Biografi Muhammad Al-amin Asy-syinqithi (bag. 2)

Jul 12, 2026 11:00 AM - 15 jam yang lalu 745

Akidah beliau

Salah satu perihal yang sangat menonjol dari pelajaran Syekh (rahimahullah), baik yang didengar langsung maupun yang dibaca dari tulisan-tulisannya, adalah seringnya beliau menegaskan iktikad Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam seluruh pembahasan akidah, terutama yang berangkaian dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah.

Beliau menjelaskan masalah-masalah tersebut dengan bahasa yang jelas, berasas norma yang kuat, serta didukung banyak dalil, baik dari Al-Qur’an dan sabda maupun dalil akal. Bahkan, orang yang mendengar alias membaca penjelasannya bisa mengira bahwa beliau hanya mendalami bagian iktikad saja, lantaran begitu kuat dan luas pembahasannya.

Walaupun beliau menjelaskan masalah iktikad dengan sangat rinci dan panjang, beliau tidak pernah jenuh untuk mengulanginya dalam beragam kesempatan. Misalnya, dalam pelajaran-pelajaran yang sampai kepada kita, beliau menjelaskan tiga landasan utama dalam memahami sifat-sifat Allah di delapan tempat yang berbeda.

Demikian juga ketika membahas tentang norma dan berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan, alias ketika menjelaskan bahwa hanya Allah yang mengetahui perkara gaib. Beliau juga membantah mengerti Qadariyah di tujuh tempat, menyebut perbincangan perdebatan antara Al-Isfarayini dan Qadhi Abdul Jabbar tentang takdir, serta menjelaskan sifat istiwa’ (Allah tinggi di atas Arsy) di enam tempat. Begitu pula beliau mengulang kisah perbincangan antara seorang Arab Badui dan Amr bin Ubaid tentang masalah takdir, dan beragam pembahasan iktikad lainnya yang sering beliau ulang dalam pelajaran-pelajarannya.

Penjelasan tentang masalah iktikad ini tidak hanya terdapat dalam pelajaran tafsir yang beliau sampaikan di Masjid Nabawi, tetapi juga banyak tersebar dalam kitab-kitab beliau, terutama dalam kitab Adhwa’ul Bayan.

Kemampuan Syekh (rahimahullah) tidak hanya terbatas pada penguasaan iktikad Ahlus Sunnah saja. Beliau juga sangat memahami beragam ajaran mahir pengetahuan kalam (teologi) serta mengetahui letak kesalahan dan kelemahannya. Hal ini tampak jelas dalam pelajaran-pelajarannya maupun dalam kitab-kitab yang beliau tulis.

Ketika menafsirkan ayat ke-54 dari surah Al-A‘raf, ialah firman Allah,

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa di atas Arsy.”

Setelah menjelaskan iktikad yang betul dalam masalah sifat-sifat Allah dan menerangkan kesalahan ajaran mahir kalam, beliau berkata,

ونحنُ نقولُ لكم هذا وَنُقَرِّرُ لكم مذهبَ السلفِ على ضوءِ القرآنِ العظيمِ مع أنَّا ما دَرَسْنَا دراسةً شديدةً مثل علومِ الكلامِ والمنطقِ، وما تَنْفِي به كُلُّ طائفةٍ بَعْضًا من صفاتِ اللَّهِ، ونحن مُطَّلِعُونَ على جميعِ الأدلةِ وعلى تَرْكِيبِهَا التي نُفِيَ بها بعضُ الصفاتِ، عارفونَ كيف جاءَ البُطْلاَنُ، ومن الوجهِ الذي جاءَ البُطْلاَنُ، واسمُ الدليلِ الذي تُرِدُ به، ولكن ذلك لا يَلِيقُ في هذا المجلسِ الحافلِ؛ لأنه لا يَعْرِفُهُ إلا خَوَاصُّ الناسِ، فبعدَ النظرِ العامِّ الطويلِ في علمِ الكلامِ وما يستدلُّ به طوائفُ المتكلمين، وما تَرُدُّ به كُلُّ طائفةٍ على الأخرى، والأقيسةِ المنطقيةِ التي رَتَّبُوهَا وَنَفَوْا بها بعضَ الصفاتِ، ومعرفتنا من الوحيِ ومن نَفْسِ الكلامِ والبحوثِ والمناظراتِ كيف يَبْطُلُ ذلك الدليل، ومن أين جاء الخطأُ، وَتَحَقَّقْنَا من هذا كُلِّهِ، بعد ذلك كُلِّهِ تَحَقَّقْنَا كُلَّ التحققِ أن السلامةَ كُلَّ السلامةِ، والخيرَ كُلَّ الخيرِ في اتباعِ نورِ هذا القرآنِ العظيمِ، والاهتداءِ بِهَدْيِ هذا النبيِّ الكريمِ

