Darah Mengering Di Pakaian, Apakah Shalat Tetap Sah?

Jul 10, 2026 11:06 PM - 2 jam yang lalu 48
Darah Mengering di Pakaian, Apakah Shalat Tetap Sah?Darah Mengering di Pakaian, Apakah Shalat Tetap Sah?

Tanya Ustadz

Saya mau bertanya. Di busana saya terkadang terdapat jejak darah yang sudah mengering, misalnya darah akibat luka mini alias jejak gigitan nyamuk yang baru saya sadari ketika hendak shalat. Apakah darah yang sudah mengering tersebut tetap dihukumi najis? Apakah busana yang terkena darah kering tetap boleh dipakai untuk shalat? Mohon penjelasannya. Terima kasih.

Jawaban

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Pada dasarnya, darah termasuk barang yang dihukumi najis menurut kebanyakan ulama, termasuk dalam mazhab Syafi’i.

Namun, tidak semua darah mempunyai norma yang sama dalam penerapannya. Sebab, para ustadz juga membahas adanya najis ma’fu, ialah najis yang mendapat keringanan sehingga dimaafkan dalam kondisi tertentu.

Dalam kitab Al-Asybah wa an-Nazhair, Imam Jalaluddin as-Suyuthi menjelaskan pembagian najis yang dimaafkan sebagai berikut:

أحدها : ما يعفى عن قليله وكثيره في الثوب والبدن وهو : دم البراغيث والقمل والبعوض والبثرات والصديد والدماميل والقروح وموضع الفصد والحجامة ولذلك شرطان

أحدهما : أن لا يكون بفعله ، فلو قتل برغوثا فتلوث به وكثر : لم يعف عنه

والآخر : أن لا يتفاحش بالإهمال فإن للناس عادة في غسل الثياب ، فلو تركه سنة مثلا وهو متراكم لم يعف عنه قال الإمام : وعلى ذلك حمل الشيخ جلال الدين المحلي قول المنهاج إن لم يكن بجرحه دم كثير .

الثاني : ما يعفى عن قليله دون كثيره وهو : دم الأجنبي وطين الشارع المتيقن نجاسته .

الثالث : ما يعفى عن أثره دون عينه وهو : أثر الاستنجاء ، وبقاء ريح أو لون عسر زواله .

الرابع : ما لا يعفى عن عينه ولا أثره وهو ما عدا ذلك .

Artinya; “Pembagian Najis di antaranya: pertama, najis yang dima’fu baik sedikit maupun banyaknya, baik di baju maupun di badan, ialah : darahnya kutu loncat, kutu rambut, nyamuk, jerawat, nanah, bisul, cacar dan darah tempatnya bekam.di ma’funya najis-najis tersebut dengan 2 syarat :pertama,bukan atas perbuatan diri sendiri, jadi misalnya membunuh kutu kemudian darahnya mengotori baju dan banyak darahnya maka tidak dima’fu.

Kedua, tidak melampaui pemisah dalam membiarkannya, lantaran manusia mempunyai kebiasaan mencuci baju,jika baju ditinggalkan tanpa dicuci selama setahun misalnya, dan dibiarkan bertumpuk-tumpuk maka tidak dima’fu, kedua, najis yang sedikitnya dima’fu, jika banyak tidak dima’fu, ialah : darahnya orang lain dan tanah jalanan yang diyakini najisnya,

ketiga, najis yang dima’fu bekasnya dan tidak di ma’fu dzatiyahnya, ialah : jejak istinja’ dan sisa aroma alias warna najis yang susah hilangnya, keempat, najis yang tidak dima’fu dztiyah dan bekasnya, ialah selain najis-najis yang disebut di atas.”

Berdasarkan penjelasan tersebut, darah yang mengering tidak otomatis berubah menjadi suci. Selama darah tersebut memang dihukumi najis, maka status kenajisannya tetap ada meskipun telah mengering.

Akan tetapi, andaikan darah tersebut termasuk kategori najis ma’fu, seperti darah nyamuk, darah jerawat, alias darah luka mini yang susah dihindari dan memenuhi syarat-syarat yang telah disebutkan, maka keberadaannya ditoleransi sehingga tidak menghalangi sahnya shalat.

Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan di atas adalah bahwa darah yang mengering tetap dihukumi najis, tetapi dalam kondisi tertentu dapat termasuk najis yang dimaafkan (ma’fu). Meski demikian, andaikan memungkinkan untuk dibersihkan, maka mencuci busana tetap lebih utama sebagai corak kehati-hatian dalam beribadah.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya