Menjadi Muslimah Tangguh Di Era Disrupsi

Jul 10, 2026 11:00 AM - 15 jam yang lalu 740

Era disrupsi adalah periode perubahan masif di mana penemuan teknologi digital masuk ke dalam beragam sendi kehidupan, menciptakan pengaruh disrupsi kuat yang menggantikan sistem, struktur, dan tatanan lama dengan cara-cara baru yang lebih efisien.

Kita memandang gimana teknologi berkembang begitu pesat dalam beberapa tahun terakhir. Munculnya kepintaran buatan (AI) yang begitu canggih, internet yang mempengaruhi dan mengubah nyaris setiap aspek kehidupan; menimbulkan perubahan yang begitu sigap dan menuntut kita beradaptasi dengan sigap.

Kendati demikian, beradaptasi bukanlah berfaedah menanggalkan prinsip hidup sebagai seorang muslim. Karena ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya berkarakter absolut dan absolut tanpa negosiasi.

Lantas, gimana kiat agar tetap kokoh dan handal pada prinsip-prinsip keislaman di era modern ini?

Bersemangat menuntut ilmu

Di era digital saat ini, info dan pengetahuan pengetahuan membanjir dan dapat diakses dengan begitu mudah. Sayangnya, tidak semua info dan pengetahuan yang beredar itu benar, apalagi banyak yang berisi pemahaman keliru dan bertentangan dengan fakta. Di sinilah pentingnya kurasi dan verifikasi. Dan keduanya tidak dapat terealisasi jika kita tidak mempunyai pengetahuan yang memadai.

Donasi Kincai Media

Dengan kemajuan yang diselimuti oleh beragam kekeliruan dan keburukan, wajib bagi seorang muslim yang menginginkan kebaikan untuk dirinya agar membentengi diri sendiri dan family dengan tembok pengetahuan yang kuat, yang sesuai dengan Al-Qur’an dan sunah dengan pemahaman salafus shalih. Karena merekalah yang mendapatkan agunan keagamaan yang betul dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنْ ءَامَنُوا۟ بِمِثْلِ مَآ ءَامَنتُم بِهِۦ فَقَدِ ٱهْتَدَوا

“Jika mereka beragama kepada apa yang kalian telah beragama kepadanya, sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 137)

Dan tidaklah pengetahuan didapat selain dengan semangat dan perjuangan yang maksimal, sebagaimana para ustadz mengatakan,

‎العلم إذا أعطيته كلك أعطاك بعضه، وإذا أعطيته بعضك لم يعطك شيئاً

“Ilmu itu: Jika engkau memberikannya seluruh upayamu sepanjang hidup, dia bakal memberimu sebagiannya. Dan jika engkau hanya memberikan sebagian, dia tidak bakal memberimu sedikit pun.”

Dalam mempelajari pengetahuan agama, hendaklah seseorang memulai dengan perkara yang paling krusial dalam merealisasikan penghambaannya kepada Allah Ta’ala. Dikatakan dalam sebuah sya’ir,

ما حوى العلم جميعاً أحد لا ولو مارسه ألف سنة 

“Tidaklah seseorang bisa menjangkau seluruh ilmu, walaupun dia tekun seribu tahun lamanya.”

إنما العلمُ كبحرٍ زاخرٍ فاتخذ من كل شيءٍ أحسنه

“Ilmu itu seperti lautan luas tak bertepi, maka ambillah yang paling krusial dari setiap cabangnya.”

Guru kami, Syekhah Dr. Barakah binti Mudhaif Ath-Thalhi hafizhahallah berpesan untuk senantiasa memperkuat pondasi keilmuan. Dimulai dengan menghafalkan Al-Qur’an, kemudian mempelajari kitab-kitab iktikad seperti Tsalatsah Al-Ushul, Qawa’id Al-Arba’, Al-Ushul As-Sittah, Kitab At-Tauhid, dan Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah. Lalu mempelajari kitab-kitab tafsir seperti At-Tafsir Al-Muyassar, Tafsir As-Sa’di, dan Tafsir Ibnu Katsir. Juga mempelajari kitab-kitab sabda seperti Al-Arba’in An-Nawawiyyah, Riyadush Shalihin, Umdatul Ahkam, Al-Lu’lu wal Marjan, dan Kutub As-Sittah. Selain itu juga mempelajari kitab-kitab fikih seperti Umdatul Ahkam dan Al-Mulakhash Al-Fiqhi karya Syekh Shalih Fauzan. Adapun kitab-kitab raqaiq (kitab-kitab nasihat dan tazkiyatun nufus) sungguh sangat banyak. Yang terpenting adalah kitab-kitab yang telah disebutkan di atas.

