Sebagian besar anak-anak kita tumbuh dalam lingkungan yang cukup terbatas. Namun, dengan membacakan cerita kepada anak-anak, kita dapat menunjukkan kepada mereka tempat-tempat yang jauh, orang-orang luar biasa, dan situasi yang membuka mata untuk memperluas dan memperkaya bumi mereka.
Membaca cerita juga bisa menjadi langkah yang bagus untuk membantu mereka menghadapi situasi kehidupan nyata yang memerlukan bantuan, Bunda.
Dikutip dari BBC, para peneliti telah menemukan bahwa kegiatan otak yang terjadi ketika kita membaca fiksi sangat mirip dengan mengalami situasi tersebut dalam kehidupan nyata, sehingga membaca tentang suatu situasi membantu anak-anak mencari langkah untuk menyelesaikannya dalam kehidupan nyata.
Selain itu, menurut Emma Dineen, asisten penelitian di University of Connecticut, faedah membacakan cerita kepada anak-anak juga lebih dari sekadar mempererat ikatan dan menciptakan hubungan yang kuat. Cerita dapat membantu anak-anak meningkatkan pemahaman mereka tentang pikiran, empati, pengaturan diri, dan perkembangan literasi.
Dengan beragam faedah tersebut, membacakan cerita fiksi kepada anak dapat menjadi langkah yang menyenangkan sekaligus efektif untuk mendukung tumbuh kembang mereka. Melalui kisah-kisah yang menarik, anak tidak hanya terhibur, tetapi juga dapat belajar memahami nilai-nilai kehidupan, mengembangkan empati, serta melatih keahlian berpikir dan berbahasa, Bunda.
Diambil dari beragam sumber, ada 20 contoh cerita fiksi singkat dengan beragam tema yang penuh pesan moral yang bisa dibaca di sini.
1. Kisah Anjing Kecil Bernama Live
Keluarga Smith adalah family mini yang terdiri atas Bu Emily, Pak Peter, dan putri mungil mereka yang berumur 5 tahun, June. Mereka bertiga hidup sederhana dan bahagia.
June adalah anak kocak yang menyukai segala hal, selain anak anjing.
June selalu menangis alias memeluk orang tuanya ketika didekati oleh hewan piaraan kawan dan saudaranya. Bu Emily dan Pak Peter tak lenyap pikir kenapa putri mereka bisa takut pada hewan piaraan yang begitu menggemaskan.
Suatu hari, pulang dari sekolah, June merasa seperti ada seseorang alias sesuatu yang mengikutinya. June menengok ke belakang, rupanya ada seekor anak anjing liar menggemaskan yang mengikutinya.
Dia berupaya keras mengusirnya, tetapi tidak berhasil. Anak anjing itu terus mengikutinya sampai ke rumah. Saat Bu Emily membuka pintu, June langsung berlari dan berlindung di belakang ibunya. Bu Emily bertanya apakah dia baik-baik saja.
June pun bercerita tentang anak anjing yang mengikutinya dan sekarang tetap menunggu di laman depan.
Bu Emily meyakinkan putrinya bahwa anak anjing itu tidak bakal masuk ke dalam rumah. Namun, June bersikeras agar ibunya mengusir anak anjing itu. Anak anjing itu berlari, tetapi kemudian kembali lagi dan berlindung di kembali semak-semak.
Malam harinya, Bu Emily menceritakan kejadian itu kepada suaminya dan dia menanyakan keadaan June. Pak Peter meminta mereka agar berhati-hati lantaran itu anjing liar.
Keesokan paginya, June melangkah menuju halte bus dan terus menengok ke belakang untuk memeriksa apakah anak anjing itu tetap mengikutinya. June terus memandang ke belakang dan nyaris menyeberang jalan tanpa memandang kiri kanan.
Guk! Guk! Guk!
Tiba-tiba, dia mendengar bunyi anjing menggonggong dan memandang ada mobil yang melaju kencang ke arahnya. June hanya berdiri terpaku sampai dia memandang anak anjing yang kemarin itu berlari ke arahnya. Untungnya June langsung melangkah mundur dan lari menyelamatkan diri.
June mengambil jalan memutar saat pulang. Dia terkejut ketika memandang anak anjing yang sama mengibas-ngibaskan ekornya kegirangan saat melihatnya kembali. June lekas berlari ke rumahnya.
Dia memberi tahu ibunya tentang kejadian yang dia alami. Ibunya lega, June selamat berkah anak anjing yang memperingatkannya. Bu Emily mau menghadiahi anak anjing itu semangkuk susu.
Lalu dia keluar untuk mencarinya. Dia menemukan anak anjing itu sedang berlindung di kembali semak-semak dan membujuknya agar mau minum susu. Anak anjing itu pun alim dan meminumnya hingga tandas.
Bu Emily mengelus-elus anak anjing itu dan rupanya ada kalung nama di lehernya. Bu Emily membawa masuk anjing itu ke kandang mobil dan membuatkannya kendang sementara.
Malam harinya, Pak Peter coba mencari tahu. Rupanya anak anjing itu adalah milik seorang wanita tua yang baru saja meninggal.
Karena tidak ada family yang mau merawatnya, anak anjing itu pun dibiarkan berkeliaran. Bu Emily memberi tahu June bahwa sekaranglah saatnya jika dia mau berterima kasih kepada anak anjing itu.
Mereka bakal membawa anak anjing itu ke tempat penampungan besok. June tidak mau dan langsung pergi ke kamarnya.
Sepanjang malam, anak anjing itu terus melolong di garasi. Pak Peter berupaya menenangkannya, tetapi anjing itu betul-betul ketakutan. June bergegas turun ke garasi.
Saat anak anjing itu melihatnya, dia langsung berakhir melolong, mengibas-ngibaskan ekornya, dan berlari ke arah ayahnya. June ketakutan dan berlari ke arah ayahnya.
Pak Peter meyakinkan June bahwa anak anjing itu sangat menyukainya dan hanya mau bermain-main.
Anak anjing itu sangat senang berada di dekat June dan mengikutinya ke mana-mana. June merasa jengkel dan akhirnya mengelus-elusnya. Anak anjing itu mulai melompat-lompat dan June tidak bisa menahan gelak tawanya.