“Kami menyampaikan kepada kalian dan menjelaskan ajaran para salaf berasas sinar Al-Qur’an yang agung. Padahal, kami juga mempelajari secara mendalam pengetahuan kalam dan logika, serta beragam langkah yang digunakan oleh masing-masing golongan untuk menolak sebagian sifat Allah. Kami mengetahui seluruh dalil yang mereka gunakan dan susunan argumennya untuk menolak sifat-sifat tersebut. Kami tahu di mana letak kesalahannya, dari sisi mana kebatilannya muncul, dan apa nama dalil yang mereka pakai untuk membantah.

Namun, pembahasan seperti itu tidak cocok disampaikan di majelis umum seperti ini, lantaran hanya dipahami oleh kalangan tertentu saja. Setelah pengkajian panjang terhadap pengetahuan kalam, dalil-dalil yang digunakan oleh beragam kelompok, sanggahan mereka satu sama lain, serta logika yang mereka susun untuk menolak sebagian sifat Allah dan setelah kami mengetahui dari wahyu, dari pengetahuan kalam itu sendiri, dari penelitian dan perdebatan, gimana dalil-dalil itu sebenarnya batal dan dari mana kesalahannya berasal, setelah semua itu kami sampai pada kepercayaan yang sangat pasti bahwa keselamatan sepenuhnya dan kebaikan sepenuhnya hanyalah dengan mengikuti sinar Al-Qur’an yang agung ini dan berpegang pada petunjuk Nabi yang mulia ini …”

Jabatan dan tugas yang pernah diemban di negerinya

Syekh (rahimahullah) mengajar dan memberikan fatwa. Beliau juga dikenal sebagai seorang pengadil (qadhi).

Dalam menangani perkara, beliau mempunyai langkah yang tertib. Beliau terlebih dulu meminta kedua pihak yang berbeda untuk menulis bahwa mereka sepakat menjadikan beliau sebagai pengadil dan bersedia menerima keputusan yang beliau tetapkan. Setelah itu, penggugat diminta menuliskan tuntutannya, lampau jawaban dari pihak tergugat ditulis di bawahnya. Kemudian beliau menuliskan keputusan hukumnya berbareng dengan isi gugatan dan jawabannya. Setelah itu, kedua pihak dipersilakan membawa keputusan tersebut kepada ustadz alias pengadil lain yang mereka kehendaki untuk disahkan dan dilaksanakan.

Beliau menangani nyaris semua jenis perkara, selain perkara darah (kasus pembunuhan) dan hudud (hukuman pidana tertentu dalam syariat). Untuk kasus pembunuhan ada peradilan khusus. Saat itu, pengadil dari pihak pemerintahan Prancis (karena Mauritania berada di bawah kolonialisme Prancis) yang memutuskan balasan qishash setelah proses pengadilan dan pemeriksaan selesai. Setelah putusan keluar, keputusan tersebut kudu diserahkan kepada dua orang ustadz negeri untuk disahkan. Dua ustadz ini disebut Lajnatu Ad-Dam, dan Syekh (rahimahullah) adalah salah satu dari dua personil Lajnah tersebut.

Sebelum beliau keluar dari negerinya, kedudukannya sudah sangat tinggi. Nama beliau sudah terkenal luas, dan beliau mempunyai kedudukan terhormat di kalangan masyarakat, baik orang unik maupun umum, yang dekat maupun yang jauh. Beliau menjadi salah satu tokoh besar negeri itu dan dipercaya oleh semua kalangan.

Perjalanan haji dan tinggal di Madinah, serta pengaruhnya terhadap ilmunya

Syekh (rahimahullah) berangkat dari negerinya pada tanggal 7 Jumadil akhir tahun 1367 H untuk menunaikan ibadah haji melalui jalur darat. Awalnya, beliau beriktikad kembali ke negerinya setelah selesai berhaji.

Perjalanan itu penuh dengan faedah dan obrolan ilmiah yang berharga. Hal ini menunjukkan kedalaman pengetahuan dan luasnya wawasan beliau. Siapa saja yang membaca catatan perjalanan beliau yang berjudul “Ar-Rihlah ila Baitillah al-Haram” (Perjalanan ke Baitullah) bakal mengetahui perihal tersebut.

