Membacakan dongeng sebelum tidur merupakan salah satu metode yang bisa dilakukan untuk menghabiskan waktu berbareng Si Kecil di sela-sela kesibukan. Dari kebiasaan membacakan dongeng pada anak sama dengan mengenalkan beragam harga hayat pada anak.
Ada banyak tema dongeng, seperti petualangan, persahabatan, sejarah, hingga cinta dan kasih sayang. Dongeng dengan tema cinta dapat mengajarkan anak tentang ketulusan, kepedulian, kesetiaan, dan krusial rasa kasih sayang terhadap sesama.
Nah, jika Bunda sedang mencari dongeng sebelum tidur, berikut 15 dongeng romantis sebelum tidur tentang cinta dan kasih sayang. Dikutip dari ensiklopedia dongeng anak paling populer, detikcom, Dongeng Dunia dan Aktivitas Anak Cerdas, dan Dongeng Anak Dunia.
15 Dongeng romantis sebelum tidur tentang cinta dan kasih sayang, penuh pesan moral
Berikut selengkapnya:
1. Keong Mas
Dahulu kala, di kerajaan Daha, hiduplah dua putri cantik disebut Dewi Galuh dan Candra Kirana. Candra Kirana kemudian dilamar oleh Raden Inu Kertapati di Kerajaan Kahuripan. Karena iri, Dewi Galuh meminta pertolongan penyihir untuk mengubah Candra Kirana menjadi keong mas dan meminta untuk membuangnya ke laut.
Lalu penyihir mengabulkan permintaan Dewi Galuh. Keong mas yang sudah dibuang ke laut kemudian ditemukan oleh seorang buyut baik hati. Nenek tersebut langsung membawanya pulang dan merawatnya. Tanpa sepengetahuan nenek, setiap kali ia pergi, keong mas berubah menjadi Candra Kirana yang selalu membantu membereskan rumah.
Suatu hari buyut mengetahui hal tersebut dan menceritakan semua yang terjadi. Sementara itu, Raden Inu Kertapati terus mencari Candra Kirana hingga akhirnya ia menemukan keberadaannya.
Dengan pertolongan seorang pertapa, kutukan Candra Kirana akhirnya berhasil dipatahkan dan balik menjadi manusia. Kemudian mereka berdua menikah dan sang buyut yang merawatnya juga ikut tinggal berbareng mereka di istana.
2. Jaka Tarub dan Nawang Wulan
Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda disebut Jaka Tarub yang dikenal rajin, berbakti, dan gemar berburu. Setelah ibu angkatnya, Mbok Randa, meninggal, ia cuma hidup seorang diri dan belum terpikir untuk menikah.
Suatu hari, saat berburu di hutan Jaka Tarub mendengar bunyi perempuan dari sebuah sungai. Ia melihat tujuh perempuan cantik yang rupanya adalah bidadari dari kayangan. Jaka Tarub terpikat dengan salah satu dari himpunan tersebut, ia disebut Nawang Wulan.
Jaka Tarub memungut dan menyembunyikan selendangnya agar Nawang Wulan tidak dapat balik ke kayangan. Karena tidak berhasil menemukan selendangnya, Nawang Wulan terpaksa tinggal di bumi. Jaka Tarub kemudian menawarkan pertolongan hingga keduanya menjadi dekat dan menikah.
Mereka hidup ceria dan memiliki seorang putri. Nawang Wulan memiliki kesaktian yang membuatnya bisa menanak nasi cuma dengan satu butir beras. Karena itu, cadangan padi famili mereka tidak pernah habis.
Suatu hari Nawang Wulan pergi ke sungai dan berpesan pada Jaka Tarub agar tidak membuka periuk nasi yang sedang ditanak. Namun, karena penasaran Jaka Tarub melanggar ketentuan tersebut. Ia melihat kesaktian Nawang Wulan dan sejak saat itu kesaktiannya hilang.
Nawang Wulan akhirnya mesti menanak nasi seperti manusia biasa. Suatu hari, cadangan padi mereka pun perlahan berkurang. Saat memungut beras di lumbung, Nawang Wulan menemukan selendang yang selama ini disembunyikan Jaka Tarub.