Keesokan harinya, ketika Bu Emily dan Pak Peter bersiap-siap membawa anak anjing itu ke tempat penampungan, mereka mendengar June bertanya kepada orang tuanya apakah anak anjing itu bisa tinggal berbareng mereka.
Orang tuanya bilang bahwa mereka mau sekali June mempunyai hewan peliharaan. Namun syaratnya, dia kudu memberi nama anak anjing mungil itu.
Karena anak anjing itu telah menyelamatkan hidupnya, June sudah memilih nama yang pas untuknya, ialah Live. Hidup pun mengisi hati June dan menjadi sahabat yang paling dia sayangi.
Pesan moral: Cerita fiksi tentang June dan anjing mini yang diberi nama Hidup mengajarkan bahwa rasa takut alias prasangka terhadap sesuatu tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Kebaikan dan ketulusan dapat datang dari siapa saja, apalagi dari makhluk yang awalnya kita hindari.
2. Cermin Ajaib
Suatu hari seekor Rusa sedih sekali dia tidak punya mainan cermin seperti teman- temannya; Tupai, Semut, dan Jerapah. Rusa beriktikad meminjam cermin milik Tupai, tetapi Tupai tidak memperbolehkannya.
Ketika Rusa meminjam cermin pada Jerapah, Jerapah menjawab, "Boleh, tapi kelak ya!"
Rusa pun semakin sedih, tetapi dia tidak kehilangan akal. la mengambil tali dan bermain loncat tali sendiri. Tiba-tiba terdengar bunyi barang jatuh ke air, rupanya cermin Tupai jatuh ke sungai.
Jerapah dan Semut tidak bisa berenang. Rusa mengusulkan diri. Tanpa berpikir panjang, Rusa menceburkan diri ke sungai.
Tiba-tiba Jerapah berteriak. "Awas, Rusa! Ada buaya di belakangmu!"
Rusa segera menyambar cermin Tupai di depannya dan berenang dengan sangat sigap menghindari Buaya. Hewan galak itu terus mengejar Rusa. Mulutnya terbuka lebar. Kaki Rusa sempat tersangkut bebatuan sungai. Tapi, dia terus berupaya menyingkirkan batu yang menghalanginya.
Jerapah, Semut, dan Tupai berteriak ketakutan memandang Buaya yang siap menerkam Rusa. Ketika Rusa nyaris ke pinggir, Jerapah dengan leher panjangnya cepat-cepat menyeret Rusa ke daratan. Selamat! Buaya pun kembali ke dalam sungai dengan kecewa.
Tupai pun berterima kasih pada Rusa, serta mengizinkan Rusa meminjam cerminnya sepuasnya.
Pesan moral: Cerita fiksi ini memberikan pesan moral bahwa kebaikan hati dan keberanian untuk menolong orang lain sangat berharga, apalagi ketika kita tidak selalu diperlakukan dengan baik. Rusa tetap membantu mengambil cermin Tupai meskipun sebelumnya tidak diizinkan meminjam cermin tersebut. Pada akhirnya, sikap tulus dan suka menolong bakal membawa kebaikan kembali kepada diri sendiri.
3. Dua Pangeran dan Peri Air
Alkisah seorang raja yang mempunyai dua orang putra yang berjulukan Pangeran Matahari dan Pangeran Bulan. Suatu hari, sang raja memanggil kedua putranya. Raja memerintahkan keduanya agar hidup di hutan. "Jika saya telah meninggal, kalian pulanglah dan pimpin kerajaan ini!" titah sang raja.
Kedua pangeran itu ke hutan. Lalu beristirahat di dekat sebuah kolam. Pangeran Matahari berbicara pada Pangeran Bulan agar adiknya itu mandi terlebih dulu dan mengambilkannya air dari kolam.
Ketika Pangeran Bulan mendekati kolam, datanglah Peri Air yang jahat, peri itu bertanya, "Seperti apakah peri yang baik itu?"
"Mereka seperti bintang dan bulan," jawab Pangeran Bulan.
Tidak puas dengan jawaban pangeran, Peri Air sembari menangkap Pangeran Bulan dan membawanya ke gua.
Pangeran Matahari cemas adiknya dalam ancaman lantaran tidak kunjung kembali. Ia mendatangi kolam sembari bersiaga. Peri Air pun menyamar menjadi seorang pencari kayu. Namun, pangeran Matahari tahu bahwa itu adalah Peri Air yang sedang menyamar.
Pangeran Matahari menuduh Peri Air menculik adiknya dan Peri Air mengaku. Ketika pangeran bertanya alasannya, Peri Air berbicara bahwa Pangeran Bulan tidak dapat menjawab pertanyaan yang dia berikan.
Pangeran Matahari pun menawarkan diri untuk menjawab pertanyaan Peri Air, dengan syarat peri kudu mengembalikan adiknya. Peri Air bertanya sekali lagi. "Seperti apakah peri yang baik itu?"
"Peri yang baik adalah peri yang mempunyai hati tulus dan takut melakukan dosa," seru Pangeran Matahari.
Peri Air terpukau dengan jawaban Pangeran Matahari. Akhirnya, Pangeran Bulan dibebaskan lantaran kepintaran Pangeran Matahari menjawab pertanyaan dari Peri Air.
Pesan moral: Cerita fiksi ini berpesan bahwa kebaikan sejati tidak dinilai dari penampilan, melainkan dari ketulusan hati dan perilaku yang baik. Selain itu, kepintaran dan kebijaksanaan dalam menghadapi masalah, dapat membantu menyelamatkan diri sendiri maupun orang lain.
3. Segelas Susu
Ada seorang anak laki-laki miskin yang menghabiskan hari-harinya dengan pergi dari rumah ke rumah dengan menjual surat kabar untuk membiayai sekolah. Suatu hari, saat dia berjalan, dia mulai merasa rendah diri dan lemah. Bocah malang itu kelaparan, jadi dia mulai meminta makanan di setiap rumah yang dia singgahi.
Anak laki-laki malang itu selalu ditolak sampai dia mencapai pintu seorang gadis muda. Ia meminta segelas air, namun memandang keadaannya yang memprihatinkan, gadis itu kembali dengan membawa segelas susu. Anak laki-laki itu bertanya berapa utangnya untuk susu tersebut, namun dia menolak pembayaran.
