Salah satu konsep parenting dalam Islam adalah memadukan kasih sayang dan ketegasan dalam mendidik anak. Idealnya, seorang anak perlu mendapatkan keduanya agar dia bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik. Di satu sisi, dia butuh kasih sayang yang cukup dari kedua orang tuanya. Akan tetapi di sisi lain, dia juga kudu menerima ketegasan ketika melakukan keburukan alias semisalnya.
Ketika seorang anak hanya dididik dengan kasih sayang saja, itu bakal membahayakannya di kemudian hari. Ia bakal tumbuh menjadi pribadi yang terbiasa dimanjakan, sehingga tertipu dengan nikmatnya kehidupan. Ia bakal menjadi pribadi yang manja dan tidak tahan banting menghadapi kerasnya bumi di kemudian hari.
Sebaliknya, ketika seorang anak kekurangan kasih sayang dan menerima didikan yang keras, maka perihal tersebut bakal membikin sekat pembatas antara orang tua dan anak. Hasilnya apa? Tentu dia bakal menjadi pribadi yang suka membangkang dan tidak bakal dekat dengan orang tua.
Oleh lantaran itu, krusial bagi orang tua untuk seimbang antara kasih sayang dan ketegasan dalam medidik anak. Jangan sampai anak kekurangan kasih sayang sehingga tidak mempunyai ikatan emosional yang cukup dengan orang tua. Jangan juga anak dibiarkan tanpa ketegasan sama sekali sehingga dia menjadi pribadi yang manja.
Kasih sayang dalam mendidik anak
Mendidik anak dengan kasih sayang merupakan asas utama dalam mendidik anak. Kasih sayang merupakan perihal yang perlu diberikan kepada anak dalam setiap kondisi. Berbeda dengan ketegasan yang hanya diberikan kepada anak pada waktu tertentu saja ketika dibutuhkan.
Secara dalil syar’i, mengapa kasih sayang dalam mendidik anak kudu dikedepankan? Beberapa argumen di antaranya adalah:
Rasulullah memberikan kasih sayang terhadap anak-anak
Sebagai seorang muslim, tentunya kita wajib meneladani manusia yang paling sempurna, ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana beliau berinteraksi dengan anak-anak? Tentunya beliau memperlakukan anak-anak dengan penuh kasih sayang. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadis, di antaranya adalah,
إن كان النبيُّ لَيُخالطُنا ، حتى يقولَ لأخٍ لي صغيرٍ : يا أبا عُمَيرُ ! ما فعل النُّغَيرُ
“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam betul-betul biasa berbaur (bergaul) dengan kami, sampai-sampai beliau berbicara kepada adik kecilku, ‘Wahai Abu Umair, sedang apa si nughair (burung mini itu)?’” (HR. Bukhari)
Hadis di atas menunjukkan kasih sayang dan perhatian Rasulullah terhadap anak kecil. Walaupun beliau seorang Rasul, beliau tetap memberikan perhatian kepada anak-anak.
Bukan hanya itu, Rasulullah pun membiarkan cucu beliau untuk naik ke punggungnya ketika beliau sedang sujud ketika salat. Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam hadis,
كلُّ ذلكَ لم يكُنْ، ولكنَّ ابْني ارْتَحَلَني، فكرِهْتُ أنْ أُعْجِلَهُ حتَّى يَقضيَ حاجتَهُ
“Semua dugaan itu tidak terjadi. Akan tetapi, anakku (cucuku) ini tadi menjadikanku seperti tunggangan, dan saya tidak suka untuk menyegerakannya (turun) sampai dia menyelesaikan keinginannya.” (HR. An-Nasa’i)
Kasih sayang adalah kunci keberhasilan mendidik anak
Kasih sayang dalam mendidik anak bisa menjadi kunci keberhasilan dalam mendidik anak. Mengapa demikian? Mari kita simak firman Allah berikut,
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka berkah rahmat Allah, engkau (Muhammad) bertindak lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.“ (QS. Ali Imran: 159)
Allah memberikan hidayah kepada Rasulullah berupa akhlak mulia agar dakwah beliau diterima. Realitanya, Rasulullah mempunyai adab terbaik di antara manusia yang perihal tersebut menjadi salah satu argumen dakwah beliau diterima. Hal tersebut sebagaimana yang disampaikan ayat di atas.
Begitu juga dengan mendidik anak. Jika kita tidak memberikan adab mulia berupa kasih sayang kepada anak kita alias malah bersikap keras, tentulah mereka perlahan-lahan bakal menjauhkan diri. Jika ada jarak yang jauh antara orang tua dan anak, gimana bisa orang tua memberikan pendidikan yang baik?
Renungkan juga realita yang dialami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mempunyai adab yang mulia, terkenal sebagai orang jujur dan amanah, namun dakwah beliau tetap banyak yang menolak. Bagaimana dengan kita sebagai orang tua yang tidak sempurna? Jangan minta bisa mendidik anak dengan baik jika kita tidak bisa memberikan kasih sayang yang cukup terhadap anak.