Akhirnya, ia mengetahui jika suaminya telah berbohong. Kecewa dengan aksi suaminya, Nawang Wulan memutuskan untuk balik ke kayangan dan menitipkan putrinya pada suaminya. Ia berikrar akan turun ke bumi setiap malam untuk menyusui anak mereka dengan syarat Jaka Tarub tidak boleh mengintipnya. Kali ini Jaka Tarub menyesali perbuatannya dan memilih untuk mematuhi pesan tersebut.
3. Dua Bersaudara yang Saling Mengasihi
Di sebuah desa kecil di Korea, hiduplah dua berkerabat yang saling mengasihi. Walaupun sudah memiliki hayat masing-masing mereka statis saling memperhatikan satu sama lain.
Masing-masing dari mereka, memiliki satu petak sawah warisan dari orang tua mereka. Saat musim gugur tiba, hasil panen mereka selalu melimpah. Di suatu malam sang kakak teringat bahwa adiknya baru saja menikah dan memiliki banyak kebutuhan. Ia pun mau membantu dengan memberikan satu karung beras secara diam-diam karena ia tahu adiknya mungkin akan menolak jika ditawari langsung.
Keesokan harinya sang kakak heran karena jumlah beras di lumbungnya tidak berkurang. Malam berikutnya ia balik membawa sekarung beras untuk adiknya. Di tengah perjalanan, ia berjumpa dengan seseorang yang rupanya adalah adiknya.
Rupanya, sang adik juga sedang membawa sekarung beras untuk diberikan kepadanya. Mereka pun tertawa berbareng karena itulah karena kenapa beras di lumbung adiknya tidak pernah berkurang, Ternyata kakak dan adik ini sama-sama mau memberikan sekarung beras. Sungguh dahsyat rasa kasih sayang di antara dua berkerabat itu. Mereka begitu saling perhatian satu sama lain.
4. Kasih Sayang Terhadap Sesama
Jean dan Jacques tengah berlibur di desa buyut mereka. Akan tetapi, Jean dan Jacques cuma bermain di rumah karena sedang turun salju yang lebat. Saking lebatnya, butiran salju kelihatan seperti kapas yang melayang di udara.
Memasuki siang hari, salju mulai reda. Melihat itu, mereka meminta persetujuan kepada buyut mereka untuk membikin boneka salju. Setelah mendapat persetujuan dari nenek, mereka pun akhirnya bermain keluar dan saling melempar bola salju dan membikin boneka salju.
Secara tak sengaja, Jean melihat dua ekor burung yang menggigil kedinginan. Burung itu hinggap di cabang pohon cemara tidak jauh dari halaman rumah bermain mereka. Karena merasa iba mereka berdua bergegas berlari ke dalam rumah untuk memungut semangkuk jagung yang telah dihaluskan.
Mereka kemudian meletakkan semangkuk jagung itu di bawah pohon cemara dan memancing fauna tersebut. Seolah mengerti dengan bahasa isyarat Jean dan Jacques, kedua burung tersebut memakan jagung yang diberikan dengan lahap. Seusai memakan jagung, dua burung itu balik ke atas cabang pohon sambil mengicaukan bunyi yang indah. Mungkin sebagai bentuk rasa terima kasih kepada Jean dan Jacques dalam bahasa burung.
5. Menghargai Jasa Orang Lain
Seekor burung merasa kesunyian karena cuma dirinya yang tidak bisa terbang. Ia cuma bisa berjalan menyusuri hutan. Di tengah perjalanan, ia menemukan sebutir telur di tengah hutan.
Karena mengira telur itu ditinggalkan, ia memutuskan untuk mengeraminya hingga menetas. Kemudian burung itu mengerami telur tersebut.
Setelah sekian lama, telur itu menetas dan keluarlah seekor anak elang. Burung kesunyian terkejut karena telur yang direaminya adalah telur elang. Namun, ia statis bahagia dan memberi perhatian yang luar biasa, ia merawatnya hingga burung elang tersebut tumbuh dengan sehat.
Suatu hari burung elang bertanya sepertiapa caranya agar bisa terbang, namun induk burung bingung menjawabnya. Sang induk pun mengaku tidak bisa mengajarinya terbang, tetapi ia mendorongnya untuk terus mencobanya sendiri.