Bertahun-tahun kemudian, gadis tersebut sudah dewasa, jatuh sakit. Dia pergi dari master ke dokter, tapi tidak ada yang bisa menyembuhkannya. Akhirnya, dia pergi ke master terbaik di kotanya.
Dokter menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk merawatnya hingga akhirnya dia sembuh. Meskipun dia bahagia, dia takut dia tidak bisa bayar tagihannya. Tapi, ketika rumah sakit menyerahkan tagihannya, tertulis, “Dibayar penuh, dengan segelas susu.”
Pesan moral: Cerita fiksi ini memberi pesan bahwa sejatinya kebaikan yang dilakukan dengan tulus tidak bakal pernah sia-sia dan dapat kembali kepada kita pada waktu yang tak terduga. Menolong orang lain tanpa mengharapkan hadiah merupakan sikap mulia yang membawa faedah bagi banyak orang.
4. Kisah Semut dan Belalang
Seekor belalang yang menghabiskan musim panasnya dengan menyanyi dan bermalas-malasan. Sementara itu di sisi lain, koloni semut bekerja keras sepanjang musim panas untuk menyimpan persediaan makanan untuk musim dingin. Sang belalang menertawakan tindakan yang dilakukan koloni semut dan memberitahukan bahwa mereka semestinya menikmati musim panas.
Para semut lantas memberi tahu belalang bahwa dia kudu menyimpan makanan untuk musim dingin alias dia bakal kelaparan di saat semuanya bakal membeku.
Tibalah saat musim dingin, koloni semut berada di sarangnya, beristirahat dan memperkuat hidup dari persediaan makanan yang telah mereka simpan.
Kemudian belalang datang ke sarang mereka dalam kondisi lapar dan kedinginan. Ia meminta para semut untuk membagi makanannya dan mengatakan bahwa dia telah menyadari kesalahannya. Koloni semut pun membagi makanan dengan belalang dan membuatnya berjanji untuk bekerja keras selama musim panas mendatang untuk mengumpulkan dan menyimpan makanan.
Pesan moral: Belajar dari kisah semut dan belalang, bahwa kerja keras, disiplin itu sangat krusial untuk menghadapi masa susah di kemudian hari. Selain itu, sikap mau mengakui kesalahan dan belajar dari pengalaman dapat membantu kita menjadi lebih baik.
5. Itik Buruk Rupa
Cerita dimulai dari sebuah peternakan di mana seekor bebek duduk di atas cengkeraman telur untuk membuatnya menetas. Telur-telur itu menetas satu per satu dan tak lama kemudian, enam anak itik berbulu kuning berkicau dengan penuh semangat.
Telur terakhir memerlukan waktu yang lebih lama untuk menetas dan muncullah seekor anak itik yang tampak asing dengan bulu berwarna abu-abu. Semua orang menganggap itik abu-abu itu jelek, termasuk induknya.
Anak itik yang sedih tersebut lampau melarikan diri dan hidup sendirian di rawa hingga musim dingin tiba. Melihat seekor anak itik kelaparan, seorang petani mengasihani itik jelek rupa tersebut dan memberikan makanan serta tempat berlindung di rumah.
Namun, anak itik abu-abu itu takut kepada anak-anak petani yang ribut sehingga dia melarikan diri ke sebuah gua di tepi waduk yang membeku. Saat musim semi tiba, sekawanan angsa elok turun ke waduk dan anak itik itu sekarang sudah beranjak dewasa, namun dia merasa kesepian, saat hendak mendekati angsa dia sudah bersiap bakal ditolak. Namun mengejutkan, angsa menyambutnya.
Ia memandang bayangannya di air dan menyadari bahwa dia bukan lagi itik jelek rupa melainkan seekor angsa yang cantik. Angsa itu kemudian berasosiasi dengan kawanannya dan terbang berbareng family barunya.
Pesan moral: Cerita fiksi ini memberi pesan yang baik bahwa seseorang tidak boleh dinilai hanya dari penampilan luarnya saja. Ada keistimewaan yang mungkin belum terlihat.
6. Merkurius dan Penebang Kayu
Seorang penebang kayu sedang menebang pohon di tepi sungai, lampau kapaknya terlepas dari tangannya dan jatuh ke dalam air.
Saat dia sedang berdiri di tepi sungai dan meratapi kehilangannya, Merkurius muncul dan bertanya kenapa dia bersedih. Setelah mengetahui apa yang telah terjadi, lantaran iba atas kesedihannya, Merkurius menyelam ke dalam sungai, lampau muncul sembari membawa kapak emas, dia pun bertanya apakah itu kapak yang telah hilang.
Penebang kayu itu menjawab bahwa bukan. Merkurius kemudian menyelam untuk kedua kalinya, dan muncul lagi membawa kapak perak, dia bertanya apakah itu miliknya. "Tidak, itu juga bukan milikku," kata si Penebang Kayu. Sekali lagi Merkurius menyelam ke dalam sungai, dan muncul sembari membawa kapak yang hilang.
Si penebang kayu sangat ceria lantaran telah menemukan kembali hartanya, dia mengucapkan terima kasih kepada Merkurius dengan hangat atas kedermawanannya. Merkurius pun sangat senang dengan kejujuran si penebang kayu sehingga dia memberinya dua kapak lainnya.
Ketika si penebang kayu menceritakan kisah itu kepada teman-temannya, salah satu dari mereka dipenuhi dengan rasa iri atas keberuntungannya dan berkeinginan untuk mencoba peruntungannya sendiri.
Maka dia pun pergi dan mulai menebang pohon di tepi sungai, dan segera mengatur agar kapaknya jatuh ke dalam air.
Merkurius muncul seperti sebelumnya, dan, setelah mengetahui bahwa kapaknya telah jatuh, dia menyelam dan mengambil kapak emas, seperti yang telah dia dilakukan sebelumnya.
Tanpa menunggu untuk ditanya apakah itu miliknya alias bukan, orang itu berteriak, "Itu milikku, itu milikku," dan mengulurkan tangannya dengan penuh semangat untuk bingkisan itu.
Namun, Merkurius sangat muak dengan ketidakjujurannya sehingga dia tidak hanya menolak untuk memberinya kapak emas, tetapi juga menolak untuk mengambil kembali kapak yang telah dia jatuhkan ke sungai.