Baca juga: Kasih Sayang Nabi terhadap Anak Kecil
Perlunya ketegasan dalam mendidik anak
Selain kasih sayang, dalam mendidik juga kudu dipadukan dengan ketegasan terhadap anak. Akan tetapi, perlu diperhatikan ketegasan dan pemberian balasan bukanlah sikap utama kita. Ketegasan adalah pelengkap yang dibutuhkan pada waktunya. Hal tersebut juga adalah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah sabda disebutkan,
مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا، إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul apa pun dengan tangannya sama sekali, tidak pernah memukul wanita (istri), dan tidak pula memukul seorang pembantu, selain saat beliau berjihad di jalan Allah.” (HR. Muslim)
Dari sabda di atas, bisa kita ketahui bahwa Rasulullah pun memberikan hukuman, dan salah satunya adalah dengan pukulan. Akan tetapi, pemberian balasan tersebut hanya dilakukan ketika dibutuhkan saja, terlebih lagi balasan dengan pukulan. Memukul merupakan opsi paling akhir yang dilakukan.
Yang perlu diperhatikan ketika memberi hukuman
Ketegasan dalam mendidik biasanya identik dengan pemberian hukuman. Hukuman bagi anak tidak hanya berupa balasan fisik, apalagi pukulan. Hal tersebut merupakan opsi terakhir jika metode balasan lainnya tidak mempan untuk diterapkan. Akan tetapi, ada beberapa yang perlu diperhatikan ketika memberi hukuman. Di antaranya adalah:
Konsisten dalam memberikan hukuman
Ketika memberikan hukuman, kita -sebagai orang tua- kudu konsisten dengan apa yang sudah ditetapkan. Jangan sampai balasan yang diberikan tergantung dengan mood kita. Ketika kita marah lantaran aspek tertentu lampau anak melakukan kesalahan, kita menghukum mereka dengan tegas. Akan tetapi, ketika hati kita sedang baik, pada kesalahan yang sama, kita malah memaafkan. Jangan juga pilih kasih dalam memberikan balasan kepada anak.
Kita juga kudu konsekuen dalam memberikan hukuman. Jangan terlalu bermudah-mudahan membatalkan balasan yang semestinya diberikan lantaran sang anak menangis dan meminta maaf. Jika itu dilakukan, dikhawatirkan bakal menjadi kebiasaan dan menjadi senjata andalannya ketika melakukan salah.
Dalam memberikan balasan kepada anak, orang tua juga kudu kompak antara satu dan lainnya. Jangan sampai sang ayah dan sang ibu malah saling bertentangan. Ketika ayah memberikan balasan kepada anak yang melakukan kesalahan, sang ibu malah memihak anak yang salah tersebut alias juga sebaliknya. Jika perihal tersebut terjadi, yang dipelajari oleh sang anak ketika itu adalah gimana langkah mengambil simpati dari kelembutan hati pihak yang memihak agar dia tidak dihukum ketika melakukan kesalahan.
Jangan memberikan balasan secara serampangan
Ketika memberikan hukuman, jangan terburu-buru untuk menghukum anak. Pastikan dulu anak tersebut memang melakukan kesalahan dan mengakui kesalahannya. Jangan sampai kita menghukum anak yang sebenarnya tidak salah. Hal tersebut dilakukan agar dia tidak merasa dizalimi. Kita kudu membuatnya mengerti bahwa kita tidak menghukumnya melainkan lantaran dia telah melakukan sesuatu yang bukan haknya, serta melanggar kewenangan orang lain.
Barangsiapa yang menerapkan langkah ini saat menghukum mereka (anak-anak), maka rasa cinta dan kasih sayang yang telah ditanamkan di dalam diri mereka tidak bakal pernah pudar. Adapun jika tidak dilakukan, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Perlahan-lahan rasa cinta mereka bakal memudar.
Imbagi balasan dengan penghargaan
Di antara perihal yang perlu dilakukan sebagai seorang orang tua adalah selain memberikan balasan ketika melakukan kesalahan, kita juga selayaknya memberikan penghargaan ketika mereka melakukan kebaikan. Proses pendidikan apa pun yang tidak menerapkan prinsip penghargaan (reward) dan balasan (punishment) dalam mengarahkan perilaku anak secara seimbang dan rasional, niscaya penyimpanganlah yang bakal menjadi hasil akhir dari pendidikan tersebut.
Hukuman bukanlah perihal pertama yang dijadikan jalan keluar oleh seorang pendidik. Sebaliknya, dia kudu selalu memulai dengan memberikan penghargaan, sampai pada titik di mana balasan betul-betul diperlukan.
Penutup
Mendidik anak merupakan amanah yang besar bagi orang tua. Anak-anak yang saleh merupakan aset kita yang merupakan salah satu ibadah yang tidak terputus setelah kita meninggal kelak. Oleh lantaran itu, kita kudu maksimal dan serius dalam mendidik anak. Di antara upaya yang bisa kita lakukan adalah mencoba untuk memberikan porsi yang pas antara kasih sayang dan ketegasan dalam mendidik anak.
Allahu a’lam.
Baca juga: “Reward and Punishment” dalam Mendidik Anak
***
Penulis: Firdian Ikhwansyah
Artikel Kincai Media
Referensi:
Kaifa Turabbi Abna’aka, karya Syekh Ahmad bin Nashir At-Thayyar.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·