Perlahan burung elang belajar terbang meskipun dalam prosesnya mengalami jatuh bangun. Akhirnya, ia bisa terbang terlebihlagi terbangnya semakin tinggi dan mahir. Dalam diam, induk burung merasa sedih karena sebentar lagi anaknya akan terbang meninggalkannya. Anak elang yang memperhatikan raut wajah induknya pun merasakan kesedihan yang sama.
Lalu anak elang berpikir, “Aku lahir ke bumi karena ibu mengeraminku. Jika aku terbang meninggalkannya, kasih sekali ibuku. Aku memutuskan untuk menemani ibuku sampai batas usianya.”
Akhirnya anak elang tinggal bersamanya dan sang induk pun merasa bahagia karena anaknya tidak terbang melintasi bumi luar dan meninggalkannya. Bahkan sampai batas usia pun, induk burung tidak akan kesepian.
6. Putri Tandampalik
Dahulu kala, hiduplah seorang putri dari kerajaan daerah Luwu disebut Putri Tandampalik. Ia merupakan putri Datu Luwu yang dikenal cantik dan baik hati.
Raja Bone kemudian beriktikad menikahkan putranya dengan sang Putri, dan mengirim utusan untuk melamarnya. Meski awalnya ragu karena kebiasaan Luwu melarang perempuan menikah dengan pemuda dari negeri lain, Datu Luwu akhirnya menerima lamaran tersebut demi menghindari peperangan.
Tak durasi kemudian, Putri Tandampalik menderita pandemi kulit yang menular dan tidak dapat disembuhkan oleh tabib kerajaan. Demi melindungi rakyatnya, Datu Luwu terpaksa mengasingkan putrinya ke tempat yang jauh. Sebelum berpisah, ia memberikan sebilah keris sebagai tanda bahwa ia statis menyayangi dan tidak melupakan putrinya.
Putri Tandampalik kemudian menetap berbareng para pengawalnya di sebuah daerah yang kelak dikenal sebagai Wajo. Suatu hari, seekor kerbau putih menjilati kulitnya dan secara ajaib pandemi sang putri pun sembuh.
Karena merasa berhutang budi, Putri Tandampalik melarang siapa pun menyembelih maupun memakan kerbau putih. Pada suatu malam, putra mahkota Bone tersesat ketika berburu dan menemukan tempat tinggal Putri Tandampalik. Mereka akhirnya berkenalan dan saling menyukai.
Saat balik ke Bone, putra mahkota terus teringat pada Putri Tandampalik hingga akhirnya meminta ayahnya untuk melamarnya. Ketika utusan Bone datang ke Wajo, Putri Tandampalik memberikan keris pemberian ayahnya dan meminta putra mahkota membawanya kepada Datu Luwu.
Jika sang bapak menerima keris tersebut, ia bersedia menerima lamaran sang putra mahkota. Putra mahkota kemudian mendatangi Datu Luwu dan menceritakan semua yang terjadi. Datu Luwu pun menerima keris itu dan menjemput Putri Tandampalik. Beberapa tahun kemudian, keduanya akhirnya menikah di Wajo dan tidak durasi putra mahkota Bone menjadi raja.
7. Lutung Kasarung
Kisah ini dimulai ketika Prabu Tapa Agung, seorang raja di tanah pasundan memiliki dua orang putri disebut Purbarang dan Purbasari. Suatu hari, raja menetapkan Purbasari sebagai ratu kerajaan. Penetapan tersebut membikin Purbarang kecewa karena ia merupakan anak sulung.
Dari frustrasi tersebut, ia meminta penyihir untuk membikin wajah dan sekujur tubuh Purbasari dipenuhi bintik-bintik hitam. Setelah melihat fluktuasi tersebut Purbarang pun berkata, “Orang yang dikutuk seperti dia tidak layak jadi ratu!”. Akhirnya Prabu Tapa Agung mengusir Purbasari ke hutan belantara.