Setelah menyelesaikan manasik haji, beliau pergi ke Madinah. Kemudian beliau memutuskan untuk tinggal dan menetap di sana. Beliau pernah berkata,

لَيْسَ مِنْ عَمَلٍ أعظمَ من تفسيرِ كتابِ اللَّهِ في مسجدِ رسولِ اللِّهِ- صلى الله عليه وسلم-

“Tidak ada ibadah yang lebih besar daripada menafsirkan Kitab Allah di Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Tinggalnya beliau di Madinah membawa pengaruh besar terhadap perkembangan ilmunya. Di negerinya dahulu, pendidikan lebih terfokus pada fikih ajaran Imam Malik saja, ditambah pengetahuan bahasa Arab, ushul fikih, sirah, tafsir, dan manthiq. Ilmu sabda tidak dipelajari sedalam bagian pengetahuan lainnya, lantaran masyarakat umumnya berpegang pada ajaran Maliki.

Ketika beliau mulai mengajar di Masjid Nabawi dan berinteraksi dengan beragam kalangan, beliau berjumpa dengan orang-orang dari empat ajaran fikih, yang berbincang dan menuntut dalil dalam setiap masalah. Di Masjid Nabawi, pembelajaran tidak terbatas pada satu ajaran saja.

Oleh lantaran itu, siapa pun yang mengajar di lingkungan seperti itu kudu memahami seluruh ajaran yang diakui, mengetahui pendapat para ustadz dalam setiap masalah, serta mempunyai penguasaan yang kuat terhadap Al-Qur’an dan As-Sunah. Maka Syekh (rahimahullah) pun bersungguh-sungguh memperluas ilmunya dalam bagian tersebut. Kemampuannya yang kuat dalam ilmu-ilmu perangkat (seperti bahasa Arab dan ushul fikih) sangat membantunya dalam memperluas wawasan ini.

Pengaruh ekspansi pengetahuan ini tampak jelas dalam kitab beliau “Adhwa’ul Bayan”, terutama ketika membahas masalah-masalah fikih.

Kegiatan dan tugas beliau setelah tinggal di Tanah Haram

Setelah menetap di Makkah dan Madinah, Syekh (rahimahullah) melakukan banyak kegiatan ilmiah dan dakwah, di antaranya:

Mengajar tafsir di Masjid Nabawi

Beliau mengajar tafsir Al-Qur’an di Masjid Nabawi dan sukses menafsirkan seluruh Al-Qur’an. Setelah selesai, beliau memulai kembali dari awal untuk kedua kalinya. Namun sebelum menyelesaikannya, beliau wafat. Pada putaran kedua itu, beliau belum melewati Surah At-Taubah.

Mengajar di Darul Ulum (Madinah)

Sejak tahun 1369 H, beliau mengajar tafsir di Darul Ulum di Madinah, hingga tahun 1371 H sebelum pindah ke Riyadh.

Mengajar di Riyadh

Pada tahun 1371 H, ketika dibuka lembaga pendidikan seperti ma’had dan perguruan tinggi di Riyadh, beliau dipilih menjadi pengajar di sana. Beliau mengajar tafsir dan ushul fikih sampai kemudian kembali ke Madinah.

Selain itu, di Riyadh beliau juga:

  • Mengajar kitab-kitab Syekhul Islam Ibnu Taimiyah kepada para pengajar ma’had, diadakan antara waktu maghrib dan isya.
  • Mengajar ushul fikih di Masjid Syekh Muhammad bin Ibrahim untuk para penuntut pengetahuan tingkat lanjut.
  • Mengajar murid-murid unik di rumahnya setelah asar, apalagi mendiktekan penjelasan kitab Maraqi as-Su‘ud kepada salah seorang muridnya.

Mengajar di Universitas Islam Madinah

Pada tahun 1381 H, ketika Universitas Islam Madinah didirikan, beliau pindah untuk mengajar di sana. Beliau juga menjadi personil majelis universitas. Di sana, beliau mengajar tafsir, ushul fikih, serta etika penelitian dan debat ilmiah, hingga wafat.

