Jakarta -
Setiap generasi punya metode berbeda dalam menerapkan pola asuh. Salah satu perbedaan ini dapat kelihatan dari pola komunikasi orang tua ke anaknya.
Sebagai contoh, orang tua sering mengucapkan kalimat 'bernada tangguh' ke anak karena menganggapnya sebagai nasihat. Pola komunikasi itu mungkin 'mempan' bagi anak yang dibesarkan di era dulu, tetapi bisa saja menyakitkan bagi anak-anak generasi Z (gen Z).
Ya, orang tua tidak selalu menyadari bahwa ungkapan sarkastik yang diucapkan oleh bapak dan ibu mereka dari generasi baby boomer sudah tidak dianggap layak disampaikan ke anak mereka dari gen Z. Ucapan itu mungkin tak cuma menyakiti hati anak, tapi juga akan diingat hingga berakibat pada kehidupannya di masa depan.
Lantas, apa saja kalimat toksik orang tua era dahulu yang rupanya bisa menyakiti anak-anak gen Z? Simak klarifikasi dari Bubun berikut ini ya, Bunda.
10 kalimat toksik orang tua era dulu
Melansir dari halaman Your Tango, berikut 10 kalimat orang tua era dahulu yang dianggap toksik dan bisa menyakiti anak gen Z:
1. 'Lakukan seperti yang aku katakan, bukan seperti yang aku lakukan'
Banyak generasi X dan milenial diajari oleh orang tua mereka bahwa anak-anak mesti membisu dan patuh tanpa berpikir panjang. Orang tua sebenarnya bermaksud baik, namun mereka tanpa sadar menetapkan standar yang lebih tinggi bagi anak-anak sambil mengabaikan kekurangan mereka sendiri.
Kalimat 'Lakukan seperti yang aku katakan, bukan seperti yang aku lakukan' mungkin merupakan struktur hierarki yang berhasil di masa lalu. Namun, para ahli pengasuhan anak kini menganggap bahwa anak-anak belajar dapat belajar dengan baik melalui teladan, dan apa yang diteladani orang tua sering kali lebih berakibat daripada pelajaran yang mereka coba ajarkan, terutama pada anak usia 8-12 tahun dan remaja.
2. 'Aku yang membawamu ke bumi ini, aku juga bisa membawamu keluar dari bumi ini'
Kalimat ini tak cuma toksik, tapi juga hamil elemen kekerasan yang dapat memengaruhi kondisi jasmani dan mental anak. Sudah seharusnya dipahami bahwa kekerasan bukanlah solusi untuk perilaku buruk anak, terlebihlagi sebagai lelucon maupun sindiran sarkastik.
Mengucapkan kalimat ini maupun memukul anak tidak ampuh karena justru mengajarkan mereka untuk takut pada orang tua, bukan mengajarkan mana yang benar dan salah. Faktanya, hukuman jasmani terbukti sebagai bentuk disiplin yang paling tidak ampuh dan sering kali berkorelasi dengan perilaku yang lebih buruk dan hasil yang lebih buruk di masa depan.
3. 'Hanya aku yang bisa memberimu karena untuk menangis'
Ungkapan lazim ini sering digunakan generasi baby boomer untuk mendisiplinkan anak mereka. Kalimat ini juga merupakan implikasi lain dari bentuk kekerasan, Bunda.
Ketika mendengarkan kalimat ini, anak merasa tidak didengarkan dan tidak aman. Anak-anak ini kemungkinan besar akan tumbuh tanpa mau menceritakan apa pun kepada orang tua mereka, sehingga rapuh dimanfaatkan. Bahkan secara sarkastik maupun mungkin cuma dimaksudkan sebagai intimidasi iseng, ungkapan ini statis dapat menimbulkan kerusakan.
4. 'Kamu bisa mendapatkan privasi'
Kebanyakan orang tua generasi era dahulu tidak melihat anak-anak mereka sebagai 'manusia seutuhnya' yang terpisah dari diri mereka sendiri, dan sayangnya generasi X dan milenial sering meneruskan pola pikir tersebut. Akibatnya, generasi Z sering kali tidak memiliki hak privasi sama sekali, terlebihlagi saat sudah memasuki usia remaja maupun dewasa awal.
Orang tua ini tidak takut melanggar limitasi jika itu berarti menjaga anak-anak mereka statis aman. Sayangnya, kepedulian mereka terhadap keselamatan sering kali bertentangan dengan kebutuhan anak-anak akan individualitas, sehingga bisa memicu ketegangan dalam hubungan. Pada akhirnya, ketidakpercayaan akan tumbuh dan ikatan putus, kemudian anak menjadi tidak memiliki jaring pengaman untuk berlindung.
5. 'Hanya orang yang membosankan yang merasa bosan'
Ungkapan sarkastik ini sering biasa diucapkan orang tua antik saat anak mereka kelihatan bosan. Alih-alih mengatasi kebosanan, kalimat ini justru bisa membikin anak merasa tidak bisa mengungkapkan emosi mereka secara terbuka.