Selama tinggal di hutan, Purbasari berkawan dengan seekor Lutung Kasarung, sejenis kera berambut lebat yang berwarna hitam legam dengan ekor panjang. Setiap harinya Lutung menghiburnya dengan memberikan bunga elok dan buah-buahan lezat. Di saat bulan purnama, lutung menyuruh Purbasari untuk mandi di sebuah telaga. Saat mandi, kulit Purbasari berubah menjadi bersih seperti semula, ia pun tidak bisa menutupi kegembiraannya.
Suatu hari, Purbarang balik ke hutan untuk melihat kondisi adiknya. Namun, benar-benar terkejutnya ia ketika melihat Purbasari. Ia kemudian mengatakan jika seorang ratu mesti memiliki suami yang ganteng dan saat itu, Purbarang sudah memiliki calon suami. Purbasari spontan menarik tangan Lutung Kasarung dan Purbarang cuma tertawa dan mengejeknya.
Pada saat itu juga, Lutung Kasarung berubah menjadi seorang pangeran yang sangat tampan. Purbarang kemudian meminta maaf pada adiknya agar tidak dihukum. Dengan kebaikan hatinya, Purbasari memaafkannya dan balik ke istana berbareng dengan pangeran tampan.
8. Jayaprana dan Layonsari
Pada era dulu, pandemi dahsyat melanda Desa Kalianget, Bali, hingga cuma seorang bocah disebut Jayaprana yang selamat. Ia kemudian dirawat di istana dan tumbuh menjadi pemuda yang tampan, rajin, setia, dan dapat dipercaya oleh istana.
Ketika dewasa, Jayaprana jatuh cinta pada Ni Layonsari, seorang gadis yang dikenal halus dan baik hati. Keduanya kemudian menikah dengan restu raja dan hidup bahagia.
Namun, kebahagiaan mereka tidak terjadi durasi karena sang raja justru terpikat pada Layonsari. Raja kemudian mengirim Jayaprana ke Teluk Terima, dengan karena menjalankan tugas kerajaan.
Sesampainya di sana, Jayaprana baru menyadari bahwa tugas tersebut hanyalah jebakan. Para pengawal kerajaan diberi tugas untuk membunuhnya. Meskipun mengetahui dirinya dikhianati, Jayaprana statis menerima nasibnya karena merasa memiliki utang budi kepada raja.
Setelah mendengar kematian suaminya, Layonsari sangat berduka dan menolak keinginan raja yang mau menikahinya. Layonsari memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan keris karena tidak mau bercerai dengan Jayaprana. Kisah Jayaprana ini dikenang oleh penduduk Bali sebagai lambang kesetiaan dan cinta yang kuat.
9. Lalihote dan Putri Kayangan
Pada era dulu, hiduplah seorang pemuda disebut Lalihote di Gorontalo. Suatu hari, saat berburu di hutan, ia menemukan tujuh putri kayangan yang sedang mandi di sebuah telaga. Lalihote kemudian menyembunyikan selendang bersayap milik Boilode Hulawa, putri termuda, sehingga ia tidak bisa balik ke kayangan.
Lahilote menawarkan pertolongan dengan membujuk Boilode untuk tinggal bersamanya. Keduanya pun menikah dan hidup bersama. Namun, Boilode statis menyimpan harapan untuk balik ke kayangan. Ia kemudian menemukan selendangnya dan terbang balik ke kayangan saat suaminya pergi.
Mengetahui hal itu, Lahilote berupaya menyusulnya dengan pertolongan pohon rotan ajaib disebut Hutia Mala. Setelah melewati banyak rintangan, akhirnya Lahilote berjumpa dengan Boilode dan hidup berbareng untuk sementara waktu. Namun, ketika Lahilote mulai menua, ia tidak dapat tinggal di kayangan dan Boilode berupaya membawanya balik ke bumi dengan rambutnya. Sayangnya, rambut Boilode terputus di tengah perjalanan dan Lahilote pun terjatuh balik ke bumi.
10. Danau Toba
Dahulu kala, hiduplah seorang petani disebut Toba di Sumatera Utara. Suatu hari, saat sedang memancing di sungai, ia mendapatkan seekor ikan besar yang rupanya bisa berbicara. Ikan tersebut memohon agar tidak dimakan dan ia pun melepaskannya balik ke sungai.