Safari dakwah ke Afrika

Pada tahun 1385 H, beliau memimpin rombongan dari Universitas Islam untuk berceramah ke sepuluh negara di Afrika, dimulai dari Sudan dan berhujung di Mauritania. Perjalanan ini berjalan lebih dari dua bulan dan dipenuhi ceramah, pelajaran, obrolan ilmiah, dan pertemuan bermanfaat. Ceramah-ceramah tersebut direkam, ditulis ulang, dan diterbitkan dengan titel “Ar-Rihlah ila Afriqiya” (Perjalanan ke Afrika).

Mengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan (Riyadh)

Sejak dibuka tahun 1386 H, beliau juga mengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan di Riyadh sebagai pengajar tamu, memberikan kuliah tafsir dan ushul fikih.

Anggota Hai’ah Kibaril Ulama

Pada 8 Rajab 1391 H, dibentuk Dewan Ulama Senior yang beranggotakan 17 orang, dan beliau termasuk salah satu anggotanya.

Anggota pendiri Rabithah ‘Alam Islami

Beliau juga termasuk personil majelis pendiri Rabithah ‘Alam Islami.

Kezuhudan dan sikap wara’-nya

Syekh (rahimahullah) dikenal sebagai pribadi yang zuhud dan sangat menjaga diri (wara’). Ilmu yang beliau miliki betul-betul mendorongnya untuk takut kepada Allah dan menjauhi sikap berlebihan terhadap dunia. Kehidupan beliau membikin orang terkenang kepada para ustadz salaf terdahulu dalam kesederhanaan dan ketakwaan.

Beliau pernah berkata,

الَّذِي يُفْرِحُنَا أنه لو كانت الدنيا مَيْتَةً لأباحَ اللَّهُ منها سَدَّ الخَلَّةِ

“Yang membikin kami tenang adalah bahwa seandainya bumi itu seperti bangkai, Allah tetap membolehkan kita mengambil darinya sekadar untuk menutup kebutuhan.”

Beliau juga memperingatkan anaknya agar tidak sibuk mengumpulkan kekayaan dan terlalu berambisi terhadapnya dengan argumen mau bersedekah alias membangun sekolah dan tempat ibadah. Beliau mengatakan bahwa bumi itu seperti air laut yang asin (semakin diminum semakin membikin haus). Allah tidak mewajibkan seorang hamba mengumpulkan kekayaan hanya untuk disedekahkan, apalagi kenyataannya sering kali orang yang sudah mengumpulkan kekayaan justru tidak memberikannya kepada orang lain.

Beliau juga berkata,

وأنا أَقْدَرُ الناسِ على أن أكونَ أَغْنَى الناسِ، وَتَرَكْتُ الدنيا لأني أعلمُ أنه إذا تلطخَ بها العبدُ لا يَنْجُو منها، إلا مَنْ عَصَمَهُ اللَّهُ

“Sebenarnya saya bisa menjadi orang yang paling kaya, tetapi saya meninggalkan dunia, lantaran saya tahu bahwa jika seseorang sudah terjerat olehnya, dia tidak bakal selamat darinya selain orang yang Allah lindungi.”

Karya-karya

Syekh (rahimahullah) meninggalkan banyak karya ilmiah yang ditulis dalam tiga masa: di Mauritania, saat perjalanan haji, dan setelah menetap di Saudi Arabia.

Di masa mudanya beliau menulis syair tentang nasab Arab, fikih Maliki, manthiq, dan faraidh (sebagian tetap manuskrip). Saat perjalanan haji, beliau menulis syarah dalam manthiq dan catatan perjalanan haji.

Adapun setelah tinggal di Saudi, lahirlah karya-karya terpentingnya, seperti Adhwa’ul Bayan (tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an), Daf‘u Iham al-Idhthirab, Man‘u Jawaz al-Majaz, kitab tentang ushul fikih, etika debat, serta syarah Maraqi as-Su‘ud. Beliau juga menulis beragam fatwa dan risalah, serta menyampaikan banyak pidato yang kemudian dibukukan.

Karya-karya ini menunjukkan keluasan dan kedalaman ilmunya dalam tafsir, akidah, ushul fikih, dan beragam bagian pengetahuan Islam.

Wafat

Syekh (rahimahullah) wafat pada hari Kamis pagi, 17 Zulhijah 1393 H, di rumahnya di Makkah Al-Mukarramah. Jenazah beliau disalatkan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz setelah salat Zuhur pada hari itu. Kemudian, beliau dimakamkan di pemakaman Ma‘la, di daerah Ri‘al-Hajun.

Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas.

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Kincai Media

Catatan kaki:

Diterjemahkan dan diringkas oleh penulis dari:

https://www.alukah.net

Selengkapnya