Baca juga: Keutamaan Menuntut Ilmu Agama

Kontinu dalam melakukan kebaikan

Membiasakan diri untuk melakukan baik dapat mendatangkan kebaikan yang banyak dan mencegah terjadinya kemungkaran. Oleh karena itu, Allah berfirman mengenai salat,

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) biadab dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Awalnya, mungkin bakal terasa berat; menjaga salat wajib yang lima untuk dilakukan di awal waktu, merutinkan ibadah-ibadah sunah walaupun sedikit, serta bersabar dan melakukan baik dalam muamalah sehari-hari.

Namun yakinlah, sesuatu yang sukar bakal menjadi ringan untuk dilakukan jika dibiasakan. Dan Allah bakal memudahkan niat-niat baik hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, betul-betul bakal Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah betul-betul beserta orang-orang yang melakukan baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، مَنْ يَتَحَرَّى الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ

“Sesungguhnya pengetahuan hanya didapatkan dengan mempelajarinya dan sikap bijak didapatkan dengan terbiasa melakukannya. Barang siapa yang bersungguh-sungguh untuk mendapatkan kebaikan, maka dia bakal diberikan kebaikan tersebut. Dan peralatan siapa yang berupaya untuk menjauhi keburukan, maka dia bakal dilindungi dari keburukan tersebut.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath no. 2663)

Ketahuilah bahwa ibadah yang paling dicintai Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah ibadah yang dilakukan secara kontinu, walaupun sedikit. Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأعمالِ إلى اللهِ أدْومُها و إن قَلَّ

“Amal yang paling dicintai Allah adalah ibadah yang dilakukan secara terus menerus walaupun sedikit.” (HR. Muslim no. 783)

Berteman dengan orang-orang saleh

Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk sosial yang secara naluriah tidak dapat hidup sendiri dan memerlukan hubungan kepada sesama untuk memperkuat dalam kehidupan. Hanya saja, selektif dalam memilih orang-orang terdekat patut untuk dilakukan. Hal ini lantaran tabiat manusia adalah ibaratkan sekawanan burung merpati yang condong saling mengikuti satu sama lain.

Oleh lantaran itu, pilah pilihlah dalam berteman. Kelilingi dirimu dengan orang-orang yang dapat membantumu lebih dekat dengan Rabb-mu, yang mendorongmu untuk meraih hal-hal yang mulia dan menjauhkanmu dari kehinaan. Karena sebagaimana yang disebutkan di dalam sabda yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎الرجلُ على دينِ خليلِه

“Seseorang itu bakal mengikuti kepercayaan kawan dekatnya.” (HR. Abu Dawud no. 4833)

Demikian beberapa kiat yang dapat penulis sampaikan. Kita memohon kepada Allah keteguhan di atas agama-Nya hingga datang ketetapan-Nya (ajal). Hanya kepada Allah kita memohon taufik.

Baca juga: Menjaga Kehormatan Wanita Muslimah

***

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Kincai Media

Referensi:

  • Webinar Membangun Kekuatan Mental Anak di Era Disrupsi, dr. Aisah Dahlan, CCHt., CM. NLP., CI.
  • Al-’Utsaimin, Muhammad bin Shalih. 2024. Syarah Hilyah Thalibil ‘Ilmi. (Mohammad Faris, S.S., jenis terjemahan). Jakarta: Penerbit Griya Ilmu.
  • Al-Wadi’iyyah, Ummu ‘Abdillah. 2005. Nashihati Lin Nisa’. Shan’a: Darul Atsar.
Selengkapnya