Tak durasi kemudian, ikan itu berubah menjadi seorang perempuan cantik. Ia mengaku sebagai putri yang terkena kutukan dan bersyukur karena Toba telah membebaskannya. Ia kemudian bersedia menjadi istri Toba dengan syarat Toba tidak boleh menceritakan bahwa istrinya berasal dari seorang ikan.
Toba menyetujui syarat tersebut dan mereka hidup bahagia. Beberapa bulan kemudian, mereka dikaruniai seorang anak lelaki disebut Samosir. Anak itu tumbuh menjadi anak yang kuat, tetapi memiliki kebiasaan makan yang sangat banyak.
Suatu hari, Samosir diminta ibunya untuk mengantarkan makanan kepada ayahnya yang sedang bekerja di sawah. Namun, ia justru menghabiskan seluruh makanan tersebut dan tertidur di perjalanan.
Mengetahui makanannya telah habis, Toba sangat berang pada anaknya. Toba kemudian tanpa sadar mengatakan Samosir “anak ikan”. Ucapan itu berarti ia melanggar ikrar pada istrinya. Dalam sekejap, Samosir dan ibunya pun menghilang. Dari tempat Samosir berada, ia membanjiri daerah tersebut dan membentuk sebuah telaga yang kemudian dikenal sebagai Danau Toba.
11. Ande-ande Lumut
Pada era dahulu kala, kerajaan Jenggala dan Kediri sepakat menyatukan kerajaan melalui pernikahan Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji. Tujuannya adalah untuk menghindari adanya peperangan diantara mereka.
Namun, kerajaan Jenggala tiba-tiba diserang lawan dan saat perang terjadi, Sekartaji melarikan diri. Ia kemudian berjumpa dengan seorang janda kaya raya disebut Nyai Intan dan ketiga putrinya yang cantik dan genit, yaitu Klenting Abang (sulung), Klenting Ijo, dan Klenting Biru (bungsu). Dewi Sekartaji diangkat menjadi anaknya, kemudian diberi nama Klenting Kuning.
Ketika hidup berbareng Nyai Intan, Klenting Kuning sering diperlakukan kasar, tetapi ia statis sabar dan baik hati. Sementara itu, Panji Asmarabangun mencari istrinya dan menyuruh pengawal untuk mencarinya. Akan tetapi, pengawal tersebut cuma menemukan perempuan yang mirip dengan istrinya di desa Dadapan.
Penasaran dengan hal tersebut, Panji menyamar sebagai pemuda ganteng disebut Ande-Ande Lumut dan mengadakan sayembara untuk menemukan gadis yang akan menjadi permaisurinya. Mendengar sayembara itu, ketiga putri Nyai Intan segera pergi mengikuti sayembara. Klenting Kuning awalnya tidak ikut karena statis setia menunggu Panji. Namun, datanglah seekor burung bangau yang memberinya cambuk dan menyuruhnya pergi ke Desa Dadapan karena ia akan berjumpa dengan suaminya.
Dalam perjalanan ia berjumpa dengan kepiting raksasa disebut Yuyu Kangkang yang menawarkan bantuan, tetapi meminta gadis itu menciumnya sebagai syarat. Ketiga putri Nyai Intan menyetujuinya sedangkan Klenting Kuning menolak karena tidak mau mengingkari suaminya.
Dengan cambuk dari burung bangau, Klenting Kuning membikin air sungai surut dan berhasil menyeberang. Saat sayembara dimulai Ande-Ande Lumut tidak tertarik dengan ketiga putri Nyai Intan, ia justru memilih Klenting Kuning karena berhasil menjaga kesetiaannya. Ande-Ande Lumut membuka penyamarannya dan keduanya akhirnya bergabung balik dan hidup bahagia.
12. Roro Jonggrang
Konon, di Jawa Tengah terdapat dua kerajaan yang bertetangga, yaitu Pengging dan Baka. Kerajaan Pengging dipimpin oleh Prabu Damar Maya yang memiliki putra disebut Bandung Bondowoso.
Sementara kerajaan Baka dipimpin oleh Prabu Baka, seorang raksasa pemakan manusia yang memiliki putri disebut Roro Jonggrang. Prabu Baka menyerang kerajaan Pengging untuk memperluas wilayahnya, namun dilawan oleh Bandung Bondowoso yang akhirnya berhasil mengalahkan Prabu Baka.
