adaptif terhadap kemajuan peradaban. Kita bakal belajar gimana mencintai NU dan Indonesia tanpa tapi, serta gimana memimpin dengan hati, kecerdasan, dan keberanian.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, ampunan, dan tempat tertinggi di sisi-Nya untuk Kiai Haji Raden As’ad Syamsul Arifin dan Kiai Haji Abdurrahman Wahid. Serta semoga kita, generasi penerusnya, dianugerahi kekuatan dan keikhlasan untuk terus melanjutkan estafet perjuangan mulia beliau berdua. Wallahu a’lam bishawab.
——————
*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·