Mendidik anak memang bukan perihal yang mudah bagi setiap orang tua. Dalam situasi tertentu, balasan dipilih sebagai salah satu langkah untuk mengajarkan disiplin pada anak dan memperbaiki perilakunya.
Dahulu, balasan bentuk cukup sering diterapkan dalam pola asuh di banyak keluarga. Padahal, pengalaman itu bisa terus diingat anak apalagi saat mereka sudah dewasa.
Meski terlihat sebagai langkah mendisiplinkan anak, balasan bentuk seperti memukul alias menampar hingga sekarang tetap ditemukan dalam beberapa keluarga. Bentuk disiplin ini melibatkan tindakan kekerasan fisik.
Dilansir dari laman Yahoo Health, banyak orang yang membagikan pengalaman mereka pernah dipukul oleh orang tua, kakek, dan nenek menggunakan beragam barang rumah tangga. Mulai dari sendok kayu, ikat pinggang, sisir rambut, hingga barang lainnya.
Melihat informasi dari World Health Organization (WHO) dan UNICEF, bahwa sekitar 1,2 miliar anak usia 0 hingga 18 tahun mengalami balasan bentuk di rumah setiap tahunnya. Di beberapa negara yang dipantau, sebagian anak apalagi mengalami balasan bentuk berat dalam satu bulan terakhir.
Hukuman bentuk di masa mini bisa terbawa hingga dewasa
Seorang pekerja sosial klinis berlisensi dan terapis bersertifikasi di New York, Vanessa Williams, pengalaman mendapatkan balasan bentuk saat mini dapat berpengaruh pada kehidupan seseorang ketika dewasa.
"Orang dewasa yang pernah mengalami balasan bentuk saat tetap mini mungkin mengembangkan kepekaan yang tinggi terhadap kritik alias konflik, berbarengan dengan konsep diri berbasis rasa malu yang memengaruhi rasa nilai diri mereka," kata Williams.
Sejalan dengan perihal tersebut, terapis pernikahan dan family berlisensi di California, Chloe Bean, menjelaskan bahwa pengalaman menerima balasan bentuk saat mini dapat membikin seseorang terbiasa menyimpan amarahnya sendiri.
"Banyak orang dewasa yang dibesarkan dengan balasan bentuk belajar memendam kemarahan mereka lantaran mengekspresikannya justru bakal mendatangkan balasan yang lebih berat," katanya.
Bean mengatakan bahwa kemarahan tersebut dapat terjadi dengan langkah yang berbeda seperti:
- Dari dalam diri: Kebiasaan menyalahkan diri sendiri, rasa malu yang berlebihan, depresi, kecanduan, perilaku menyakiti diri, hingga mengabaikan kebutuhan pribadi.
- Dari perilaku sehari-hari: Mudah tersinggung, sigap marah, mengalami ledakan emosi, membentak pasangan alias kawan kerja, apalagi marah saat berada di jalan.
Tak hanya emosi, balasan bentuk bisa berakibat pada tubuh
Dalam kesempatan yang sama, Bean menjelaskan bahwa pengalaman balasan bentuk saat mini juga dapat berpengaruh pada kondisi tubuh ketika anak beranjak dewasa. Beberapa indikasi yang dapat muncul seperti:
- Ketegangan otot yang berjalan dalam waktu lama
- Kebiasaan menggeretakkan gigi
- Migrain
- Masalah pencernaan
- Kambuhnya indikasi autoimun saat mengalami stres alias menekan emosi
Vanessa Williams pun sependapat bahwa akibat tersebut dapat terlihat melalui kondisi bentuk seseorang. Menurutnya, banyak orang dewasa mengalami ketegangan pada tubuh dan susah untuk rileks meski berada di situasi yang sebenarnya tidak ada masalah.
"Banyak orang dewasa mengalami ketegangan otot kronis, terutama di bahu, rahang, alias perut, berbarengan dengan peningkatan respons terkejut dan kesulitan untuk rileks, apalagi di lingkungan yang aman," katanya.
Pakar langkah memulihkan pengaruh balasan bentuk pada anak
Menurut Chloe Bean, anak yang menerima balasan bentuk sejak mini banyak yang tidak belajar tentang langkah mengekspresikan emosi dengan kondusif alias mengatur perasaannya dengan baik.
Maka dari itu, tak sedikit dari mereka yang akhirnya mengabaikan kebutuhan diri sendiri hingga menghindari kedekatan dengan orang lain, Bunda.
"Mereka mengembangkan strategi penanggulangan jangka pendek seperti penekanan, mengabaikan kebutuhan mereka sendiri, mematikan emosi, menjauhkan diri dari tubuh mereka, alias menghindari kedekatan," kata Bean.
Jika orang tua pernah memberikan balasan bentuk pada anak, jangan khawatir, ya. Sebelum terlambat, Bean membagikan beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua seperti:
- Mengajarkan anak mengelola emosi tanpa rasa takut alias menekan perasaannya.
- Membangun hubungan yang hangat, aman, dan penuh dukungan.
- Mengajak anak melakukan kegiatan yang membantu tubuh menjadi lebih rileks.
- Mengurangi kebiasaan mengkritik dan menumbuhkan rasa percaya diri pada anak.
- Mencari support ahli alias terapi andaikan diperlukan untuk membantu proses pemulihan trauma.
Seiring waktu, perubahan positif ini dapat terlihat dalam keseharian. Anak bakal lebih berani mengungkapkan perasaannya, tenang dalam mengatur emosi, serta bisa berkomunikasi dengan lebih baik.
Itulah penjelasan mengenai pentingnya mewaspadai balasan masa mini yang bisa membekas hingga dewasa. Semoga dapat bermanfaat, ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·