Setelah itu, Bandung Bondowoso menyerbu kerajaan Baka dan berjumpa Roro Jonggrang. Seketika ia tiba-tiba jatuh cinta dan mau menikahinya. Roro Jonggrang menolak, karena ia telah membunuh ayahnya. Karena terus didesak, ia akhirnya menerima lamarannya dengan dua syarat yaitu membikin sumur Jalatunda dan membangun seribu candi dalam semalam.
Bandung Bondowoso berhasil membikin sumur tersebut. Kemudian ia meminta pertolongan makhluk halus untuk membangun seribu candi. Saat hampir selesai, Roro Jonggrang berupaya untuk menggagalkannya dengan metode memerintahkan para dayang menumbuk padi dan membakar jerami agar kondisi kelihatan seperti pagi hari. Mengira matahari segera terbit, para makhluk halus melarikan diri dan cuma berhasil membangun 999 candi.
Mengetahui dirinya ditipu, Bandung Bondowoso berang dan mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca sehingga Roro Jonggrang pun menjadi candi ke-1000. Kisah ini dikaitkan dengan Candi Sewu di Kompleks Candi Prambanan, Jawa Tengah.
13. Timun Mas
Dahulu kala, tersebutlah seorang janda yang hidup sebatang kara. Wanita yang dekat disapa Mbok Randa itu sudah durasi menginginkan anak untuk menemani hidupnya. Lalu munculah seorang raksasa, ia mengetahui keinginan Mbok Randa dan berikrar untuk mewujudkannya.
Raksasa itu memberikan biji mentimun kepada Mbok Randa dan menyuruhnya untuk menanamnya. Kelak, dia akan menemukan sesosok bayi di dalamnya.
Mbok Randa kemudian menanam dan merawatnya dengan baik. Di antara banyaknya buah, ada satu mentimun yang berukuran besar berwarna kuning keemasan. Saat dipetik, terdapat bayi imut-imut didalamnya. Dirawatlah bayi tersebut dengan penuh kasih sayang hingga tumbuh menjadi anak yang cantik disebut Timun Mas.
Namun, raksasa datang menagih janjinya. Mbok Randa keberatan jika Timun Mas diambil oleh raksasa itu untuk dimakan. Ia lantas meminta raksasa untuk bersabar hingga dua tahun lagi agar lebih matang dan enak untuk dimakan sebagai alasan.
Setelah itu, Mbok Randa akhirnya pergi menemui seorang petapa, dan sang petapa memberi beberapa bungkusan berisi biji mentimun, jarum, garam, dan terasi. Benda tersebut nantinya bisa untuk menangkal kejahatan raksasa tersebut.
Dua tahun kemudian, raksasa balik menagih janji. Mbok Randa menyuruh Timun Mas lari sambil membawa bungkusan pemberian petapa sakti. Saat raksasa itu mengejarnya, Timun Mas mengeluarkan bungkusan berisi biji mentimun. Ajaibnya, pohon mentimun tersebut tiba-tiba tumbuh dan melilit tubuh raksasa. Namun, raksasa berhasil membebaskan diri dan balik mengejar Timun Mas.
Ketika rentang semakin dekat, Timun Mas mengeluarkan bungkusan jarum dari petapa dan menyebarkannya. Seketika, tumbuh hutan bambu lebat yang menghalangi cara raksasa. Namun, raksasa itu berhasil melewatinya dan balik mengejar Timun Mas.
Lalu, ia menyebarkan garam yang berubah menjadi lautan. Meski begitu, raksasa statis bisa menyeberang. Dengan senjata terakhir, Timun Mas menyebarkan terasi. Seketika terbentuk lautan lumpur yang membikin raksasa terjebak dan akhirnya tenggelam. Timun Mas pun berhasil melarikan diri dan balik pulang untuk hidup ceria berbareng Mbok Randa.