Pesan moral: Dari cerita fiksi ini, kita belajar bahwa kejujuran bakal membawa kebaikan dan penghargaan, sedangkan ketidakjujuran justru dapat mendatangkan kerugian. Selain itu, sifat iri hati dan keserakahan dapat membikin seseorang kehilangan apa yang sudah dimilikinya.
7. Gagak yang Memangsa Kambing
Setiap kali Elang terbang kesana kemari, dari bukit ke tempat tinggalnya, Elang tidak pernah tahu, jika dia mempunyai pengagum. Di saat Elang terbang, melayang, dan menukik, ada seekor gagak hitam yang selalu mengawasinya. Gagak sangat menyukai langkah Elang terbang dan menyambar mangsanya.
"Aku juga bisa seperti Elang. Suatu saat, saya bakal mencoba untuk menyambar anak kambing," gumam Gagak sembari membayangkan mimpinya itu.
Gagak pun bergegas untuk menghampiri Elang. Ia mau bertanya langsung pada si Burung itu mengenai aksinya yang menyambar hewan lain untuk dimangsa.
"Hai, Elang. Perkenalkan saya Gagak, tetanggamu satu bukit," sapa Gagak ke Elang.
"Oh, halo juga Gagak. Ya, saya tahu jika kita tinggal di bukit yang sama," jawab Elang sembari tersenyum padanya.
"Benarkah? Tahu dari mana?," tanya Gagak yang heran sekaligus bangga.
"Aku terbang setiap hari, jadi saya tahu apa yang ada di bawah." tukas Elang.
Mendengar jawaban itu, Gagak pun tersenyum malu. Di dalam hatinya, ada emosi bangga karena Elang memperhatikan keberadaannya.
"Hei, Elang, saya mau bertanya. Saat menukik dan menyambar anak kambing, apakah Anda tidak merasa berat?" ungkap Gagak penuh penasaran.
"Tentu saja tidak. Aku sudah terbiasa melakukannya. Anak kambing yang lebih besar saja sudah pernah kusambar. Aku juga pernah menyambar dengan kecepatan tinggi, sehingga hewan buruanku tidak punya waktu untuk menghindar." Elang bercerita.
"Oh, Gagak suka berburu juga?" sahut Elang.
"Iya. Aku sangat suka berburu," jawab Gagak berbohong.
Pada suatu kesempatan, di lembah ada anak kambing sedang mencari makan. Dari kejauhan, di atas batang pohon, Gagak telah memperhatikannya dengan seksama.
Selanjutnya, Gagak pun segera terbang dengan melesat cepat. la merasa dirinya terbang layaknya elang. Cakarnya direntangkan dan menyambar anak kambing incarannya.
Namun, sayangnya dia tidak bisa mengangkat buruannya. Kambing tersebut sangat berat. Naasnya, kaki Gagak pun terlilit tali yang mengikat leher anak kambing itu. Gagak pun terjebak.
Tak lama kemudian, datanglah penggembala yang terkejut mendengar anak kambingnya mengembik. Saat dilihatnya, seekor gagak menempel di punggung anak kambing.
Menyaksikan perihal tersebut, pengembala pun jengkel dan menangkap si Gagak.
Pesan moral: Cerita fiksi ini memberi pesan bahwa setiap makhluk mempunyai keahlian yang berbeda. Sama halnya, kita tidak boleh memaksakan diri meniru orang lain tanpa memahami pemisah keahlian sendiri. Selain itu, kesombongan dapat membawa kerugian.
8. Anak Gembala dan Serigala
Suatu ketika ada seorang anak gembala yang bekerja pada saudagar kaya. Ia bekerja sehari-hari dengan merawat serta menjaga seluruh domba majikannya.
Selama menjalani tugasnya, majikan anak tersebut selalu berpesan padanya jika ada serigala yang mendekat, maka dia bisa berteriak meminta tolong kepada penduduk desa setempat.
Memiliki kegiatan rutin yang hanya menjaga domba di tepi rimba membikin anak gembala itu merasa bosan. Ia pun terbersit untuk melakukan tindakan jahil yang tak terduga.
Sang anak tiba-tiba berteriak, “Tolong! Ada serigala di sini, tolong!”
Mendengar teriakan meminta tolong tersebut, penduduk desa beramai-ramai datang menghampiri dan beriktikad menolong anak tersebut dari serigala. Namun sesampainya di dekat sang anak, rupanya anak gembala hanya berbual dan menjelaskan dia berteriak lantaran bosan. Mendengar perihal itu, penduduk merasa jengkel lampau melangkah pulang.
Kemudian, selang beberapa hari kemudian anak gembala tersebut kembali berbual berteriak meminta tolong karena adanya serigala. Lagi-lagi, penduduk tertipu dan merasa jengkel karena si anak gembala hanya tertawa memandang wajah tegang penduduk yang merasa khawatir.
Sampai pada suatu sore, datanglah segerombolan serigala yang memangsa domba yang si anak. Sebab merasa takut, si anak gembala langsung berteriak meminta tolong. Sayangnya, kali ini tidak ada satupun penduduk yang datang menolongnya. Para penduduk sudah tidak percaya lagi dengannya.
Kawanan serigala sukses menghabisi banyak domba dan membawa masuk sisanya ke dalam hutan. Kejadian tersebut membikin si anak gembala menyesal dan berjanji tak bakal mengulangi perbuatannya lagi.
Pesan moral: Cerita fiksi ini mengajarkan agar kita tidak boleh berbohong. Kejujuran sangat krusial lantaran ketidakejujuran yang dilakukan berulang kali dapat membikin orang lain kehilangan kepercayaan.
9. Kisah Si Cucing Pindah Rumah
Seekor kucing berjulukan Cucing menggigit tengkuk anaknya satu-satu. la pindah tempat tinggal. Beberapa hari kemudian, Cucing memindahkan lagi anak- anaknya ke lain tempat. Burung Pipit tersenyum memandang kelakuan Cucing. "Ngapain kucing kurang kerjaan itu, setiap waktu memindahkan anak-anaknya" ejeknya dalam hati.
"Selamat pagi, hewan kurang kerjaan," sapa Burung Pipit.
Cucing menjawab, "Maksudnya siapa yang kurang kerjaan?"
"Kamu," cuit burung Pipit tersenyum mengejek.
"Kurang kerjaan bagaimana?"
"Setiap waktu selalu memindahkan anak-anakmu. Bukankah itu kurang kerjaan?"
