Waspada Cuaca Panas Saat Hamil, Benarkah Bisa Picu Keguguran?

Portal Kesehatan Ibu dan Anak Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 3 menit 504x dilihat
Waspada Cuaca Panas Saat Hamil, Benarkah Bisa Picu Keguguran?

Jakarta -

Perubahan suasana mempengaruhi kekeringan yang berkepanjangan di beberapa wilayah, sehingga memerlukan kebutuhan yang ekstra untuk menghindari dampaknya terhadap kesehatan.

Dikutip dari Medical Express, sebuah studi internasional digelar oleh Saint Pau Research Institute (IR Sant Pau), berbareng Center of Data and Knowledge Integration for Healt (CIDACS, Brazil) untuk meneliti perihal ini.

Berdasarkan informasi yang melibatkan nyaris 30 juta kelahiran selama dua dasawarsa di Brasil, tercatat akibat kekeringan selama kehamilan bisa meningkatkan akibat kelahiran bayi prematur. Semakin ekstrem panasnya bakal semakin tinggi juga akibat kelahiran prematurnya.


Penelitian yang diterbitkan di The Lancet Regional Health-Americas ini merupakan bagian dari proyek bertema Influence of Adverse Climate Events on Birth Outcomes and Maternal and Child Nutrition Using Data From the 100 Million Brazilian Cohort. Analisis ini berfokus pada populasi yang rentan secara sosioekonomi dan memandang akibat kekeringan berbeda-beda berasas kondisi lingkungan dan sosial di setiap daerah.

Saat ini, Dr. Aline Rocha, peneliti di SalutData Lab, memperluas penelitiannya untuk menganalisis potensi akibat kekeringan terhadap perkembangan anak hingga usia 5 tahun.

“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa kekeringan bukan hanya kejadian lingkungan alias pertanian, tetapi juga berpotensi menjadi penentu kesehatan ibu dan anak. Ini adalah contoh nyata kesehatan planet, gimana perubahan suasana dan sistem alam pada akhirnya dapat memengaruhi kesehatan manusia,” ucap Rocha.

Cuaca panas tingkatkan akibat kelahiran prematur

Dampak kekeringan rupanya berangkaian erat dengan akibat kelahiran prematur. Kelahiran prematur kemungkinan naik sekitar 2% pada tiga periode waktu yang dianalisis, alias setara dengan 1,4 persen hingga 1,7 persen kasus per 1.000 kelahiran.

Risiko ini terlihat semakin meningkat seiring dengan intensitas kekeringan. Pada paparan selama enam bulan, misalnya akibat meningkat 1 persen saat kekeringan tergolong sedang hingga 5 persen ketika kekeringan berada pada tingkat ekstrem. Temuan ini memungkinkan pertengahan dan akhir kehamilan menjadi masa yang rentan terhadap akibat kekeringan.

Dikutip dari laman resmi Boston University, menurut jurnal Epidemiology, hasil studi tersebut menemukan bahwa ibu mengandung di Amerika Utara mempunyai akibat keguguran awal 44% lebih tinggi pada bulan-bulan musim panas, terutama akhir Agustus dan awal September.

Kondisi sosial dan ekonomi memperkuat dampaknya

Kondisi sosial dan ekonomi dapat meningkatkan seseorang lebih rentan terhadap akibat perubahan iklim. Orang dengan sumber daya terbatas bakal kesulitan menghadapi kekurangan pangan, kenaikan harga, hingga kesulitan mendapat air yang kondusif konsumsi. Kondisi ini dapat memengaruhi gizi dan akses terhadap pemeriksaan kesehatan.

"Peristiwa suasana tidak memengaruhi semua orang secara sama. Kondisi sosial sebagian besar menentukan keahlian masyarakat untuk melindungi diri dari kekurangan pangan dan air, menjaga gizi yang memadai, alias mengakses perawatan prenatal. Oleh lantaran itu, langkah-langkah penyesuaian kudu memberikan perhatian unik kepada wanita mengandung dalam situasi yang lebih rentan," tegas Rocha. 

Para peneliti menemukan ada tiga hasil yang bisa merugikan:

  • Kelahiran sebelum usia kehamilan 37 minggu
  • Berat badan lahir rendah meski lahir cukup bulan
  • Ukuran tubuh yang lebih mini dibandingkan bayi lain dengan usia kehamilan yang sama.

Itulah akibat musim panas yang bisa picu keguguran pada ibu hamil. Semoga membantu, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak

Bagikan Postingan