Kincai Media ,JAKARTA -- Penemuan emas batangan seberat sekitar 74 kilogram beserta duit tunai dan mata duit asing senilai ratusan miliar dari rumah mewah yang diduga milik seorang pejabat negara di Sentul, Bogor, kembali memantik perbincangan tentang integritas pejabat publik. Berbeda dengan gambaran tersebut, sejarah Islam mencatat sosok gubernur di era Khulafaur Rasyidin yang justru hidup dalam kemiskinan dan hanya mempunyai sehelai busana untuk menjalankan tugas serta amanah dari rakyat.
Berbeda dengan umumnya pejabat yang hidup dalam kemewahan serta pengawalan, dan tetap melakukan korupsi untuk menambah kekayaan, pejabat Muslim ini menjalani hidup dalam kesederhanaan ekstrem. Meskipun memegang posisi penting, pejabat Muslim ini terdata sebagai masyarakat miskin. Terungkap kekayaan bendanya sangat minim, apalagi dia hanya mempunyai satu busana yang digunakannya sehari-hari.
Pejabat Muslim tersebut adalah sahabat Nabi Muhammad SAW berjulukan Sa'id bin Amir nama lengkapnya Sa'id bin Amir bin Hudzaim Al-Jumahi Al-Qurasyi. Pejabat Muslim ini tidak cinta bumi dan tidak rakus kekuasaan.
Sa'id bin Amir pernah menjadi gubernur di daerah Himsh ialah sebuah daerah di Syam yang masuk dalam pengawasan kekhalifahan Umar bin Al Khattab.
Meski menjadi gubernur, Sa'id bin Amir hidup dengan sangat sederhana. Bahkan ketika Umar bin Al Khattab mendata masyarakat miskin di daerah Himsh, Sa'id bin Amir termasuk dalam golongan miskin. Umar bin Al Khattab meneteskan air mata begitu mengetahui sahabatnya yang menjadi gubernur termasuk golongan orang yang miskin harta.
Bahkan Sa'id bin Amir hanya mempunyai satu baju dinas, tidak mempunyai baju pengganti. Sehingga dia kudu mencucinya sendiri dan mengeringkannya, kemudian memakainya kembali untuk berdinas menjadi seorang gubernur di daerah Himsh. Sa'id bin Amir dikisahkan dalam kitab Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah yang ditulis Syaikh Muhammad Sa'id Mursi.
Suatu hari masyarakat daerah Himsh pernah mengadukan Sa'id bin Amir kepada Umar bin Al Khattab. Pertama, mereka mengadukan bahwa Sa'id bin Amir tidak keluar dari rumahnya selain menjelang siang. Kedua, Sa'id bin Amir di malam harinya dia tidak mau menerima tamu.
Ketiga, Sa'id bin Amir dalam sebulan, dia dua hari tidak keluar rumah. Keempat, masyarakat Himsh sering memandang Sa'id bin Amir jatuh pingsan
Mendengar kejuaraan ini, Umar bin Al Khattab pun memanggilnya dan menanyakan tentang kebenaran kejuaraan masyarakat tersebut kepada Sa'id bin Amir.
Mengenai kejuaraan yang pertama, Sa'id bin Amir berdasar lantaran keluarganya tidak mempunyai pembantu. Sehingga setiap pagi Sa'id bin Amir membantu istrinya mengadon roti dan menunggu istrinya sampai mengenakan jilbab. Lalu Sa'id bin Amir berwudhu dan berangkat ke instansi gubernur.
Mengenai kejuaraan yang kedua, Sa'id bin Amir menjelaskan bahwa dia memperuntukkan malam hari untuk Tuhannya dan siang hari untuk mengurusi rakyatnya.
Mengenai kejuaraan yang ketiga, Sa'id bin Amir berdasar lantaran tidak punya pembantu dan dia tidak mempunyai busana dinas pengganti. Sehingga dia kudu mencucinya sekali dalam sebulan, dan menunggu bajunya sampai kering, baru setelah itu berangkat ke instansi menjelang siang hari.
Mengenai kejuaraan keempat, Sa'id bin Amir mengaku seringkali pingsan lantaran mengingat peristiwa yang pernah menimpa Khubaib bin Adi. Saat itu orang-orang Quraisy memasung dan menyalibnya di sebuah pohon dan dalam kondisi seperti itu, Khubaib bin Adi sama sekali tidak menyebut tentang Nabi Muhammad SAW selain hal-hal yang baik.
Khubaib bin Adi juga tidak mau selamat dari maut, sedangkan Rasulullah SAW tertusuk oleh duri.
Kemudian Khubaib bin Adi mengatakan kepada orang-orang yang menyaksikan eksekusinya termasuk Sa'id bin Amir, "Ya Allah kalkulasi lah jumlah mereka, bunuhlah mereka akibat letih menyiksaku dan janganlah Engkau biarkan salah seorang pun di antara mereka hidup."
Sa'id bin Amir adalah sosok sahabat yang terkenal mahir zuhud dan selalu mensedekahkan duit yang diperolehnya. Sa'id bin Amir meninggal di Syam tahun 20 Hijriyah.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·