"Kalau Anda tidak mengerti sesuatu, sebaiknya jangan bicara," jawab Cucing.
Suatu hari, Burung Pipit menangis. Anak-anaknya hilang. Sarangnya kosong. Rupanya, seekor ular yang sejak seminggu lampau mengintai Burung Pipit dan telah menemukan sarangnya.
"Hai, Pipit, Anda kenapa?" teriak Cucing yang sedang bermain dengan anak-anaknya di bawah sarang Burung Pipit.
"Anak-anakku dicuri ular," jawabnya sembari menangis. "Kamu mengerti, bukan, tujuanku memindahkan anak-anakku. Kalau tempatnya tetap, anak-anakku bisa lenyap dimangsa musang. Carilah tempat tinggal yang lebih tersembunyi alias lebih tinggi," ucap Cucing. Burung Pipit akhirnya mengerti argumen Cucing sering memindahkan anak-anaknya.
Pesan moral: Kisah Si Cucing memberi pesan bahwa kita tidak boleh terburu-buru menilai alias mengejek tindakan orang lain sebelum memahami argumen di baliknya.
10. Rubah dan Gagak
Pada suatu hari, hiduplah seekor rubah yang sedang kelaparan lantaran belum makan. Kemudian, rubah tersebut memandang seekor gagak yang terbang melintas membawa sepotong daging di paruhnya. Gagak tersebut pun hinggap di cabang pohon.
Rubah pun akhirnya menghampiri ke bawah pohon tempat gagak hinggap. Ia memuji gagak hingga gagak tersebut pun senang dan tersipu malu.
Melihat reaksi gagak, rubah melanjutkan rencananya. Ia kembali memuji gagak.
"Melihat penampilanmu yang luar biasa, saya percaya suaramu pasti melampaui bunyi burung lain di rimba ini. Biarkanlah saya mendengar satu lagu darimu, Nyonya Gagak. Tentu bakal terdengar sangat merdu!" kata rubah.
Gagak yang merasa tersanjung pun mulai bernyanyi. Potongan daging yang tadi ada di paruhnya pun terjatuh ke tanah dan dengan sigap dibawa pergi oleh rubah. Gagak pun menyesali peristiwa tersebut. Ia menyesal lantaran lengah telah dipuji.
Pesan moral: Dari cerita fiksi ini mengajarkan kita tidak boleh mudah terlena oleh pujian lantaran tidak semua pujian diberikan dengan niat yang baik. Selain itu, sikap waspada dapat membantu kita terhindar dari kejahatan.
11. Beruang dan Lebah
Suatu hari, seekor beruang tengah menjelajahi rimba untuk mencari buah-buahan. Di tengah pencarian, dia menemukan pohon tumbang di mana terdapat sarang tempat lebah menyimpan madu.
Beruang itu mulai mengendus-endus dengan hati-hati di sekitar pohon tumbang tersebut untuk mencari tahu apakah lebah-lebah sedang berada dalam sarang tersebut.
Tepat pada saat itu, sekumpulan mini lebah terbang pulang dengan membawa banyak madu. Lebah-lebah yang pulang tersebut, tahu bakal maksud sang Beruang dan mulai terbang mendekati sang Beruang, menyengatnya dengan tajam lampau lari berlindung ke dalam lubang batang pohon.
Seketika Beruang tersebut menjadi sangat marah, loncat ke atas batang yang tumbang tersebut dan dengan cakarnya menghancurkan sarang lebah. Tetapi perihal ini malah membikin seluruh kawanan lebah yg berada dalam sarang, keluar dan menyerang sang Beruang.
Beruang yang malang itu akhirnya lari terbirit-birit dan hanya dapat menyelamatkan dirinya dengan langkah menyelam ke dalam air sungai.
Pesan moral: Cerita fiksi ini mempunyai pesan moral bahwa alangkah lebih bijak untuk menahan diri daripada menambah masalah akibat melampiaskan emosi.
12. Taman Si Raksasa
Raksasa sedang pergi selama lima tahun di lain. Sekarang, dia kembali ke rumahnya yang sangat besar dengan taman di depannya. Ia memandang anak-anak sedang bermain.
Raksasa lampau memarahi mereka, "Apa yang kalian lakukan di sini? Pergi! Ini taman milikku!"
Anak-anak ketakutan dan berlari meninggalkan taman itu. Raksasa lampau membangun tembok yang tinggi mengelilingi taman itu. Anak anak kehilangan taman tempat bermain. Bunga-bunga di taman itu tidak lagi bermekaran.
Burung-burung tidak lagi berkicau dan pohon-pohon berakhir berbuah. Raksasa tidak mengerti kenapa taman miliknya menjadi tidak bagus lagi.
Raksasa mendengar bunyi musik yang mengalun. Ternyata itu adalah bunyi kicauan burung di luar jendelanya. Raksasa mendekat ke jendela dan mendengarkan kicauan burung itu dengan sedih.
"Apa yang terjadi dengan tamanku? Aku berambisi tamanku bisa menjadi bagus seperti dulu, dengan burung-burung yang berkicau merdu seperti kamu," kata Raksasa kepada burung itu.
“Pohon, bunga-bunga, rumput, dan kami para burung menginginkan kehadiran anak-anak yang menjadikan tempat ini kembali penuh keceriaan,” kata si burung.
Raksasa menyadari kesalahannya. Selama ini dia terlalu egois, dan hasilnya dia hidup sendirian dan merasa kesepian. Raksasa pun menghancurkan tembok yang mengelilingi tamannya, lampau dipanggilnya anak-anak untuk bermain di taman.
Taman itu pun kembali penuh dengan anak-anak yang bermain gembira. Bunga-bunga pun kembali bermekaran di antara rerumputan yang hijau. Daun-daun dan buah-buahan memenuhi pohon-pohon, beserta burung-burung yang berkicau dengan merdu.
Pesan moral: Cerita fiksi ini berpesan bahwa sikap egois dan tidak peduli kepada orang lain dapat membikin hidup menjadi sunyi dan tidak bahagia. Sebaliknya, berbagi, bersikap ramah kepada sesama dapat membawa kebahagiaan bagi diri sendiri maupun orang lain.
13. Seruling yang Tertinggal di Tepi Hutan
Seorang anak laki-laki mendapat sebuah seruling baru dari ayahnya. la sangat menyukainya. Suatu hari, saat bermain main di tepi hutan, dia lupa membawa pulang serulingnya.
