11 Tanda Kamu Harus Stop the Wedding!

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini oleh Waktu baca 7 menit 31x dilihat
11 Tanda Kamu Harus Stop the Wedding!

Bagikan Postingan

Lagu “Stop the Wedding!” dari musisi Amerika Serikat, Ashe, belakangan ini tengah viral di media sosial. Lagu tersebut ramai digunakan sebagai latar konten tentang hubungan yang tidak sehat. Pesannya mengingatkan kita untuk tidak mengabaikan “red flag” dalam hubungan cuma karena terlanjur sayang.

Sayangnya, banyak orang yang justru denial dan mengekang diri karena takut malu, takut sendirian, maupun takut mengulang dengan orang baru. Padahal, pernikahan seharusnya menjadi fase yang paling membahagiakan. Tapi, sepertiapa jika pasanganmu bukanlah orang yang tepat?

So, penting untuk mengenali tanda Anda mesti membatalkan pernikahan, yang akan menyelamatkanmu dari luka jangka panjang. Dilansir dari Families for Life, berikut rangkuman informasinya.

1. Mengalami Kekerasan Fisik

Ilustrasi kekerasan fisik/ Foto: Magnific.com/KamranAydinov

Kalau sebelum menikah saja, pasanganmu sudah berani berbuat kekerasan seperti menampar, memukul, mendorong, mencekik, hingga mengancam, baik secara verbal maupun seksual, jangan mengharapkan pernikahan akan otomatis mengubah perilaku tersebut.

Siklusnya cenderung berulang, mereka berbuat kekerasan, kemudian meminta maaf, menangis, berikrar akan berubah, dan kemudian mengulanginya lagi, terlebihlagi dengan aksi yang lebih parah.

Tidak ada cinta dan kasih sayang yang mesti mempertaruhkan keselamatan. Membatalkan pernikahan jauh lebih baik dan gampang daripada mesti terjebak dalam kekerasan rumah tangga.

2. Pernah Selingkuh

Ilustrasi pasangan ketahuan selingkuh/ Foto: Magnific.com/Drazen Zigic

Membatalkan pernikahan karena pasangan pernah berselingkuh adalah keputusan yang absolut dan rasional. Kebohongan dan perselingkuhan yang terjadi berulang kali sebelum menikah, itu biasanya dapat menjadi deskripsi mengenai hubungan rumah tangga di masa depan.

Tak ada jaminan, status pernikahan akan membikin orang yang pernah berselingkuh benar-benar berubah. Polanya pun cenderung berulang: ketahuan selingkuh, meminta maaf, berikrar tidak mengulanginya, kemudian ketahuan lagi?

Jika hajat pernikahan sedang dipersiapkan, membatalkan pernikahan mungkin akan mendatangkan rasa malu dan rugi sejumlah materi, namun itu lebih baik daripada mesti menanggung kerugian emosional.

3. Terlalu Mengontrol Hidupmu

Ilustrasi pasangan memilihkan pakaian/ Foto: Magnific.com/wavebreakmedia-micro

Mendapat perhatian dari pasangan adalah hal yang menyenangkan karena Anda merasa diperhatikan. Namun, hal ini bisa jadi “alarm” ancaman jika diikuti upaya mengontrol dan membatasi kebebasan pribadimu.

Dia melarangmu berjumpa teman, mengatur pakaian, memeriksa ponsel tanpa izin, hingga membatasi hubunganmu dengan keluarga, sampai Anda merasa tidak bisa membikin keputusan sendiri dan bersandar sepenuhnya padanya.

Perlu diingat, perhatian dan kontrol adalah dua hal yang berbeda. Hubungan yang sehat bukanlah yang membikin seseorang kehilangan kendali atas dirinya, justru saling mendukung dan percaya.

4. Sering Bertengkar

Ilustrasi pasangan bertengkar/ Foto: Magnific.com/magnific

Kehidupan rumah tangga sudah seharusnya dilandasi kasih sayang dan cinta. Saling pengertian dan mengalah adalah salah satu kunci utamanya. Namun, jika Anda dan pasangan sering berkelahi karena perbedaan harga dan metode berpikir, itu patut diwaspadai.

