10 Tantangan Working Single Mom dan Cara Mengatasinya, Bukan Cuma Soal Cari Uang

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 9 menit 507x dilihat
10 Tantangan Working Single Mom dan Cara Mengatasinya, Bukan Cuma Soal Cari Uang

Bagikan Postingan

Tantangan working single mom bukan cuma soal mencari nafkah. Kenali 10 tantangan yang sering dihadapi dan metode mengatasinya agar hidup lebih seimbang.

Menjadi working single mom memang membutuhkan banyak tenaga. Di satu sisi, ada pekerjaan dan tuntutan pekerjaan yang mesti dijalankan. Di sisi lain, ada anak yang membutuhkan perhatian, rumah yang perlu diurus, sampai urusan finansial yang mau tidak mau mesti dipikirkan sendiri.

Belum lagi, ada hari-hari ketika anak sakit tepat saat deadline pekerjaan sedang menumpuk. Atau ketika Mommies sedang kelelahan, tetapi statis mesti bangun pagi, menyiapkan kebutuhan anak, kemudian balik bekerja.

Jadi, tantangan working single mom sebenarnya bukan cuma soal mencari uang. Ada beban fisik, mental, emosional, sampai urusan membagi waktu yang bisa terasa berat.

Penelitian dari PubMed mengenai ibu tunggal yang bekerja juga menemukan adanya kaitan antara perselisihan pekerjaan-keluarga, kondisi pekerjaan, tekanan finansial, dan kesejahteraan psikologis.

BACA JUGA: 8 Cara Single Parent Membagi Waktu antara Kerja dan Anak, agar Tidak Kewalahan

Tantangan yang Dihadapi Working Single Mom

 Tantangan Working Single Mom dan Cara Mengatasinya

Foto: Marcial Comeron/Pexels

Dalam artikel ini, working single mom mengacu pada ibu yang menjadi orang tua tunggal sekaligus bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan anaknya.

Lalu, apa saja tantangan yang mungkin dihadapi working single mom dan sepertiapa metode mengatasinya?

1. Harus Menjadi Pencari Nafkah Utama

Ini mungkin salah satu tantangan yang paling terasa. Ketika pemasukan famili terutama bersandar pada satu orang, keputusan soal pekerjaan dan pekerjaan bisa terasa lebih berat.

Mommies mungkin jadi merasa tidak punya banyak ruang untuk memungut cuti, berganti pekerjaan, maupun terlebihlagi sekadar mengatakan, “Aku sedang capek.”

Cara mengatasinya:

Mulai dengan membikin mekanisme finansial yang realistis. Pisahkan kebutuhan wajib, tabungan, biaya darurat, dan pengeluaran yang bisa ditunda.

Tidak perlu langsung mengejar kondisi finansial yang sempurna. Yang penting, Mommies tahu duit pergi ke mana dan punya hajat untuk menghadapi kebutuhan tak terduga.

Kalau memungkinkan, bangun juga sumber sokongan finansial lain, misalnya asuransi kesehatan, biaya darurat, maupun pekerjaan tambahan yang tidak mengorbankan waktu istirahat secara berlebihan.

2. Sulit Membagi Waktu antara Kerja dan Anak

Meeting belum selesai, tetapi sudah waktunya menjemput anak. Deadline besok pagi, sementara malam ini anak mau ditemani mengerjakan tugas sekolah.

Situasi seperti ini bisa membikin working single mom merasa seolah-olah selalu ada yang dikorbankan.

Padahal, perselisihan antara tuntutan pekerjaan dan famili memang dapat berhubungan dengan kesehatan mental. Kementerian Kesehatan RI menerangkan bahwa work-family conflict dapat terjadi ketika tuntutan dari salah satu peran membikin seseorang kesulitan menjalankan peran lainnya. Kondisi tersebut juga dapat menjadi salah satu konsekuensi psikososial bagi pekerja.

Cara mengatasinya:

Mommies tidak mesti membagi waktu 50:50 setiap hari. Ada hari ketika pekerjaan membutuhkan lebih banyak perhatian, ada juga saat anak membutuhkan Mommies lebih banyak.

Coba tentukan beberapa non-negotiable time, misalnya waktu makan malam berbareng maupun 20 menit sebelum tidur untuk ngobrol dengan anak tanpa distraksi.

Sedikit waktu yang benar-benar datang sering kali lebih berarti daripada banyak waktu, tetapi pikiran statis sibuk dengan pekerjaan.

3. Tidak Punya Backup saat Anak Sakit

Anak demam tengah malam saja sudah bikin panik. Apalagi jika besok pagi Mommies ada presentasi penting.

Working single mom sering perlu memikirkan pertanyaan yang mungkin tidak muncul pada famili dengan dua orang dewasa yang bisa berbagi pengasuhan: Kalau anak sakit, siapa yang menjaga?

Cara mengatasinya:

Buat backup plan sebelum benar-benar dibutuhkan.

Misalnya, catat beberapa orang yang bisa dihubungi dalam kondisi darurat: keluarga, pengasuh, daycare, maupun kawan dekat yang memang sudah bersedia membantu.

Kalau tempat kerja memungkinkan, bicarakan juga opsi kerja elastis maupun kebijakan ketika anak sakit. Lebih baik punya hajat saat kondisi statis tenang daripada baru mencari solusi ketika anak sudah demam tinggi.

BACA JUGA: Jadi Single Parent? 7 Pekerjaan Ini Punya Jam Kerja Lebih Fleksibel dan Bisa Disesuaikan dengan Anak

4. Merasa Bersalah kepada Anak

“Jangan-jangan anak merasa kurang diperhatikan karena aku bekerja?”

Rasa bersalah seperti ini sangat manusiawi. Namun, bekerja bukan berarti Mommies tidak datang untuk anak.

Yang perlu diperhatikan adalah sepertiapa menjaga hubungan dan komunikasi dengan anak, bukan sekadar menghitung jumlah jam yang dihabiskan bersama.

Cara mengatasinya:

Ciptakan rutinitas kecil yang konsisten. Bisa berupa membacakan buku sebelum tidur, sarapan berbareng di akhir pekan, maupun ritual ngobrol selama perjalanan ke sekolah.

Dan jangan lupa, Mommies juga boleh menerangkan kepada anak sesuai usianya bahwa bekerja adalah salah satu metode Mommies memenuhi kebutuhan keluarga.

Anak tidak membutuhkan ibu yang selalu tersedia setiap menit. Anak membutuhkan hubungan yang aman, hangat, dan bisa diandalkan.

 Tantangan Working Single Mom dan Cara Mengatasinya, Bukan Cuma Soal Cari Uang

Foto: Yan Krukau/Pexels

5. Semua Keputusan Terasa Harus Ditanggung Sendiri

Mulai dari sekolah anak, dokter, pekerjaan, sampai keputusan finansial. Ketika tidak ada pasangan untuk diajak berbincang setiap hari, hal-hal kecil pun bisa terasa melelahkan.

Bukan karena Mommies tidak bisa memungut keputusan, tetapi karena terlalu banyak keputusan yang mesti dibuat terus-menerus.

Cara mengatasinya:

Bangun lingkaran orang tepercaya. Tidak mesti satu orang untuk semua masalah. Bisa ada kawan untuk tempat curhat, famili untuk urusan anak, penasihat finansial untuk masalah finansial, maupun psikolog ketika Mommies membutuhkan pertolongan profesional.

Meminta gagasan bukan berarti tidak mandiri. Justru, mengetahui kapan perlu meminta pertolongan adalah bagiankecil dari merawat diri.

6. Kelelahan Fisik dan Mental karena Beban Kerja dan Pengasuhan

Pagi bekerja, sore mengurus anak, malam membereskan rumah. Begitu anak tidur, baru punya waktu untuk diri sendiri, tetapi tubuh sudah meminta istirahat.

Kalau terjadi terus-menerus, kondisi ini bisa membikin Mommies gampang marah, sulit berkonsentrasi, mengalami gangguan tidur, maupun merasa kewalahan.

WHO menerangkan bahwa stres dapat memengaruhi kondisi mental dan fisik. Ketika stres terjadi terlalu lama, dampaknya bisa mencakup gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, kecemasan, hingga masalah kesehatan lainnya.

Cara mengatasinya:

Berhenti menganggap istirahat sebagai pemberian setelah semua pekerjaan selesai. Karena, spoiler: pekerjaan rumah tidak pernah benar-benar selesai.

Pilih beberapa hal yang memang mesti dilakukan hari itu. Sisanya bisa menunggu.

Dan jika ada kesempatan tidur lebih awal, tidak perlu merasa bersalah karena memilih tidur daripada melipat laundry.

BACA JUGA: 9 Kesalahan Single Parent dalam Mengasuh Anak, Nomor 3 Sering Terjadi Tanpa Sadar

7. Beban Mental karena Harus Selalu “Ingat Semuanya”

Sering kali yang melelahkan bukan cuma berbuat pekerjaan, tetapi juga mengingat semua hal yang mesti dilakukan.

Kapan bayar sekolah? Stok vitamin anak statis ada? Besok ada aktivitas sekolah? Deadline laporan kapan? Tagihan listrik sudah dibayar?

Semua berjalan di kepala.

Beban seperti ini sering disebut mental load, ketika yang melelahkan bukan cuma mengerjakan sesuatu, tetapi juga mesti terus mengingat, merencanakan, dan memastikan semuanya berjalan.

Cara mengatasinya:

Keluarkan isi imam ke mekanisme yang bisa dilihat.

Gunakan almanak digital, aplikasi pengingat, maupun satu buku anotasi khusus keluarga. Jadwalkan pembayaran rutin dan buat checklist mingguan.

Untuk anak yang sudah cukup besar, libatkan mereka dalam urusan rumah sesuai usia. Misalnya, menyiapkan tas sendiri maupun membereskan mainan.