Seruling itu tergolek di atas rerumputan. Seekor kelinci mini muncul di seruling itu.
"Apa ini?" ucapnya ketika memandang seruling.
"Apakah barang ini dapat menggigit?" Dengan hati-hati kelinci itu mendekati seruling. la lega lantaran barang itu tak dapat menggigitnya. Seekor katak tiba-tiba muncul. "Apa ini?" tanyanya saat memandang seruling.
"Benda itu tidak dapat menggigit," kata kelinci.
"Apakah barang ini dapat melompat?" tukas katak. la lampau menyentuh seruling. Benda itu tak dapat melompat.
Berikutnya seekor burung murai muncul. "Apa ini?" tanya burung itu saat memandang seruling.
"Benda itu tak dapat menggigit," kata kelinci.
"Benda itu tak dapat melompat," tambah katak.
"Apakah barang ini dapat bernyanyi?" tanya burung murai. Dengan hati-hati dia mendekatkan telinganya ke seruling itu. Benda itu tak mengeluarkan bunyi apa-apa.
Seekor landak kemudian muncul. "Apa ini?" tanya landak saat memandang seruling.
"Benda itu tidak dapat menggigit." kata kelinci.
"Benda itu tidak dapat melompat," tambah katak.
"Benda itu tak dapat bernyanyi," cetus burung murai.
"Apakah barang ini lezat dimakan?" tanya landak. la lampau menggigit seruling. Wow, barang itu keras sekali!
Si anak laki-laki muncul. la mencari serulingnya. "Itu dia!" serunya ceria saat memandang seruling miliknya. Diambilnya seruling itu dan ditiupnya. Teeet! Saat mendengar seruling itu dibunyikan, kelinci, katak, burung murai, dan landak seketika berlari menjauh. Mereka ketakutan. Di tempat yang agak jauh barulah mereka berani berkata, "Oh, rupanya itulah yang dapat dilakukan barang itu!"
Pesan moral: Cerita ini berpesan bahwa rasa mau tahu bakal membantu kita mengenal sesuatu dengan lebih baik.
14. Peri di Pulau Sicilia
Princess Orianna sedang berjamu ke salah satu pulau bagus yang berjulukan Pulau Sicilia. Pulau ini terkenal lantaran kisah para perinya. Princess Orianne menemui Princess Eunice yang sedang menanam beberapa bunga.
Ketika Princess Orianna mengatakan tujuannya untuk berjumpa peri kepada Princess Eunice, sahabatnya itu bercerita, "Bunga-bunga inilah yang membuatku kenal dengan para peri. Aku bakal bercerita tentang peri-peri untukmu," kata Princess Eunice.
Dahulu, Raja bakal sangat marah ketika mendengar Princess Eunice bercerita tentang sosok manusia mini yang bersayap. Bahkan, banyak orang yang menganggap Princess Eunice gila lantaran percaya keberadaan peri.
Princess Eunice berbicara pada sang ayah "Baiklah, Ayah, saya tidak bakal bercerita tentang peri-peri lagi," Sejak saat itu, Princess Eunice sangat sedih lantaran tidak ada yang percaya dengan ucapannya. Setiap hari dia mengurung diri di kamar.
Pada suatu malam, Princess Eunice kesulitan untuk tidur. Terdengar musik bagus mengalun di tengah malam. Ia pun mengintip dari jendela. Ternyata, ada sekumpulan peri sedang memainkan musik dan ada yang berdansa.
Peri itu keluar dari bunga-bunga yang ditanam Princess Eunice. Diam-diam, Princess Eunice mendekati para peri itu. la melangkah sangat pelan lampau Princess Eunice diajak berjoget dengan para peri.
Sejak kejadian itu , setiap menjelang tengah malam, Princess Eunice bakal terbangun dan bermain berbareng peri-peri. Mereka sangat berterima kasih kepada Princess Eunice yang telah merawat bunga-bunga yang menjadi tempat tinggal mereka.
Princess Eunice berulang tahun seminggu lagi, la mengundang seluruh rakyatnya. Tak lupa dia mengundang para peri walaupun dia tahu peri-peri itu tidak mungkin menghadiri pesta ulang tahunnya.
Sayangnya, hanya sedikit masyarakat yang datang ke pesta ulang tahunnya. Sebagian masyarakat menganggap Princess Eunice telah membohongi mereka dengan kisah peri-peri. Tanpa diduga terdengar bunyi musik mengalun indah.
Para tamu terdiam dan mencari-cari sumber musik tersebut. Princess Eunice hanya tersenyum. la tahu betul asal dengan musik itu. Para peri beriringan memainkan musik sembari menyanyi dan menari. Semua tamu terkejut dan terdiam ketika memandang makhluk-makhluk mungil bersayap bagus tersebut.
"Selamat ulang tahun, Princess Eunice. Kami memenuhi undanganmu," kata salah satu peri sembari memberikan bingkisan bros mini bercahaya.
Mulai saat itu, semua hadirin percaya peri-peri itu memang ada dan tinggal di kelopak bunga.
Princess Eunice kembali dipercaya oleh sahabat-sahabatnya. Potongan peta milik Princess Orianna kembali muncul satu bagiannya.
Princess Orianna pun berterima kasih atas cerita yang pernah ada di kerajaan Princess Eunice. Ia pun kemudian berpamitan untuk melanjutkan petualangannya.
Pesan moral: Cerita fiksi ini berpesan bahwa kebenaran selalu menemukan jalannya walaupun orang lain tidak mempercayai kita.
15. Raja Parkit yang Cerdik
Di rimba Aceh yang luas, hiduplah burung-burung parkit. Mereka hidup tenteram dan setiap hari bernyanyi. Suatu ketika, mereka tertangkap perekat seorang pemburu. Dengan ketakutan, mereka berupaya melepaskan diri. Hanya Raja Parkit yang terlihat lebih tenang.
"Saudara-saudaraku, tenanglah!" seru Raja Parkit. "Aku punya buahpikiran bagus. Jika kelak si pemburu datang, kita kudu pura-pura mati. Pada saat si pemburu membuang kita, tunggu sampai hitunganku keseratus, lampau kita terbang bersama-sama!"
Rakyatnya setuju dengan usul Raja Parkit. Esoknya, si pemburu muncul. Namun, dia banget kecewa lantaran tangkapannya meninggal semua. Bruk! Si pemburu tersandung batu. Ia terjatuh. Burung-burung parkit pun terkejut. Mereka beterbangan tanpa menunggu hitungan. Raja Parkit itu pun tertangkap.
"Jangan bunuh aku...," pinta Raja Parkit. "Sebagai imbalan, saya bakal menghiburmu dengan suaraku yang merdu setiap hari."
Si pemburu pun membawa Raja Parkit pulang. Sesuai janjinya, setiap hari Raja Parkit bernyanyi. Suaranya banget merdu. Semua yang mendengar memuji kehebatannya.
Kabar tentang kemerduan bunyi Raja Parkit tersebar ke pelosok negeri hingga sampailah ke telinga Raja Aceh. Raja Aceh memerintahkan peraturan untuk menukarkan Raja Parkit dengan kekayaan barang yang berlimpah. Si pemburu pun menerima tawaran Raja Aceh.
Raja Parkit tiba di istana. Ia ditempatkan di sebuah sangkar emas. Setiap hari dia diberi makanan lezat. Namun, dia sangat kangen rimba tempat asalnya. Suatu hari, dia berpura-pura mati. Melihat Raja Parkit mati, Raja Aceh bersedih. Ia memerintahkan upacara penguburan. Ketika si Raja Parkit diletakkan di luar sangkar, seketika dia terbang dan kembali ke hutan.
Pesan moral: Cerita fiksi ini mempunyai psan bahwa jika dilanda kesulitan, kita kudu bersabar dan terus mencari logika agar menemukan jalan keluar.
16. Buaya Sakit Gigi
Seekor buaya menangis tersedu-sedu dengan air mata yang berlinang. Kemudian, seekor tikus ladang datang dan bertanya "Mengapa kau?"
"Tadi saya menggigit buah kenari," jawab buaya sembari terus menangis. "Lalu gigiku patah separuh dan sekarang terasa sakit sekali."
"Hanya itu?" Tanya tikus ladang. " Aku tahu obatnya."
Tikus ladang pun pergi lampau kembali menemui buaya sembari membawa akar pohon kembang mawar. "Kau kudu mengisap akar ini," ucapnya pada buaya. "Nanti sore tentu sakitnya berangsur hilang. Selain itu, syal sutera ini bakal membuatmu merasa enak,"
Sesuai pengarahan tikus ladang, buaya mengisap-isap akar pohon mawar yang manis. Dan benar, sorenya giginya tidak sakit lagi, apalagi dia sudah bisa tertawa. Ketika dia sedang tertawa, dia memandang giginya yang patah setengah, sekarang giginya memang tidak sakit lagi, tetapi giginya pun tanggal semua dan tidak bisa tumbuh lagi.
Pesan moral: Cerita fiksi ini berpesan bahwa kita kudu berhati-hati dalam menerima saran. Cari tahu terlebih dulu agar tidak merugikan kita.
17. Tantangan Raja
Pada era dahulu, berdirilah sebuah negeri makmur berjulukan Kerajaan Ditu. Negeri itu dipimpin oleh seorang raja yang terkenal setara dan bijaksana. Sang raja mempunyai dua orang putri, ialah Putri Lily dan Putri Kemuning.
Sejak kecil, kedua putri mendapatkan pendidikan yang sama. Namun, watak mereka sangat bertolak belakang. Putri Lily condong terburu-buru dan mengandalkan kepercayaan tanpa kalkulasi yang matang. Sebaliknya, putri Kemuning dikenal lebih teliti dan selalu mempertimbangkan segala perihal sebelum bertindak.
Ketika usia raja semakin lanjut, dia mulai memikirkan siapa yang layak menggantikan dirinya sebagai penerus takhta kerajaan. Sang raja mengadakan sebuah ujian untuk para putrinya selama enam bulan. Kedua putrinya diminta untuk menanam satu biji semangka dan hasil panen nantinya kudu dijual di pasar. Siapa yang memperoleh untung terbesar dari penjualan tersebut, dia bakal menjadi penerus takhta berikutnya.
Putri Lily menerima tantangan itu dengan penuh percaya diri. Ia percaya jumlah panen adalah kunci kemenangan. Ia pun giat bertanya kepada orang-orang istana demi menghasilkan buah sebanyak mungkin. Sementara itu, Putri Kemuning mengandalkan pengetahuan yang dia peroleh dari buku-buku. Ia menanam biji semangka dengan sabar dan penuh perhatian. Putri Kemuning memahami bahwa setiap tanaman memerlukan proses untuk ditanam.
Tiga bulan berlalu. Tanaman Putri Kemuning menghasilkan tiga buah semangka, sedangkan milik Putri Lily menghasilkan empat buah semangka. Melihat hasil itu, Putri Lily merasa sudah pasti menang dan langsung membawa semangkanya ke pasar untuk dijual.
Putri Kemuning justru merenung. Dalam hatinya dia bertanya, kenapa ayahnya sang raja memberi waktu hingga enam bulan jika semangka bisa berbuah hanya dalam tiga bulan. Dari situlah dia menemukan ide, dia memotong semangka miliknya dan membagikannya kepada para nelayan. Setelah selesai, dia mengumpulkan lagi biji-biji semangka yang tersisa. Sisa biji semangka itu ada seratus, lampau dia menanamkannya kembali dengan penuh kesabaran.
Tiga bulan berikutnya, tanaman itu berbuah lebat. Putri Kemuning memanen tiga ratus semangka dan menjualnya ke pasar. Putri Kemuning pun menghasilkan duit dalam jumlah yang sangat besar.
Saat menghadap raja, putri Lily dengan bangga menyerahkan hasil penjualannya. Tak lama kemudian, Putri Kemuning datang membawa duit jauh lebih banyak. Putri Lily terkejut dan berkata, "Bagaimana mungkin hasilmu sebanyak itu?".
Putri Kemuning menjawab dengan tenang, "Itu berasal dari penjualan 300 semangka".
Raja pun meminta penjelasan. Dengan sopan, Putri Kemuning menceritakan bahwa dia menanam kembali biji semangka dari panen pertama. Para nelayan yang diberi semangkanya pun dipanggil dan membenarkan ceritanya.