Sebuah studi pada tahun 2021 di jurnal Revista Paulista de Pediatria menemukan bahwa anak-anak yang terisolasi semakin mungkin mengalami depresi dan masalah kesehatan seperti obesitas. Terlepas dari kenyataan tersebut, banyak dari anak-anak ini merasa seolah-olah mereka tidak punya pilihan lain kecuali mengisolasi diri.
6. 'Banyak anak kelaparan di dunia, dan Anda mengkhawatirkan hal sepele ini?'
Generasi era dahulu sering berkata, 'Ada anak-anak yang kelaparan di Afrika, kenapa Anda tidak bersyukur?'. Kalimat tersebut bukan dimaksudkan untuk menaikkan empati dan kesadaran, melainkan untuk membikin anak-anak merasa malu atas apa pun yang mereka khawatirkan maupun keluhkan.
Ada anak-anak dengan masalah besar di dunia, tetapi masalah generasi Z juga nyata. Mengabaikan emosi anak cuma karena mengatakan orang lain memiliki masalah yang lebih buruk, dapat membikin mereka merasa terisolasi dan kesal.
Ketika anak menghadapi masalah serius maupun jika mulai memberitahu tanda-tanda depresi dan kecemasan serius, mereka tidak akan merasa terlindungi secara emosional untuk curhat kepada orang tuanya. Menurut studi yang dipublikasikan di jurnal London Journal of Primary Care tahun 2016, tanpa ikatan yang baik dengan orang tuanya, anak-anak cenderung kurang berhasil tumbuh menjadi orang dewasa yang bahagia, mandiri, dan tangguh.
7. 'Apa sih yang membuatmu depresi?'
Siapa pun yang dibesarkan oleh generasi baby boomer pasti pernah mendengar kalimat ini. Ungkapan ini sangat kejam secara terselubung, sehingga sulit bagi anak generasi Z untuk memahaminya.
Tidak ada seorang pun yang kebal terhadap emosi, terlebihlagi anak-anak sekalipun. Sayangnya, banyak orang tua yang berpikiran antik tidak memahami hal ini, dan akibatnya, mereka mengatakan sesuatu yang toksik, yang menjauhkan anak-anak mereka dan kemungkinan besar menambah masalah kesehatan mental.
8. 'Karena ibu bilang begitu, makanya begitu'
Kalimat ini seperti menegaskan bahwa orang tua tidak boleh mempertanyakan otoritas anak-anak mereka. Bahkan ketika anak mau tahu karena sebenarnya, mereka bisa mendapat masalah karena dianggap membangkang.
Padahal, anak-anak yang mau memahami sesuatu adalah anak yang cerdas. Mereka mengajukan pertanyaan bukan cuma untuk memahami, tetapi juga agar lebih bisa mengevaluasi sesuatu dan menyaringnya melalui perspektif pandang dan nilai-nilai mereka sendiri.
9. 'Kamu pikir hidupmu buruk? Saat seusiamu, ibu pernah mengalami yang lebih berat'
Sangat lazim mendengar orang tua era dahulu menceritakan kesulitan hidupnya, sehingga itu menjadi lelucon klise. Ungkapan yang membangkitkan memori masa kemudian ini dapat meremehkan benar-benar sulitnya hayat anak-anak dengan beragam cara, Bunda.
Satu hal yang perlu dipahami orang tua, dalam banyak hal, anak-anak generasi Z memang memiliki hayat yang mudah. Namun di sisi lain, keadaan justru lebih sulit bagi mereka. Mereka menghadapi begitu banyak rintangan yang terlebihlagi tidak bisa dibayangkan oleh generasi sebelumnya.
Terlepas dari kesulitan yang dialami generasi dulu, anak-anak masa kini cuma mau orang tua datang dan berbuat yang terbaik untuk memahami mereka. Alih-alih berkata, 'Kamu pikir cuma Anda mengalami kesulitan' cobalah untuk mengatakan, 'Sepertinya itu benar-benar memengaruhimu, apakah Anda mau membicarakannya?'
10. 'Jika Anda tidak segera diam, aku akan dengan bahagia hati melakukannya untukmu'
Kalimat ini termasuk toksik karena berisi intimidasi kekerasan yang dibalut dengan lembut. Ketika anak-anak kesal, reaksi alami orang tua adalah mau menghibur mereka.
Namun, jika orang tua tidak diajari sepertiapa menjadi dewasa secara emosional, mereka mungkin tidak bisa menangani emosi rumit yang muncul saat anak mengeluh maupun berubah kondisi hati. Kalimat ini bisa membikin anak-anak merasa kesal, yang berujung pada ketegangan besar dalam hubungan.
Jadi, jika orang tua benar-benar mau membikin anaknya merasa lebih baik, cukup katakan kepada mereka, 'Ibu di sini jika Anda membutuhkan seseorang untuk mendengarkanmu'. Menyediakan ruang terlindungi di mana anak dapat melampiaskan emosi dan mengekspresikan diri adalah kunci untuk hubungan orang tua dan anak yang sehat.
Demikian 10 kalimat toksik orang tua era dahulu yang bisa menyakiti anak gen Z. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)