14. Sandubaya dan Lala Seruni
Pada era dulu, kerajaan Lombok dipimpin oleh Prabu Kertajaya. Di kerajaan itu, hiduplah pasangan muda Sandubaya dan Lala Seruni yang baru menikah. Lala Seruni populer karena kecantikannya hingga membikin Prabu Kertajaya terpikat padanya saat di Pura Kayangan. Mengetahui Lala Seruni bersuami, Prabu Kertajaya mau memilikinya. Ia kemudian membujuk Sandubaya berburu ke Hutan Gebong. Saat Sandubaya berburu, seorang prajurit kemudian menikamnya dari belakang hingga tewas. Anjingnya yang disebut Getah juga dibunuh, sementara kudanya, Gagak Mayang, berhasil melarikan diri.
Lala Seruni melihat Gagak Mayang pulang sendirian kemudian ia segera pergi ke hutan dan menemukan suaminya telah meninggal. Prabu Kertajaya kemudian menjemput Lala Seruni ke istana dengan karena mau membantunya. Setibanya di istana, ia membujuk Lala agar mau menikah dengannya, tapi Lala Seruni terus menolak dan mengurung diri di kamar.
Beberapa hari kemudian, Lala Seruni bersedia menikah dengan satu syarat, yaitu ia mau mandi di Pantai Menanga Baris. Sesampainya di pantai ia meminta diambilkan teratai merah besar yang muncul dari laut.
Ketika para prajurit mengambilnya, mereka diserang ikan galak hingga Prabu Kertajaya terluka. Teratai tersebut mendekati Lala Seruni. Ia naik ke atasnya dan dibawa ke tengah laut hingga akhirnya menghilang. Menurut cerita, Lala Seruni pergi ke lingkungan arwah untuk berjumpa dengan Sandubaya.
Kematian Sandubaya membikin kakaknya, Demung Brangbantun berang dan menyerang Prabu Kertajaya dan pertempuran akhirnya dimenangkan oleh Demung Brangbantun. Setelah itu, Prabu Rangkasari naik takhta dan memilih berbaikan sehingga kerajaan Lombok hidup tenteram.
15. Kesetiaan seorang istri
Prabu Asvapatu adalah raja dari kerajaan Madraka yang bijaksana. Ia memiliki putri disebut Savitri yang cantik dan baik hati. Banyak pangeran datang melamarnya, tetapi Savitri menolak semuanya.
Hingga suatu hari, ia pergi mengembara untuk mencari jodohnya sendiri. Dalam perjalanan, Savitri berjumpa dengan Satyawan, seorang pemuda ganteng dan sopan. Keduanya kemudian saling menyukai.
Satyavan rupanya adalah seorang putra mahkota Kerajaan Salva yang hidup di hutan berbareng ayahnya, Resi Dyumatsena, setelah kerajaan mereka direbut musuh. Savitri pun meminta restu ayahnya untuk menikah dengan Satyavan. Namun Dewa Batara Narada memperingatkan bahwa Satyavan cuma memiliki waktu satu tahun untuk hidup. Mengetahui hal tersebut, Savitri statis memilih menikah dengannya. Selama tinggal di hutan, Savitri selalu setia mendampingi suaminya dan berdoa agar mereka statis bersama.
Setahun kemudian, Batara Yama, dewa kematian, datang untuk memungut nyawa Satyavan. Savitri tidak menyerah, ia kemudian mengikuti Batara Yama sambil memohon agar suaminya diberi kesempatan untuk hidup kembali. Karena melihat kesetiaan dan ketulusan Savitri, Batara Yama memberinya beberapa permintaan. Awalnya, Savitri meminta agar penglihatan mertuanya dipulihkan dan kerajaan Salva dikembalikan. Setelah itu, ia meminta agar dapat hidup berbareng Satyavan lebih durasi karena statis mau mengabdi kepada suaminya. Batara Yama pun mengabulkan permintaan tersebut.
Permintaan Savitri rupanya membikin Batara Yama tidak dapat memungut nyawa Satyavan. Akhirnya, Savitri dan Satyavan dapat hidup berbareng dengan bahagia. Mereka kemudian dikaruniai banyak keturunan, dan setelah Resi Dyumatsena wafat, Satyavan menjadi raja Kerajaan Salva.
Itulah 15 dongeng romantis sebelum tidur tentang cinta dan kasih sayang yang penuh dengan pesan moral. Semoga membantu, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)