Mendengar itu, Putri Lily merasa malu dan menyadari kesalahannya. Ia meminta maaf kepada Putri Kemuning dan menerimanya sebagai penerus takhta dengan lapangan dada.
Sang raja pun tersenyum puas. Ia akhirnya percaya bahwa kesabaran, kecerdikan, dan langkah berpikir jauh ke depan milik Putri Kemuning adalah bekal terbaik untuk memimpin kerajaan.
Pesan moral: Cerita fiksi ini berpesan kita kudu sabar, giat berpikir, dan tidak terburu-buru agar mendapatkan hasil yang baik. Selain itu, kita juga kudu jujur dan tidak mudah menuduh orang lain lantaran sikap baik bakal membawa kebaikan.
18. Kota Pandora
Suatu ketika, Zeus, raja para dewa, menyuruh Hephaestus membuatkan seorang putri. Lalu, Hephaestus menciptakan seorang wanita dari tanah liat.
Perempuan itu diberi nama Pandora. Zeus mengirim Pandora turun ke bumi dan menikahkannya dengan Epimetheus. Zeus melakukan semua ini untuk balas dendam kepada Promotheus. Promotheus telah memberikan api kepada manusia tanpa izin Zeus.
Zeus memberikan sebuah kotak yang dikunci kepada Pandora dan memintanya berjanji untuk tidak membuka kotak itu. Ia juga memberikan kunci kotak itu kepada Epimetheus dengan pesan yang sama. Zeus percaya bahwa Epimetheus dan Prometheus tidak bakal membuka kotak itu.
Pandora penasaran, dia mau tahu apa yang ada di dalam kotak yang terkunci rapat itu. Ia meminta kunci kepada suaminya, namun Epimetheus tidak memberikannya.
Pandora terdiam, Namun, rasa mau tahunyaa tidak bisa dibendung. Ketika Epimetheus tidur lelap, Pandora mengambil kunci dan membuka kotak itu. Dari dalam kotak keluarlah segala macam penyakit, iri hati, kebencian, kejahatan, dan semua perihal yang jelek itu telah terbang ke dunia.
Epimetheus terbangun oleh tangisan Pandora. Pandora menceritakan apa yang terjadi. "Aku tidak dapat menangkap mereka. Lihatlah kotak ini sekarang kosong."
Pandora membuka kotak dan menunjukkannya kepada suaminya. Seekor kumbang mini terbang keluar sebelum Pandora sempat menutup kota itu kembaali.
Kumbang mini itu terbang mengelilingi Pandora. "Aku adalah harapan," kata kumbang itu.
"Aku berterima kasih kepadamu lantaran telah membebaskanku. Aku bakal turun ke bumi menyertai mereka." Kumbang mini itu pun melesat turun ke bumi.
Pesan moral: Cerita fiksi ini berpesan, meskipun di bumi disertai oleh iri hati, kejahatan, dan kebencian, tetap ada kebaikan berbareng kita.
19. Gadis Kecil Penjual Korek Api
Gadis mini ini berjulukan Meri. Meri sangat sedih ketika neneknya meninggal. Akhirnya, dia hanya hidup dengan ayahnya.
Tapi ayah Meri sangat malas tidak mau bekerja, sehingga membikin mereka tidak punya cukup duit untuk membeli bahan makanan. Akhirnya, saat musim dingin tiba Meri keluar rumah dan menjual korek api.
Meri tidak pantang menyerah, walaupun kedinginan dan bajunya tidak tebal. Sudah beberapa hari korek apinya belum ada yang terjual. Hari semakin malam dan dia duduk di depan toko sembari menahan dingin dan lapar.
Akhirnya, dia menyalakan korek api untuk menghangatkan tangan sampai korek api itu lenyap dan Meri pingsan lantaran kedinginan. Esoknya penduduk menemukan Meri pingsan dan menyesal tidak membeli korek api Meri.
Pesan moral: Cerita fiksi ini mengajarkan kita untuk saling menolong. Jika mampu, sudah sepatutnya kita menolong tetangga, teman, dan orang-orang di sekitar.
20. Si Lingga dan Si Purba
Lingga dan Purba adalah dua berkerabat yang sangat miskin. Mereka bekerja sebagai pencari kayu bakar dan rotan di dalam hutan.
Suatu hari, saat beristirahat di bawah pohon, Lingga terkenang pesan orang tuanya. Jika bermohon dengan ikhlas, kemauan kita bakal dikabulkan.
Lingga membujuk Purba berdoa. Selesai bermohon dengan khusyuk, tiba-tiba seekor burung terbang mendekat. "Hai, anak muda, kekayaan apakah yang kalian kehendaki?"
Lingga dan Purba menjawab ragu, "Berikan kami emas sebesar kepala kuda."
Ketika hendak pulang, mereka menemukan bongkahan emas sebesar kepala kuda. Kedua pemuda itu sangat gembira. Mereka pun mulai mengkhayal apa saja yang bakal mereka beli dari hasil menjual emas itu. Lingga mau mempunyai emas itu sendiri. Purba pun berpikir demikian.
Karena sedang lapar, mereka tidak bisa mengangkut emas itu. Lingga meminta Purba untuk mengambil makanan di rumah. Purba setuju. Sepeninggal Purba, rupanya Lingga membikin lubang perangkap di dekat bongkahan emas. Ia menancapkan bambu-bambu runcing di dalamnya, lampau menutupinya dengan daun-daun kering.
Setelah kenyang, Purba kembali ke hutan. Ia memandang Lingga tetap menunggu. Purba mendekati saudaranya dengan gembira. Ketika nyaris sampai, Purba terjatuh ke dalam lubang. Makanan yang dia bawa terlempar ke luar.
Lingga senang lantaran jebakannya berhasil. Ia segera makan dengan lahap. Tak lama, Lingga pun muntah lantaran rupanya Purba telah meracuninya. Keduanya meninggal bumi dan tidak seorang pun bisa mempunyai bongkahan emas itu.
Pesan moral: Cerita fiksi ini berpesan bahwa sifat serakah bakal selalu membawa celaka.
Demikian 20 cerita fiksi singkat yang kaya bakal pesan moral untuk anak-anak. Dongeng alias cerita fiksi dapat dijadikan bahan pembelajaran anak mengenai pesan kehidupan melalui langkah yang menyenangkan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·