Pertengkaran yang terjadi dengan topik yang sama berulang kali, saling menyalahkan, dan tidak pernah mendapat penyelesaian bisa memicu ketegangan dan merusak keharmonisan dalam rumah tangga.

Kamu jadi sering merasa cemas, tertekan, terlebihlagi membayangkan hidup yang lebih tenang tanpa pasanganmu. Hal itu bisa menjadi sinyal serius yang mengharuskan Anda membatalkan pernikahan.

5. Berbeda Prinsip Hidup

Ilustrasi pasangan berkelahi karena berbeda pendapat/ Foto: Magnific.com/DC Studio

Ketika memutuskan menikah dengan pasangan, cinta saja sering kali tidak cukup untuk menyatukan dua arah hidup yang bertolak belakang. Misalnya, Anda mau punya anak, dia tidak. Kamu mau statis bekerja setelah menikah, dia mengharapkan Anda berhenti. Bahkan, saat Anda mau tinggal mandiri, dia justru bersikeras mesti tinggal berbareng orang tuanya.

Meskipun, pasti akan selalu ada perbedaan dan perdebatan dalam setiap hubungan. Namun, jika menyangkut keputusan besar dan tidak bisa dikompromikan bersama, jangan mengharapkan semuanya akan selesai setelah menikah.

Pernikahan tidak cukup cuma bermodalkan cinta, tetapi kalian juga perlu memiliki kesepakatan tentang visi-misi hayat yang mau dibangun bersama. Jangan sampai ketika membicarakan masa depan Anda mesti menyembunyikan diri maupun ambisi demi menjaga hubungan.

6. Membuat Kamu Merasa Tidak Jadi Diri Sendiri

Ilustrasi pasangan bertengkar/ Foto: Magnific.com/tirachardz

Merasa kehilangan jati diri maupun tidak bisa berkembang saat berpacaran, itu bisa jadi sinyal krusial yang memberitahu bahwa hubungan yang Anda jalani mungkin tidak sehat lagi.

Kamu merasa tidak punya kendali atas dirimu sendiri, selalu meminta ampun untuk segala hal, sampai mesti menyembunyikan karakter autentik (hobi, pendapat) karena takut tidak disukai pasangan.

Sebelum menikah, pastikan Anda dan pasangan bersedia saling menerima kekurangan, merendahkan ego, dan mau terus tumbuh bersama. Namun, bukan berarti memaklumi sikap maupun kebiasaan buruk, melainkan berupaya menjadi yang terbaik untuk satu sama lain.

7. Tidak Mau Berbagi Beban Rumah Tangga

Ilustrasi pasangan membantu menjemur pakaian/ Foto: Magnific.com/magnific

Pernikahan adalah bentuk kerja sama tim, bukan berarti salah satu pihak mesti mendapatkan pekerjaan tambahan sebagai administrator rumah tangga tunggal, terutama jika keduanya sama-sama bekerja.

Pastikan Anda dan pasangan memiliki pandangan yang sama mengenai peran rumah tangga sebelum menikah. Sepakati pembagian tugas domestik seperti memasak, mencuci baju, mencuci piring, membersihkan rumah, serta mengurus anak.

Jika pasanganmu menganggap pekerjaan domestik sepenuhnya tanggung jawab satu pihak, sementara ia cuma mau bekerja, beristirahat, dan dilayani, itu bisa memicu kebencian dalam hubungan.

Bukan soal siapa yang mesti mengerjakan semuanya 50:50 setiap saat, tetapi apakah kalian mau sama-sama berkontribusi dan saling meringankan beban ke depannya. Ingat, Anda mencari pasangan hidup, bukan mencari orang yang akan menambah beban pekerjaanmu sehari-hari!