Tujuannya bukan membikin anak membantu Mommies, tetapi mengajarkan bahwa rumah adalah tanggung jawab bersama.

8. Sulit Punya Waktu untuk Diri Sendiri

Ketika menjadi orang tua tunggal, kebutuhan anak memang menjadi prioritas. Namun, bukan berarti kebutuhan Mommies otomatis menjadi angka terakhir selamanya.

Mommies statis membutuhkan waktu untuk berbuat hal-hal yang membikin diri mereka sendiri merasa menjadi manusia, bukan cuma buruh dan orang tua.

Cara mengatasinya:

Tidak perlu menunggu punya satu hari penuh untuk me time.

Mulai dari 15–30 menit. Minum kopi sambil bekerja, jalan kaki, membaca buku, olahraga, berjumpa teman, maupun sekadar duduk membisu tanpa ada yang meminta apa-apa.

WHO juga merekomendasikan rutinitas harian, tidur yang cukup, aktivitas fisik, dan waktu berbareng orang terdekat sebagai bagiankecil dari pengelolaan stres.

9. Tekanan dari Lingkungan dan Ekspektasi Sosial

Ada saja komentar seperti, “Kok bisa sih kerja terus?” maupun sebaliknya, “Kan sudah jadi ibu, harusnya lebih banyak di rumah.”

Belum lagi ekspektasi bahwa seorang ibu mesti selalu kuat, sabar, produktif, dan statis kelihatan baik-baik saja.

Padahal, Mommies juga manusia.

Cara mengatasinya:

Belajar membedakan antara masukan yang memang membantu dan ekspektasi orang lain yang tidak perlu dipikul.

Tidak semua komentar mesti dijawab. Tidak semua standar orang lain mesti diikuti.

Tentukan sendiri harga yang mau Mommies pegang dalam keluarga. Fokus pada kebutuhan nyata Mommies dan anak, bukan pada sepertiapa famili kelihatan dari luar.

10. Takut Akan Masa Depan

Ketika menjadi satu-satunya orang dewasa yang berkewajiban secara finansial dan dalam pengasuhan, wajar jika masa depan kadang terasa menakutkan.

“Kalau aku sakit bagaimana?”

“Kalau kehilangan pekerjaan?”

“Bagaimana biaya sekolah anak nanti?”

Kekhawatiran semacam ini bisa terus berputar di kepala.

Cara mengatasinya:

Ubah kecemasan yang terlalu besar menjadi beberapa cara kecil.

Misalnya, daripada terus memikirkan “bagaimana masa depan anak?”, mulailah dengan membikin biaya darurat. Setelah itu, cek perlindungan kesehatan. Kemudian mulai menabung untuk pendidikan sesuai kemampuan.

Tidak mesti selesai semuanya dalam satu tahun.

Yang penting, Mommies punya cara yang bisa dilakukan hari ini.

BACA JUGA: Beban Mental Working Mom di Awal Pernikahan dan Cara Menyikapinya

Foto: Ketut Subiyanto/Pexels

Working Single Mom Tidak Harus Selalu Kuat

Menjadi working single mom memang membutuhkan banyak hal: tenaga, waktu, uang, kesabaran, dan kapasitas untuk memungut keputusan.

Tetapi satu hal yang juga penting: Mommies tidak mesti berbuat semuanya sendirian.

Kalau sesekali merasa lelah, kewalahan, gampang marah, sulit tidur, maupun kehilangan minat pada aktivitas yang biasanya disukai, jangan langsung menganggap diri sendiri kurang kuat. Menurut World Health Organization (WHO), stres dapat muncul dalam bentuk seperti kecemasan, gampang tersinggung, kesulitan berkonsentrasi, sakit kepala, gangguan pencernaan, hingga gangguan tidur.

Kementerian Kesehatan RI juga menerangkan bahwa gejala stres dapat muncul dalam bentuk psikis, fisik, kognitif, maupun perilaku. Jika stres tidak mereda dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, penanganan oleh tenaga ahli dapat diperlukan.

Jika keluhan menetap, semakin berat, maupun mulai mengganggu pekerjaan, hubungan, perawatan diri, dan aktivitas sehari-hari, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional. Hal ini juga sejalan dengan anjuran Kementerian Kesehatan RI mengenai kesehatan mental buruh perempuan, yang menyarankan untuk mempertimbangkan konsultasi dengan tenaga kesehatan ketika keluhan berlangsung, semakin berat, maupun mulai mengganggu pekerjaan, perawatan diri, dan hubungan dengan orang lain.

Dan untuk Mommies yang sedang eksis di titik sangat berat, mencari pertolongan bukan berarti gagal menjadi ibu. Justru, meminta pertolongan bisa menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan anak.

Karena pada akhirnya, menjadi working single mom bukan tentang membuktikan bahwa Mommies bisa berbuat semuanya sendirian.

Tetapi tentang membangun hayat yang cukup aman, sehat, dan betah untuk Mommies dan anak—dengan pertolongan ketika memang dibutuhkan.

Cover: Ketut Subiyanto/Pexels
Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads