Kincai Media , JAKARTA -- Tersembunyi di area savana Nigeria yang dipenuhi rimba hujan, pohon kelapa sawit, dan tanah yang subur, lahir sosok wanita yang kelak menjadi simbol pemberdayaan, kepemimpinan, dan kepintaran perempuan. Dari daerah inilah Nana Asma'u hadir, yang kemudian dikenal sebagai salah satu ikon feminis Islam pada era awal.
Dikutip dari About Islam, sinar karya Nana Asma'u terus menginspirasi dan dipraktikkan hingga lebih dari 150 tahun setelah wafatnya. Putri Khalifah Sokoto ini dinamai mengikuti Asma' binti Abu Bakar.
Di Inggris, Nana Asma'u dikenal sebagai salah satu ikon feminis awal. Sementara itu, masyarakat Muslim Afrika Barat menghormatinya atas upayanya memperjuangkan hak-hak wanita untuk memperoleh pendidikan dan berkedudukan aktif dalam masyarakat, memperkuat peran wanita yang pada generasi sebelumnya banyak diabaikan.
Pada masanya, dia memengaruhi masyarakat Afrika Barat, para intelektual dari tepi Sungai Nil, hingga kalangan cerdas pandai di area Timur Tengah. Sebagai penyair, cendekiawan, guru, polymath, dan intelektual, kontribusi Asma'u mematahkan stereotip bahwa wanita Muslim dalam sejarah hanyalah sosok yang terpinggirkan, dipaksa diam, dan terbatas pada pekerjaan rumah tangga.
Puluhan tahun kemudian, pada masa kolonialisme Inggris, para delegasi Inggris dibuat terkejut oleh tingginya tradisi intelektual masyarakat Sokoto.
Ketika Jean Boyd dikirim Inggris untuk mendidik masyarakat Nigeria, dia mencatat, "Di sini ada literasi, ada Tuhan, jadi izinkan saya kembali dan mencoba belajar dari orang yang semestinya saya didik."
sumber : Pusat Data Republika
English (US) ·
Indonesian (ID) ·