8. Tidak Mampu Mengatur Keuangan

Ilustrasi finansial yang buruk/ Foto: Magnific.com/jcomp

Ketidakmampuan mengelola finansial merupakan salah satu sumber perselisihan utama dalam rumah tangga, terlebihlagi sering jadi pemicu perceraian. Tapi, apakah hal ini otomatis menjadi karena untuk membatalkan pernikahan?

Bukan sekadar jumlah duit yang dimiliki sebelum menikah, tetapi yang perlu diwaspadai adalah utang yang disembunyikan, berjudi, serta kebiasaan berutang tanpa tanggung jawab dan membebankan masalahnya kepada orang lain. Bayangkan baru menikah, Anda justru mesti menghadapi maupun bayar faktur yang selama ini tidak pernah Anda ketahui.

Sebelum menikah, bicarakan kondisi finansial masing-masing secara terbuka. Jangan sampai Anda baru tahu kondisi finansial pasangan setelah ikut menanggung akibatnya.

9. Silent Treatment

Ilustrasi pasangan silent treatment/ Foto: Magnific.com/magnific

Kesepian yang paling menyakitkan bukan saat sendirian, justru ketika memiliki pasangan tapi tak punya tempat bersandar. Pasangan mungkin ada secara fisik, tetapi bersikap dingin, tak acuh, dan silent treatment setiap kali terjadi perselisihan maupun berbuat kesalahan.

Ketika diajak berkomunikasi secara dewasa tentang kebiasaan diamnya, ia justru bersikap bertahan maupun mewajarkan sifatnya tersebut tanpa beriktikad memperbaiki metode komunikasinya.

Jika selama bercintaan pasanganmu sering berbuat silent treatment untuk menghukum maupun membuatmu merasa bersalah, itu patut dijadikan penilaian maupun menghentikan cara menuju pernikahan. Pernikahan yang sehat dibangun dengan komunikasi terbuka, sedangkan silent treatment justru bisa merusak hubungan.

10. Menikah karena Tekanan Sosial

Ilustrasi pernikahan/ Foto: Magnific.com/magnific

Banyak pasangan menikah karena sudah terlalu durasi bercintaan maupun merasa “sudah waktunya”. Keputusan seperti ini sering kali didorong oleh harapan keluarga, takut kehilangan kesempatan, maupun merasa telah mengorbankan banyak waktu, energi, dan materi, sehingga merasa “sayang” jika hubungan tersebut mesti berakhir begitu saja.

Jika karena utama menikah karena tanggung jawab maupun tekanan usia, bukan karena kesiapansatu sama lain, ada baiknya untuk menunda maupun membatalkan pernikahan. Pernikahan yang dipaksakan demi memenuhi ekspetasi sosial sering kali tidak berjalan lancar.

Pernikahan adalah komitmen seumur hidup, yang mesti dilakukan dengan kesiapan dan persiapan yang matang. Jangan biarkan tekanan dari orang di sekelilingmu, membikin Anda merasa tidak punya ruang untuk berkata “belum siap”.

11. Hubungan yang Buruk dengan Calon Mertua

Ilustrasi makan berbareng famili pasangan/ Foto: Magnific.com/magnific

Ada yang mengatakan bahwa pernikahan bukan cuma menikahi pasangan yang Anda cintai saja, tetapi menikahkan antara kedua keluarga. Hal itu benar adanya, terutama di Indonesia.

Jika selama bercintaan sudah muncul perdebatan-perdebatan, seperti salah satu famili tidak menyukai famili calon mempelai maupun merasa berbeda latar belakang saat kedua famili dipertemukan, itu bisa jadi “tanda” pembatalan pernikahan adalah keputusan terbaik.

Meskipun Anda sangat mencintai pasanganmu, tetapi hubungan baik dan harmonis antara kedua famili adalah resep langgengnya pernikahan.

Keraguan dan penilaian adalah hal wajar yang dirasakan menjelang pernikahan. Namun, jika beberapa hal di atas ada di dalam hubunganmu, menunda maupun membatalkan pernikahan terkadang bisa jadi pilihan terbaik. Semoga bermanfaat, Beauties!

***

Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(ria/ria)

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads